orang baik harus berani
orang baik harus berani

“Aku harus bersikap tenang walaupun takut, untuk membuat semua orang tidak takut” – Munir Said Thalib (1965-2004)

Siang hari itu, 08 Desember 2014, sekitar jam 13.39 WIB, saya menyalakan motor bebek tua saya dan bercita-cita meluncur ke kota Batu, sekitar 20 km dari rumah saya di Malang. Di teras rumah, saya sempat berdiri dan menatap langit sebentar. Cuaca sudah mendung dan memang hampir tidak ada sinar matahari sedari pagi tadi. Mengkhawatirkan. Ah, nekat saja, pikir saya. Kayaknya tidak [bakal] hujan. Semoga. Sambil menghibur diri bahwa ini hanya ancaman mendung yang menantang nyali saja. Harus dilawan!

Beberapa detik kemudian, keputusan saya sudah bulat. Memasukkan gigi persneling satu dan berangkat santai dengan kecepatan rata-rata 40-50 km/jam, sembari menikmati suhu sejuk akibat cuaca mendung serta jalanan yang agak ramai menuju kota Batu. Semilir angin yang dingin ikut menyapu wajah saya, siang itu.

Sejujurnya, ini kali pertama saya ke Omah Munir sejak tempat itu dibuka untuk umum tepat setahun yang lalu. Pagi tadi saya cuma sempat membaca panduan lokasi di situsnya, bahwa Omah Munir itu terletak sekitar 3 km dari pertigaan ke arah Selecta/Punten. Lokasinya tepat di pinggir jalan, sebelah kanan. Kalau baca keterangannya, mustinya tidak terlalu sulit untuk menemukan tempat itu. Toh saya juga sering lewat daerah sana untuk rekreasi atau kemping.

Sampai di alun-alun kota Batu, saya lurus ke barat sedikit dan langsung belok kanan ke arah Selecta/Punten. Nah, sudah hampir sampai, batin saya. Sebuah plang hijau kecil menunjukkan kalau saya sudah masuk ke Jalan Bukit Berbunga. Tepat. Oke, saya berada pada arah yang benar. Saya tinggal pacu motor ini pelan-pelan, sembari siaga dan selalu menoleh [baca; melirik] ke arah kanan.

Hingga beberapa menit kemudian, pandangan saya tertancap pada mobil van berlogo Metro TV dan Kompas TV yang terparkir di kanan jalan. Di samping dua mobil milik media tersebut, berdiri sebuah bangunan rumah berpagar putih dengan tulisan Omah Munir di tembok pagarnya. Nah, tidak salah lagi. Ini pasti tempatnya. Gotcha!

omah munir, 08/12/2014
omah munir, 08/12/2014

Bangunan seluas 250 meter persegi yang terletak di jalan Bukit Berbunga No. 2 Kota Batu itu tampak sederhana dan asri. Ada taman kecil lengkap dengan sebatang pohon palem besar di halaman depan. Memang [alm] Munir Said Thalib dan keluarganya sempat tinggal di rumah tersebut selama beberapa lama. Bahkan anak kedua pasangan Munir dan Suciwati, Diva Suukyi Larasati, kabarnya juga lahir di rumah itu, pada bulan Juli 2002 silam.

Omah Munir merupakan museum yang menyimpan segala memorabilia milik Munir, dan sekaligus jadi salah satu pusat dokumentasi Hak Asasi Manusia di Indonesia. Di situ tersebar segala barang, kenangan, dan catatan tentang perjuangan Munir – sebelum ia terbunuh di atas pesawat terbang pada tangaal 07 September 2004.

Saya langsung parkir motor di depan Omah Munir. Lalu menuju pintu pagar yang dijaga beberapa anak muda [atau mahasiswa, kalau dilihat dari jas almamaternya], dan dipersilahkan untuk absen dulu di meja registrasi. Setelah menulis nama, asal dan nomer ponsel, semua pengunjung diberi materi diskusi, press release serta nasi kotak. Ah, kebetulan saya memang belum makan siang. Ha!

Saya lalu masuk dan duduk pada deretan kursi yang tersedia. Melirik jam, sudah pukul 14.25 WIB. Tampaknya acara belum dimulai. Suasananya pun belum begitu ramai, hanya ada sekitar 20-an kepala ketika saya datang. Sebagian besar sepertinya panitia dan para penampil yang sedang sibuk menyiapkan acara hari itu. Tampak beberapa musisi sedang soundcheck dan sejumlah anak muda serius menyiapkan aksi teaternya.

Hari ini, 08 Desember 2014, adalah tepat peringatan ulang tahun Munir Said Thalib. Seharusnya saat ini Munir sudah berusia 49 tahun, jikalau ia masih hidup atau tidak diracun dengan zat arsenik dosis tinggi di atas pesawat. Sang terpidana kasus pembunuhan Munir, Pollycarpus, memang sudah diadili dan dipenjara – dan ironisnya baru juga dibebaskan akibat remisi berulang-ulang oleh pemerintahan rezim SBY. Namun sampai hari ini, kejelasan kasus dan dalang dari skenario pembunuhan Munir itu belum juga terungkap.

Siang ini rencananya ada beberapa hajatan untuk mengenang semua hal tersebut di Omah Munir – mulai dari ada pameran foto, seni instalasi, diskusi, sampai aksi musik dan teater. Sebuah momentum untuk ‘merayakan’ ulang tahun Munir, sekaligus awareness akan berbagai kasus pelanggaran HAM yang terjadi dan belum terselesaikan di negeri ini.

