MLG 1914 - 2015
MLG 1914 – 2015

Kumpulan gerutu soal kondisi kota Malang dan 101 masalah yang tidak selesai…

Saya terkadang sebal juga tinggal di kota Malang yang mulai makin membingungkan. Yang paling terasa, mulai macet di sana-sini. Apalagi saat akhir pekan ketika para pelancong dari luar kota membanjiri setiap sudut jalan dan spot wisata – Halo Bandung dan Jogja, yuk toss dulu!

“Separah apa sih kemacetan di Malang kok elu sampai ngeluh kayak gitu? Itu sih santapan gua tiap hari di sini,” sindir kenalan saya yang hidup dan tinggal di Jakarta. Dia sinis menertawakan kegelisahan saya yang menurutnya itu adalah perilaku lemah dan cengeng penduduk kota kecil, yang tidak sebanding dengan kesemrawutan hidup di kota Jakarta.

Well, gini Bung, tentunya saya tidak mau menunggu kota Malang ‘separah’ Jakarta, Bandung, Jogja, atau kota-kota besar lainnya untuk menyadari semua masalah itu. Minimal kudu ada yang aware bahwa terdapat banyak ketidakberesan di kota ini dan perlu diatasi segera. Sebelum terlambat!

Di jalanan, kendaraan bermotor sudah terlalu banyak dan dikendarai dengan seenaknya sendiri. Tidak ada yang mau mengalah. Zebra Cross dimakan roda kendaraan, lampu masih kuning sudah pencet klakson berkali-kali. Hari ini, jangankan kita yang manusia, kucing saja sudah kesulitan untuk menyeberang jalan di kota ini. Ha!

Urusan rute lalu lintas saja bisa menjadi problem yang rumit dan hampir tak terpecahkan. Seperti rute di Lingkar UB; awalnya dua arah, lalu jadi satu arah, trus balik lagi jadi dua arah. Sekarang ditambah lagi polemik soal bis sekolah (Bus Halokes, kalau kata Pemkot). Sebenarnya itu ide yang bagus, jika tidak malah bikin siswa terlambat masuk kelas atau dibicarakan baik-baik dengan para sopir angkot.

Mmmh...
Mmmh…

Di kota ini, jalur pedestrian juga semakin minim. Trotoar sudah banyak dikikis demi memberi ruang yang lebih lebar bagi para pengendara bermotor. Jadi siap-siap saja disenggol kendaraan saat berjalan kaki di tepi jalan atau trotoar. Ataukah, ternyata kita sendiri yang sering menyerobot hak para pejalan kaki itu?!…

Belum lagi tata kota yang makin simpang-siur. Zonasinya tidak jelas. Ruko dan papan reklame di mana-mana. Pertumbuhan mini market sudah melampaui nalar konsumen. Bangunan-bangunan tua yang bersejarah atau so-called-heritage juga kadang dirobohkan, beralih fungsi jadi bangunan modern yang gak jelas. Bangunan bioskop Merdeka sudah runtuh, menyusul kemudian adalah gedung bioskop Kelud, kabarnya. Perda soal tata ruang, bangunan tua atau cagar budaya hanya menjadi semacam mitos di sini.

Oke, mulai ada beberapa taman dan ruang publik di tengah kota. Itu bagus asal dikelola dengan baik dan tepat sasaran. Tapi belakangan kok saya baca di surat kabar kalau taman-taman itu kurang terawat dan fasilitasnya mulai rusak di sana-sini. D’oh.

Jumlah pelajar dan mahasiswa juga makin melimpah, memadati setiap sudut wilayah pendidikan di kota ini. Kampus-kampus hanya menarik mahasiswa sebanyak-banyaknya dengan biaya tinggi. Ada perguruan tinggi di mana rektornya bahkan tidak berani membela independensi kampus dan mahasiswanya. Mereka justru tunduk pada kekuatan yang entah, dan ikut serta mematikan daya nalar kritis anak didiknya. Salah satunya adalah “PT Brawijaya, Tbk”, istilah yang dipopulerkan oleh kawan saya yang suka ngopi dan menyanyi, Iksan Skuter.

