becuz 'epilog' [foto ; andin]
becuz ‘epilog’ [foto ; andin]
“It’s taking rock right back to its basics, which is, go up there, make a hell of a noise and make sure you play music your parents don’t like.” – Martin Rushent, on “Hype!; The Movie”

Beberapa pekan yang lalu saya baru kelar menonton “Hype!”, sebuah film dokumenter tentang skena musik grunge/alt-rock di kota Seattle, USA. Sebenarnya ini film yang cukup lawas, dirilis pada tahun 1996, dan saya sangat terlambat menontonnya. How bad isn’t it?!…

Sebenarnya, berapa jarak yang terbentang antara Seattle dengan Malang?

Oke, jawaban pastinya ada di peta. Tapi saya masih mengingat, sejak awal 90-an musik grunge sudah mulai melunturkan bedak-bedak dan tata rias heavy metal. Apa yang awalnya tampak glamour dan berkulit di televisi sedikit berganti dengan amarah dan kemurungan, dengan balutan jins sobek dan kemeja flanel. Sejak MTV menayangkan video klip “Smells Like Teen Spirit”, banyak sisi-sisi kehidupan anak muda yang mulai berubah. Drastis.

Jika ingin tahu tentang histori skena ini yang lebih komprehensif, saya sarankan baca saja buku “Grunge Indonesia” karya YY Klepto Opera yang juga pernah disebar bebas di dunia maya. Di sana ada kisah skena musik grunge mulai yang terjadi di Jakarta, Bandung, Jogya, Surabaya, hingga Malang.

Skena musik grunge/noise di Malang juga telah eksis sejak lama – tapi bisa dibilang hampir nihil karya. Kalau pun ada, itu cuma sedikit dan saya mendadak amnesia untuk mengingatnya. Saya bicara di sini soal diskografi rekaman – bukan soal daftar band, stori gigs atau berapa jumlah kemeja flanel di dalam lemari.

Well, masih mau menghitung jarak dari Seattle ke Malang?! Rasanya tidak perlu.

* * * * *

Menjelang bulan puasa kemarin, saya dikasih materi demo Becuz oleh salah seorang personil band mereka, Rusli Hatta. Materi yang cukup mentah dan kotor, namun masih bisa dinikmati. Berisi sembilan track yang, terus terang, membingungkan. Begitu bising, dan juga mengawang.

Becuz adalah unit grunge/noise rock Malang kelahiran tahun 2004 – sepuluh tahun setelah musik grunge diklaim telah mati bersamaan dengan keputusan Kurt Cobain untuk menarik pelatuk pistol di kepalanya. Bang! Dan ‘orang suci’ yang dianggap tuhan itu memilih untuk mati. Meninggalkan ‘fame and fortune’, jutaan fans, serta [masih bisa] melahirkan pemuja-pemuja baru.

Yah, sepuluh tahun setelah insiden tersebut, Becuz muncul dan tidak banyak yang [mau] tahu. Seingat saya – dan belakangan mereka akui juga – Becuz memang termasuk band yang jarang manggung. Saya bahkan sudah lupa seperti apa show mereka. Rasa-rasanya saya hanya pernah menonton satu atau dua kali live show mereka, entah yang di mana.

Ketika pertama kali memutar demo Becuz, saya menemukan nada-nada khas ala Sonic Youth, Pixies, Pavement, atau Pissed Jeans pada beberapa bagian musiknya. Relasi band Malang ini dengan Sonic Youth rasanya memang tidak perlu dibantah mengingat ada track berjudul “Becuz” di album “Washing Machine” [1995]. Nah, sekarang kita jadi tahu dari mana nama Becuz itu berasal.

Belakangan, semua personil Becuz juga mengaku jika mereka memang mencintai musik rock 90-an serta ter-influens oleh nama-nama seperti macam Pink Floyd, Radiohead, Helmet, Mogwai, Portishead, hingga Godspeed You! Black Emperor. Selera beberapa kepala seperti turut membangun pondasi musik Becuz, dan itu mungkin tidak mudah.

“Noise itu indah,” begitu yang ada di pikiran band ini. Mereka hanya anak-anak muda yang ngotot memainkan musik tanpa harus memahami skill yang baku. Perhatikan petikan-petikan gitar mengganggu, yang sering ditimpali dengan kocokan riff kasar bersuara rendah. Tidak butuh seorang virtuoso atau jagoan Guitar Hero untuk meniru gaya bermain mereka.

Ketukan drumnya pun bagi kuping saya terdengar cukup unik dan ganjil, bahkan cenderung monoton, tanpa variasi yang berlebihan. Sederhana. Namun tetap bermakna, pada porsinya. Cabikan senar bass ikut menjaga tempo dan terkadang ‘bingung’ sendiri. Bermain sesukanya.

Saya juga tertarik pada vokal Andin – sambil sedikit menoleh pada karakter Kim Gordon. Derau vokalnya cukup gelisah. Dia tidak sedang bernyanyi, Andin cenderung bercerita. Gelisah. Tersiksa. Dan seperti sudah terlalu lelah untuk mengumbar marah. Itu sangat connected dengan lirik-lirik puitis yang hampir semuanya ditulis oleh Hangga Taufiqurrahman.

Pada akhirnya, Becuz hanya meletakkan Nirvana pada catatan kaki, dan tetap mencomot Sonic Youth sebagai headline penting, dengan huruf kapital. Mereka tidak perlu tendensius dengan mengumbar genre grunge sebagai harga mati. Sebab musik rock akan selalu berkembang, begitu juga dengan band ini nantinya.

* * * * *

Selalu menyenangkan setiap kali mendengar ada rilisan baru dan berbeda dari skena musik independen. Apalagi jika itu datang dari band/musisi yang penuh talenta dan kita suka musiknya.

Well, saya rasa di tangan anda saat ini sudah menggenggam materi album Becuz dalam mutu yang lebih baik dan jernih karena sudah melalui proses mixing serta mastering yang serius. Album ini adalah presentasi dari sembilan tahun perjalanan karir musik Becuz.

Kalau sudah begini, memang sebaiknya kemeja flanel itu tidak perlu dikancingkan…

Selamat merayakan kebisingan!

– samack –

*Esai ini menjadi Liner Notes yang termuat di sleeve cover CD Becuz “Epilog”. Album yang menarik, packaging-nya juga keren. Artwork-nya dikerjakan oleh Rio Krisma [PenaHitam]. Yah, saya rekomendasikan penuh, coba dapatkan!… 

becuz 'epilog' [pic ; andin]
becuz ‘epilog’ [pic ; andin]