album metal terbaik 2014
album metal terbaik 2014

Beberapa jam lagi, tahun 2014 bakal segera berakhir. Sebelum berbotol-botol minuman dan menu barbekyu digelar, ada baiknya kita menoleh ke belakang sejenak. Sebelum terompet kertas dan kembang api murahan dinyalakan, sempat ada kegaduhan metalik yang pernah terekam dalam beberapa karya yang cukup bermutu. Sesuai tradisi dan kebiasaan, saya selalu bikin daftar album metal terbaik yang dirilis selama setahun belakangan.

Dibanding tahun lalu, 2014 adalah tahun yang lebih baik bagi progres karya musik bergenre cadas di ranah domestik. Setidaknya begitu menurut saya. Sebab banyak rilisan album-album yang menarik dalam berbagai format [kaset, CD dan plat] dari band yang tergolong lawas, barisan band muda belia, atau bahkan dari para debutan.

Tahun ini juga muncul segudang karya non-rilisan musik dan sederet peristiwa menarik lainnya yang ikut mewarnai budaya metal di Indonesia. Katakanlah, tahun ini juga lahir banyak label-label baru, konser/tour dan festival musik di berbagai daerah, penerbitan buku dan media, video musik, ilustrasi dan desain cadas, record [online] store, sampai reuni band-band lama [yang berujung pada album reissue, atau sebaliknya?!]. Soal ini, mungkin akan saya bahas dalam artikel tersendiri. Nanti.

Tahun 2014 juga memberi catatan kredit yang penting bagi bertambah panjangnya pita-pita kaset yang kembali sudi merekam lagu-lagu cadas. Mulai banyak label dan band yang merilis albumnya dalam format kaset – sehingga memang perlu dibuatkan daftar album terbaiknya sendiri. Tahun ini, format kaset memang sudah bisa berada pada baris yang penting di rak lapak dan koleksi para metalhead. Kaset-kaset itu bahkan sudah berani mengangkat alis dan melirik pongah pada kumpulan kumpulan vinyl dan CD di sebelah. Dih, sombong.

Catatan penting lainnya adalah maraknya album reissue. Setahun ini, tak kurang dari Burgerkill, Seringai, Deadsquad, Rotten Corpse, Grausig, Primitive Chimpanzee, Godless Symptoms, sampai Domestik Doktrin kembali merilis ulang album lawasnya dalam berbagai format. Kabar baiknya, produk-produk itu masih diapresiasi dengan baik oleh publik, yang bahkan dalam beberapa kasus berjalan teramat baik dari sisi penjualan. Dalam kondisi yang wajar, proyek reissue tetap menjadi langkah yang adil untuk menambah stok dan opsi bagi para fans.

Setahun ini, tanpa melibatkan album reissue, saya sudah cukup kewalahan menerima agresi bertubi-tubi dari banyaknya rilisan album metal dari segala pelosok negeri. Mereka itu – band dan label – sudah terlampau agresif merilis sesuatu. Sadis. Imbasnya, saya jadi punya banyak pilihan, pengeluaran dan juga kebingungan. Ya, membeli dan mendengarkan album lokal belum pernah sesibuk ini sebelumnya.

Alhasil, dengan akselerasi maksimum saya coba membongkar rak koleksi dan arsip-arsip penting untuk proses penulisan ini. Menumpuk CD dan kaset rilisan 2014 di meja kerja selama sepekan terakhir dan menyimak kembali album-album tersebut dengan seksama. A tough days.

Hasilnya, dengan penuh kesadaran, saya tasbihkan sejumlah rilisan berikut ini sebagai Album Metal Terbaik Sepanjang Tahun 2014. Total ada sembilan judul album yang saya anggap memang paling baik dan penting di tahun ini. Saya tidak akan kasih ulasan yang lebih detil dan panjang soal album-album tersebut – karena toh anda bisa mencari arsip review-nya di beberapa media sebelumnya, atau bahkan langsung mencari dan memutarnya dengan kencang di stereo set anda.

Ya, seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, it’s been a good year for metal.

