Homicide - Barisan Nisan [dok.pribadi]
Homicide – Barisan Nisan [dok.pribadi]
Sejatinya saya bukanlah penikmat hiphop, bahkan untuk level paruh waktu sekalipun. Saya hanya tahu Iwa K, itu pun karena dulu sering diputar di stasiun radio dan televisi. Kaset Cypress Hill dan Kid Rock juga sudah hilang entah ke mana, cuma sisa dua keping album Beastie Boys saja di rak. Public Enemy pun cuma tahu sekilas, itu juga terbatas pada album Fear of A Black Planet. Selebihnya, saya hanya giat mendengarkan soundtrack film Judgement Night – di mana hip hop dipaksa kawin dengan distorsi musik rock dan metal.

Seorang pria asal Bandung bernama Herry Sutresna cukup rajin menuliskan daftar album hip hop terbaik di blognya. Saya suka membacanya, meski sebagian besar musisinya tidak ada yang saya kenal. Tentu saja saya juga bukan orang yang tepat untuk menjelaskan apa beda antara East Coast dan West Coast. Itu masalah saya dari dulu sampai Jay Z dan Kanye West sudah kaya raya seperti sekarang.

Namun, agak beda urusannya kalau musti berbicara soal unit hip hop asal Bandung, Homicide. Kebetulan, saya pernah tinggal di kota itu dan sesekali mendengar namanya di sepanjang tahun 1994 – 1996. Meski begitu, sayangnya, saya belum pernah sekali pun menonton show Homicide atau bertatap muka dengan personilnya, sampai sekarang.

Di Bandung, mengenal nama Homicide itu sama halnya dengan mengenal Puppen, Jasad, Balcony, Burgerkill, atau Turtle Jr. Ya, personil Homicide memang tumbuh dan besar di scene underground serta lebih sering bergaul dengan musisi punk, hardcore dan metal. Itu jelas sangat mempengaruhi segala sisi Homicide, luar-dalam, lirikal maupun musikal. Pantas kalau kemudian muncul anekdot, “Homicide itu adalah band hiphop yang lebih punk dari band punk lokal pada umumnya, sekaligus band punk yang lebih hiphop dibanding grup hiphop lokal pada umumnya.”

Baru sekitar era awal 2000-an saya mulai menjadi pelahap karya Homicide yang rajin. Mendengarkan semua musiknya. Membaca semua liriknya. Menyerap hampir setiap informasi dan ‘pembelajaran’ yang saya terima dari eksplanasi lirik, buklet dan newsletter. Termasuk juga mengintai segala gerak-gerik mereka di ranah aktivisme sosial-politik.

Betapa tajam dan inteleknya lirik Homicide sudah diakui dan diulas panjang-lebar oleh banyak pihak. Pilihan kata dan diksi yang digunakan Homicide memang istimewa. Mengutip banyak nama tokoh, daerah dan peristiwa yang berbasis pada rubrik sosial, politik, filsafat, hingga budaya pop. Nyata dan aktual.

Setiap baitnya mampu memancing geram, menyimpul senyum dan tak jarang juga mengerutkan dahi. Liriknya bekerja, tidak banyak band lokal yang bisa seperti itu. Menggugah sekaligus menggerakkan. Membakar, tentu itu adalah kata yang tepat. Terselip juga pesan agar kita mampu mengorganisir diri, kawan dan komunitas.

Kebetulan saya pertama kali menyimak Homicide pada semester-akhir-nyaris-drop-out di Fakultas Hukum, Universitas Brawijaya. Jadi harusnya banyak kata dan kalimat yang sudah cukup akrab di telinga. Atau setidaknya sering saya jumpai dalam buku-buku dan diktat kuliah – yang sejujurnya saya miliki hanya untuk persiapan kalau nanti ada ujian open-book.

Layaknya mahasiswa yang lebih banyak nongkrong di kantin dan naik gunung hingga kuliah molor tujuh tahun, membaca lirik lagu Homicide pasti lebih menyenangkan daripada mempelototi buku-buku tebal itu.

Tapi tidak bisa dipungkiri, dari lirik-lirik tersebut saya malah jadi lebih sering buka buku dan kamus untuk mencari definisi dari kata-kata asing yang sering disebut dalam lirik mereka. Atau minimal browsing internet mencari tahu siapa sebenarnya Soros dan Bakin, di mana letak Chiapas, serta apa yang terjadi di Madison Park pada awal 80-an. Sayang, sampai sekarang saya belum pernah membaca kolom Atang Ruswita. Abaikan masalah ini.

Contoh lain, mengenai IMF, WTO, World Bank, hingga GATT, AFTA dan NAFTA kebetulan sering saya dapatkan ulasannya pada mata kuliah Hukum Ekonomi Internasional, setiap pekan. Saya jadi sedikit agak paham apa yang sedang digelisahkan oleh Homicide. Sementara soal Albert Camus atau modernitas ala Foucault itu bisa saya cari sendiri dengan mudah di buku-buku Ilmu Filsafat. Nah, kalau duet Hitler tanpa kumis dan Earth Crisis itu yang susah dicari rujukannya.

