balai kota malang yang hancur saat agresi militer belanda [peristiwa crash 1, 1947]
balai kota malang – peristiwa clash 1, 1947.
Saat ini saya sangat kagum pada pencapaian tiga band dari kota saya, Malang. Kebetulan ketiganya termasuk band veteran, kalau tidak mau dikatakan tua. Namanya pun sudah cukup kesohor di ranah musik nasional. Mereka sudah menelurkan beberapa rilisan dan itu bikin diskografinya menyenangkan untuk dibaca. Live-nya juga dikata menawan dan kerap menjajal berbagai panggung di sana-sini. Susah untuk tidak angkat topi atas segala karya dan sepak-terjang mereka selama ini. Secara pribadi dan sebagai teman, saya juga bangga bisa mengenal orang-orang itu. Mungkin ini yang namanya dedikasi dan konsistensi dalam bermusik. Mereka hanya menolak untuk berhenti…

NO MAN’S LAND
Fakta ini sahih dan akan selalu dicatat dalam sejarah; bahwa No Man’s Land [NML] merupakan band Malang yang pertama kali merilis album/demo kepada publik underground lokal. Pada tahun 1995, NML memproduksi album “Separatist Tendency” secara mandiri dan memasarkannya secara gerilya. Saya tahu, sebab NML juga band pertama yang saya wawancarai untuk Mindblast fanzine edisi #1, tahun 1996 yang lalu. Saat ini, memperingati 20 tahun eksistensi No Man’s Land, Didit dkk merilis vinyl ukuran 7 inci karya split “Malang Skinhead” bersama The Young’s Boot yang diedarkan oleh Aggrobeat, sebuah label rekaman dari Belanda. Kerennya lagi, rilisan ini juga mereka dedikasikan untuk merayakan 100 tahun kota Malang [01 April, 1914-2014]. “Sori, vinyl-nya agak telat dateng nih. Mungkin baru awal Mei nanti sudah sampe di Indonesia,” kata Didit yang saya temui sesaat sebelum No Man’s Land tampil dalam rangka perayaan Record Store Day 2014 di Houtenhand, hari Minggu [20/04] lalu. Selama duapuluh tahun ini, No Man’s land tetap dikenal sebagai pionir musik oi!/skinhead lokal yang cukup humble dan penuh dedikasi.
Link; Twitter | Official Site | Aggrobeat | Megavoid

sampul piringan hitam 7" no man's land / the young's boot
sampul piringan hitam 7″ no man’s land / the young’s boot

EXTREME DECAY
Saya sudah agak lupa kapan terakhir nonton live mereka. Selain faktor kesibukan kerja dan keluarga, mungkin Extreme Decay [ED] sudah menetapkan ‘kebijakan’ yang lebih selektif dalam memilih panggungnya. Guyonan lokal yang sering muncul di kalangan teman-teman mereka sendiri adalah, “ED itu band yang mainnya setahun sekali.” Tapi semua itu tidak akan pernah meruntuhkan respek publik dan fans atas segala pencapaian mereka sejak berdiri tahun 1998 hingga sekarang. Daftar panggung, tur luar kota, dan diskografi mereka bahkan sudah terlampau banyak untuk diingat. Adalah sebuah kewajaran jika baru-baru ini duabelas band berkumpul dan memberi ‘hormat’ kepada Afril dkk melalui proyek album kompilasi “A Tribute To Extreme Decay” rilisan Nowheretogrind. Mereka yang mengaku terinspirasi itu antara lain ada Tersanjung13, Otnamus, Extreme Hate, Proletar, sampai Hellcore. Menurut kabar, ED juga akan rilis album eksklusif “Destructive Progression” dalam versi deluxe boxset CD [collector’s item] di bawah label Armstretch Records. All hails to Extreme Decay!
Link; Megavoid  

a tribute to extreme decay [compilation tape]
a tribute to extreme decay [compilation tape]
BEGUNDAL LOWOKWARU
Ini band yang sepertinya tidak akan bisa dihentikan. Aksi live-nya dikenal liar, tak pernah sepi dan selalu seru. Sejak berdiri, mereka sudah produktif merilis rekaman, dan manggung di sana-sini. Bahkan sudah jadi kebiasaan bagi mereka untuk tur ke luar kota, bahkan ke pulau seberang. Saya lihat mereka juga pintar menjaga fanbase-nya. Hari Minggu lalu, 20 April 2014, Ustard Chipenk dkk merilis album anyar mereka yang dikasih titel “Nada Sumbang Pinggiran” produksi BL records dengan bantuan distribusi via demajors. Pestanya kemarin digelar dalam sebuah launching show yang penuh keringat, kenakalan dan juga kegembiraan. “Kali ini BL akan tur keliling Indonesia, sambil promo album anyar,” ucap Chipenk soal rencana dahsyat band-nya di tahun ini. Bagi saya, Begundal Lowokwaru adalah potret band [punk] yang memiliki etos kerja tinggi dan kepercayaan diri yang maksimal. Mereka itu ambisius, nakal, sekaligus penuh enerji. Itu yang jarang dimiliki oleh band-band lokal lainnya.
Link; Twitter | Megavoid | Video 

sleeve artworks "nada sumbang pinggiran" - based on their true stories!
sleeve artworks “nada sumbang pinggiran” – based on their true stories!

 

Honorable Mention ; Rotten Corpse
Oke, seharusnya band ini juga patut mendapat apresiasi lebih atas ‘kengerian’ mereka mengguncang skena musik death metal nasional di paruh akhir 90-an yang lalu. Adyth dkk sampai diundang show di berbagai kota di Jawa dan albumnya sempat dirilis ulang di negeri tetangga. Sayang band ini hanya berumur pendek dan cuma meninggalkan satu karya rekaman saja. Namun, ada tiga kabar baik tentang band ini. Pertama, Rotten Corpse sempat reuni dengan line-up klasik dan tampil live di Bandung, akhir tahun lalu. Kedua, konon mereka mulai menulis materi musik baru. Ketiga, mmmh, akan saya ceritakan detilnya bulan depan saja ya…
Link; Twitter | Facebook | Megavoid | Apokalip 

 

*Judul artikel “Pride of The City” diambil dari judul lagu yang sama milik No Man’s Land di album “Scattered Around and Buried” [Oishop, 2012]. Bait refrain-nya seperti ini, “Take pride of the city, Where’re you belongs, Even though you feel only pain, Pride of the city!”