syd barrett @ rock & roll magz #1

syd barrett @ rock & roll magz #1

“Everyone is supposed to have fun when they’re young.
I don’t know why, but I never did.” – Syd Barret.

Hari itu, tanggal 5 Juni 1975, para personil Pink Floyd – Roger Waters [bass], David Gilmour [gitar], Richard Wright [keyboard], dan Nick Mason [drum] – sedang menjalani sesi rekaman mini album “Wish You Were Here” di studio Abbey Road London. Mereka dikabarkan cukup serius menyiapkan EP ini paska kesuksesan album “Dark Side of The Moon”, yang dirilis dua tahun sebelumnya. Meski secara konseptual, Roger Waters dkk mengaku ini bakal menjadi album biasa yang penuh dengan ungkapan rindu.

Tepat ketika merekam lagu “Shine On You Crazy Diamond”, ada sosok pria misterius yang terus menatap ke arah ruang studio dan menonton kegiatan rekaman personil Pink Floyd di dalam situ. Tubuhnya gemuk, dan sedikit tidak terurus. Nyaris tanpa sehelai rambut pun di kepala dan bulu di alisnya. Rogers Waters dkk tidak mengenalinya. Mereka bersikap acuh dan terus melanjutkan sesi rekaman lagu itu,

“Remember when you were young, You shone like the sun, Shine on you crazy diamond. Now there’s a look in your eyes, Like black holes in the sky, Shine on you crazy diamond…”

Sesaat kemudian, pria gemuk yang sedari tadi hanya duduk dan diam itu mulai dikenali identitasnya. Bahkan pria tersebut yang dimaksud ‘crazy diamond’ dalam lirik lagu tadi. Sontak semua personil dan kru Pink Floyd diguncang perasaan shock yang dahsyat. Suasana di studio itu sempat hening seketika. Roger Waters, orang yang dulunya sangat dekat dengan pria tersebut langsung menangis saat itu juga. Tentu saja tidak ada yang bisa tenang begitu tahu kalau sosok pria gemuk itu adalah…Syd Barrett!

“Itu adalah suatu momen istimewa yang tidak akan pernah saya lupakan,” ujar Richard Wright dalam sebuah wawancaranya dengan VH1. “Saya sedang menuju ke sesi rekaman ‘Shine On’. Saat saya masuk ke sana, saya melihat seorang pria duduk di bagian belakang studio. Jaraknya sangat dekat, namun saya tidak bisa mengenalinya. Saya lalu iseng bertanya ‘Siapa orang itu?’, kemudian ada menjawab ‘Itu adalah Syd’, dan saya langsung terkejut seketika. Saya gak percaya, dia telah mencukur semua rambut dan alisnya. Roger sedang menangis saat itu. Kita semua rasanya menitikkan air mata seketika. Ini sangat mengejutkan. Tujuh tahun kita tidak ada kontak, dan ini terjadi tepat di saat kami sedang menyelesaikan track tersebut. Saya gak tahu, apakah ini kejutan, karma atau takdir? Siapa yang tahu?… yang pasti momen itu sangat-sangat powerful!…”

“Shine On You Crazy Diamond” adalah lagu tribut yang menyimpan nada-nada bernuansa getir, puitik dan kriptikal yang memang ditujukan khusus bagi Syd Barret. Malam itu juga, Pink Floyd menyelesaikan sesi rekamannya dan memutarkan kembali hasil mixing akhir “Shine On You Crazy Diamond” di hadapan Syd Barrett. “Oke, gimana menurutmu, Syd?!” tanya Roger Waters spontan. Syd Barrett hanya menjawab singkat, “Sounds a bit old.”

Kejadian ini memang selalu saja diangkat ketika membicarakan relasi antara Syd Barrett dan Pink Floyd. Bagaimana tidak, setelah sekian lama berpisah, Syd Barrett justru hadir di saat kawan-kawan lamanya sedang merekam sebuah lagu khusus baginya. Momen ‘reuni’ seluruh personil asli Pink Floyd di hari itu langsung menjadi salah satu momen yang paling mengharukan dan dramatis di jagat musik rock dunia.

