the cd & liner notes
the cd & liner notes

Saya sedang berdiri di Lapangan D Senayan yang becek dan berlumpur sambil serius menonton penampilan sangar Belphegor di Sonic Stage-nya Hammersonic Festival 2014 saat Aditya Nugraha yang berdiri di sebelah tiba-tiba bilang, “Hasil remastered album “Maggot Sickness” keren deh. Lebih bagus dari aslinya. Bahkan terdengar lebih baik daripada versi rilis ulangnya label Malaysia yang dulu.”

“Oh ya?!” sahut saya antusias dengan mata berbinar seperti meminta penjelasan lebih banyak. Dia lalu menceritakan beberapa detil hasil mastering album tersebut. Komplit dengan segala problema di antara prosesnya, serta komposisi lagu yang bakal ada di album itu. Saya sendiri sudah tidak sabar untuk bisa segera mendengarkan ‘kelahiran’ kembali komposisi album legendaris tersebut.

Tak lama, Belphegor sudah kelar memainkan setlist-nya. Kami lalu jalan bergeser ke arah Hammer Stage menunggu penampilan Morbid Angel. Di antara kami, juga ada Bimo D. Samyayogi dari Undying Music, selaku pihak label yang merilis ulang “Maggot Sickness”. Kami bertiga, bersama ribuan crowd yang lain, ikut larut merayakan euforia semasa bocah, menyantap sejumlah nomor klasik milik Morbid Angel.

* * * * *

Konon, “Maggot Sickness” pertama kali lahir dari sebuah demo sederhana yang diproduksi sendiri oleh Rotten Corpse – gitaris Aditya Nugraha [Adyth], bassis Didik, drummer Anton, dan vokalis Aryev Gobel – pada awal tahun 1996 yang lalu. Materi itu direkam secara live-recording hanya dalam waktu dua jam di studio Oase [Malang]. Kaset demo dengan sampul fotokopian itu hanya dicetak terbatas dan disebar gratis kepada segelintir teman serta rekanan mereka.

“Itulah kuncinya,” cetus Arief Budiman a.k.a Aryev Gobel ketika bercerita kepada saya untuk situs Apokalip, beberapa tahun yang lalu. “Demo yang kualitas produksinya minim banget itu sempat dibawa ke Bandung – yang kala itu merupakan kota sejuta harapan bagi semua band underground di Indonesia. Demo itu diperkenalkan pada komunitas di sana untuk menunjukkan bahwa Malang, kota kecil yang tidak begitu mencolok, mempunyai satu monster yang berniat memporak-porandakan pasar underground-metal. Dan itu akhirnya terjadi…”

Ya, gara-gara demo sederhana itu, Rotten Corpse akhirnya diundang manggung di salah satu festival musik cadas yang cukup monumental, Bandung Underground #2 di gedung Saparua, 21 Juli 1996. Saat itu era di mana kota Bandung jadi basis musik cadas terbesar di negeri ini. Dan Bandung Underground adalah salah satu ‘kawah candradimuka’ bagi band-band underground tanah air. Bagi band luar kota Bandung, mungkin tidak mudah untuk bisa ikut tampil di event tersebut kalau tidak punya modal karya yang mumpuni, serta hubungan relasi yang baik. Beruntung, saat itu Rotten Corpse sudah memiliki keduanya.

Kebetulan saat itu saya juga ada di sana, bahkan ikut berada di atas panggung ketika Rotten Corpse beraksi. Ceritanya, saya didapuk jadi roadies atau kru yang kerjanya cuma memencet tombol pada efek gitarnya Adyth di beberapa part lagu mereka. Aneh sih. Padahal, saya sama sekali buta soal tehnis gitar, efek apalagi amplifier. Mungkin saya selalu ditugasi ‘menemani’ efek gitar Adyth hanya gara-gara saya hapal lagu-lagu dan bagian musik mereka. Entahlah. Ini sesuatu yang saya tidak paham sampai sekarang. Gara-gara tugas ‘sepele’ itu, saya jadi selalu ikut ke mana pun Rotten Corpse manggung.

Mata saya menyapu ke setiap sudut venue. GOR Saparua tampak penuh disesaki penggemar musik keras yang berkaos hitam. Saya yakin sekali semua personil Rotten Corpse saat itu sangat tegang. Saya pun jadi ikut-ikutan tegang. Mungkin pikiran yang ada di benak kami saat itu, “Duh, penontonnya kok banyak sekali. Gimana kalau nanti mainnya jelek? Gimana kalo nanti penonton dan panitia kecewa dengan penampilan Rotten Corpse?…”

Kekhawatiran itu baru bisa terjawab beberapa menit kemudian. Penampilan pertama Rotten Corpse di kota Bandung itu akhirnya berkesan luar biasa. Saya ikut bangga menonton aksi Adyth dkk yang tampil habis-habisan. Seakan-akan itu adalah show pertama dan terakhir bagi mereka. Tidak ada lagi hari esok. Mau tidak mau kudu pol. Musti habis-habisan mengerahkan semua enerji dan kemampuan. Itu satu-satunya cara untuk mengais harapan dan mencuri perhatian fans musik ekstrim di Bandung, atau Indonesia pada umumnya.

