the things ; february 2015
the things ; february 2015

“Books, records, films – these things matter. Call me shallow,
it’s the fucking truth!” – Rob Gordon, High Fidelity.

Tentang menikmati barang-barang yang berharga di tengah hobi berburu [kembali] kaset-kaset lawas, menyantap buku dan film apa saja di pagi buta, atau mulai kesal dengan kondisi kota tempat domisili saya belakangan ini.

Atau setidaknya, hal-hal di bawah ini cukup menghibur, menyita perhatian dan menjadi favorit saya selama beberapa pekan terakhir.

Poison Nova – Circle of Woe [Lawless Recs]

Saya dikirimi CD ini oleh Arian13 [Seringai/Lawless], beberapa waktu lalu. Cukup penasaran karena ada band asal Cirebon yang memainkan musik yang tidak biasa. Metal yang kencang dan suram. Nuansa atmosferik di sana-sini. Sudah pasti band ini segera naik derajat, dan mulai mengisi sejumlah gigs di Jakarta-Bandung.

Homicide – Godzkilla Necronometry [Elevation Recs]

Apa yang perlu dijelaskan lagi dari band dan album ini? Beruntung saya masih bisa dapat kaset ini di akhir masa pemesanan, dengan casing warna merah pula. Sebuah harta karun paling dahsyat dari katalog Elevation Records, so far.

The Sastro – Vol.1 [Kenanga Recs]

Ini gara-gara membaca sebuah artikel di WastedRockers, yang bikin saya beranjak menuju rak kaset dan memutar kembali album klasik ini. Silahkan menguping versi digital-nya di Soundcloud. Sekitar sepuluh tahun lalu, saya juga pernah menonton konser mereka di Malang. Keren. Ya, musik indie-pop belum pernah se-progresif ini.

V/A – Brain Beverages [Harder Recs]

Ini hasil tape-trading atau barter dengan seorang kawan di Bekasi. Kompilasi yang menarik, dan tentunya bersejarah. Puppen, Balcony, Jeruji, Turtles Jr, hingga Homicide dengan singel-singelnya yang berdaya ledak tinggi. A scene defining.

Humania – Sahabat Lama [Musica]

Iseng jalan-jalan ke pasar loak di pusat kota, menemukan kaset di sebuah kios yang agak kumuh. Setelah tawar-menawar harga dengan alot, mulai dari 5000 perak dan kelipatan 500 di setiap negonya, akhirnya kaset ini saya bawa pulang dengan harga damai, Rp.3500,-. Ha!

Warning Magz #5 – Folk Edition

Majalah ini makin bagus kontennya. Tulisan-tulisannya makin kuat. Sudah mulai menemukan gaya dan formatnya yang terbaik. Sudah seharusnya Warning Magz menjadi rujukan utama untuk penerbitan media independen di tanah air. More power to ’em!

The Geography of Bliss [Eric Werner]

Sejak lama saya sudah mengincar ingin beli buku ini, sampai akhirnya sekarang sudah masuk edisi baru dan cetakan yang kesekian dengan desain sampul yang berbeda. Bertutur soal perjalanan mencari kebahagiaan dengan gaya yang kocak sekaligus cerdas. Kemarin, di toko buku Toga Mas, saya ‘amankan’ buku ini – daripada terlalu lama dijejer bersebelahan dengan Naked Traveler yang cuma gitu-gitu saja.

Perkembangan Kota & Arsitektur Kolonial Belanda di Malang [Handinoto & Paulus HS]

Sebuah buku lama terbitan tahun 1996 yang selalu jadi referensi utama ketika saya kesal dengan tata kota Malang hari ini. Sebenarnya, Herman Thomas Karsten sudah susah payah merancang konsep kota yang sempurna untuk Malang, namun dirusak begitu saja oleh para pejabat kota beberapa periode belakangan ini. Buku ini saya baca berulang-ulang dan jadi makin geram saja pada pemkot setempat. D’oh.

Gone Girl [Directed by David Fincher]

Film brengsek karya sutradara pintar. Alur ceritanya mengejutkan, apalagi ending-nya. Saya sampai nonton tiga kali, yang terakhir hanya khusus untuk menyimak musik latar yang diproduksi oleh Trent Reznor dan Atticus Ross dengan brilian. Oke, sekali lagi, film ini brengsek!

Oke. Cukup. Sekian.