XXXXX

Syd Barrett terlahir dengan nama Roger Keith Barrett di kota Cambridge, Inggris pada tanggal 6 Januari 1946 dari pasangan keluarga kelas menengah, Arthur Barrett dan Winfred. Ayahnya adalah seorang pathologist terkenal di kota itu. Merekalah yang pertama kali mengenalkan si bungsu dari lima bersaudara itu kepada seni musik.

Hobi bermusik Barrett dimulai sejak awal tahun 60-an sebagai anggota band lokal Geoff Mutt and The Mottoes. Di usia 15 tahun, Barrett mendapat nickname ‘Syd’ yang diambil dari nama drummer jazz lokal di kotanya. Masa SMA-nya dihabiskan di Cambridge High School, tempat di mana ia mulai kenal serta berteman baik dengan dua pelajar yang juga sangat menyukai musik, Roger Waters dan David Gilmour.

Setelah lulus SMA, Barrett melanjutkan studinya di Camberwell School of Art, London, untuk mendalami ilmu seni. Sedangkan Waters belajar tehnik arsitektur di Regent Street Polytechnic, sambil mencoba mengawali bermain musik bersama rekan-rekannya. Ketika itu band bentukan Waters belumlah baku dan masih sering berganti nama seperti Sigma 6, The Tea Set, The (Screaming) Abdabs hingga The Megadeaths.

Waters sudah lama mengetahui bahwa Barrett memiliki bakat cemerlang di bidang musik. Barret memang biasa menulis lagu-lagu yang terpengaruh dari american surf music dan psychedelic rock, serta kerap bikin lirik yang berbalut humor satir dan sastra ala inggris. Melihat potensi istimewa tersebut, Waters mengajaknya untuk bergabung bersama pada tahun 1965. Barret pun setuju, dan mulai menjadi sosok penting dalam band. Bahkan ia yang merubah nama bandnya itu menjadi The Pink Floyd Sound, yang kemudian diperpendek jadi ‘Pink Floyd’ – diambil dari nama dua musisi blues Amerika, Pink Anderson dan Floyd Council.

Personil awal Pink Floyd saat itu adalah Syd Barrett (vokal/gitar), Roger Waters (bass/vokal), Richard Wright (keyboard), Bob Klose (gitar) dan Nick Mason (drum). Namun Klose hanya bergabung dalam waktu yang sangat singkat. Ia memutuskan keluar untuk menjadi fotografer dan meninggalkan pengaruh musik jazz-nya pada karya-karya awal Pink Floyd.

Di masa itu, Pink Floyd masih memainkan jenis musik seperti yang dimainkan oleh The Rolling Stones, The Yardbirds atau The Kinks. Barulah pada tahun 1966, Pink Floyd mulai menemukan formula musiknya sendiri, yang mengakar pada improvisasi rock n’ roll, jazz dan pop-rock khas british sebagaimana yang diusung The Beatles.

Pink Floyd lalu kerap tampil memarakkan panggung-panggung rock di belahan Inggris. Tercatat ada dua venue di London, UFO dan The Roundhouse, yang sering menjadi ajang pertunjukan musik rock lokal. Pink Floyd termasuk salah satu penampil yang populer di tempat itu. Sejak awal, aksi panggung mereka sudah memakai konsep tata lampu dan visualisasi yang memukau. Dalam waktu singkat Pink Floyd telah menjadi band psikedelik yang paling disegani dalam scene musik underground London.

XXXXX

Di akhir tahun 1966, Pink Floyd membentuk tim manajemen yang dikelola oleh Peter Jenner dan Andrew King. Tim ini kemudian banyak dibantu oleh Joe Boyd seorang ekspatriat asal US yang bekerja di perusahaan rekaman Elektra Records. Partisipasi Boyd bermula dari ketidaksengajaan. Suatu hari di tahun 1966, Boyd dan Jenner yang menjadi anggota organisasi London Free School sedang menyiapkan pertunjukan musik Notting Hill Carnival di London. Ketika itu Boyd kebingungan mencari band yang berkualitas dan bersedia tampil tanpa dibayar untuk acara tersebut. Jenner langsung merekomendasikan nama Pink Floyd dan meyakinkan kalau band itu pasti mau manggung di konser benefit tersebut. Apalagi Jenner berpikir Barrett dkk sedang berada di London, dan bisa jadi publikasi yang baik kalau Pink Floyd mau tampil di ajang tersebut.