Selepas lagu terakhir usai mereka mainkan, saya baru berani mengangkat dagu dan menarik napas lega. Tidak ada lemparan sandal atau sepatu ke atas panggung. Semua tampak bersenang-senang dan menikmati sajian musik yang disuguhkan Rotten Corpse. Adyth dkk lalu berjalan menuruni panggung, kembali ke ruang backstage dengan tubuh peluh berkeringat dan senyum puas. Mission Accomplished!

* * * * *

Sejak pertengahan tahun 1996, sudah terjadi pembicaraan yang serius antara Rotten Corpse dengan Hariyanto a.k.a Mas Harry dari HR Production [produsen kaos yang berdomisili di Surabaya] soal produksi debut album Rotten Corpse. Hasilnya, Mas Harry sepakat bikin label metal independen bernama Graveyard Production, dan mengontrak Rotten Corpse sebagai roster pertamanya.

Rotten Corpse lalu menjalani proses rekaman di studio Natural [Surabaya] pada bulan November 1996. Proses rekaman yang berlangsung selama lima hari penuh itu diproduseri oleh Mas Harry sendiri, serta dibantu oleh Irwan sebagai sound engineer.

Proses rekaman Rotten Corpse saat itu sudah terbilang cukup mewah dan fenomenal untuk ukuran band metal independen. Adyth dkk sudah mulai meninggalkan metode live-recording dan memakai sistem track-recording demi mendapatkan hasil rekaman yang lebih optimal. Konon, metode rekaman seperti itu masih jarang digunakan oleh musisi underground-metal saat itu.

Tepat di akhir tahun 1996, Graveyard Production resmi merilis “Maggot Sickness”, sebuah album death metal yang cukup bersinar di jamannya, dan pantas dianggap masterpiece. Rilisan ini sempat diklaim oleh jurnalis musik Wendi Putranto [Brainwashed fanzine / Rolling Stone Indonesia] sebagai salah satu dari “20 album rock-lokal yang revolusioner” pada majalah MTV Trax2, edisi Juli 2004. Dalam artikel itu juga disebutkan, “Album debut mereka yang bertitel ‘Maggot Sickness’ saat itu menggemparkan scene metal di Jakarta, Bandung, Jogjakarta dan Bali karena komposisinya yang solid dan kualitas rekamannya yang top notch.”

Saya pun menemukan banyak komentar dan review yang positif dari sejumlah media tentang “Maggot Sickness”. Sebuah fanzine asal Malang bernama Loudly Press menaruh “Maggot Sickness” di urutan pertama dalam daftar “Malang Essential Records”, dengan kutipan singkat, “…sebuah perjuangan yang sangat tidak pantas untuk dilupakan. Sebuah album untuk semua diehard metalheads!

Saya jadi ingat, Aryev Gobel juga pernah bilang dalam sesi wawancara, “Ya, ‘Maggot Sickness’ adalah salah satu album masterpiece yang pernah dilahirkan oleh praktisi band underground dalam kualitas recording, materi musik, dan artwork. Perpaduan teknik analog dan manual artwork yang orisinal sudah menjadikan album ini benar-benar melegenda.”

Tidak cuma itu, gaung kedahsyatan “Maggot Sickness” juga berhasil menyeberang hingga ke negara tetangga. Di awal tahun 1997, album itu dirilis kembali oleh Ultra Hingax Prod dan VSP dengan titel “Rotten Corpse” atau self-titled untuk pasar distribusi Malaysia dan Singapore. Kemudian pada tahun 2000, tiga lagu mereka – “Rotten Solid Brain”, “Sound Bitter”, “Mindless Tentacles” – juga sempat masuk dalam proyek kompilasi “Ultra Violence” rilisan Ultra Hingax Prod [M’sia].

Dulu, saya kerap memutar “Maggot Sickness” sebagai pilihan selain “C’est La Vie” [Jasad] atau “Feed The Flesh To The Beast” [Grausig], misalnya. Kemudian memaknai album-album itu layaknya kita pernah memuja “Effigy of The Forgotten”, “Eaten Back To Life”, atau “Harmony Corruption”. Yes, it’s a fun thing.

* * * * *

Ketika masa libur lebaran tahun 2013 lalu, saya yang sedang berada di Jakarta tiba-tiba mendapat sms dari kawan di Malang. Isi pesannya mengabarkan bahwa Adyth, Aryev Gobel, Didik, dan Anton lagi ngumpul di studio Centra. Tidak hanya nongkrong, mereka bahkan latihan musik bareng di sana.

