band shirts
band shirts

“In an artwork you’re always looking for artistic decisions, so an ashtray is perfect. An ashtray has got life and death.” – Damien Hirst.

Siang itu, 25 Juni 2014, saya diundang untuk berbincang dalam talkshow bertopik “Music, Artwork & Merchandise” di Ibu House Coffee Malang. Saya tidak sendirian, karena ada juga kolega yang lain, yaitu…

Didi Painsugar, yang banyak bicara soal Pena Hitam, aktifitas menggambarnya, serta seluk-beluk dunia seni dan merchandise.

Rofi Muhammad aka Mamek, yang cerita soal dunia sablon dan industri clothing di kota Malang, sebagaimana yang telah ia tekuni selama bertahun-tahun bersama brand-nya, Childplay.

Di tengah-tengah diskusi, ikut nimbrung juga…

Robertus Doni [FWF/Ajer/Houtenhand], yang bertutur soal skena musik independen di Malang, dan posisi Houtenhand sebagai venue/klub musik yang selalu siap memberi panggung bagi band/musisi lokal.

Lalu ada juga kawan dari Malang Sunday Drawing yang berbagi informasi dan cerita soal kelompoknya yang aktif berkumpul serta menggambar di hari Minggu atau hari-hari yang lain.

Perbincangan sore itu berjalan cukup menarik. Pada beberapa poin mungkin terdengar klise, seperti setiap pelaku kudu saling support satu sama lain. Katakanlah, clothing yang kudu membantu band lewat merchandise, atau dukung gigs melalui jalur sponsorship/donasi.

Yah, memang begitu seharusnya. Dan iklim tersebut kudu selalu dijaga.

Musik, dalam sejarahnya memang memiliki relasi yang cukup erat dengan seni [artwork] dan juga merchandise. Apalagi jika bicara soal musik rock atau indie. Musik dan seni [rupa] memang sudah satu paket.

Sejak jaman The Beatles, segala tampilan seni dari desain sampul album sampai merchandise sudah dipikirkan matang-matang. Di era prog-rock pun muncul yang namanya psychedelic art. Andy Warhol dkk mempopulerkan pop art. Sex Pistols lahir, langsung marak desain-desain bernuansa punk. Dari skena musik hardcore juga, heavy metal apalagi. Begitu seterusnya. Tidak pernah mati.

Sejarah sampul album bahkan lebih lama lagi. Bisa dimulai sejak tahun 1930-an jika mengacu pada tulisan di Slideshare dan situs rockartpictureshow. Saya ajak juga anda untuk mengenal Alex Steinweiss, sosok yang disebut ‘penemu’ sampul album musik.

Kami akhirnya berbicara bagaimana artwork itu pernah ikut mempengaruhi selera musik. Banyak teman yang jadi doyan Iron Maiden atau Motorhead itu bermula karena melihat artwork-nya. Kami jadi kenal Pushead, Derek Heiss, Dan Seagrave, sampai John Baizley.

Saya jadi ingat pernah nonton video wawancara Skinner, seniman yang bikin artwork untuk album Mastodon “Once More Round The Sun”. Jelas di situ bahwa artwork dan [album] musik itu adalah suatu hal yang serius.

Saya juga mengundang anda untuk nonton dua video pendek ini, “A History of Album Artwork and Its Implications in Marketing” dan “Cover Stories”.

Karya desain grafis atau artwork tidak melulu ada di sampul album. Sejak dulu juga kerap diaplikasikan pada media merchandise, khususnya kaos.

Kenapa saat ini banyak orang gemar memakai kaos band? Video pendek ini mungkin bisa menjawabnya, “Why Do You Love Wearing Metal T-Shirts?”.

Teman di sebelah tiba-tiba berbisik, “Tapi kalo pake kaos band itu ya kudu tahu juga soal band-nya, seperti apa musiknya. Gak cuma ikut-ikutan saja…”

Yah, apa yang dia katakan itu benar. Plis, jangan dibantah!

HA!
HA!

Jaman sekarang sudah enak benar. Banyak merchandise band tersedia dan mudah didapat. Kalau gak nemu di music store, ya tinggal klik internet dan order online. Sekitar 3-4 hari sudah sampai di depan pintu kita.

Mamek sempat cerita gimana susahnya cari merchandise band di era 90-an. Kudu titip temen di luar kota atau menyablon sendiri. Di awal 90-an, saya masih ingat bahkan ada beberapa teman yang menggambar/melukis pake cat di atas kaos polos, saking pinginnya punya kaos band. Menggambar ya, bukan menyablon. Camkan itu!

Oya, ada baiknya intip juga video tentang kaos band di sini.

band shirts
band shirts

Saat ini, dunia music art & merchandise sudah jauh lebih berkembang, menurut Didi. Dia bersama teman-temannya di komunitas Pena Hitam sudah sering berkolaborasi dengan banyak musisi/band untuk menangani desain artistik. Coba klik saja halaman Pena Hitam dan anda bakal langsung tahu seberapa kerennya mereka.

Tentu saja dunia music merchandise sekarang sudah menjadi industri yang pesat dan memiliki ‘potongan kue’ yang besar pula. Buktinya sekarang sudah banyak clothing-line yang mengkhususkan diri pada produksi music/band merchandise, seperti Merchcons, Riotic, Fanartik, dan masih banyak lagi.

Music merchandise sebagai suatu bisnis yang besar sudah pernah diungkap oleh media Independent dalam salah satu artikelnya.

Dikatakan di sana bahwa, “Merchandise has always been big business though, in the age of illegal downloads and plummeting record sales, it accounts for an ever-growing percentage of a band’s income.”

Iya, di era industri musik yang sulit ini, merchandise telah menjadi salah satu pemasukan andalan bagi band dan musisi. Semua pihak kudunya sudah sadar hal itu.

Sampai di akhir sesi talkshow kemarin, rasanya tidak perlu konklusi atau kesimpulan yang terlalu rumit. Kembali ke tema utama, sinergi yang saling mendukung dan adil di antara seniman [artworker], pengusaha [clothing-line & label], dan musisi/band tentu akan bikin skena musik rock-independen makin indah serta artistik.

Ataukah, semua ini hanyalah fashion?…

talkshow itu...
talkshow itu…