world cup 2014 graffiti [urban times]
world cup 2014 graffiti [urban times]
“Some people think football is a matter of life and death. I don’t like that attitude. I can assure them it is much more serious than that,” kata Bill Shankly [1913 – 1981], salah satu manajer Liverpool FC paling hebat di sepanjang sejarah klub Inggris tersebut.

Ungkapan Bill Shankly itu cukup beralasan jika kita mau melihat sepakbola tidak sekedar permainan 2 x 45 menit semata. Bukan soal skor akhir, atau menang-kalah. Sepakbola, seyogyanya, sudah seperti merayakan denyut dan sendi kehidupan itu sendiri. Indah dan juga rumit. Kompleks.

Eddward Samadyo Kennedy bukanlah sosok komentator sepakbola yang biasa kita tonton wajahnya di layar stasiun televisi nasional kita. Karena memang masih sulit membayangkan ada komentator bola yang lebih suka mengutip kalimat-kalimat Albert Camus atau Jean Paul Sartre daripada Presiden FIFA atau Jose Mourinho, misalnya.

Pria yang sebelumnya menulis di situs Detik Sport, Bola Total dan blog pribadinya itu baru saja menerbitkan buku berjudul “Sepak Bola Seribu Tafsir”. Sebuah buku yang, menurut Zen Rahmat Sugito, ditulis dengan cara seperti seorang suporter di tribun yang menonton bola sambil dirasuki ketidaksadaran alkoholik.

Dalam testimoninya, Zen RS juga mengutarakan, “Ada begitu banyak tafsir dalam 90 menit sebuah laga di atas lapangan berlapis rumput hijau, dengan dua gawang yang berseberangan, satu bola, seorang pengadil, dan 22 pemain. Dari sana, semua alegori kehidupan tercipta.”

Beberapa hari lalu saya berbincang ringan melalui surat elektronik dengan Eddward S. Kennedy. Menanyakan tentang karya tulisan dan bukunya. Mencari tahu soal selera sepakbolanya. Dan tentunya, membahas keseksian Piala Dunia 2014 di Brazil.

Babak Pertama ; Sepakbola Seribu Tafsir

“Sepakbola bukanlah sekadar permainan sebelas lawan sebelas, ia lebih dari itu. Sepakbola membuka peluang hadirnya simbol kuasa, resistensi, identitas juga politik representasi,” begitu yang ditulis Daru Aji saat mengulas buku Eddward S. Kennedy yang berjudul “Sepak Bola Seribu Tafsir” di media online Berita Jogja. “Sepakbola telah melampaui batasnya sebagai permainan. Dalam konteks yang lebih luas, sepak bola menyimpan ragam ideologi yang menarik untuk diperbincangkan.”

Anda suka menulis topik sepakbola dengan gaya yang filosofis, dan sedikit absurd. Juga kerap menyentuh aspek sejarah, filsafat, sosial, budaya, hingga ekonomi dan bisnis. Seperti apa anda memaknai sepakbola?
Sebenernya sih saya memaknai sepak bola per-pertandingan. Dari situ kan ada banyak momen yang terjadi, kadang bisa mirip dengan pertandingan yang udah digelar, kadang momen itu bener-bener baru. Tapi, kalo ditanya sepak bola dalam konteks seluruhnya, saya gak punya jawaban selain sepak bola itu representasi kehidupan. Karena emang gitu kan hidup? Kadang kita nemuin dejavu, kadang nemuin yang bener-bener baru.

Setelah sering menulis artikel bertopik sepakbola di berbagai media dan blog, apa yang lalu mendasari anda untuk bikin buku juga?
Cita-cita bikin buku itu udah dari jaman SMP. Buku ‘Sepak Bola Seribu Tafsir’ ini sebenernya bukan buku yang digarap serius. Kan cuma kumpulan esai, terus diedit ulang, terus diterbitin deh. Saya merasa harus menjadikannya sebuah buku karena apa ya? Kepengen aja, gak ada motif apapun, termasuk motif moralis klise yang suka diomongin banyak intelektual kayak ‘seseorang harus berkarya’. No, saya cuma pengen aja. Sesederhana itu.

Berapa lama proses penggarapan buku tersebut?
Gak lama kok, paling cuma sebulan. Yang lama itu malah nentuin cover sama layout-nya. Saya gonta-ganti cover mulu, haha. Ada enam kali kayanya ganti cover sampe orang yang tau pada risih. Saya sih gak terlalu peduli, karena buku ini hanya sekadar buat ‘test the water’ dulu aja.

