photo by norman hs / happipolla photoworks
photo by norman hs / happipolla photoworks

Jumat siang lalu, 31 Agustus 2012, saya diberitahu oleh seorang kawan bahwa Nova Ruth baru saja menerima penghargaan dari sebuah lembaga internasional. Saya tidak paham apresiasi macam apa lagi yang didapat oleh kawan kami yang memang cukup getol dalam bermusik, berkesenian dan berkarya itu. Segera saja saya coba selidiki informasi yang dimaksud melalui halaman jejaring sosial milik seniman/musisi yang bernama asli Nova Ruth Setyaningtyas itu.

“Lined up with the greatest artists all over the world. Speechless.” Begitu kalimat yang termuat pada halaman Twitter milik @novaruth. Lengkap dengan tautan situs internet dari lembaga yang mengabarkan tentang informasi tersebut.

Secara garis besar, Nova Ruth dikenal sebagai seorang musisi, rapper, MC, dan seniman. Jika menilik pada profil dan segudang aktifitas yang telah dilakoni, perempuan ini juga layak disebut sebagai aktifis di berbagai bidang. Mulai dari dunia musik, seni, budaya, media, perempuan, hingga lingkungan hidup. Terus terang, saya agak kewalahan untuk menyebutkan satu-persatu aktifitas maupun karyanya. Blog pribadinya, www.novaruth.com, mungkin bisa sedikit mewakili hal-hal tersebut.

Hari itu juga, setelah membaca komplit berita pada tautan di atas tadi, saya mengirimkan tiga buah pertanyaan sederhana melalui email kepada Nova Ruth – yang langsung dibalasnya beberapa menit kemudian…

Selamat, anda baru saja terpilih sebagai salah satu orang yang menerima penghargaan Kindle Project Award for the 2012 Makers Muse Artist Awards. Bagaimana kabar menggembirakan itu datang kepada anda?

Prosesnya sudah lama. Sampai saya mencapai tahap ke-empat, yaitu interview terakhir pada kurang lebih satu bulan yang lalu. Tiba-tiba saya di-email oleh salah satu dari mereka, dan diberikan detil bahwa saya masuk nominasi. Perasaannya bangga, senang, terkejut dan merasa butuh lebih bertanggung jawab akan apa yang saya perbuat dan katakan.

Apa dan siapa itu Kindle Project Award for the 2012 Makers Muse Artist Awards? Pernahkah terbayang kalau nama anda bisa masuk ke dalam list mereka?

Silahkan bertanya pada mereka tentang Kindle Project melalui http://www.kindleproject.org/, karena mereka yang lebih berhak untuk menjelaskannya. Tapi yang saya tahu mereka adalah sekumpulan orang yang mencintai seni dan ingin membantu seniman di bagian dunia manapun. Yang mendaftarkan diri bukan saya sendiri. Sampai sebelum wawancara, saya masih belum tahu apa-apa tentang proyek ini. Memang sistemnya begitu. Seorang teman yang mengerti apa yang saya kerjakan mencoba mendaftarkan tanpa sepengetahuan saya. Dan itu memang proses yang ditawarkan oleh teman-teman di Kindle Project. Memberikan kejutan bagi para seniman yang mereka pikir kompeten.

Anda adalah satu-satunya seniman Indonesia yang masuk dalam list ini. Seberapa penting penghargaan ini bagi anda? Bagaimana pengaruhnya bagi karir dan aktifitas kesenian anda ke depan?

Menurut saya, setiap penghargaan yang diberikan itu adalah tantangan. Entah itu dari orang tua, orang lain atau teman sendiri. Pengaruhnya bagi saya adalah menjadi cambuk untuk membuat saya lebih dan lebih kreatif lagi.

*****

Seminggu sebelumnya, saya sudah sempat mewawancarai Nova Ruth melalui beberapa surat elektronik. Kami berbincang tentang banyak hal – mulai dari musik, seni, bisnis, hingga menyentuh hal-hal yang cukup personal dalam hidup serta keluarganya.