Lirik-lirik yang penuh metafora dan analogi itu memang seharusnya mengajarkan kita untuk lebih banyak membaca dan mau belajar lagi. Lirik Homicide memang tidak serta merubah kondisi, menyelamatkan rakyat, atau bikin saya berani demo turun ke jalan, misalnya. Tidak. Belum sampai situ.

Tapi dari sana saya telah belajar, sadar serta memahami banyak hal – yang justru lebih efektif daripada apa yang saya dapat dari bangku kuliah kemarin. Pandangan saya terhadap dunia, pemerintah, aparat, bahkan tentang pemilu mungkin sudah ikut berubah bersama rima-rima terakhir mereka.

Oke, sekarang hampir semua orang mengaku suka Homicide [RIP]. Seketika unit ini memiliki banyak fans dan cult follower. Menjadi simbol yang suci, dicap legenda, dan mulai jadi ‘komoditas’. Homicide sendiri pernah mengakui kalau status seperti itu justru membuat mereka jengah dan merasa tidak nyaman lagi. Mungkin benar, tidak perlu menyorotkan lampu spot yang terlalu terang kepada Homicide supaya mereka tidak kepanasan.

Faktanya memang begitu. Homicide lahir, tumbuh dan besar di skenanya dengan dinamis. Sampai akhirnya unit ini hanya meninggalkan seorang Morgue Vanguard sendirian. Pria yang gemar menyimpul bandana di kepala itu terpaksa harus membubarkan Homicide berbarengan dengan rilis album Illsurrekshun [2007]. Kemudian sempat membuat kegaduhan baru atas nama Trigger Mortis, Bars of Death, atau kolaborasi terakhirnya dengan Still.

And the beat goes on…

xxxxx

Dalam rentang waktu 2005 – 2006, materi Barisan Nisan mulai dikerjakan dan direkam untuk pertama kalinya. Konon, album itu hanya dicetak dalam bentuk CDR dan dijual murah seharga sepuluh ribu rupiah. Tersebar dari tangan ke tangan, dan tersedia di hampir setiap gig Homicide, di kota asalnya.

Sementara saya, yang tinggal sekitar 771 km dari Bandung, tentu tidak pernah melihat wujud fisik album tersebut. Seperti biasa, setiap rilisan Homicide hanya santer terdengar di telinga, tanpa promosi yang masif, dan tidak pernah menjadi stok wajib pada rak-rak distro/outlet di daerah. Memang, distribusi rilisan fisik dan penjualan online belum sebaik hari ini.

Selanjutnya sudah bisa ditebak. Dalam waktu yang relatif singkat, Barisan Nisan dinyatakan raib dari peredaran alias out-of-stock. Kami yang di daerah sudah cukup paham dan legowo dengan fakta seperti itu. Apa boleh buat.

Beberapa bulan kemudian, materi album Barisan Nisan itu sudah berada di arsip komputer saya, dalam format mp3. Saya lupa dapat dari mana atau dari siapa. Mengingat sebagian besar teman-teman saya dulu adalah ‘aktifis’ warnet, tentu tidak terlalu sulit bagi mereka untuk berburu segala musik yang kami sukai, lewat jaringan online.

Belakangan, saya baru bisa menikmati semua materi lagu Barisan Nisan dengan baik melalui cakram padat yang bertajuk The Nekrophone Dayz; Remnants and Traces From The Years Worth Living, sebuah album antologi Homicide yang dirilis oleh Subciety Records.

Sejatinya, hampir semua materi Barisan Nisan itu hanya dikerjakan seorang diri oleh Herry Sutresna alias Ucok Homicide alias Morgue Vanguard – dibantu oleh DJ-E dari balik perangkat turntable dan beberapa kawan-kawan dekat sebagai kolaborator saat rekaman.

Jika benar Barisan Nisan itu dirilis sekitar tahun 2006, kemungkinan besar Homicide memang terinspirasi dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di zaman itu, khususnya pada masa-masa pasca Godzkilla Necronometry [2002]. Lirik-liriknya bisa jadi dilatarbelakangi oleh kejadian di ranah global, berita nasional, atau bahkan di lingkungan terkecil atau komunitas mereka sendiri. Mungkin saja. Toh ini masih dugaan saya pribadi.

Saya menemukan logika Star Mild, invasi Bush, dan jaya-jayanya Bin Laden pada “Senjakala Berhala”. Anthem klasik yang mengutuk pemilu dan ketamakan valas. Namun yang paling bikin saya girang adalah gagasan menempelkan sample musik milik Tribes of Neurot dan Godflesh di lagu tersebut, meski sulit dicari di mana tepatnya potongan itu berada.

