the founder ; nova ruth & doni ajer
the founder ; nova ruth & doni ajer

Hari Minggu kemarin, 23 Juni 2014, saya sampai di Legipait sekitar jam sembilan malam. Saat itu Nova Ruth dan Rizal Abdulhadi sedang bersiap-siap di teras menghadap pintu masuk. Space tersebut akan dijadikan altar khusus untuk showcase musik sederhana dalam rangka ulang tahun ketiga Legipait.

Nova tampak serius mengatur stand mic pada posisi yang tepat, sambil menyapa pengunjung dan kerabat yang datang. Sementara Rizal menyiapkan Rasendriya, instrumen unik ciptaannya sendiri yang terbuat dari bahan bambu yang memadukan gitar, didgeridoo dan perkusi.

Mereka berdua siap tampil menghibur puluhan pengunjung dan teman-teman dekat mereka yang tampaknya malam itu sengaja datang ikut merayakan sukacita Legipait. Di salah satu meja, ada beragam makanan tradisional yang disediakan cuma-cuma untuk pengunjung – mulai dari nasi tumpeng, sayuran, lauk-pauk, gorengan hingga kacang rebus. Di atas trotoar depan Legipait, teman-teman dekat menuang minuman keras untuk mengusir dinginnya udara malam.

Saat saya masuk menuju dapur untuk memesan segelas kopi rempah, Nova dan Rizal mulai memainkan “Gendjer-Gendjer”. Lagu klasik nan kontroversial itu terdengar makin syahdu. Sedikit membius dan bikin merinding. Sekumpulan bule di salah satu meja tampak menikmati aksi Nova dan Rizal dengan menggoyangkan kepala mengikuti irama.

Kemudian, Rizal Abdulhadi tampil solo membawakan beberapa karya lagunya. Pria berlogat Sunda ini mengaku sudah sepekan berada di kota Malang. Dia sempat mengisi program Cerita Rabu di Legipait dan juga terlihat menonton aksi band asal Australia, Empat Lima, di Houtenhand Beerhouse, Kamis malam yang lalu.

Dalam profilnya di situs http://www.rizalabdulhadi.com disebutkan bahwa, “Rizal Abdulhadi is a uniquely talented multi-instrumentalist, folk singer and social activist from West Java Indonesia, dedicating his music to struggle for real change towards a more creative Indonesia and World. His lyrics sung in confidence in both Indonesian and English talk of travel, adventure, democracy and opportunity.”

Saya sendiri baru tahu seperti apa konsep musiknya Rizal malam itu. Ternyata menarik. Musisi yang sempat tur ke Asia Tenggara dan Australia ini seperti memadukan musik folk, blues, reggae, dan etnik kontemporer dalam porsi yang tepat. Tidak berlebihan dan tetap nyaman di telinga. Pas untuk didengarkan dalam perjalanan atau di ruang terbuka. Begitu organik dan alami.

Salah satu highlight malam itu adalah penampilan duet Nova Ruth dan Robertus Doni. Keduanya boleh dibilang adalah founder Legipait – sebelum Doni pindah mengelola bar bernama Houtenhand. Mereka juga merupakan sejawat di grupband Ajer. Malam itu, Nova bernyanyi diiringi bunyi gitar Doni membawakan lagu “Pena Hitam” milik Ajer.

Legipait malam itu tetap seperti hari-hari biasanya yang sudah berjalan selama tiga tahun.

Hangat. Intim. Sesak. Ramah. Dan menyenangkan.

X X X X X

Tepat tiga tahun yang lalu Nova dan Doni mendirikan Legipait sebagai tempat usaha sekaligus ruang berkreasi bagi anak muda di kota Malang. “Kedai kopi itu saya dan Donny buat untuk lahan bisnis kecil sekaligus ruang ekspresi bagi teman-teman di Malang,” kata Nova Ruth ketika saya wawancarai untuk Jakartabeat, dua tahun lalu.

“Sebelum ada Legipait, teman-teman kalau ngopi dan makan pancake ya di rumah. Makanya saya pikir sekalian bikin kafe saja dan mengajak Doni. Itu memang rencana dari awal, saya ingin menciptakan ruang seni yang bisa mendanai dirinya sendiri. Dan sejauh ini berhasil,” imbuhnya kemudian.