Fakta menariknya, setidaknya bagi saya, bahwa Nova merupakan putri dari Totok Tewel, gitaris grupband rock legendaris Elpamas. Sejak dulu saya memang curiga, mungkin dia mewarisi darah seni dari keluarga, terutama ayahnya. Mungkin saja, raungan suara gitar yang bising dan alunan musik rock yang meledak-ledak itu juga sudah diakrabinya sejak dari masa kanak-kanak…

Seperti apa kehidupan masa kecil anda?

Cukup tidak normal menurut standar, namun penuh kasih sayang. Saya tinggal di antara dua rumah dan dua kultur agama. Islam dan Kristen. Almarhum kakek dari Abba (begitu saya panggil ayah saya) dulunya adalah seorang pendeta Kristen. Beliau yang mengajari saya bernyanyi. Abba adalah inspirasi di keluarganya, termasuk saya. Meskipun jarang bertemu dan sempat bingung bagaimana memanggilnya. Sampai umur 24 tahun, saya panggil nama saja, Totok, karena satu rumah kakek saya memanggil begitu. Banyak yang protes, tapi Abba cuek saja. Katanya tidak masalah. Almarhum nenek dari mama dulu seorang penyiar radio GL 67 yang cukup inspiratif bagi warga Malang. Beliau ada salah satu sosok wanita kuat yang saya kagumi. Mama yang suka menyanyi adalah orang yang cukup keras dalam membentuk saya untuk berani naik ke panggung. Kalau beliau tidak pulang dari pengembaraannya setelah berpisah dengan Abba, mungkin sekarang saya tidak akan bisa seperti ini. Banyak yang menyayangi dan merawat saya, serta membentuk kepribadian saya dari dua pihak keluarga. Jadi saya menganggap, masa kecil saya bahagia. Termasuk almarhum kakaknya Mama yang merawat saya dan adik dari Abba yang mendorong saya untuk keluar dari Indonesia, mereka semua punya andil besar di masa perkembangan saya.

Sedekat apa anda dengan ayah anda?

Saya akui dulu saya kurang dekat. Namun pada tahun 2006, ketika beliau melalui proses kehidupan yang berbeda, saya mengambil kesempatan itu untuk pindah ke Jakarta dan mulai mengenalnya lebih dekat. Selain untuk mencari pengalaman baru, saya juga tinggal satu atap dengan beliau selama dua tahun. Katanya, dia kira tinggal sama saya itu menyenangkan. Ternyata setiap hari saya omeli terus. Saya kalau ingat pasti tertawa. Begitu caranya mengungkapkan kedekatannya dengan saya. Sekarang kami cukup dekat. Banyak yang kami bagi selama tinggal dua tahun bersama. Kasih sayang sebagai keluarga, dan juga pemikiran serta ide-ide sebagai sesama musisi.

Anda pernah diajari main gitar oleh beliau?

Ya, pernah. Sekali saja waktu di Jakarta. Susah, disuruh latihan jari terus! Tapi saya sempat diberi gitar oleh beliau. Mungkin harapannya supaya saya bisa main gitar. Tapi sayangnya saya harus bilang harapannya pupus. Saya pemain gitar yang buruk. Mending menekan tuts saja. Keyboard, piano atau melodica.

Apakah anda juga mendengarkan Elpamas atau karya musik ayah anda lainnya? Lagu mana yang jadi favorit anda?