09. Nectura – Awake To Decide [Off The Records]
Sejak awal, Nectura tampak seperti debutan yang sudah tidak perlu diragukan lagi mutunya. Sebab band ini digawangi oleh tiga kepala alumni dari Beside, salah satu veteran metal kota Bandung. Dibalut dengan visualisasi kemasan album yang bernuansa putih dan lembut, Awake To Decide tetap bisa merongrong bagi telinga cadas mana pun. Simak duet gitaris Abo dan Hinhin yang sangat memanjakan telinga, baik dalam sesi riff maupun melodi. Vokalis Owank pun bisa bernyanyi dan berteriak dengan sama baiknya. Lewat album ini, Nectura boleh dibilang cukup berhasil jika dituntut untuk menggambarkan musik melodic metal yang tereksekusi dengan rapi dan manis. Semudah itu pula menggiring penggemar Soilwork, Sonic Syndicate, atau Chimaira untuk supaya menyukai album ini tanpa syarat. Tamu-tamu spesial seperti Risa Saraswati [Sarasvati], Vicky Mono [Burgerkill], Addy Gembel [Forgotten], dan Nicko [Ballerina] yang menyumbang kredit di sejumlah lagu tentu ikut menambah daya tarik rilisan ini. Awake To Decide menjadi kumpulan harmoni yang tersimpan baik dalam kotak pandora putih dan dimainkan secara memikat oleh tangan-tangan terampil yang berkaos gelap.

08. Slutguts – Hollow [Alaium Records]
Kenekatan Alaium Records, label anyar milik Daniel Mardhany [vokalis Deadsquad], untuk mengontrak band ‘kecil’ sebagai roster pertamanya seakan terbayar lunas jika melihat dari kualitas materinya. Slutguts nyaris tidak pernah terdengar sebelumnya, namun Hollow lumayan mencuri perhatian. Album ini ikut menandai episode nada-nada yang digeber dengan cara yang brutal sekaligus mencekam. Seperti mengaduk bebunyian punk, hardcore dan metal yang paling suram dalam formula sound yang kotor dan bising. Band asal Depok yang diklaim sebagai penganut keyakinan bermusik neo-crust ini pasti relevan dengan Nails, Trap Them dan Black Breath. Mungkin tidak banyak yang menyukai jenis musik seperti ini – namun jika mau mencoba dan serius menyimak, niscaya kita paham bahwa kegelapan itu masih berirama. Pada Hollow kita juga bisa membuktikan kalau intensitas itu tidak melulu kencang, tapi juga bisa pekat.

07. Neurosesick – Neurosesick [Resting Hell]
Cukup lama tidak mendapati unit baru asal kota Malang yang mampu menggerinda dengan baik layaknya Extreme Decay dan juga setajam Antiphaty. Untung sekarang penantian itu sudah terjawab oleh materi terbaru Neurosesick. Refuse Resist Exist mempertemukan thrash-punk dengan sound metal dan ketukan grinding pada takaran yang pas. Ada corak-corak groovy di beberapa bagian. Tema-tema apokaliptik ikut mewarnai album ini, dengan kibasan kuas yang gelap tentunya. Tigabelas nomor di sini – termasuk kover dari Sepultura dan Disfear – adalah presentasi paling sahih dari seluruh diskografi mereka. Musik bergerinda ala Neurosesick cukup ideal untuk bekal headbang di depan stereo set atau merangsang moshpit yang seru ketika live. Sungguh, Refuse Resist Exist sudah mulai menemukan frekuensinya yang tepat dan bisa menyalak dengan garang.

06. Taring – Nazar Palagan [Grimloc Records]
Tahun ini, Taring tiba-tiba muncul membawa agresi tajam yang cukup menggigit. Rasanya seperti diserbu oleh artileri musikal sisa-sisa kejayaan Balcony, Homicide sampai Forgotten – jika acuannya adalah musisi lokal. Nazar Palagan memang memiliki itu semua; musik yang agresif dan lirik-lirik protes yang tajam. Pada line-up, ada nama-nama yang tidak terlalu asing bagi skena musik cadas kota Bandung. Apa yang sudah dikerjakan oleh label Grimloc Records juga cukup pas, yaitu menarik Taring pada lini yang paling berdistorsi dalam daftar katalog mereka. Nazar Palagan berhasil mengeksplor musik hardcore, thrash, punk, stoner, bahkan rap dengan jitu. Diksi-diksi menarik juga seperti sumbu yang mampu memantik adrenalin dalam waktu singkat. Baik sebagai kumpulan lagu protes atau sekedar rekaman peristiwa, Nazar Palagan tetap bisa jadi molotov yang siap dilemparkan di tengah pertempuran dan sudah pasti membakar.