Di jalanan, juga mulai muncul ormas-ormas sayap kanan yang tidak jelas. Entah mereka dari mana datangnya. Mereka tiba-tiba saja ‘bermain tuhan’ dengan cara sweeping dan menolak segala acara live music di bulan Ramadhan, tahun kemarin. Untung mereka ini lalu berhasil dipukul mundur oleh forum musisi lokal yang langsung tanggap dan merespon cepat.

Akhir tahun lalu, sejumlah ormas dibantu dengan kekuatan ‘militer’ juga sukses membubarkan pemutaran film Senyap di beberapa titik. Kota ini juga nyaris menjadi tempat deklarasi ormas khilafah berbasis ISIS, tapi untung digagalkan oleh orang-orang yang masih memiliki akal sehat. Hingga kabar terbaru di berbagai media, beberapa nama yang diduga anggota ISIS ditangkap di Malang.

Mmmh, sepertinya ‘perang’ seperti ini belum akan berakhir.

Ada yang bilang semua ini gara-gara kepala daerahnya kurang tegas dan kerap bekerja tanpa visi yang jelas. Beliau seperti tidak tahu apa yang kudu dilakukan untuk warganya. Banyak programnya yang seperti trial and error. Akibatnya, banyak blunder yang terjadi dan malah bikin gelisah warganya.

Sayang sekali, padahal kota dan daerah lain sudah memiliki pemimpin daerah yang keren. Sebut saja Surabaya, Bandung, Jakarta, Banyuwangi, dan masih banyak lagi. Ya, warga Malang boleh iri akan nasib buruk ini. Kemarin, seorang kawan sempat menggerutu, “Kemarin pas Malang dipimpin walikota Peni, sudah hancur. Kalo Abah Anton ini, tingkahnya yang gemesin.”

Kemarin, saya baca komentar dari seorang pakar planologi yang bilang bahwa kota Malang ini semakin tidak jelas jati diri dan identitasnya. Benar juga sih. Lha wong branding-nya juga gak jelas. Jauh sekali dari angan-angan sebagai smart city, atau creative city. Mau dibawa ke mana sebenarnya kota ini?!

Pagi ini, saya baca surat kabar lokal dan banyak menemukan kalimat “101 Tahun Kota Malang Menuju Kota Inovatif, Kreatif dan Bermartabat.”

Mmmh…

Mungkin kota ini memang perlu memberi ruang dan mulai banyak berharap pada (komunitas) anak-anak mudanya. Mereka adalah anak-anak muda yang kreatif, tulus berkarya, jarang mengeluh, dan tidak pernah mengemis pada penguasa.

Jujur saja, faktanya sudah terlalu banyak kemunduran dibanding progres yang terjadi di kota Malang, belakangan ini. Beberapa kawan saya sudah mulai berujar geram, “Kok kota Malang sekarang sudah berubah ya? Kok jadi kayak gini?…”

jepretan jitu seorang kawan, dari sebuah grafiti liar di daerah jalan kalpataru, katanya.
jepretan jitu seorang kawan, dari sebuah grafiti liar di daerah jalan kalpataru, katanya.

Harah. Yok opo iki, Bah?

Disadari atau tidak, begitulah kurang lebih gambaran umum kota Malang, belakangan ini. Banyak yang gelisah dan mulai menggerutu. Keluhan itu mulai terdengar, meski pelan, di berbagai sudut-sudut kedai kopi, di ruang makan keluarga, di meja kantin kampus, hingga di kolom-kolom sosial media.

Di luar segala carut-marut kondisi kota, Malang boleh dibilang masih ‘bajingan yang beruntung’. Karena kota ini masih memiliki hawa yang tergolong sejuk dan panorama senja yang bisa bikin penduduknya tersenyum. Ya, saya masih mengakui hal ini.

Ah, saya mungkin sudah terlalu banyak mengeluh. Hanya bisa menggerutu tanpa kasih solusi. Sebaiknya tulisan ini diakhiri sampai sini saja. Lalu saya akan menyeduh segelas kopi lagi, sembari memutar video musik “Malang Nominor Sursum Moveor” milik No Man’s Land atau “Malang Yang Malang”-nya Iksan Skuter.

Maaf, ini bukan April Mop. Ini kado ulang tahun. Dirgahayu kota Malang ke-101.

Malang, 01 April 2015

*Ditulis mulai dini hari tadi karena belum ngantuk – sambil ngopi dan memutar Godspeed You! Black Emperor album “Asunder, Sweet, and Other Distress”.