Dulu iya. Saya suka album Elpamas yang ada lagu “Pak Tua”. Saya juga suka karya-karyanya dengan Kantata Takwa/Samsara dan Sirkus Barock. Menurut saya, yang menginspirasi lirik-lirik dan perjuangan saya adalah lirik-lirik ciptaan mereka. Saya tidak pernah ingat ngotot menghapalkan lirik-lirik mereka. Tapi setiap kali melihat aksi panggungnya, saya selalu sing-along. Dari situ saya menyadari bahwa teman Abba seperti Sawung Jabo juga menjadi inspirasi bagi saya. Favorit saya dulu itu selalu merinding kalau mendengar lagu “Nyanyian Jiwa”. Oleh Kantata ya? Mereka ganti nama terus tiap project. Saya suka bingung. Ada suatu saat Abba berkolaborasi dengan Kahanan (Inisisri). Itu menurut saya yang Abba lakukan dengan sepenuh hati. Karyanya total dan sentuhan tradisionalnya terlihat jelas. Sayangnya tidak bisa diteruskan karena Om Inisisri diambil Yang Kuasa.

Belakangan, Nova sempat mengirim email lagi kepada saya dan bilang kalau dia ingat satu track Elpamas yang juga jadi favoritnya, yaitu lagu berjudul “Alamku” yang ada di album “Bos” [1993].

Oh ya, saya dulu pernah semobil dengan ayah anda. Dia bangga menceritakan aktifitas anda dalam berkesenian. Dia mengaku sempat ikut mengisi gitar di salah satu lagu anda, tapi entah itu lagu yang mana…

Judulnya “Arek Malang Kudu Seneng”. Saya berkolaborasi dengan Sven Simulacrum (Australia) dan Exi (Blora). Waktu itu hasil art residency di Sydney. Abba tidak tahu kalau sebetulnya itu petikan gitarnya saya ambil. Waktu saya tunjukkan, dia bertanya, “Iki sopo sing gitaran? Kok enak?!”. Saya rasa baru kali itu beliau mengerti maksud dan tujuan saya bermusik. Awalnya dia bilang, “Kok kamu nge-rap? Itu kan kerjaannya orang gak bisa nyanyi”. Kadang Abba juga bilang, “Suaramu yang sebelah situ fals”. Saya sering kasih argumen, “Yah itu namanya nada Jazz, Ba”. Ya, begitu percakapan saya dengan Abba. Kalau di musik, kami bukan bapak-anak lagi. Saya pegang kata-kata KRS One, “In music we are all the same”. Kami sama saja. Kami saling mengkritik, memberi saran dan melemparkan ide.

*****

Beberapa tahun belakangan, Nova Ruth aktif melakoni aktifitas bermusiknya bersama Grey a.k.a Filastine, seniman musik elektronik asal Seattle [USA]. Setelah berkali-kali ikut tampil bareng dalam berbagai pertunjukan di sejumlah negara, akhirnya Nova Ruth diajak mengisi sesi rekaman album “Loot” milik Filastine. Di album rilisan Post World Industries / Muti Music itu, Nova Ruth menyumbangkan suaranya di tembang “Colony Collapse” dan “Gendjer2”.

Bagaimana ceritanya anda bisa kenal Grey Filastine, lalu terlibat dalam proyek musikalnya?

Saya kenal Grey Filastine ketika dia mampir ke Indonesia untuk memperkenalkan dirinya ke komunitas seni di Indonesia. Waktu itu akhir tahun 2008. Saya dibantu dengan Sakit Kuning Collectivo mengorganisir satu gig kecil di IKJ. Lalu di Yogyakarta, kami bersama-sama manggung di ulang tahun Taring Padi yang ke-10. Dari sana Grey mengetahui bahwa saya adalah vokalis yang dia inginkan. Saya ditawari untuk mendukung di tur Jepang-nya, April 2009. Dari sana kami menemukan kecocokan dalam berkarya. Dan sampai sekarang, kontribusi saya semakin banyak untuk Filastine.