Bagian mana dari buku itu yang jadi favorit dan anda anggap paling penting untuk dibaca?
Artikel pertama yang berjudul “Anarkisme dan Kesalahkaprahan Maknanya dalam Sepak Bola”. Kenapa itu penting karena gak cuma menyangkut sepakbola. Maksud saya, makna anarkisme itu kan udah disalahtafsirkan sedemikian lama sama orang-orang. Yang rusuh selalu dibilang anarkis, kaya suporter anarkis dan sebagainya. Ini ngaco banget, dan nyaris gak pernah berubah pemahaman seperti ini. Saya ngerasa perlu menuliskannya bukan karena saya anarkis atau gimana, tetapi karena lucu aja, bertahun-tahun salah kok ya pada diem aja gak nyari tau.

Sejauh ini, bagaimana respon dan komentar pembaca atas buku anda itu?
Waktu di launching sih katanya buku ini bener-bener baru dalam dunia sepakbola, baik di dalam atau di luar negeri. Saya ya namanya dipuji gitu sih ya seneng. Padahal di luar ada nama Richard Giulianotti yang cara dia nulis bolanya juga kayak saya, Jonathan Wilson juga gitu. Di dalem ada Sindhunata, ada juga Zen Rahmat Sugito. Saya sih cuma ngekorin mereka aja, hahaha.

Terakhir kali ke toko buku, saya menemui banyak sekali buku bertema sepakbola. Sampai ada rak khusus untuk menyambut momen Piala Dunia. Dari semua buku-buku itu, yang mana sudah anda baca?
Belum sempat baca semua. Buku terakhir yang saya beli cuma “Dilan”-nya Pidi Baiq sama “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas”-nya Eka Kurniawan.

Kalau di antara buku “The Big Pang Theory” [Pangeran Siahaan] dan “Brazillian Football and Their enemies” [Pandit Football], mana yang menurut anda harus dibeli dan dibaca terlebih dahulu?
Kalo harus dibaca, ya semuanya bagus buat dibaca, dan tentu aja dibeli. Tapi kalo prioritas, ini jawaban saya pribadi ya, karena saya juga udah beberapa kali baca “The Big Pang Theory” di Bolatotal, maka saya bakal lebih dulu baca “Brazillian Football and Their enemies”-nya Pandit Football.

Apa saja buku bertema sepakbola yang jadi favorit anda?
Kalo yang penting buat dibaca sih empat ini: “How Soccer Explains The World”-nya Franklin Foer, “Inverting the Pyramid: The History of Football Tactics”-nya Jonathan Wilson, The Italian Job-nya Gianluca Vialli sama Gabriele Marcotti, terakhir “Football Against The Enemy”-nya Simon Kuper. Kalo yang lain biasanya baca buat fun aja sih. Kebanyakan biografi. Biografinya Zlatan Ibrahimovic tuh bagus yang “I Am Zlatan”.

Siapa saja penulis atau jurnalis sepakbola favorit anda?
Kalo luar Simon Kuper dan Jonathan Wilson. Kalo dalem Darmanto Simaepa dan Zen Rahmat Sugito.

Apakah di negeri ini masih butuh lebih banyak lagi stok buku-buku bertema sepakbola?
Jelas. Negara ini kan cuma pasar dalam industri sepakbola global, cuma pembeli. Berharap PSSI mengubah status tersebut ya sama aja kaya nyuruh Natalie Portman bersedia nikah sama saya. Mungkin aja sih, mungkin bisa gila maksudnya, haha. Maksud saya, ketimbang merelakan diri diperbudak status quo kayak gitu, mending ya nulis buku atau minimal punya blog deh, terus diisi artikel sendiri. Anggep aja coli. Nulis sendiri, baca sendiri, komentarin sendiri. Sesekali kali coli ya gak papa. Lagian nulis apa susahnya sih? Anak kelas 1 SD aja udah pada bisa nulis, hahaha.