“…Aku sering diancam, juga teror mencekam,
Ku bisa dibuat menderita, Aku bisa dibuat tak bernyawa,
di kursi-listrikkan ataupun ditikam.
Tapi aku tak pernah mati, Tak akan berhenti,
Tapi aku tak pernah mati, Tak akan berhenti…”

Kalau anda mengagumi sosok Munir serta memaknai lirik lagu “Di Udara” milik Efek Rumah Kaca di atas, atau doyan akan lagu-lagu protes ala Homicide, saya sarankan cari waktu luang dan segera kunjungi Omah Munir. No need for details, it’s a must.

sudut ruangan @omahmunir
sudut ruangan @omahmunir

Saya bertemu beberapa kawan yang sudah duluan berada di Omah Munir. Ada Mas Yosa [seniman senior kota Malang] dan sejumlah anggota unit musik Cak Bagus Eksperimental. Tidak lama, muncul Mas Deki Bedebah dan Slathem Iswahyudi, dua teman baik yang sebelumnya kami memang sudah janjian untuk ketemu di sana. Kami pun mulai berbincang dan bercanda sembari menyantap makan siang. Soal basa-basi keseharian saja, serta sedikit kabar serta gosip seputar lingkungan ekosistem seni dan musik di kota Malang.

Sembari mengintip ke dalam Omah Munir, saya mendapati ada banyak memorabilia milik [alm] Munir – mulai dari deretan foto, pakaian, sepatu kets, rompi anti peluru, jaket, piagam penghargaan, buku-buku, skripsi, paspor, hingga berbagai benda yang pernah dimilikinya. Bukan koleksi barang-barang yang mewah. Hampir semuanya tampak sangat sederhana, biasa, tapi tetap menggugah.

Saya berdiri lama menatap sepasang sepatu merk Precise berwarna coklat yang sudah koyak di beberapa sisi. Ada orang berani yang berdiri tegak melawan penindas di atas sepatu itu.

sepatu munir - @omahmunir
sepatu munir – @omahmunir

Sebagai pusat dokumentasi, tampaknya Omah Munir juga menyajikan arsip, data dan catatan yang cukup lengkap soal kasus-kasus HAM di Indonesia – mulai dari kasus Marsinah, Aceh, Talangsari, Penculikan aktivis 98, sampai Timor-Timur. Tak ayal, ruangan arsip dan perpustakaan menjadi spot favorit bagi para mahasiswa, aktifis, dan pencinta literatur.

Beberapa poster dan banner berisi pesan atau quote dari Munir juga terpampang di sejumlah dinding dan ruangan tempat itu. Salah satunya ada yang berbunyi, “Seluruh umat manusia dilahirkan merdeka dan setara dalam martabat dan hak.”

Menyenangkan bisa berada di dalam rumah yang penuh dengan semangat dan informasi, bukan soal kesedihan dan duka tentang Munir semata.

omah munir [dok.seputar malang]
omah munir [dok.seputar malang]
Di sela-sela ‘ziarah’ ini, saya berjumpa Salma Safitri atau yang akrab dipanggil Mbak Fifi. Beliau adalah senior saya di kampus, tepatnya di Impala Unibraw, sebuah UKM pencinta alam di lingkungan kampus Universitas Brawijaya. Kami sama-sama pernah aktif di organisasi tersebut, meski pada jaman yang berbeda.

Yang saya tahu, Mbak Fifi juga termasuk aktifis perempuan dan lingkungan hidup yang cukup tangguh. Kebetulan sekali, saat ini Mbak Fifi menjabat sebagai Direktur Eksekutif Omah Munir. Kami lalu asyik berbincang soal kegiatan dan teman-teman di Impala Unibraw. Sampai kemudian saya diperkenalkan juga pada istri [alm] Munir, Mbak Suciwati, yang kebetulan duduk di sebelah Mbak Fifi.

“Eh, Munir itu dulu Anggota Muda loh di Impala,” kata Mbak Fifi seperti mengingatkan saya. Iya, konon cerita-cerita yang saya dapat memang begitu. Kata beberapa senior dan kakak angkatan saya di kampus, Munir dulu itu sempat mendaftar dan ikut Diklatsar Impala Unibraw. Kemudian diangkat jadi Anggota Muda, namun tidak bisa aktif terlalu lama di Impala Unibraw karena beliau ternyata lebih sibuk berkegiatan di Senat Mahasiswa, LBH, serta berbagai kegiatan aktifisme lainnya.

Ya, ada perasaaan bangga dan kagum tiap kali mendengar cerita seperti itu dari orang-orang yang notabene adalah kawan-kawan Munir di kampus. Apalagi saya juga lulusan Fakultas Hukum Unibraw, tempat Munir dulu menuntut ilmu. Wajar saja jika beberapa senior dan dosen saya dulu adalah kawan kuliah Munir juga. Setidaknya begitu menurut pengakuannya.

Sebuah kebetulan dan fakta yang membanggakan jika saya ternyata se-almamater dengan [alm] Munir Said Thalib, di fakultas maupun di UKM.

Saat asyik mengobrol dengan Mbak Fifi, di ujung kursi bagian belakang saya melihat seorang pria gondrong sebahu dengan rambut berwarna putih keperakan yang sedang duduk sendirian. Pria yang memakai kaos polo warna hitam dan berkalungkan kacamata itu tampak khusyuk menyantap nasi kotaknya.

Dada saya langsung bergetar. Senyum kecil pun tersungging.
Tidak salah lagi, beliau adalah mahaguru silat saya!

Setidaknya, begitulah saya menganggap beliau selama ini…

[bersambung]

 

*Ditulis sambil mendengarkan lagu-lagu milik Efek Rumah Kaca, Homicide, Balcony, dan Manic Street Preachers. 

*Tulisan soal pertemuan dengan mahaguru silat saya serta substansi acara peringatan ultah Munir pada hari itu akan diunggah dalam waktu dekat.