Kalau saya perhatikan, sepertinya konsep musik dan lirik Filastine itu penuh dengan protes dan perlawanan. Lagu-lagunya pun kebanyakan hanya dalam format bebunyian instrumental yang minim lirik…

Ya. Memang dari musiknya merupakan perlawanan terhadap musik populer. Biasanya musik poluper memiliki vokal dan melodi yang sangat jelas. Filosofi musik Filastine lebih mengedepankan bass. Vokal pun di-mixing untuk terdengar seimbang dengan elemen yang lainnya. Saya juga mengerti jelas maksud dan tujuan Filastine. Namun lebih baiknya anda tanya sendiri saja, ya. Kalau untuk dua lagu yang kami buat bersama, saya bisa menceritakan. Konsepnya memang penuh dengan aktifisme. Segala pesimisme memang sudah tersebar. Tentang kehancuran ekologi, hancurnya persamaan hak dan sebagainya. Namun kita juga tidak bisa diam dan menunggu. Maka itu kami ingin menjadi bagian dari perubahan, meskipun kecil, melalui musik. Tidak pernah ada kata terlambat, kan?

Apakah “Loot” ini proyek rekaman pertama anda bersama Filastine?

Ya. Sebelumnya saya cuma terlibat di live set saja.

Album itu sempat diulas oleh media-media seperti website ini, Pitchfork, dan NPR. Tampaknya “Loot” mendapat respon positif…

Saya senang. Karena dengan begitu kita yang suaranya kecil ini bisa didengarkan. Dan bukti pula bahwa teman-teman media bisa mengerti apa yang ingin kami sampaikan.

Siapa yang memasukkan unsur-unsur oriental seperti musikal jawa atau gamelan di lagu “Colony Collapse”?

Awalnya saya. Lalu Grey Filastine menyempurnakannya.

Anda juga menulis lirik berbahasa Jawa di “Colony Collapse”, apakah pendengar asing bisa paham dengan lirik itu?

Tidak bisa. Mereka yang ingin tahu biasanya selalu minta. Namun mereka bisa merasakannya, bahkan dari frekuensi yang kami suguhkan. Tahu kan, frekuensi lagu Jawa itu dulu dinyanyikan untuk menyembuhkan orang yang sakit?

Bagaimana ceritanya klip “Colony Collapse” bisa mengambil set di areal bencana Lumpur Lapindo? Gagasan atau pesan apa yang ingin anda sampaikan melalui klip itu?

Sebetulnya “Colony Collapse” itu pesan global yang ingin disampaikan. Lapindo itu contoh terdekat dari kota tempat saya tinggal. Kalau mau lihat yang seperti itu di bagian dunia lain, bisa lihat film dokumenter “Manufactured Landscape” yang dibuat oleh Jennifer Baichwal tentang fotografer Edward Burtynsky yang mengambil foto tentang limbah hasil industri. Namun bagi kami tidak realistis untuk menjelajahi sekian banyak lokasi di bagian dunia lain. Maka yang paling mungkin adalah melihatnya di Indonesia. Saya juga tidak bisa menulis tentang apa yang saya tidak lihat sendiri.

Apakah klip “Colony Collapse” itu kudunya dipertontonkan pada Aburizal Bakrie, atau setidaknya diputar pada program TV One?

Hahaha, ya tidak apa-apa. Silahkan saja. Tapi apa itu bisa merubah keadaan, saya tidak begitu yakin. Yang ada nanti saya minta maaf seperti aktifis yang jalan kaki dari Jawa Timur itu. Tiba-tiba saya ganti nomor handphone setelahnya dan menghilang misterius. Namun yang terpenting bukan itu. Seharusnya dari video musik itu teman-teman mengerti bahwa sudah saatnya kita merubah gaya hidup. Menjadi sadar lingkungan supaya tidak kedluduk kalau orang Jawa bilang. Terperosok ke dalam kekayaan sehingga lupa sekitarnya.

Siapa yang pertama kali mengusulkan untuk mengkover lagu “Gendjer-Gendjer”

Saya.