05. Exhumation – Opus Death [Morbid Bastard Recs / Evil Prevails Prod]
Band ini mendadak muncul dari lembah peradaban musik cadas yang kuno di kota Jogja, lalu sontak bikin saya [dan mungkin anda?!] tiba-tiba ikut menyeringai jahat. Hari ini, Exhumation adalah trio yang paling sadis dalam memaknai heavy metal yang hitam pekat, berapi dan penuh paku. Melalui Opus Death, kita dibawa kembali ke jazirah metal era 80-an yang masih purba, kasar dan tidak beradab. Bengis. Tanpa kompromi. Mereka seperti anak-anak haram yang paling taat ketika memuja simbol pentagram dan siap membakar apa saja dengan obor menyala di tangan. Ini tiga pemuda yang sigap mengacungkan jari tengah dan akan mengobarkan perang pada siapa saja. Maaf, jika itu dirasa berlebihan. Sebab demi kemurnian budaya, imej seperti itu yang paling tepat untuk menggambarkan attitude dan kadar musik mereka tadi. Oke, ingat-ingat kembali komposisi musik thrash/death tradisional seperti yang pernah dimainkan Venom, Possessed, Sarcofago, hingga Bathory. Exhumation ikut menebar kocokan riff gitar yang thrashy, tempo drum yang ngebut, plus hardikan vokal yang mengancam. Bisa jadi, Opus Death bakal disukai oleh para 80’s metal purist yang agak-agak konservatif maupun anak-anak muda so-called-hipster yang suka memburu segala sesuatu yang dikata kvlt. Apalagi album ini kabarnya dicetak sangat terbatas dan sudah mulai susah didapati di pasaran. Opus Death adalah manifestasi yang paling orthodoks dari segala bentuk saga heavy metal di ranah domestik tahun ini.

04. Siksa Kubur – Siksa Kubur [Podium Music]
Sulit untuk berhenti kagum pada band yang telah mencurahkan hampir seluruh dayanya untuk bermusik selama sekian lama. Pada titik tersebut ada nama Siksa Kubur dengan dedikasinya yang tinggi dalam berkarya dan tur ke berbagai daerah. Tahun ini mereka merilis album ketujuh, self-titled, atau yang kadang disebut juga VII. Materi ini menunjukkan kalau musikalitas yang dibangun Andre Tiranda dkk sudah semakin matang dan dewasa – tanpa harus menurunkan tensi kebrutalan. Sekilas Siksa Kubur malah terdengar lebih lugas dan to-the-point dibanding album-album mereka sebelumnya. Seperti tidak lagi memaksakan intro atau bagian-bagian yang njelimet dan tak perlu. Mereka hanya ingin mengalun deras dan seperti tidak mau dihentikan. Desain sampulnya cukup sederhana, hanya siluet foto personil plus logo band – yang seakan ingin menunjukkan siapa diri mereka dan poin utama dari album ini sesungguhnya. Di setiap kisah perguruan kungfu mana pun; mahaguru terbaik itu selalu saja tua dan bijaksana, namun tetap punya jurus andalan serta masih jago bertarung. Siksa Kubur juga seperti itu, bisa memancarkan ‘kebijaksanaan’ sekaligus energi kuat yang tidak selalu dimiliki oleh rilisan-rilisan sejenis.