Legipait saat ini sudah menjadi salah satu melting-pot yang cukup happening di kalangan anak muda kota Malang. Rasanya, tempat ini bukan bukan sekedar kedai kopi biasa. Ada banyak kalangan dan komunitas yang sering nongkrong di sana – mulai dari anak band, musisi, seniman, pelajar, mahasiswa, pekerja kreatif, turis, hingga aktifis yang paling kolot sekali pun.

Di kedai kopi yang sempit nan selalu ramai ini juga dikenal karena beragamnya program dan kegiatan yang menarik. Mulai dari sesi live music, story-telling, pameran / eksebisi seni, bursa dagangan murah, hingga berbagai jenis workshop seni yang melibatkan warga Malang, luar kota, bahkan dari mancanegara sekalipun.

Nova juga pernah bilang pada saya, kalau semua bahan makanan yang diolah di Legipait adalah produk lokal. Sebisa mungkin, dia ingin menghindari produk impor dan memakai bahan-bahan domestik. Salah satu yang khas dari Legipait adalah aroma rempah yang selalu menusuk hidung kita ketika berada di sana. Sangat ‘Indonesia’ sekali.

Legipait juga sempat buka cabang di Jakarta, di daerah Kemang tepatnya. Namun hanya beroperasi tidak begitu lama. Konon karena lingkungan di sekitar sana yang kurang bersahabat. Tetangga kerap mengeluh dan merasa berisik akan segala kegiatan seni yang diusung Nova dkk. Suatu saat nanti, mungkin Legipait akan hadir lagi di Jakarta – di wilayah dan lingkungan yang lebih ramah, tentunya.

Sementara di Malang, Legipait masih kokoh berdiri di ruangan sempitnya dan seperti tidak pernah kehilangan pengunjung. Tiga tahun berjalan, Legipait hadir sebagai kedai bagi anak muda yang menyukai kopi dan pancake. Juga menjadi ruang alternatif bagi insan yang menggauli seni dan budaya. Menyodorkan beragam program unik seperti Blue Monday, Cerita Rabu, Pasar Kamis, dan sebagainya. Dari tiap-tiap meja kayu Legipait juga lahir bermacam ide dan wacana, aksi dan cinta.

X X X X X

“Oke, ini terakhir, sekaligus saya mau pamit melanjutkan perjalanan. Eh saya ingin mengajak anda semua untuk bernyanyi bersama. Tapi, lagu apa ya?” ujar Rizal Abdulhadi sambil menatap ke atas dan berpikir keras. Dia mengaku tidak pernah memainkan lagu orang sebelumnya. Dia tampak agak kebingungan untuk mengingat dan memilih-milih lagu.

Pertama, dia coba bawakan salah satu lagu Bob Marley. Ternyata gagal. Tidak banyak pengunjung yang mau ikut bernyanyi. Lalu dia ganti dengan “Leaving On A Jet Plane” yang didedikasikan buat Nova yang keesokan harinya akan berangkat ke Eropa untuk tur bersama Filastine. Sayang, bujukannya gagal juga. Para pengunjung masih menatap diam dan malu-malu.

Akhirnya, Rizal yang setengah putus asa menawarkan lagu “Indonesia Pusaka”. Pengunjung terhenyak. Sebagian tertawa.

“Masak lagu nasional ini gak hapal?” tantang Rizal setengah tersenyum.

Tanpa persetujuan lebih lanjut, Rizal memainkan “Indonesia Pusaka”. Ternyata cukup berhasil. Pengunjung mau tidak mau ikut bernyanyi. Saya juga, dengan suara lirih. Di lagu ini semuanya bisa ikut bernyanyi, kecuali tiga orang berparas bule yang duduk di meja pojok itu tentunya.

“Di sana tempat lahir beta,
Dibuai dibesarkan bunda,
Tempat berlindung di hari tua,
Sampai akhir menutup mata…”

Malam itu, hanya di Legipait, lagu “Gendjer-Gendjer” dan “Indonesia Pusaka” bisa berada dalam satu setlist dan dinikmati secara khusyuk oleh mereka yang menyeruput kopi, mengiris pancake, mengunyah kacang goreng, dan menenggak sedikit minuman keras.

Ya, hanya di Legipait, simfoni itu terus mengalun…

 

*Artikel ini sebelumnya dimuat di situs Jakartabeat. Selamat ulang tahun Legipait Coffeeshop Malang. Cheers untuk Nova Ruth, Doni, Mbak Nini, Ulul, Indie, dan semua keluarga besar Legipait di manapun berada. Luv ya all!