Anda pernah bilang kalau lagu “Gendjer-Gendjer” itu punya cerita khusus terkait dengan kehidupan masa kecil anda…

Kakek dari Mama dulunya seorang tentara. Beliau harus menjalankan tugas pada tahun 1965 sekaligus melindungi warga sekitar kampung yang dideteksi terlibat di Partai Komunis Indonesia (PKI). Nenek saya yang ditinggal bertugas, bersama anak-anaknya yang perempuan semua harus bertahan sendiri di rumah dari pembalasan dendam PKI terhadap keluarga Mama yang TNI. Nenek saya terpaksa harus memegang senjata dan mengajari salah satu anaknya yang masih remaja untuk memegang senjata pula. Tanpa keberanian keluarga saya, mungkin saya tidak bisa hadir di dunia ini. Saya ada di antara pengetahuan akan rezim Soeharto membantai sekian ribu rakyat Indonesia yang dianggap komunis dan pengetahuan bahwa keluarga kami diancam oleh PKI pula. Satu hal yang bisa saya lakukan adalah menyelamatkan sebuah lagu tradisional yang dianggap lagu tema PKI. Dengan harapan bahwa suatu hari kita akan mencapai pada kejujuran. Tidak mudah menyandang kebangsaan ini, namun kita juga harus mengakui kesalahan dan berbuat yang lebih baik di masa depan. Mungkin itu juga utopis. Meski suatu saat kita bisa mencapai itu dan entah berapa generasi lagi, namun saya ingin menjadi bagian dari proses tersebut.

Di album “Loot”, lagu “Gendjer-Gendjer” ditulis jadi ‘Gendjer2’. Ada alasan khusus untuk itu?

Ada. Pertama, itu sindiran untuk Bahasa Indonesia yang semakin buruk setiap harinya. Lumba-lumba menjadi lumba2. Cumi-cumi menjadi cumi2. Saya juga seperti itu kalau mau singkat. Kalau melihat judul itu, rasanya menjadi pengingat buat saya. Yang kedua, itu seperti melambangkan versi kedua dari lagu “Gendjer-Gendjer”. Sebetulnya sudah versi yang kesekian. Namun awalnya saya mendengar versi Lilies Suryani. Maka saya menganggapnya ini versi kedua dari apa yang dibawakan oleh Lilies Suryani.

Anda memakai jasa Thooliq sebagai sutradara di dua klip video Filastine. Apakah karena ada kecocokan dalam bekerjasama dengan dia?

Ya. Thooliq atau Astu Prasidya merupakan sutradara dan editor terbaik yang pernah saya temui. Sikapnya yang tidak mau keluar dari Malang itu yang saya sangat kagumi. Dia bisa membuktikan bahwa tidak perlu ke kota besar untuk mencapai impian, dan dibuktikan dengan hasil karyanya.

*****

Sejak tahun 2008, Nova Ruth sudah tampil dalam berbagai show dan tur di berbagai negara, baik itu di level gigs yang kecil maupun festival seni yang akbar. Karir panggung internasionalnya dimulai dari Australia, Afrika Selatan, Malaysia, Jepang, hingga Timor Leste. Dia justru baru pulang dari tur bersama Filastine di Mesir dan Eropa, baru-baru ini. Bahkan, sekarang dia sedang bersiap-siap untuk tur ke Eropa lagi dalam waktu dekat ini.

Anda sudah beberapa kali tur atau show ke berbagai negara, namun sepertinya tidak banyak media [musik] Indonesia yang tahu atau mengekspose aktifitas anda itu ya…

Saya juga masih cari tahu itu. Mungkin karena di Eropa/Amerika lebih banyak yang menerima musik baru seperti ini. Tidak hanya musiknya saja, namun juga konten dari album tersebut. Saya sudah menghubungi banyak orang untuk membantu album kami di sini. Tapi banyak yang tidak mau ambil resiko. Katanya, musik seperti ini kurang bisa diterima. Nanti kami pasti usahakan untuk bisa perform di Indonesia. Sampai sekarang pun kami masih belum berhenti berusaha.

Dan yang barusan ini juga bukan tur pertama anda ke luar negeri, sebelumnya anda sudah show atau tur ke mana saja?

