pic taken from netz
pic taken from netz

Kesan pertama ketika mendengarkan Somnium, Kekal, Existence, dan Bergegas Mati. Juga menengok Chewing Sparkle, Glovves, Silampukau, hingga kolaborasi Morgue Vanguard X Still. 

Belakangan, saya jadi sering mendapat email dan tautan dari label rekaman maupun band domestik yang sedang rajin mempromosikan karyanya. Tentu saja semuanya saya baca, klik dan dengarkan musiknya. Ada yang menarik, ada yang biasa, dan selebihnya juga ‘sampah’. Sori.

Berikut ini sebagian materi yang sudah saya ekstrak, dan coba diulas dalam narasi yang sesingkat-singkatnya.

Orange Cliff Records mengirimi saya e-newsletter tepat di malam Halloween kemarin. Mereka mengenalkan saya pada Somnium lewat dua singel-nya, “Barbaric Transition” dan “Putrefaction”. Dua track yang sarat dengan riff gitar yang rusuh dan berlumpur. “A four piece heavy riff monger…Taking their references from Dead Meadow, Electric Wizard, Earth and Swans,” tulis mereka. Somnium semacam barisan baru di skena stoner/fuzz music – dengan “Howling vocal covered in reverb, all packed in lo-fi-fashioned recordings,” janjinya. Ini semacam Black Sabbath yang direkam dalam gua penuh lumpur, atau Suri dalam versi yang lebih kotor. Sampai akhirnya saya tidak paham lagi batasan sound yang raw dan lo-fi itu seperti apa.

Kekal mengabarkan kalau setelah dua tahun akhirnya sesi rekaman untuk album ke-sepuluh mereka yang bertajuk “Multilateral” itu sudah kelar. Itu bakal dirilis awal 2015 sekaligus jadi perayaan 20 tahun perjalanan karir mereka. Saya mendapat akses untuk mendengarkan “Multilateral”, track panjang berdurasi 07:43 menit. Diawali dengan intro apokaliptik dalam nuansa industrial, lalu masuk petikan gitar dan isian vokal ber-layer sound prog-metal bertempo lambat. Kalau anda penggemar Type O Negative, Cynic, atau sebagian proyek Devin Townsend mungkin bisa doyan lagu ini. Selebihnya ini masih tetap seperti [musik] Kekal yang biasanya. Sebuah band yang memang kerap berada di luar jangkauan kita – baik secara geografis, musikal, dan pemahaman. A thinking-metal stuff.

Saya baru mendengarkan Existence, unit punk D-beat yang cepat dan keras ala Antiphaty, Jeruji dan Inlander. Kata kolega, dua personil band ini juga membantu No Man’s Land. Albumnya yang bertajuk “Destruction This Fuckin’ Pain” sudah dilepas bebas. Musically, lagu-lagunya menarik dan penuh tenaga. Sayang tidak terlalu banyak bagian yang anthemik atau bisa menempel di kepala dalam waktu lama. Semua rasanya terlalu cepat, datar, dan mudah terlupakan. Se-ngebut-ngebut-nya motor 500 cc tentu perlu sedikit rem dan manuver di belokan.

Suatu malam, saya mengunduh Bergegas Mati “Mauth”, digital EP yang berisi tiga lagu. Holy fukk. Singkat kata, ini NOIZE! [dengan huruf kapital, huruf Z dan tanda seru]. Yeah, if you know what i mean. Cukup saya sebut Merzbow saja sebagai padanan. Band yang sinting dan juga berani. Mereka juga baru rilis album dalam versi kaset. Konon aksi live-nya juga menarik, kata kawan-kawan. Ini salah satu unit lokal yang masih saya pantau geraknya akhir-akhir ini. Harsh should be disturbing, isn’t it?!

Saya seperti dipermainkan oleh kompisisi lagu “Far East” milik Chewing Sparkle. Musik rock alternatif bisa serenyah ini, kaya akan beat-beat yang unik dan tidak terduga. Di beberapa part juga terdengar cukup danceable. Ini mungkin menarik bagi fans The [International] Noise Conspiracy, Primus, atau bahkan The Killers. Sembari meyakini teori Emma Goldman, bahwa revolusi itu memang butuh dansa.

Glovves menawarkan “Let The Lust Decide” dan “Baby, Dance With Me” – komplit dengan dua versi remix-nya. Pertama memutar musik mereka, saya langsung teringat pada Atlesta. Seperti gejolak irama pop elektronik dalam tempo yang chill-out. Pada beberapa part, ada irama R&B dan motown yang kental. Duo vokal, pria dan wanita, membagi porsinya dengan aman dan seimbang. Bukan musik selera saya, tapi lumayan buat bersantai.

Saya cukup meminjam kalimat kawan saya, Nuran Wibisono, untuk mendeskripsikan EP “Sementara Ini” milik Silampukau, “Ada banyak alasan untuk jatuh cinta dengan Silampukau. Kesederhanaan menjadi salah satunya. Kau bisa bercanggih-canggih bermain alat musik; menarikan jemari secepat mungkin di atas fret gitar; atau melengkingkan suara hingga memecah gendang telinga. Namun, seringkali kesederhanaan juga lah yang akan memukaumu. Kurang sederhana apa lagu “Imagine” atau “Blowing in the Wind”? Ya, sesederhana itu musik mereka. Hanya berbekal gitar akustik, Eki dan Kharis berdendang dan membuat orang terpana.”

Dan akhirnya saya tergetar saat menyimak “Sondang”, track milik Morgue Vanguard X Still di laman soundcloud Grimloc Records. A dope mixes!

 

*Anda boleh kirimkan materi promo-kit via email ke solidrockpubs@gmail.com atau kasih tautan pada @samacksamakk dan @sldrck. Sebuah promo-kit dalam rupa digital dan berisi data/informasi yang komplit akan selalu memudahkan kerja saya. Ya, semua materi pasti saya klik dan dengarkan – meski belum tentu bisa saya ulas atau review seperti ini. Namun toh, tidak ada salahnya untuk mencoba. Ha!