Kabarnya anda akan menerbitkan buku lagi, sebuah novel berjudul “Rudolf dan Marfuah” ya…
“Rudolf dan Marfuah” masih proses pengerjaan. Tapi saya gak tau selesai kapan, targetnya sih akhir Agustus besok bisa terbit. Cuma saya dan deadline jarang kompaknya, haha. Inti ceritanya sederhana, kita sering banget baca atau nonton film di mana negara selalu merepresi rakyatnya, terus rakyatnya melawan, dan terjadi revolusi lalu bla bla bla. Nah, “Rudolf dan Marfuah” berusaha menjungkirbalikan stereotype itu. Masyarakatlah sang penindas di sana, masyarakatlah yang menjadi ‘babi’ – seperti di “1984”-nya George Orwell – pada novel saya ini. Kerjaan mereka ya cuma menyiksa aparat, memperbudak pegawai pemerintah, dan semacamnya. Udah gitu aja. Pada dasarnya saya seneng yang absurd dan hiperbolis, jadi kemungkinan besar gaya bertutur saya di “Rudolf dan Marfuah” macam itulah. Gak ada tujuannya kenapa bikin itu, sama aja kaya bikin ‘Sepak Bola Seribu Tafsir’, cuma kepengen aja.

sepakbola seribu tafsir [berita jogja]
sepakbola seribu tafsir [berita jogja]

 Halftime ; Tentang Rosseneri dan Remeh-Temeh

“Awalnya karena suka warna kostumnya. Saya suka paduan warna merah dan hitam,” jawabnya ketika saya tanya kenapa Eddward S. Kennedy begitu fanatik pada klub AC Milan. Sederhana. Dia bahkan lupa, tidak ingat kapan tepatnya mulai menyukai klub tersebut. “Ya, sukanya gitu doang sih awalnya…”

Laga AC Milan mana yang paling berkesan dan anda ingat sampai sekarang?
Pertandingan Milan paling berkesan itu pas final Champion 2003 dong. Menang di negeri yang ngaku sebagai penemu sepakbola (mainnya kan di Old Trafford) dan mengalahkan Juventus, jagoan kampung-nya Serie A, hahaha.

Di manakah anda saat laga final Champion AC Milan vs Liverpool pada tahun 2005?
Saya waktu itu nonton berlima di rumah temen, namanya Polo. Cuma saya yang Milanista di situ. Sisanya bukan pendukung Liverpool, tapi gak suka Milan aja, haha. Saya ajakin taruhan per-orang 20 ribu. Pas gol ketiga, Crespo yang nyetak, dengan pongahnya saya tidur. Temen-temen yang lain udah nyerahin duitnya tuh ke saya, hahaha. Pas gol ketiga Liverpool yang dibuat Alonso itu, saya dibangunin. Duitnya saya balikin lagi. Abis itu ya gitu deh. Udah ya, mas. Saya gak kuat buat ngelanjutinnya. Pedih.

Seberapa emosional anda jika tim kesayangan anda kalah?
Tergantung sih kalo itu. Kalo peluangnya banyak tapi ga bikin gol, biasanya baru gemes. Tapi kalo emang mainnya jelek banget dan karenanya kalah, saya malah nyukurin, emang pantes kalah kalo gitu, haha.

Saat half-time sebuah laga sepakbola, apa yang biasanya anda lakukan selama 15 menit sambil menunggu babak kedua dimulai?
Kalo nonton langsung di stadion ya ngobrol aja sama temen. Atau ngetwit, haha. Kalo nonton di televisi paling juga gak beda jauh. Kecuali kalo nontonnya karena ada kebutuhan buat data nulis nanti, biasanya lebih serius.

Kalau misalnya masa istirahat digunakan untuk mendengarkan musik, kira-kira lagu apa yang akan anda putar?
Hmmm, apa yah? Karena gak pernah ngalamin, saya jawab Jamiroquai yang “When You Gonna Learn” aja yah? Hahaha…

Babak Dua ; Hajatan Akbar di Negeri Samba

Sekitar setahun lalu, Eddward S. Kennedy pernah menulis dalam blognya bahwa, “Brasil dan sepakbola adalah dua buah hal yang nyaris tak bisa dipisahkan. Ketika ada demonstrasi di Brasil yang, ironisnya justru berkaitan dengan (event) sepakbola (tertinggi), bagi saya, adalah sesuatu yang sangat seksi. Sama seksinya seperti menyaksikan selebrasi mendayung sampan yang dilakukan para penggawa Tahiti pasca mencetak gol ke gawang Nigeria beberapa hari lalu…”