Saya sendiri pernah tur kecil di Australia. Dibantu teman-teman Gang Festival dan Über Lingua. Dari sanalah awal dari perjalanan saya yang kemana-mana itu…

Baru-baru ini anda juga sempat mampir di Mesir dan tampil dalam sebuah festival seni di sana. Bagaimana rasanya tampil di negara yang baru saja mengalami gejolak revolusi? Konon anda juga sempat ke Tahrir Square, serta mengunjungi Sphinx dan Pyramid…

Saya tampil di Cairo, Downtown Contemporary Art Festival atau D-Caf. Ini festival yang dibuat untuk merespon revolusi di Mesir. Mereka yang diundang adalah mereka yang pikirannya terbuka dan berharap Mesir bisa melangkah ke masa depan yang lebih baik. Tempat kami tampil itu di bekas gedung teater yang sudah 20 tahun non-aktif, di Jalan Talaat Harb, hanya satu blok dari Tahrir Square. Saya merasakan kebebasan warga Mesir yang tanpa kekuasaan. Rasanya indah sekali meskipun sementara. Ya, saya juga ke Sphinx dan Pyramid. Karena konon katanya orang Jawa dulu berlayar ke Cairo. Hitung-hitung napak tilas. Kemana pun saya pergi pasti ada cerita tentang orang Jawa atau Indonesia yang sempat tinggal di wilayah tersebut.

Dari Mesir, anda lalu melanjutkan tur ke beberapa negara di Eropa. Total anda manggung di berapa kota atau venue?

Aduh, banyak. Sekitar 19 kota. Di Berlin kami sempat manggung dua kali.

Kabarnya anda sempat ditolak masuk venue pas mau tampil di Jerman kemarin…

Ada venue di Berlin yang mengadaptasi budaya underground (spray painted wall dan underground squatted looking building), namun yang datang orang-orang kalangan atas. Saya cuma keluar sebentar membuat daftar tamu. Ketika masuk lagi saya diusir oleh bouncer-nya. Lalu saya memilih pergi sejenak. Meskipun sudah dijemput di luar oleh Grey Filastine, saya tetap diusir. Sebetulnya orang-orang yang mengundang saya itu orang-orang baik. Tapi bouncer mereka sangat tidak ramah. Rasanya ironis sekali karena saya baru datang dari Fusion Festival, 1,5 jam dari Berlin, yang sangat ramah, ramah lingkungan dan ada penyamarataan antara seniman dan para pendatangnya.

Di manakah show yang paling berkesan selama tur barusan?

Saya paling terkesan dengan Fusion Festival. Kalau boleh saya ingin kembali lagi dan tinggal di sana sampai festival itu selesai.

Saya penasaran, apakah penonton asing selalu tahu kalau anda itu berasal dari indonesia?

Tidak semua. Ada yang mengira saya dari Thailand, Filipina, Jepang bahkan Amerika Latin.

Lalu, biasanya apa komentar mereka saat tahu kalau anda adalah seniman/musisi asal indonesia?

Ada yang terkejut. Namun banyak juga yang datang ke saya dan bilang mereka sering ke Indonesia.

Anda juga sempat menulis di blog anda tentang susahnya keluar dari negeri sendiri menjelang tur tersebut. Karena susah mengurus visa?

Susah. Karena saya independen, tidak ikut grup seni manapun dan tidak kerja kantoran.

Kabarnya, anda bahkan juga gagal berangkat tur US dan manggung di sebuah festival seni bergengsi, SXSW. Itu gara-gara visa juga?

Saya bahkan tidak mencoba [untuk mengurus keberangkatan -ed], karena bertemu dengan teman musisi di Jakarta yang bilang bahwa mereka harus bayar $2000 per-band di sana kalau festivalnya itu komersial. Atau saya harus membuktikan bahwa festivalnya itu gratis untuk para pendatangnya. SXSW kan tiketnya mahal dan bayarannya tidak mungkin sampai $2000. Jadi saya belum sempat untuk ‘menjajah’ ke Amerika.

