Iksan Skuter - Kecil Itu Indah CD
Iksan Skuter – Kecil Itu Indah CD

“Children are great imitators. So give them something great to imitate.” – Anonymous.

“Anak-anak kecil sekarang itu dengerinnya lagu soal jatuh cinta, selingkuh, patah hati, galau, selingkuh, patah hati, galau. Muter aja topiknya sekitar itu,” keluh Iksan Skuter berulang kali setiap kami berbincang soal tema albumnya, Kecil Itu Indah. Terakhir, saya membahas topik tersebut dengan musisi folk ini di kedai kopi Legipait, Senin malam [09/01] yang lalu.

Setelah menyeruput segelas kopi hitam, pria berkumis yang juga bermain gitar untuk The Morning After ini menerangkan, “Aku dulu tumbuh dengan lagu-lagu dolanan yang kunyanyikan ini. Trus kenal lagu-lagunya Melisa, Ria Enes, dan penyanyi cilik lainnya. Pas beranjak ke usia remaja, aku tumbuh sama lagu-lagu Iwan Fals, Swami, Slank, Dewa, Netral, dan band-band di generasi itu. Musik-musik itulah yang membentuk karakterku jadi seperti sekarang ini.”

“Sekarang, aku sudah tidak bisa membayangkan lagi seperti apa karakter anak-anak kita di masa depan nanti…” ujarnya pelan seraya mencomot sebatang rokok kretek dan menyulutnya dengan korek api. Kepulan asap rokok seakan ikut mengantarkan keresahan Iksan Skuter kepada langit malam itu.

*****

Kegelisahan musisi asal kota Malang ini sebenarnya tidak sendirian. Sudah banyak orang-orang yang beropini dan merasakan hal yang sama. Tapi sayangnya hanya sedikit yang mau merespon konkrit dan mau melakukan tindakan nyata. Seakan-akan, kondisi seperti itu dibiarkan terjadi begitu saja. Sepasrah orang tua jaman sekarang yang membiarkan anak-anaknya untuk menonton tayangan tidak bermutu di televisi atau membelikan mereka gadget dan game console supaya diam dan tidak merepotkan.

Di bumi bagian lain, Iksan Skuter memilih untuk bikin Kecil Itu Indah. Album ini sejatinya sudah dirilis sejak tahun lalu, dalam format kaset edisi terbatas yang diproduksi The Paimo Distribution. Kemudian pada awal tahun 2015, rekaman itu dirilis ulang dalam bentuk CD dengan jumlah yang lebih banyak serta dibagikan gratis untuk anak-anak dan orang tuanya.

Album ini berisi delapan tembang dolanan anak-anak berbahasa Jawa yang yang diaransemen ulang dan digubah sedikit lebih modern dan ‘megah’ oleh Iksan Skuter. Jika aransemennya terdengar lebih ‘dewasa’ atau terlalu ‘berat’ bagi telinga anak-anak, Iksan Skuter sudah punya alasan yang bagus untuk keraguan tersebut, “Pinginnya, album ini bisa diputar bareng-bareng oleh orang tua dan anaknya. Entah itu di rumah atau di mobil. Mereka bisa nyanyi sama-sama. Trus orang tua juga bisa sambil cerita, ‘Nak, ini loh lagu-lagunya bapak pas masih jaman kecil dulu’, sambil ngasih tau apa makna dari lagu-lagu itu.”

Syair atau lirik berbahasa Jawa seharusnya juga tidak menjadi masalah selama ada internet dan literatur. Toh, musik adalah bahasa yang paling universal bagi semua ras. Alasan ‘beda bahasa’ seperti itu justru semakin tidak berlaku bagi kakak-kakak dan orang tua yang masih bisa memutar lagu-lagu Sigur Ros yang berlirik Islandia atau Zoo yang entah berbahasa apa.

Di album ini, Iksan Skuter menggubah “Ilir-ilir” menjadi lebih modern dan jazzy. Tembang yang konon diciptakan oleh Sunan Kalijaga (ada juga yang bilang karangan Sunan Bonang) ini dulunya dipakai untuk berdakwah menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Syairnya sarat dengan makna relijius yang kuat dan pesan agar bangkit dari keterpurukan.

Mungkin agak susah mencari makna dari potongan bait “Jrèk jrèk nong, jrèk jrèk gung, jrèk è jrèk gedebuk jedhèr” dari lagu “Jaranan” karya salah satu maestro tembang dolanan anak-anak, Ki Hadi Sukatno. Lagu yang hanya terdiri atas empat larik dan diulang-ulang itu mengajarkan budi pekerti soal nilai kebersamaan dan menghormati orang yang lebih tua.