“Belati Kalam Profan” mengutip invasi kultural MTV, Coca-cola dan Big Mac sebagai metafora atas konsep neo imperialisme dan kapitalisme. Ada segurat trauma saat Morgue Vanguard menyebut nama Faizol Reza, seorang mantan aktivis PRD. Hingga ia pun perlu berstatemen, “Aku permanen bernubuwat layak ribuan riff Azagthoth”, sembari mengutip nama gitaris grup band death metal yang bengis, Morbid Angel.

Sejak intro lagu “Rima Ababil”, kita yakin kalau Munir memang tidak pernah mati. Kala itu, kasus pembunuhan Munir belum juga terungkap. Pollycarpus yang hanyalah pion dan martir mulai resmi ditahan – dan ironisnya, hari ini sudah dibebaskan akibat remisi yang berlebihan dari rezim SBY. Tembang ini menyimpan refrain terus menempel di telinga; “Rima ini kurancang untuk menantang mitos / Hegemoni rezim dewa logos / Kurancang rima ababil yang bidani holokos / Jika kau bangun kastilmu ‘tuk mendominasi kosmos”.

“Sajak Suara” itu semacam musikalisasi puisi karya Wiji Thukul, yang diucapkan dengan tegas dan gagah. Pesannya sudah jelas dan lugas. Cukup didengarkan saja dengan seksama. No need for details.

Saya menghela banyak nafas panjang ketika Morgue Vanguard menggerutu di setiap baris “Barisan Nisan”. Frase “Kemungkinan terbesar sekarang adalah memperbesar kemungkinan pada ruang ketidakmungkinan” selalu membekas sejak pertama kali mendengar kalimat tersebut. Itu salah satu bait terbaik yang pernah saya temui dalam lirik berbahasa Indonesia.

Saya musti mencintai bagian akhir dari “Barisan Nisan’ di mana Morgue Vanguard yang, tidak seperti biasanya, bersimpuh meratap dan mengucap doa yang tulus. Coba simak lagi. Itu bukan sekedar janji dari musisi dan aktivis yang bisa saja dikhianati. Itu adalah sumpah seorang ayah, dan tentunya tidak main-main. Menurut saya, itu sudah sangat personal dan cukup menyentuh.

“Nekropolis” mengajak Addy Gembel [Forgotten] untuk mengisi vokal, atau tepatnya, berteriak. Ini lagu paling suram sekaligus beringas yang mampu menggambarkan suasana sebuah kota mati secara sempurna. Saya rela mengangkat tangan dan memberikan simbol devil horn untuk tembang seperti ini.

“Membaca Gejala Dari Jelaga” adalah surat personal Morgue Vanguard kepada Aszi alias MC Sarkasz, bekas kompatriotnya di Homicide dulu. Sebuah tembang nostalgia dan kerinduan kepada mantan. Mereka dulunya ibarat partner-in-crime yang sama-sama pegang mikrofon di garda depan. Track ini lagi-lagi menunjukkan sisi sentimentil Morgue Vanguard, yang sesungguhnya jarang diungkap oleh fans dan media. Bahwa perjuangan bukan hanya soal seberapa keras kita menampar sekumpulan lawan, tetapi juga seberapa erat kita merangkul seorang kawan.

Seperti itulah Barisan Nisan di mata saya. Sebuah album yang memberi porsi paling besar bagi Morgue Vanguard untuk menggerutu, geram dan marah pada kondisi yang ada. Berisi sekumpulan musik protes dalam bentuk terbaiknya. Tetapi itu juga album yang paling personal dan murung, ketika ia menjadi lebih tenang dan seperti punya banyak waktu untuk merenung. Cukup manusiawi.

xxxxx

Saat ini, anda mungkin sudah memutar plat Barisan Nisan dan membaca semua baris liriknya. Ya, semua isi dan pesannya masih terasa relevan hingga hari ini. Dengan kata lain, kondisi dunia dan negeri ini masih juga sama seperti satu dekade yang lalu; tidak lebih baik. Dan mungkin tidak akan pernah baik-baik saja.

Setelah menjalani hampir satu dekade kehidupan yang masih saja agresif dan dekaden, kita kembali menziarahi Barisan Nisan dalam formatnya yang paling baru. Oke, itu mungkin tidak akan merubah kondisi juga. Tetapi, bukankah sudah ditegaskan di awal kalau kemungkinan terbesar sekarang adalah untuk memperbesar kemungkinan?!…

Malang, Januari 2015

*Tulisan ini sebelumnya dimuat sebagai Liner Notes untuk proyek album re-issue Homicide “Barisan Nisan” dalam format vinyl 12” [Grimloc / Grieve Records], dan kaset [Grimloc / Elevation Records]. Atas kesepakatan semua pihak, tulisan ini juga dimuat di situs Jakartabeat.