Sejauh ini banyak yang penasaran, bagaimana anda bisa terlihat mudah sekali untuk tur atau show ke luar negeri. Sampai berkali-kali pula. Bagaimana cara membiayai ongkos perjalanan itu; apakah selalu pakai dana mandiri, sponsor, funding, atau seperti apa?!…

Caranya nggak mudah. Tapi Grey Filastine sudah memiliki sistem sendiri di Eropa, sehingga untuk membawa saya ke Eropa itu memungkinkan. Semua itu dihitung dari berapa banyak festival yang akan kami datangi. Kalau tidak realistis untuk membayar tiket dan biaya hidup saya selama di sana, ya saya tidak bisa berangkat…

Selama ini, anda pernah di-support oleh pemerintah Indonesia?

Selama ini saya tidak pernah minta. Kalaupun ada, saya lebih memilih dana itu dialokasikan kepada seniman tradisional, karena tradisi lebih penting untuk dilindungi.

Pengalaman penting apa yang anda dapat dari perjalanan tur terakhir bersama Filastine di Eropa kemarin?

Pengalaman kali ini cukup mengejutkan, karena di bagian Eropa mana saja saya selalu ketemu dengan teman atau temannya teman. Saya sudah tidak merasa asing di perjalanan ini. Itu yang paling penting.

*****

Di paruh akhir 1990-an, saya mengenal Nova Ruth sebagai seorang rapper/MC dan aktivis hiphop lokal. Beberapa proyek musiknya dengan seniman domestik maupun asing juga kerap mampir dalam perbincangan dan media lokal. Saat ini, intensitasnya dalam bermusik bahkan terlihat makin besar dan meluas. Dan Malang memang sudah selayaknya bisa berbangga karena sudah memiliki seniman perempuan yang cukup aktif berkarya dan tetap loyal seperti Nova Ruth ini…

Dulu, anda lebih dikenal sebagai rapper, baik sebagai solois maupun duo saat bersama Indri di Twin Sista. Sepertinya Twin Sista sudah tidak aktif lagi ya, di manakah Indri sekarang?

Indri di Jepang. Prioritasnya sudah beralih ke keluarga.

Anda sekarang juga punya proyek musikal yang lain, Ajer, di Malang. Bisa ceritakan soal itu?

Ajer itu berawal dari pertemanan. Kontribusi saya di sana sebagai pemain melodika dan vokalis. Ide besarnya; musik dari Thooliq, lirik dari Donny dan Alo yang menjaga tempo.

Kalau proyek musikal anda lainnya, Mimimintuno, masih aktif-kah?

Masih. Tapi saya dan Andre Toke’ punya kesibukan sendiri-sendiri. Namun setiap saya pulang, kami masih kumpul dan latihan.

Saya baca pada biodata anda, pernah ada proyek kolaborasi internasional dengan Sven Simulacrum dan Unkle Ho. Apakah kerjasama itu masih berjalan sampai sekarang?

Tidak. Tapi entah di masa depannya.

Oh ya, baru-baru ini, anda juga terlibat dalam proses albumnya Dub Youth Soundsystem ya…

Ceritanya, tiba-tiba Heru Dubyouth bilang ke saya kalau ingin membuat lagu yang bercerita tentang kekuatan perempuan. Menurut dia, itu ada di Mbak Yacko dan saya. Saya terima pujiannya dengan merealisasikan keinginannya. Kami bekerja dari jarak jauh saja. Saya merekam di Malang, Mbak Yacko merekam di Jakarta, lalu kami kirim ke Jogja. Heru itu salah satu teman nongkrong waktu saya tinggal di Jogja. Yacko adalah orang yang memberi saran kepada saya ketika pertama kali saya dan Indri mengikuti Festival Hip Hop tahun 2000 di Jakarta.