Sepertinya mereka berempat memang sengaja janjian untuk bertemu dan bernostalgia memainkan karya musik mereka. Cukup menyenangkan saat membayangkan empat pria itu berkumpul kembali sambil memegang perangkat musik dan menyanyikan lagu-lagu yang pernah membesarkan nama mereka. Saya cuma bisa meringis saat melihat foto-fotonya yang diunggah melalui Facebook. Yeah, I wish I was there…

Beberapa bulan kemudian, tiba-tiba muncul kabar tentang reuninya Rotten Corpse dalam formasi klasik pada acara Bloody Fest #2 di Bandung, akhir tahun 2013 lalu. Adyth, Gobel, Didik, dan Anton bakal kembali ke panggung memainkan repertoir dari album “Maggot Sickness”. Sayang, saya tidak bisa hadir melihat langsung momen comeback-nya mereka di atas panggung tersebut. Ini suatu hal yang masih saya sesali, sampai sekarang.

* * * * *

Waktu berjalan, jaman berubah, dan generasi terus berganti. Sekian lama ini sudah tercipta semacam legenda – terutama di daerah saya, di kota Malang – tentang seberapa besar nama Rotten Corpse dan betapa pentingnya album “Maggot Sickness”.

Semakin lama, kisahnya sudah terdengar mirip epos saja. Sampai-sampai muncul mitos bahwa hingga hari ini belum ada band death metal Malang yang pernah mencapai level seperti Rotten Corpse – yang punya karya musik berkualitas, direspon secara masif, dan bisa menginspirasi banyak orang.

Mungkin sampai kemarin, kaset “Maggot Sickness” masih menjadi barang klasik dan terus diburu dengan harga yang lumayan tinggi. Fans dari dalam dan luar negeri masih terus saja menanyakan stok rekamannya. Album ini bahkan pernah ada versi bajakannya dan tetap ludes diserbu pembeli.

Saya sendiri pernah menyimpan dua kaset “Maggot Sickness” dan berjajar lama di rak koleksi saya. Salah satunya sudah berkali-kali ditawar dengan harga yang cukup menggiurkan dan tidak masuk akal. Akhirnya tiga tahun lalu, salah satunya saya lepas dengan harga seratus ribu. Langsung dia bayar. Tidak, sesungguhnya saya tidak bangga dengan nilai nominal tersebut. Saya kebetulan mau melepasnya karena kaset itu sudah menemukan pemiliknya yang tepat.

Hingga suatu hari, sebuah foto DAT master-tape “Maggot Sickness” sempat muncul di halaman jejaring sosial. Itu sedikit bikin geger. Wacana untuk merilis ulang pun meluap kembali. Saya ingat sempat menulis komentar di kolomnya, dan beberapa kali chatting dengan Adyth soal kemungkinan itu. Tapi kemudian, wacana tersebut seperti menguap begitu saja dan tidak banyak dibicarakan lagi.

Awal bulan April 2014 lalu, Bimo D. Samyayogi dari Undying Music tiba-tiba kirim mesej melalui chat Facebook. Dia mengabarkan bahwa “Maggot Sickness” akan segera dirilis ulang. Dua hari kemudian, saya kirim mesej ke Adyth menanyakan kepastian proyek itu. Ternyata itu benar, “Maggot Sickness” memang akan ‘diselamatkan’ dalam kemasan yang lebih baik. Fuck yeah!

Saya termasuk orang yang paling gemas kalau ada rilisan lokal lawas yang tidak tersedia lagi di pasaran. Apalagi kalau sampai berada di tangan ‘pengepul’ serta diperjual-belikan dengan harga tinggi dan tidak wajar. Ini sungguh tidak masuk akal dan kurang sehat.

Sementara kita bisa dengan mudahnya mendapatkan album lawas dari Black Sabbath, Venom, Death, atau Slayer, misalnya. Saya pikir itu problem besar bagi pola dokumentasi dan pengarsipan rekaman musik [independen] di Indonesia. Sebab, kudunya semua anak muda atau fans dari segala generasi berhak mendapatkan opsi untuk membeli atau memiliki rilisan lawas dengan cara-cara yang wajar.

Adyth sendiri pernah bilang, bahwa “Maggot Sickness” merupakan salah satu kepingan sejarah skena metal tanah air yang mungkin belum sempat dikenali oleh generasi sekarang. Gagasan untuk merilis ulang album ini pun sebenarnya cukup sederhana. Mungkin persis seperti yang dia sampaikan kepada saya, beberapa hari yang lalu, “…untuk memberikan artefak yang layak dari sebuah sejarah perkembangan skena metal di Indonesia.”

Di tangan anda sekarang, “Maggot Sickness” menemukan takdirnya kembali…

Jakarta, 01 Mei 2014

s a m a c k
bekas editor Mindblast zine & Apokalip.com 

 

*Ini versi orisinil yang saya tulis sebagai liner notes untuk album “Maggot Sickness” edisi reissue rilisan Undying Music, 2014. Judul aslinya “Restorasi Belatung dan Kepingan Artefak Yang Berdistorsi”.