03. Roman Catholic Skulls – Gospels [Wasted Rockers Recordings]
Apa yang bisa didapat dari tiga buah lagu berdurasi panjang dengan rotasi total hampir 50 menit? Sebagai komposisi ‘rohani’, Gospels seperti menjalankan tugasnya untuk menerima segala pengakuan dosa dan menerbangkan umat pendengarnya ke ranah surgawi. Bebunyian yang terangkum di album ini menegaskan kalau ambience dan drone adalah wilayah sakral yang tidak bisa sembarangan orang bisa memasukinya. Roman Catholic Skulls adalah Marchel Thee dan Danif Pradana yang menggubah Gospels sebagai kidung pujian – tanpa pretensi reliji, melainkan spiritualisme. Tanpa retorika dan romantisme, hanya mutlak soal pengalaman [mendengar], akunya. Segala desir, denting dan dentuman yang bergemuruh di album ini merupakan pelarian terbaik dari semua kegaduhan di luar sana, termasuk internet dan sosial media. Bahkan mungkin, Gospels adalah kesejukan rohani yang tidak pernah kita dapatkan pada rumah ibadah, pemuka agama, apalagi kedai kopi terpencil dengan koneksi wifi gratis. Gospels adalah sebenar-benarnya senyap.

02. Carnivored – No Truth Found [self-released]
Sejak album ini rilis di pasaran, mulai banyak orang yang membicarakan Carnivored. Sebelumnya, mereka memang band medioker dengan musik death metal yang biasa-biasa saja. Namun, No Truth Found cukup sukses menjungkir-balikkan hipotesa tersebut. Saat ini, Carnivored [seharusnya] menjadi salah satu band yang layak diperhitungkan di jagat musik metal domestik. Sebelas lagu di album terakhirnya ini adalah kumpulan amunisi dahsyat jika kuping anda akrab dengan tipikal sound ekstrim dari daratan Polandia atau Florida US. Hasil produksi dan kemasan rekamannya juga memukau. Serbuan riff distortif yang melimpah dan ketukan drum hyperblast berpadu padan dengan erangan vokal yang menyalak baik. Tema sosial politik juga digambarkan dengan baik lewat lirik dan imej di album ini. No Truth Found sudah menemukan jalannya untuk melaju dan bersanding dengan band-band death metal papan atas di negeri ini.

01. Death Vomit – Forging A Legacy [Armstretch Records]
Seperti padi, makin tua itu semakin padat berisi. Ibarat anggur, makin tua juga pasti semakin mahal. Seperti itu gambaran paling sederhana soal Death Vomit, sebuah unit veteran yang masih bertahan di sirkuit metal nusantara. Di musim yang baik ini, Sofyan Hadi dkk cukup merevisi sedikit tehnis materi lama dan detil proses produksi mereka sebelumnya untuk mendapatkan hasil yang sulit dikejar oleh kolega se-genre-nya. Itu termasuk belajar banyak soal soundsystem agar bisa bikin output musik death metal yang terdengar nyaman di kuping. Yang juga berarti; Sofyan Hadi dkk musti membongkar kembali rak koleksi album-album favorit yang digemari sejak dulu dan bikin mereka memutuskan untuk main band. Semacam mempelajari filosofi Scott Burns, aku Sofyan hadi dalam sebuah wawancara. Sekedar diketahui, Scott Burns adalah nama produser dan sound engineer kenamaan yang paling bertanggungjawab atas formula sound Floridian death metal pada era 90-an. “Dengan Forging A Legacy, kami kembali ke selera asal. Balik ke death metal seperti yang kami konsep dulu. Kejem, rodo urakan, serem. Album ini matang secara konsep dan sound,” tegas Sofyan Hadi kemudian. Tidak perlu terkejut kalau album ini berada pada baris terbaik di daftar ini. Sebab faktanya, bertahun-tahun mereka sudah serius menyiapkan racikan formula yang pas dan bekerja keras penuh tekanan untuk mewujudkan misi tersebut. Forging A Legacy tidak hanya berhasil merawat sebuah warisan, tetapi juga memberi standar yang tepat bagi musik death metal yang baik dan benar.

 

*Merasa kurang puas dengan list saya di atas?! Silahkan tinggalkan komentar atau mention saja via Twitter atau Facebook. Siapa tahu anda punya argumen lain atau opsi album yang tidak terpantau oleh radar saya. Feel free to discuss, karena memang untuk itu juga artikel ini dibuat. Sekian dan salam metal. \m/