Dalam tulisan yang berjudul “Seberapa Seksi Piala Dunia 2014 Mendatang”, dia mengulas fenomena sosial-politik terkait penyelenggaran hajatan akbar tersebut. Dan saat ini, ketika Piala Dunia di Brasil sudah hampir mencapai peluit akhir, saya berbincang soal seberapa ‘seksi’ laga-laga yang terjadi di lapangan hijau…

Mari kita menuju ke Piala Dunia di Brazil. Eh tim favorit anda sudah pulang ya?
Belum, kebetulan saya suka Argentina dari dulu. Menang atau kalah ya tetep suka, soalnya pemain favorit saya, Fernando Redondo, asalnya dari sana. Tapi kalo di 2014 ini saya kira yang juara antara tiga tim ini; Jerman, Belanda, atau Prancis. Pokoknya Eropa deh. Di awal saya pegang Prancis, tapi sekarang feeling sih kuat Belanda. Tapi feeling saya mah ngaco mulu, hahaha.

Jadi, tim mana yang paling anda favoritkan jadi juara?
Belanda kayanya sih. Alasannya gimana ya? Gak tau ya, Belanda ini kan tim yang semangatnya dibentuk dari tragedi ke tragedi. Sepakbola-nya itu gak pernah jelek, sama sekali gak pernah. Mungkin gak semegah EPL atau La Liga, tapi stabil. Dalam sejarah sepak bola, Belanda juga begitu digdaya, satu-satunya yang mereka gak punya cuma trofi Piala Dunia. Pernah punya trofi Piala Eropa, tapi cuma itu aja. Dari tragedi ke tragedi itu, Belanda kini mulai pragmatis. Kalo dulu mereka selalu mengkultuskan formasi 4-3-3, sekarang malah 5-3-2. Itu artinya mereka udah mulai kompromi. Dan biasanya, sikap kompromi itu berbuah hasil. Biasanya lho, hahaha.

Sejauh ini, laga mana yang paling seru?
Seluruh laga di perdelapan final kemarin seru semua. Tim-tim kecil kaya Aljazair atau Swiss, meskipun tetep gak lolos, tapi bisa ngelawan dengan sangat hebat. Ini sesuatu yang gak biasa sih. Hasil akhirnya biasa, tapi prosesnya gak biasa sama sekali. Tapi di Piala Dunia 2014 ini emang banyak yang seru sih pertandingannya.

Kalau laga yang paling membosankan?
Paling membosankan apa ya? Jepang versus Pantai Gading. Bukan karena mereka bukan tim gede. Tetapi Jepang, yang digembar-gemborin bakal menunjukkan permainan keren, malah keok.

Spanyol sudah pulang, apakah itu artinya Tiki-Taka sudah usang?
Tiki-Taka itu kan cuma konsep. Dan yang namanya konsep gak pernah usang, selalu sempurna. Yang bikin gak sempurna yang menerjemahkan konsepnya. Jadi bukan Tiki-Taka yang usang, tapi pemain Spanyol yang secara psikologis udah mentok. Mungkin bosen bermain dengan cara itu. Rada Freudian sih ini penjelasannya, tapi kalo ada orang yang selalu dapet apa yang dia mau, saya kira juga gitu, bosen dengan sendirinya.

Sesungguhnya, apa yang terjadi pada timnas Inggris dan Italy sampai mereka harus pulang duluan?
Inggris dan Italia persoalannya sama. Kalo Inggris regenerasi pelatihnya yang jomplang, sementara Italia regenerasi pemainnya. Liat deh, pelatih asli Inggris yang bagus itu siapa? Kagak ada. Semua pelatih top di EPL dalam satu dekade ini gak ada yang asli Inggris. Itu artinya kan FA cuma peduli dengan industri. Gak raih trofi gak apa-apa deh selama EPL masih dianggep sebagai liga terbaik di dunia – yang entah di mana pula terbaiknya. Nah, Italia malah kebalikannya. Pelatih topnya banyak bener. Pasca Trapattoni, ada Capello, ada Lippi, ada Ancelotti. Terus muncul lagi Montella, sebelumnya sempet ada juga Allegri dan Prandelli. Sementara pemainnya gitu-gitu doang. Ngandelin Balotelli doang ya mending garuk biji aja. Itu kalo gak ada Andrea “Chuck Norris” Pirlo dan Buffon, Italia paling jadi keset doang.

Banyak yang bilang, Brasil dan Belanda bahkan Jerman dan Argentina agak beruntung bisa menang pada babak 16 Besar kemarin…
Kalo paling beruntung di 16 besar kemaren ya Argentina. Keberuntungan yang langka malah.

