Gus Din bersama Totok Tewel & John Lennon
Gus Din bersama Totok Tewel & John Lennon [foto; Adon/AV]

“Remember when you were young, you shone like the sun.
Shine on you crazy diamond.
Now there’s a look in your eyes, like black holes in the sky.
Shine on you crazy diamond…”

“Orang-orang seumuran kita ini mungkin baru bisa ngumpul semua kayak gini kalo gak pas di momen perkawinan, ya di acara pemakaman…” kurang lebih begitu kata seorang teman sambil tersenyum pahit ketika kami berjumpa di TPU Kasin Malang, 07 Januari 2015 kemarin.

Pagi itu, memang banyak sekali teman-teman lama yang datang dan berkumpul. Tidak setiap hari, pekan atau bulan kami bisa ketemu semua kayak begini. Seingat saya, memang ada banyak sobat lama yang berkumpul di situ. Ada Ook Confuse, Keceng, Niko, Gatot, Wading, Doni, Arfan, Deni, Ipul, Citul, Fahmi, Giman, Atenk, Agus Moron, Gindung PCHC, Antok EC, Bongky Cadas, Didit NML, Erik, Nonot, Rocky, Mas Nial, Cak Alfian, Mas Wahyu AV, dan masih banyak lagi. Mereka semua datang ke pemakaman dan memberikan penghormatan terakhir kepada [alm] Hasanudin, atau yang akrab kami panggil Gus Din, yang disemayamkan di sana. Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun…

Subuh tadi, beberapa jam sebelumnya, banjir kabar duka via sms, bbm, wasap, bahkan mesej FB yang mengabarkan kalau Gus Din meninggal dunia akibat sakit yang dideritanya. Memang sudah hampir seminggu belakangan, dia dirawat inap di RSUD Saiful Anwar Malang. Beberapa kawan sudah sempat menjenguknya. Sebagian lagi belum, atau tidak tahu. Menurut kabar, dia didiagnosa mengidap penyakit Thalassemia.

Keceng kirim mesej ke saya via FB, jam empat pagi. Lalu Cak Alfian juga menelpon. Beberapa menit kemudian, kabar duka seperti itu muncul terus di ponsel saya, dari banyak teman. Saya terdiam. Berduka. Langsung berdoa pendek dan memutar lagu “Shine On You Crazy Diamond”. Kemudian saya mandi dan bersiap-siap. Jam sembilan pagi saya sudah tiba di pemakaman sambil memakai kaos Pink Floyd, band kesukaan saya dan Gus Din.

“You were caught in the crossfire of childhood and stardom, blown on the steel breeze. Come on you target for faraway laughter, come on you stranger, you legend, you martyr, and shine!”

xxxxx

Saya sudah sekitar 20 tahun mengenal Gus Din. Sejak kami berusia belasan tahun dan sama-sama bergaul di lingkungan komunitas musik underground di kota Malang, serta menjadi bagian dari skuad TSC [Total Suffer Community] di awal era 90-an.

Gus Din adalah pria kalem yang supel, doyan bercanda dan memiliki semangat tinggi. Dia termasuk pionir, salah satu bagian dari generasi awal yang turut serta mengembangkan skena musik independen di Malang.

Dia yang pertama kali membidani kelahiran distro dan lapak di kota Malang, yaitu Abstract – yang kemudian jadi embrio pembentukan Smash Shop yang dikelolanya bersama Ook. Dia termasuk orang yang pertama kali membuka jaringan distribusi rilisan & merchandise hingga ke luar kota Malang.

Menurut Ook, Gus Din termasuk Arek Malang yang pertama kali datang ke komunitas punk/hc di Meruya hingga Blok M [Jakarta] dan BIP, Riotic sampai Harder [Bandung], serta menjalin kerjasama yang intens dengan mereka. “Temen dan relasinya memang banyak. Jaman itu sudah kenal Aldi Keparat, Dadan Riotic, Aziz Blind To See, dan anak-anak punk Meruya juga di situ. Mulai deket sama dedengkot-dedengkot punk di Bandung dan Jakarta lah.”

Ook juga masih mengingat kalau dia sama Gus Din dulu sering jalan bareng ke luar kota, hanya untuk mencari kaset-kaset rilisan lokal setempat. Membelinya beberapa, atau kulakan dengan harga wholesale price untuk dipasarkan kembali pada teman-teman mereka di Malang.

