foto oleh norman hs [happipolla photoworks]
foto oleh norman hs [happipolla photoworks]
Sejak merilis album bertajuk Nada Sumbang Pinggiran pada bulan April 2014 lalu, Begundal Lowokwaru langsung tancap gas merangkai tur masif ke berbagai kota di pelosok Indonesia. Ustard Chipeng [vokal], Antok Celz [gitar], Buyung [gitar], Agek [bass], dan Risky Gundul [drum] kembali menjalani peran utamanya sebagai band panggung dan menyambangi fans-nya melalui program Tur Nusantara.

Selama tur tersebut, Ustard Chipeng dkk sudah manggung selama dua bulan non-stop mulai dari kota Samarinda [11 Mei], Balikpapan [12 Mei], Jogja [18 Mei], Jakarta [21 Mei], Batam [24 Mei], Pekanbaru [25 Mei], Padang [26 Mei], Bengkulu [28 Mei], Palembang [31 Mei], Cipanas [04 Juni] dan Tangerang [08 Juni].

“Sudah jadi kebiasaan bagi Begundal Lowokwaru untuk tur sambil memasarkan album ke berbagai kota. Kali ini kami akan tur keliling Indonesia, mengunjungi daerah-daerah yang belum pernah kami injak sebelumnya,” ucap Ustard Chipeng.

Setelah break selama bulan puasa dan lebaran, Begundal Lowokwaru bakal kembali ke jalan dan melanjutkan Tur Nusantara-nya. Ustard Chipeng dkk dipastikan akan tampil di kota Mataram [23 Agt] dan Denpasar [26 Agt], kemudian kembali ke Malang untuk merayakan hajatan sekuel konsernya, Reuni Akbar Punk #5, pada tanggal 30 Agustus 2014.

Beberapa show di Sulawesi kabarnya juga sedang dirancang dan jadwalnya masih tentatif. Diperkirakan Tur Nusantara ini baru tuntas pada akhir tahun – sambil melebarkan fanbase ke banyak daerah baru yang belum pernah mereka kunjungi.

Nada Sumbang Pinggiran merupakan album kelima Begundal Lowokwaru yang mereka produseri sendiri dan dirilis via label BL Records. Proses mixing dan mastering-nya dikerjakan oleh Gigih Prasetyo [Goodboy Jimmy], dan semua bagian sampulnya digarap oleh Napi yang menggambarkan perjalanan karir Begundal Lowokwaru dalam bentuk komikal.

Metode produksi dan distribusi Nada Sumbang Pinggiran tergolong unik. Ustard Chipeng dkk mengumpulkan dana sponsor dari sejumlah distro independen dan clothing company di berbagai daerah, dengan kontraprestasi berupa sejumlah CD Nada Sumbang Pinggiran untuk dipasarkan di daerah atau komunitasnya masing-masing. Sekilas, metode itu memang mirip dengan fund-raising – namun dengan cara yang lebih sederhana, cerdik dan tepat sasaran.

“Jadi boleh dibilang, begitu album ini dirilis sudah langsung laku dan beredar di pasaran luas. Otomatis biaya produksi cepat kembali dan kami bisa membiayai tur keliling Indonesia. Sebagian lagi jadi bonus CD untuk setiap penonton yang beli tiket selama tur kami ini,“ jelas Ustard Chipeng membocorkan sedikit trik rahasia mereka.

Tidak sedikit orang yang heran dan bertanya-tanya bagaimana Begundal Lowokwaru bisa memproduksi album, bikin konser sendiri, lalu tur ke berbagai kota sambil memasarkan album dan merchandise-nya dengan perhitungan yang cermat. Untuk membangun sistem, jaringan, kepercayaan dan fanbase seperti yang dimiliki Begundal Lowokwaru itu tentu saja bukan hasil dari proses kerja yang singkat.

“Sudah lama kami turun mempelajari dan menerapkan cara-cara seperti itu. Sejauh ini lancar-lancar saja kok, dan buktinya selalu sukses!” pungkas Ustard Chipeng yang seperti ditakdirkan memiliki sense of music-bussiness yang cerdik sekaligus out-of-the-box dalam mengelola karir band-nya.

Begundal Lowokwaru mungkin telah memiliki rumus ekonomi dan sosialnya sendiri. Dengan segala ambisi dan enerji yang berlimpah seperti itu, agaknya memang susah untuk menghentikan langkah mereka. Nyali yang dimiliki Begundal Lowokwaru memang kuat, persis seperti kalimat yang tercetak pada salah satu kaos rilisan mereka, “Only God Can Stop Us!”

*Artikel ini sebelumnya dimuat di situs musik Gigsplay.