Tim mana yang paling impresif dan bikin anda terkesan kali ini?
Kolombia dan Kosta Rika. Luar biasalah mereka berdua. Kolombia terutama, menang dengan bermain bagus itu sesuatu yang langka bagi tim semenjana.

Siapa lima pemain muda berbakat yang paling bersinar di Piala Dunia kali ini?
James Rodriguez (Kolombia), Xherdan Shaqiri (Swiss), Paul Pogba & Antoine Griezmann (Prancis), Marcos Rojo (Argentina). Pogba masih debatable lah karena dia udah famous duluan. Tapi ini Piala Dunia pertamanya, dan untuk pemain seumuran dia, yang berhasil membawa timnya ke perempat final, saya kira keren. James Rodriguez juga gitu, dia dibeli Monaco dari Porto dengan harga yang fantastis. Tapi baru di Piala Dunia ini namanya bersinar. Saya paling suka Rojo, posisinya bek kiri, kokoh bener. Eh usia 24 masih muda kan? Haha.

Butuh berapa bek untuk bisa menghentikan Messi atau Neymar?
Cara jagain Messi sebenernya gak terlalu sulit, kuncinya jangan ditempel terlalu dekat, tutup aja ruang geraknya. Liat deh gerakan Messi pas dribble bola, begitu-begitu aja. Yang jadi masalah kegesitannya. Secara teori, Neymar pun juga sama. Makin ditempel malah makin jago. Karena harapan tukang giring itu kan sebenernya emang diganggu, jadi gak usah ditempel ketat.

Apa hukuman yang pantas bagi Suarez atas hobinya menggigit pemain lawan?
Hukuman larangan bermain 9 laga itu sudah tepat, tapi yang 4 bulan mah kebangetan. Apalagi 4 bulan gak boleh berhubungan dengan sepak bola, sampe masuk stadion aja dilarang. Itu kan gila. Suarez itu, walau gimana pun, ya atlet. Menjauhkannya dari olahraga yang biasa digelutinya itu sama aja membunuh karirnya secara perlahan. Saya kira cukup dilarang tampil dan mesti dikonseling. Atau dipakein topeng. Serius lho, dia diperbolehkan main tapi disuruh pake topeng kan malu sendiri. Itu udah hukuman tho namanya?

Extra Time ; No Golden Goal

Baiklah, ini waktu yang terlalu singkat untuk membahas sepakbola nasional atau perubahan dunia. Tapi tetap menarik untuk mencari tahu laga mana yang pantas ditonton jelang atau paska apokalips. Ha!

Saya tidak berminat membicarakan kondisi PSSI, kompetisi ISL atau prestasi timnas. Semua sudah tahu soal itu. Tapi, apakah ada yang ingin anda sampaikan soal itu?
Masih sama kayak yang dulu-dulu, mas. Sepakbola Indonesia, tentu dalam hal ini yang berhubungan dengan PSSI aja, kudu diboikot total. Sederhananya gitu. Boikot, tolak kompromi, titik.

Oya, konon katanya sepakbola bisa menghentikan perang, bahkan juga bisa menyulut perang. Apakah anda termasuk golongan yang percaya kalau sepakbola itu bisa mengubah dunia?
Mengubah dunia itu terlalu muluk-muluk menurut saya. Dunia dalam skala kecil mungkin bisa, tapi seluruh dunia? No, gak percaya. Tempo hari saya nulis review “Cahaya dari Timur” di situs midjournal.com. Narasi film itu kan bertutur tentang sepakbola yang menjadi media rekonsiliasi. Saya sepakat dalam hal sepakbola sebagai media, sebagai jembatan. Tapi kalo kemudian sepakbola menjadi jawaban tunggal, gak! Saya gak percaya. Semua tetap manusia yang memutuskannya.

Baiklah ini pertanyaan terakhir sebelum peluit panjang. Jika esok kiamat, apa laga sepakbola yang paling ingin anda tonton?
Bahkan kalo abis kiamat saya bisa reinkarnasi, jawaban saya masih sama; menonton laga Superclasico antara Boca Junior versus River Plate di La Bombonera!

*Artikel ini sebelumnya dimuat di situs Jakartabeat. Eddward S. Kennedy juga doyan berkelakar sarkastik soal sepakbola, politik dan filsafat melalui akun Twitter dan Facebook-nya.