those weekend stuffs
those weekend stuffs

Tak terasa, hampir dua minggu saya berada di Jakarta untuk hajatan Hammersonic, musyawarah Rotten Corpse, dan selebrasi Star Wars Day. Akhir pekan yang lalu, saya pun pulang kembali ke Malang. Perjuangan keras nan mahal berburu tiket pesawat pas weekend seakan terbayar lunas saat saya bisa ikut ‘merayakan’ ulang tahun Burgerkill, menikmati “Senja” yang indies dari Crimson Diary, serta menghirup aroma sabun kretek karya Navicula…

Jumat, 09 Mei.
Hanya sebentar menginjak rumah, menyapa kamar dan belum sempat bongkar packing, saya sudah manasin motor dan meluncur kencang ke hotel Mandala Puri. Saya mau nyamperin temen-temen Burgerkill yang dijadwalkan manggung di lapangan Rampal, nanti malam.

Sejak hari Kamis, Ebenz dkk udah sampai di Malang. Saya juga dikabari kalau semalam mereka sudah mulai merayakan ultah Burgerkill yang ke-19 secara kecil-kecilan di sebuah cafe di daerah Klojen. Eh, sebenarnya band ini baru ultah hari Minggu nanti, tanggal 11 Mei. Namun, tidak ada kata terlalu dini untuk berpesta, bukan?!

Ini juga berarti, saya sudah 19 tahun mengenal Burgerkill. Semenjak band ini masih kecil, dalam formasi awal dan belum merilis apa-apa. Saya beberapa kali nonton latihan mereka di Palapa Studio, Ujungberung. Saat itu saya memang sedang studi di Bandung dan sering nongkrong sama komunitas mereka, sebut saja anak-anak Ujungberung Homeless Crew atau Extreme Noise Grinding. Sejak 1995 sampai dengan 2014, sudah banyak kisah tentang Burgerkill yang ditempuh dengan kerja keras – termasuk darah, keringat dan air mata. Dengan segala pencapaian Burgerkill saat ini, rasanya mereka memang pantas untuk berpesta.

Baru sampai di penginapan, saya sudah dapat oleh-oleh kaos Carcass “Heartwork” dari bassist Ramdan, hasil trade dengan kaos The Cure. Barter yang sepadan. Mengingat kami sama-sama suka Carcass dan The Cure.

…beberapa hari kemudian, kita shock mendengar kabar meninggalnya HR Giger, seorang desainer grafis veteran untuk artwork bernuansa alien – yang kebetulan juga bikin pencipta artwork album “Heartwork”. Sigh!

Sorenya, sambil menyantap bakso bakar, Ramdan bercerita soal proyeknya yang baru dengan musisi-musisi indie Bandung. Namanya Obscure, semacam band tribut untuk The Cure. Dia sempat pamer repertoir-nya juga, tak kurang ada 20 lagu The Cure dari berbagai era. “Kecuali Friday I’m In Love yang gak mungkin kita kover,” katanya sambil tersenyum dan berharap suatu saat bisa manggung di Malang.

“Malang itu udah seperti kota kedua bagi kami!” ujar setiap personil Burgerkill, beberapa kali di berbagai kesempatan. Itu artinya, mereka memang sering datang dan manggung di kota ini. Sudah terlalu banyak teman dan kenalan mereka di Malang. Itu juga yang bikin penginapan sampai backstage Burgerkill selalu dipenuhi oleh para kerabat lokal. Saya dan teman-teman Malang pun selalu disambut hangat kalau maen ke Bandung. In metal, we’re all brothers. A blood brothers, kalau kata Iron Maiden sih.

Malam itu, konser Burgerkill berjalan cukup seru dan menyenangkan. Saya bahagia saat lagu lawas, “Revolt!”, ada dalam setlist mereka. Saya sudah banyak menyimpan kertas setlist Burgerkill sebagai koleksi, tapi malam itu saya masih naik ke area drumset Andris untuk mencabut selembar setlist yang tergantung di sana. Sebab, itu salah satu cara saya merayakan ulang tahun mereka. Dirgahayu Burgerkill!… *salam tinju*

Sabtu 10 Mei
Malam itu saya datang ke Houtenhand. Membayar paket HTM 40K untuk sekeping CD album “Senja” milik Crimson Diary dan segelas bir ukuran sedang. Intenna yang di-plot sebagai band pembuka dan mulai memainkan set-nya. Konon unit female-fronted dreampop/shoegaze ini bakal jadi roster Barongsai Records berikutnya. Menarik untuk ditunggu.

Saya menatap ke arah stage kecil, Crimson Diary tampil dingin mengusung repertoar dari debut album mereka. Tidak banyak kejutan, datar-datar saja. Thus cenderung singkat saja show-nya. Malam itu hanya musik yang berbicara banyak di tangan Bems, Siklum, Bampho, dan Wahyu. Tak sabar untuk melihat kiprah Crimson Diary selanjutnya – yang kabarnya mulai merangkai tour keliling Malang dan juga luar kota.

Seakan kurang puas dengan sajian singkat di Houtenhand, saya dan Iksan Skuter lalu memutar semua materi album “Senja” bersama dua personil The Morning After di studio Nero. A good album, anyway. Congrats you, Crimson Diary!

Minggu 11 Mei
Siang hari sebuah pesan singkat masuk di ponsel saya. Ternyata dari kawan lama, Tria, yang mengabarkan kalau Navicula nanti malam manggung di Lap. Rampal dan setelah itu mereka bakal ke Houtenhand. Dia ngajak ketemuan. Oke, jawab saya. See you there…

Jam 10-an saya meluncur ke Houtenhand. Bertemu Tria dan rombongan Navicula di sana, minus Robi yang kabarnya kecapekan abis show di Rampal. Gitaris Navicula yang personil Dialog Dini Hari, Dadang Dankie Pranoto, ‘disandera’ untuk tampil di lantai dua Houtenhand. Berbekal sepotong gitar, Dadang melantunkan beberapa lagu – termasuk duet dengan Nova Ruth dalam lagu “Gendjer-Gendjer”.

Setelah nongkrong sampai tengah malam, saya akhirnya membawa pulang album anyar Navicula “Love Bomb” yang dikemas secara apik dan eco-friendly, plus merchandise unik Navicula berupa sabun beraroma kretek. Band ini selalu pintar mengemas karya dan isu secara bersamaan. Planet earth will gonna loves ’em!

Malang, 130514.
in the name ov weekend warrior.