Kemudian, ketika mulai banyak band lokal Malang yang rilis album, mereka juga yang suka bawa ke luar kota untuk dititipkan pada koneksi distro/lapak yang sudah dibina sekian lama. Sambil promosi band Malang, kilah Gus Din. Kerap kali mereka juga buka lapak sendiri di sejumlah gigs atau pertunjukan musik di Surabaya, Bali, Jogja, Jakarta, hingga Bandung.

Gus Din juga merupakan orang yang pertama kali bikin label indie di Malang, namanya KDHC Records [Kidul Dalem Hard Core]. Kidul Dalem adalah tempat tinggalnya, sebuah nama perkampungan di tengah kota Malang. Menurut Didit, labelnya Gus Din ini yang pertama kali merilis album No Man’s Land “Punk’s and Art School Drop Outs” dalam bentuk kaset pada tahun 1996.

Sebuah Tribut dari No Man's Land
Sebuah Tribut dari No Man’s Land

Awalnya, selera Gus Din didominasi oleh musik rock, terutama genre punk dan hardcore – meskipun dia tidak menutup kuping pada jenis musik lainnya. Semua aliran musik dilahapnya. Semua komunitas musik dari segala usia dan komunitas juga diakrabinya. Otomatis wawasan musiknya juga cukup luas. Mencakup beragam genre musik dan melintasi zaman.

Saya bisa berbincang panjang-lebar soal Pink Floyd, Sex Pistols, Nirvana, Slayer, hingga Sick Of It All dengan Gus Din. Wawasan musik lokalnya malah lebih jago dan khatam. Seperti ensiklopedia musik berjalan, mungkin. “Gus Din ini seperti Denny Sakrie-nya Malang ya,” ungkap Ook sambil tersenyum menyebut nama pengamat musik senior yang kebetulan juga baru meninggal dunia, beberapa hari yang lalu.

“Gus Din ini gaulnya lintas generasi. Mulai generasi musisi lokal lawas sampai yang sekarang dia kenal baik. Dia juga yang sering nge-link-kan kita dengan orang-orang yang lebih tua dan berpengalaman,” begitu pengakuan seorang kawan.

Benar juga, tanpa Gus Din mungkin saya dan beberapa kawan tidak akan pernah mengenal sosok-sosok pelaku musik yang aktif di era 70-80an di kota Malang. Gus Din yang mengenalkan kami dengan mereka, hingga kemudian jadi akrab dan sering terlibat dalam kerjasama bareng-bareng. Jelas, bagi kami Gus Din adalah sosok yang di-tua-kan dan jadi penyambung lidah antar generasi di sini.

Gus Din juga salah satu penggagas Kolektif Radiasi, sebuah gig organizer yang giat menggelar konser/festival musik di Malang, sejak era 2000-an. Bersama Ook, Afril, Rafi, Adon, saya dan sejumlah kawan lainnya juga pernah terlibat aktif di Kolektif Radiasi. Kami pernah sama-sama jatuh bangun menyiapkan serial Hardcore Attack, mengundang berbagai band dari dalam dan luar kota [Burgerkill, DOM65, Mortal Combat, Seringai, dsb], hingga memfasilitasi band-band asing/bule yang kebetulan mampir di Malang. Termasuk juga banting-tulang mengerjakan proyek kami yang paling fenomenal; konser The Exploited di Malang serta tur Burgerkill keliling Jatim dan Bali.

Gus Din itu orangnya sangat rapi, teliti, cermat, disiplin, dan terpercaya kalau bekerja. Karena itulah dia sering kebagian tugas mengurus perijinan acara, mengelola ticketing, sampai memegang uang kas Kolektif Radiasi. Di antara kami, mungkin hanya dia yang sanggup menangani hal itu semua, dengan hasil kerja yang baik bahkan sempurna.

Ya, kami pasti merindukan Gus Din yang selalu membawa tas / map berisi Surat Ijin Keramaian dan dokumen penting lainnya, atau ketika ia duduk serius menghitung uang penjualan tiket di meja loket sebuah pertunjukan.

Beberapa lama beraktifitas di Kolektif Radiasi, akhirnya kami [saya, Ook, Rafi, Adon] diajak Gus Din untuk terlibat juga di AV Production, sebuah EO pimpinan Mas Wahyu [Arema Voice]. Kami sering gelar pertunjukan musik hingga tur bareng AV Prod hingga ke beberapa kota di Jatim dan Bali. Kami belajar banyak dari sana, soal produksi event utamanya.

Ook, Saya, & Gus Din ketika produksi sebuah event musik.
Ook, Saya, & Gus Din ketika produksi sebuah event musik.

