playlistdfr

Dari Dansa Bowie dan Amarah Jack, Hingga Protes Moz dan Groove-nya Prong.

Beberapa pekan lalu, saya iseng nge-tweet, “Saat David Bowie dan Morrissey rilis album baru di tahun ini, daftar ’10 best album of 2014′ sudah menyusut dan sisa 8 nama/album lagi.”

Yah, saya tidak main-main soal tweet itu. Kedua album mereka sungguh bagus.

Selain dua album digdaya tersebut, saya juga sedang mendengarkan beberapa album apik yang lain. Dalam tempo sesingkat-singkatnya, berikut kumpulan album yang sering saya putar, komplit dengan ulasan singkatnya…

DAVID BOWIE “The Next Day”
Album yang penuh denyut elektronik dan post-punk ini jadi stimulan untuk berdansa tanggung. David Bowie tidak pernah kehilangan taji untuk jadi maestro di bidang musik. Dengarkan “Love Is Lost” atau “Where Are we Now?”, dua lagu bertempo datar dengan melodi yang indah, dan juga mengenaskan. Menyenangkan ada orang tua, eh musisi gaek, yang masih sanggup bikin musik sebaik The Next Day.

EELS “The Cautionary Tales of Mark Oliver Everett”
Awalnya saya kira band ini sudah tiada. Sampai suatu hari seorang kawan memberi saya arsip digital album ini. Eels adalah nama band yang aneh, tapi musiknya terasa lezat jika anda suka musik rock alternatif 90-an yang ringan dan agak folk-ish. Memang tidak ada yang begitu istimewa di album ini, tapi mendengarkan The Cautionary Tales of Mark Oliver Everett bisa memberi efek santai yang sudah mulai jarang kita dapatkan dari musik-musik so-called-indie jaman sekarang. A Coziness.

JACK WHITE “Lazerrato”
Pria ini merekam album yang penuh dengan ritme sihir dan sarat kejutan. Lazerrato yang konon digarap menggunakan mixer berbahasa Afrika ini seperti memanggil arwah BB King, Bob Dylan hingga Jimmy Page. Hasilnya agak mistis. Bluesy yang mencekam. Serampangan sekaligus terukur. Terdengar aneh sekaligus adiktif. Dari sisi penulisan musik, kadar kejeniusan Jack White mungkin sudah hampir mendekati Dave Grohl atau Trent Reznor. Lazeratto mengumbar sisi kemarahan yang belum pernah diluapkan oleh seorang Jack White sebelumnya. Kasar dan gegabah.

MADBALL “Hardcore Lives”
Selera hardcore saya sejatinya hanya dibentuk oleh Biohazard, Sick Of It All, Earth Crisis, dan Madball. Mereka itu saya kerap sebut ‘hardcore roadrunner’. Madball tetap garang, gagah dan enerjik di album baru ini. Hardcore Lives membuktikan bahwa genre musik seperti ini masih hidup dan baik-baik saja. Menurut kolega dari grupband SOIA; Sebelum suka Terror, anda kudunya dengar Madball dulu. Ya, ini perintah!

MANIC STREET PREACHERS “Futurology”
Lewat album baru ini, MSP mungkin bermaksud untuk maju dan menuju masa depan. Tapi sayangnya niat baik itu tidak terlalu berhasil. Futurology tidak lebih baik dibanding album-album mereka sebelumnya. Terlalu banyak bunyi elektronik yang tak perlu. Musiknya jadi tanggung, dan agak membingungkan. Seperti terlalu banyak bereksperimen, tapi tidak serius. Hampir tidak ada yang istimewa di sini. Hanya sound yang agak segar dan lirik pintar yang cukup menyelamatkan. Selebihnya, saya masih megang diskografi lawas mereka. Ambisi MSP untuk membuat album seperti Kid A atau Zooropa masih tergolong riskan.

MASTODON “Once More Round The Sun”
Saya tidak pernah menyerah untuk menyebut band ini adalah ‘the next Metallica’, dan album anyarnya ini seperti mengadaptasi black album-nya James Hetfield dkk. Sebut saja musik Mastodon di sini makin ngepop, meski tetap bakal terdengar rumit untuk telinga awam. Once More Round The Sun berisi musik metal yang ‘basah’ dan kadar rock untuk level stadion. Well, sepertinya malaikat dan dewa-dewa [juga iblis!] sudah bisa menebak siapa yang jadi juaranya tahun ini.

MORRISSEY “World Peace Is None of Your Bussiness”
Jika mengamati kondisi konflik di Gaza, Ukraina dan Irak-Syria akhir-akhir ini, maka Moz tentu tidak main-main saat menamai albumnya World Peace Is None of Your Bussiness. Moz tetap teguh melantukan lagu-lagu anti perang, hak hidup binatang, sampai orientasi seksual. Sambil menambah porsi irama latin dan flamengo, Moz juga makin keranjingan menyebut nama-nama negara/kota di album barunya ini. Lalu, entah kenapa penggalan lirik “Each times you votes, you support the process” itu terdengar seperti ia sedang menyindir pemilu di negeri kita. Ha!

PRONG “Ruining Lives”
Prong telah kembali dan tidak ada yang bisa menghentikan mereka untuk memainkan musik metal yang groovy seperti album-album mereka sebelumnya. Ruining Lives berisi sound cadas yang tebal dalam tempo naik-turun yang sanggup memacu headbanging masal. Padanan yang paling sesuai adalah Machine Head atau Life of Agony. Dengan kadar keaktifan yang seadanya, tak ayal band ini tetap tergolong underated [atau kult?] di genre-nya.

*Judul artikel “They Have Got Me Hanging Upside Down Again” diambil dari lirik lagu “Once More Round The Sun” milik Mastodon.