Iksan Skuter mengajak pianis muda asal Malang, Christabel Annora, untuk mengisi tembang “Menthok-Menthok”. Hasilnya adalah kolaborasi yang apik antara bunyi gitar akustik dan tuts piano. Dalam bahasa fabel, “Menthok-Menthok” mengajak anak-anak untuk instropeksi diri, tidak malas, serta selalu berbuat baik dan menghibur sesama.

“Yo prakanca dolanan ing njaba, Padhang mbulan padhangé kaya rina,
Rembulané kang ngawé-awé, Ngélingaké aja turu soré-soré…”

Bait lagu “Padhang Bulan” di atas memang simpel dan penuh dengan aura ‘dolanan’. Makna relijiusnya adalah tentang bersyukur kepada yang Maha Kuasa dan keindahan alam semesta. Saya justru membayangkan lagu ini juga bisa membujuk orang tua untuk lebih sering mengajak anaknya jalan-jalan ke luar rumah. Atau setidaknya menemani sang anak duduk-duduk di atap rumah sambil menatap langit, bulan dan bintang. Stargaze.

*****

Jika anak-anak jaman sekarang lebih menikmati produk industri seperti Hannah Montana, Miley Cyrus, segala jenis adaptasi K-Pop dan J-pop, atau tayangan Idola Cilik di televisi, itu bukan salah mereka. Itu sudah pasti salah kita, para kakak-kakak dan orang tua. Salah industri media juga, jika mereka peduli. Salah negara dan pemerintah, jika memang ada.

Entah kenapa juga kok masih ada pihak-pihak yang tampak lebih panik mendengar musisi-musisi dewasa membawakan lagu “Gendjer-Gendjer” daripada khawatir pada anak-anak yang semakin hapal lagu “Sakitnya Tuh Di Sini”.

Tentu banyak pendapat yang bilang kalau lagu dolanan anak itu terlampau kuno dan ndeso untuk (kuping) jaman sekarang. Nasib yang sama juga mungkin menimpa pada kesenian wayang, serial Unyil, komik lokal, atau dongeng-dongeng lawas. Kudunya ada sebuah strategi kebudayaan yang cakep untuk ‘merenovasi’ karya-karya klasik itu agar bisa bertahan dalam bentuknya yang lebih modern dan up-to-date.

Ketika Iksan Skuter berbicara tentang musik yang harus selaras dengan jiwa anak-anak, kita sontak akan menoleh pada apa saja yang dikonsumsi oleh mereka sekarang. Sebagai seorang bapak yang memiliki anak berusia balita, Iksan Skuter tentu sudah paham seperti apa perkembangan mental anak-anak sejak usia dini. Baginya, selain soal memori masa kecil, ini juga tentang naluri kebapakannya yang sedang berbicara.

Jika satu-satunya naluri alamiah seorang anak adalah bermain, maka biarkan mereka bermain. Lagu-lagu tadi memberikan wadah bagi anak-anak untuk bisa tetap bermain dan ikut bersenandung. Lagipula, bermain-main dengan medium musik tidak akan pernah salah – selama mereka merasa gembira, serta bisa belajar dan mengambil kebajikan dari sana.

Mari berharap semoga karya sederhana ini mampu mempertemukan (kembali) anak-anak dan orang tua dalam suasana yang lebih intim, hangat serta menyenangkan. Kita, orang-orang dewasa, selalu memiliki ‘hutang’ abadi kepada anak-anak. Demi akhir yang bahagia, Kecil Itu Indah telah meluapkan kegembiraan yang baik bagi anak-anak dan pelajaran sederhana untuk menjadi orang tua yang bijak.

Malang, 12 Februari 2015

s a m a c k
*mantan anak yang riang dan calon bapak yang baik.

*Post-Skriptum ; Tulisan ini menjadi liner notes untuk CD “Kecil Itu Indah” yang diproduksi ulang atas kolaborasi Iksan Skuter, komunitas Nandur Dulur dan Warning Magz. Sejak bulan Maret 2015, ribuan CD ini disebar dan dibagikan gratis untuk anak-anak Indonesia dan orang tuanya. Album “Kecil Itu Indah” sebelumnya dirilis dalam bentuk kaset dalam jumlah terbatas oleh The Paimo Production tepat pada Hari Anak Nasional, 23 Juli 2014.

*Tulisan ini juga dimuat di situs Warning Magazine. Baca juga resensi album “Kecil Itu Indah” via blog Iksan Skuter, Kapanlagi, dan Warning Magz.