Saya jadi ingat, postingan terakhir di Facebook Gus Din sebelum meninggal adalah link video dari Van Katoen, band Belanda yang pernah kami organisir show-nya ketika mereka mampir ke Malang. Dia muat link video itu, sembari menulis, “Band iki tau maen ndek Buku2an ngarepe Malang Post.”

Well, kamu yang bikin acara itu bisa terlaksana, Din. Saya ingat betul, Gus Din yang mengusulkan untuk pakai venue itu melalui relasinya di sana dan akhirnya sukses digelar gratis untuk publik. Sebuah konser rock di tengah ruas jalan di antara kios-kios lapak buku bekas? You’re the man!

Konser cadas terakhir yang saya garap bareng Gus Din dkk adalah proyek ApokalipShow, yang menampilkan Psycroptic [Aussie], Burgerkill, Anorma, Screaming Factor, dan Killharmonic di Taman Krida Malang, tahun 2009 lalu. Kemudian, beragam event musik bersama AV Prod hinga sekitar 2-3 tahun lalu.

Di setiap momen produksi show, Gus Din selalu bekerja dengan total dan penuh enerji. Dia yang paling sering menyemangati dan membesarkan hati kawan-kawannya ketika bekerja bersama. Tak kenal lelah.

“Iya, Gus Din sendiri sering terlalu semangat dan forsir tenaganya kalo pas kerja produksi event. Kadang sampai lemes dan agak sakit, tapi dia sendiri tidak pernah mengeluh,” kata kawan yang sering kerja bareng Gus Din di balik layar produksi event.

“Belakangan ini, Gus Din mulai sering posting dan upload foto-foto lawasnya. Mulai dari kegiatan jalan-jalannya ke luar kota bareng teman-teman, atau sekedar majang koleksinya,” kata Ook pelan saat di pemakamam kemarin, seperti ingin meyakini sebuah firasat dan momen-momen istimewa mereka saat bersama.

Gus Din juga seorang kolektor musik yang keren. Dia dikenal suka mengoleksi boxset CD dari band-band rock lawas, mulai Pink Floyd sampai Black Sabbath. Karena relasinya yang luas, dia juga sering bantu teman-temannya untuk mencarikan maupun menjualkan koleksi musiknya. Gus Din bahkan punya link sampai ke kolektor kelas wahid seperti Bang Faiz untuk transaksi segala jenis barang.

Selain doyan beli boxset, Gus Din juga suka belanja kaos band. Kaos art/prog-rock dengan desain tie-dye yang warna-warni adalah favoritnya. Semua teman kami tahu soal itu semua. Terakhir kali saya belanja bareng Gus Din itu pas di Kickfest, sekitar dua tahun lalu. Dia tanpa ragu mengambil kaos Rush yang bercorak tie-dye dan berwarna cerah, malam itu. Wajahnya pun langsung cerah sekali setelah mendapat kaos tersebut.

Gus Din juga gemar beli produk lokal – baik itu rilisan CD atau kaos band lokal. Selalu beli, meski itu karya atau produk kawannya sendiri. Padahal kalau minta pun, dia pasti dikasih kayaknya karena sudah sangat akrab. Tapi tidak. Dia hampir selalu beli dan biasanya jadi konsumen pertama. Pada beberapa kasus, CD/kaos yang dia beli belum tentu memang dia suka, tapi dia merasa musti beli itu untuk support demi kelangsungan band tersebut. A positive mental attitude.

Dari dulu, Gus Din juga doyan nonton konser musik. Bahkan suka ngikut kalau ada band Malang yang manggung di luar kota. Sudah tidak terhitung berapa kali dia ikut rombongan Extreme Decay, System Error, Antiphaty atau Primitive Chimpanzee ke luar kota. Kadang ikut jadi kru/roadies, ngelapak, atau penggembira yang selalu menyemangati band-band itu untuk tampil apik di luar Malang. Kalau ada Gus Din, band-band itu biasanya lebih tenang dan gembira. He’s a really good supporter.

“Terakhir, setahu saya dia baru-baru ini sempet nonton acara classic rock di sebuah cafe. Bahkan kemarin, Gus Din sempet bilang punya cita-cita pingin ikut tur Antiphaty ke S’pore dan M’sia. Membantu dan menemani mereka di sana, dengan biaya sendiri,” kata seorang kawan di pemakaman kemarin.

