dok. barongsai records
dok. barongsai records

“Salah satu alasan kenapa belakangan ini hanya sedikit band lokal Malang yang merilis album adalah karena di kota ini tidak ada label rekaman yang serius,” begitu alibi yang sering terdengar dari sejumlah penggiat skena musik independen di kota Malang.

Alibi di atas memang tidak terlalu salah, namun tidak sepenuhnya benar pula. Sebelumnya, sudah ada Monev Records, Tarung Records dan Hell Is Other Records yang cukup produktif merilis rekaman dari beraneka genre musik. Belum lagi, sudah ada beberapa band yang tetap nekat merilis albumnya melalui label sendiri atau self-released – seperti Becuz, Brigade07, Anniverscarry, Begundal Lowokwaru, dan masih banyak lagi.

Tapi memang iya, adanya label rekaman tentu akan mempermudah kerja dan beban yang musti ditanggung oleh band beserta tim manajemennya. Menyenangkan melihat label-label rekaman baru mulai bermunculan dan tampak makin serius dalam berproses di kota dingin ini.

Salah satunya adalah Barongsai Records, sebuah label independen yang dijalankan oleh Andi Alo [Ajer/Sarajevo] dan baru terbentuk beberapa bulan lalu. Tanpa banyak koar, label ini langsung tancap gas. Giat bekerja dan terus berproduksi hingga menghasilkan karya rekaman.

Rilisan pertamanya adalah Kompilasi Sepi, sebuah album keroyokan yang berisi musisi/solois kota Malang seperti Oneding [SATCF], Bambang Iswanto [The Morning After], Bill Walesa [Crimson Diary], Christabel Annora, Donny Ajer, Paraou Peka, Hagi Becuz, dan lain-lain. Total ada enam belas musisi yang merekam singel solo-nya di kompilasi tersebut.

Rekaman berformat cakram ganda itu dikemas unik dalam bungkus amplop coklat dan konon hanya dirilis dalam jumlah sangat terbatas. Kompilasi Sepi tepat dirilis pada hari kedua perayaan Record Store Day dan dibarengi dengan acara release party di Houtenhand Malang, 20 April 2014 yang lalu.

Tidak lama setelah itu, Barongsai Records ‘menemukan’ Crimson Diary, band indie-pop/rock yang baru merekam materi musiknya namun masih kebingungan untuk merilisnya. Untung ada Andi Alo dan koleganya yang langsung sigap serta bersedia memproduksi rekaman tersebut.

Album Crimson Diary yang bertajuk “Senja” itu kemudian dirilis oleh Barongsai Records dengan kemasan yang serius dan dipasarkan melalui jaringan distribusi ke berbagai tempat. ”Senja” berisi tujuh lagu karya Bem Walessa [vokal], Siklum Huda [gitar], Bampho [bass], dan Wahyu Hidayat [drum] yang notabene bukan wajah-wajah baru di kancah musik independen kota Malang.

Dalam jangka waktu yang hampir sama, Barongsai Records menjalani tahap promosi bagi dua karya rilisannya tersebut. Selain promo media dan radio lokal, label ini juga menggelar tur mini ke berbagai spot di dalam kota Malang. Tur Kompilasi Sepi dan Crimson Diary Inner City Tour menyasar kedai-kedai kopi, kafe dan resto yang kerap jadi tongkrongan anak muda dalam serial show-nya yang berlangsung sejak bulan Mei dan belum berhenti hingga sekarang.

Konon roster Barongsai Records berikutnya adalah Intenna, band shoegaze/indie-pop yang masih merampungkan materi musiknya untuk dirilis dalam format album penuh. Sebelumnya, Intenna sudah pernah mengeluarkan dua singel yaitu “Thirst” dan “Flowery” yang terangkum dalam proyek split-tape bersama Guttersnipe, rilisan For The Records pada tahun 2013 lalu.

Memulai dan mengelola label rekaman independen layaknya Barongsai Records ini tentu bukan pekerjaan yang sederhana. Selain butuh kurasi musik yang baik, juga perlu proses marketing yang cantik mulai dari tahap promosi hingga distribusi.

Mulai membaiknya kesadaran komunitas, apresiasi serta daya beli terhadap musik lokal juga memberi enerji yang positif bagi musisi/band dan label rekaman indie. Lagipula, label rekaman itu selalu memberi harapan bagi musisi dan fans bahwa mereka tidak sendirian dalam mengapresiasi musik-musik bermutu yang beredar di khazanah lokal.

Seperti yang juga dikatakan oleh salah satu pengisi slot Kompilasi Sepi, “Makin banyaknya label rekaman itu bisa merangsang musisi lokal untuk lebih produktif dalam berkarya. Lihat saja, saya yakin bakal banyak musisi yang akan merilis karyanya dalam bentuk fisik.”

Hari ini, Barongsai Records sudah menjadi salah satu jawaban atas minimnya label rekaman di kota Malang selama kurun waktu belakangan. Dan sepertinya label ini mulai merancang sejumlah agenda dan rencana berbahaya yang patut ditunggu.

*Artikel ini sebelumnya dimuat di situs musik Gigsplay. Untuk info dan kerjasama, Barongsai Records bisa dihubungi melalui akun twitter-nya.