*****

Di luar musik, Nova Ruth juga masih memiliki rutinitas kehidupan yang cukup normal jika sedang berada di kampung halamannya, Malang. Dia tinggal di rumah kontrakan yang sederhana – yang katanya kerap banjir jika hujan deras melanda dan air sungai meluap. Di waktu senggang, dia pun menggeluti hobi memasak dan kerap mengumpulkan kawan-kawan dekatnya. Dalam jam kerja yang tidak terlalu normal, Nova Ruth juga masih bisa menekuni bisnisnya yang lain, yaitu kedai kopi bernama Legipait yang terletak di bilangan jalan Patimura, Malang.

“Kedai kopi itu saya dan Donny buat untuk lahan bisnis kecil sekaligus ruang ekspresi bagi teman-teman di Malang,” kata Nova Ruth tentang Legipait. “Sebelum ada Legipait, teman-teman kalau ngopi dan makan pancake ya di rumah. Makanya saya pikir sekalian bikin cafe saja dan mengajak Donny. Itu memang rencana dari awal bahwa saya ingin menciptakan ruang seni yang bisa mendanai dirinya sendiri. Dan sampai saat ini berhasil.”

Legipait saat ini menjadi salah satu melting-pot yang cukup happening bagi kalangan anak muda di kota Malang. Rasanya, tempat ini bukan bukan sekedar kedai kopi biasa. Ada banyak kalangan dan komunitas yang sering nongkrong di sana – mulai dari anak band, musisi, seniman, pelajar, mahasiswa, pekerja kreatif, hingga aktifis yang paling kolot sekali pun.

Di kedai kopi yang sempit nan selalu ramai ini memang dikenal ada banyak program dan kegiatan yang menarik. Mulai dari sesi live music, story-telling, pameran / eksebisi seni, bursa dagangan murah, hingga berbagai jenis workshop seni. Atas nama secangkir kopi dan sepiring pancake, rasanya Legipait masih akan terus menjalankan fungsinya…

*****

Menilik segala proyek dan karya-karya musikalnya, tentu tidak mudah untuk bisa memahami selera telinga perempuan asli Malang ini. Siapa yang menyangka jika Nova Ruth justru lebih fasih mendendangkan lirik-lirik yang sarat pesan, protes serta kritik tajam daripada memainkan perangkat gitar listrik milik ayahnya, misalnya.

Tapi terkadang benar, bahwa seni itu memang membebaskan…

Apakah anda masih intens mendengarkan musik rap/hiphop saat ini?

Tidak seintens dulu.

Siapakah musisi rap/hiphop Indonesia favorit anda?

Rifqi a.k.a Bellal dari Jalan Surabaya.

Musik atau album seperti apa yang biasa anda dengarkan sehari-hari?

Sekarang saya lagi mendengarkan James Blake. Saya suka Immortal Technique dan hiphop dari Timur Tengah seperti Ceza. Referensi saya sekarang meluas tidak hiphop melulu. Malah kebanyakan mendengarkan CD yang diberikan oleh teman.

Dalam bermusik, apa rencana dan mimpi anda selanjutnya?

Dulu saya bercita-cita untuk menjadi penyanyi. Ternyata setelah dewasa, saya tahu bahwa menyanyi dan musik adalah kehidupan saya. Kehidupan itu dijalani. Jadi musik saya jalani, bukan saya mimpikan. Selanjutnya saya serahkan kepada Alam Semesta Raya ke mana suara saya ini harus didengarkan. Namun satu hal yang selalu ingin saya lakukan adalah memberikan apa yang saya dapatkan selama perjalanan, ke kota kecil saya, Malang. Maka itu setiap kali saya di Malang, saya tidak berhenti membuat sesuatu. Workshop, cerita, penampilan dan kolaborasi, lewat Legipait atau ruang lain yang mengizinkan saya.

Sampai kapan anda akan menjalani aktifitas kesenian ini?

Sampai kapan pun dan selama saya mampu bersuara.

 

*Artikel ini aslinya dimuat di situs Jakartabeat, tahun 2012 lalu. Ya, ini salah satu tulisan dan wawancara favorit saya bersama sosok yang saya kagumi. Nah, supaya arsipnya tidak hilang, maka saya simpan di blog ini juga.