Kalau trip/tour jalan-jalan ke luar kota bareng Gus Din mungkin sudah terlalu banyak yang pernah kami alami bersama. Tapi yang terakhir, kami satu gerbong berangkat bareng rombongan Primitive Chimpanzee ke Bandung, tahun 2012 lalu. Kami ikut menemani Agus Moron dkk yang mau tampil di Bandung Berisik saat itu. Bersama-sama di kereta api kelas ekonomi, menginap di losmen yang buruk, berangkat ke venue yang jauh, juga jalan-jalan keliling Bandung dan ketemu kawan-kawan lama si sana. Kami gembira senantiasa. A fun trip.

Ketika bersama rombongan Primitive Chimpanzee & Mesin Tempur di backstage Bandung Berisik 2012
Ketika bersama rombongan Primitive Chimpanzee & Mesin Tempur di backstage Bandung Berisik 2012

Sekitar dua tahun terakhir kami mulai jarang ketemu, kecuali hanya di acara-acara spesial saja. Kalau gak ketemu di sebuah acara konser musik, ya jumpa pas ada hajatan kawan kami. Dia tetap tidak pernah berubah. Supel dan suka bercanda. Juga dermawan, mengingat dia yang sering nraktir atau mbayari kami semua pas makan atau ngopi bareng. Hehe.

Belakangan juga, dia mulai bermasalah serius dengan penyakitnya. Memang sudah lama sih dia mengeluhkan sakitnya itu dan kudu bolak-balik periksa ke dokter atau RS. Sebab penyakitnya tergolong langka dan hanya orang yang punya semangat kuat bisa bertahan hingga saat ini.

Sahabat baiknya, Niko, yang sempat memantau perkembangan kondisi fisik Gus Din juga bilang, “Dokternya sendiri kaget lihat Gus Din masih bisa bertahan. Dia tergolong pasien yang paling tua untuk ukuran pengidap penyakit seperti itu. Biasanya Thalassemia itu diidap oleh anak-anak atau remaja. Sampai dokternya sendiri kagum dan menganggap Gus Din sebagai penyemangat bagi pasien-pasien muda yang mengidap sakit serupa.”

“Pas kita jenguk kemarin di RSUD, reaksinya mulai membaik. Waktu itu saya kepikiran mau balik lagi bawa mp3 player dan pingin muterin Gus Din lagu-lagu Pink Floyd pake headset. Siapa tahu kondisinya bisa lebih baik lagi,” ujar Arfan pelan.

Selama ini, Gus Din sudah bertahan dengan baik. Berupaya menjaga kondisinya, tidak mau merepotkan orang lain, bahkan senantiasa menyemangati kawan-kawannya di berbagai bidang. Hingga akhirnya muncul kabar duka pada Rabu subuh hari kemarin…

“You reached for the secret too soon, you cried for the moon.
Shine on you crazy diamond.
Threatened by shadows at night, and exposed in the light.
Shine on you crazy diamond.”

xxxxx

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 12 siang dan kami masih nongkrong di areal pemakaman. Beberapa orang dari kami masih belum pulang, padahal prosesi pemakaman sudah selesai sejak dua jam yang lalu. Beberapa kawan bahkan ada yang baru datang, terlambat. Kami hanya duduk-duduk saja di pelataran pintu makam, sambil berbincang dan guyon. Bertukar kabar dan informasi, karena memang lama tidak ketemu. Ook dan Deni bahkan sempat memesan bergelas-gelas kopi untuk kami minum bersama.

Saat kami nongkrong di TPU Kasin pasca pemakaman Gus Din [07/01].
Saat kami nongkrong di TPU Kasin pasca pemakaman Gus Din [07/01].
Ini menjadi semacam reuni, sambil mengingat momen-momen penting yang pernah terjadi di antara kami dan Gus Din. Semoga orang baik akan selalu dikelilingi oleh orang-orang yang baik pula.

Seperti Gus Din, dia adalah orang yang baik. Bahkan terlalu baik.

Dia sudah menjadi pionir akan segala aktifitasnya di skena musik lokal. Dia yang menginspirasi kami untuk bekerja dengan penuh passion. Kita bisa belajar darinya soal bagaimana cara mendukung dan mengembangkan potensi musisi/band lokal dengan tulus. Kami belajar soal semangat, dedikasi, dan loyalitas dari pemuda bertubuh kecil namun berhati besar ini. Suwun, Din!

Semoga dia tetap bersinar di surga-Nya sana. Sampai ketemu lagi, sobat. We’re already missed you.

“Well you wore out your welcome with random precision, rode on the steel breeze. Come on you raver, you seer of visions, come on you painter, you piper, you prisoner, and shine!”

Rest In Peace ; Hasanudin a.k.a Gus Din [1976-2015]