Ternyata benar, Pink Floyd tampil memukau. Boyd pun terpesona akan potensi anak-anak Cambridge ini. Dia langsung membujuk Elektra Records untuk segera menawarkan kontrak rekaman bagi Pink Floyd, namun bos-nya menolak. Keputusan itu membuat Boyd kecewa, dan menjadi salah satu alasan baginya untuk berhenti bekerja dari Elektra. Boyd lalu ‘banting setir’ sebagai produser freelance, sambil terus berusaha mencari label rekaman dan kontrak yang bagus bagi Pink Floyd.

Bulan januari 1967 menjadi sesi rekaman pertama Pink Floyd untuk singel “Arnold Layne” yang diproduseri Boyd di Sound Techniques Chelsea. Singel itu lalu ditawarkan kepada label rekaman EMI dan berhasil mengantarkan Pink Floyd mendapatkan kontrak rekaman albumnya yang pertama.

Barrett yang saat itu menjadi leader Pink Floyd mulai memimpin rekan-rekannya dalam proses menggarap debut “The Piper at The Gates of Dawn”. Album tersebut berisi lirik-lirik yang puitis dan sastrawi, serta menyajikan komposisi musik yang eklektik mulai dari konsep avant-garde bernuansa space-rock seperti “Interstellar Overdrive” sampai tembang melankolik macam “Scarecrow”. Barrett yang menulis hampir semua lagu di album itu, termasuk dua singel pertama Pink Floyd yang menjadi hits, “Arnold Layne” dan “See Emily Play”.

Bagi para kritikus musik, “The Piper at The Gates of Dawn” dianggap sebagai album yang fenomenal di jamannya. Rekaman itu memiliki aransemen yang menakjubkan, beberapa justru mengatakan aneh dan memusingkan. Hingga disebut-sebut hanya album “Sgt. Pepper of Lonely Hearts Club Band” milik The Beatles yang mampu mengimbanginya.

Fakta uniknya, album “The Piper” ini direkam di studio 3 Abbey Road London, yang dalam waktu bersamaan juga ada rombongan The Beatles di studio 2, tepat di sebelahnya. John Lennon dkk dikabarkan sedang merekam track “Lovely Rita” untuk materi album “Sgt. Pepper’s Lonely Heart Club Band”.

“The Piper at The Gates of Dawn” yang dirilis di era the summer of love, tepatnya bulan Agustus 1967 itu mulai menarik perhatian publik musik di Inggris. Album ini dianggap sebagai debut yang sukses dan berhasil mencapai posisi ke-6 di UK Charts. Meski lagu-lagunya sempat ditolak untuk diputar di stasiun radio BBC, namun album ini mampu mengubah nasib Pink Floyd dari sekedar band underground lokal yang kecil menjadi calon band rock kelas dunia.

Debut album itu pun sering disebut sebagai mahakarya yang tidak hanya penting, melainkan menjadi landmark bagi musik psikedelik di jamannya. Hanya dengan satu album itu saja Barrett dkk dinilai cukup berhasil mendefinisikan konsep musik di era 60-an.

XXXXX

Selain disebut sebagai penulis lirik yang jenius dan orisinil, Barrett juga dianggap seorang gitaris yang inovatif. Gaya permainan gitarnya cukup unik dan khas. Ia termasuk pelopor dalam hal memainkan sound yang sonikal serta mengembangkan nuansa distorsi, feedback dan echo machine. Ia juga turut memasukkan layer-layer bernada noise dan ambience pada setiap komposisi musik Pink Floyd. Salah satu gaya khasnya di panggung adalah menggesekkan korek api Zippo pada fret gitar Fender Esquire-nya sehingga menimbulkan bunyi sound yang aneh dan misterius, serta jadi karakter musik Pink Floyd di masa tersebut.

Salah satu permainan gitarnya yang istimewa terdapat dalam lagu “Interstellar Overdrive”. Karya itu diyakini sebagai adaptasi kord atas karya Burt Bacharach / Hal David, “My Little Red Book” – yang dia mainkan secara eksperimental dengan struktur sound gitar yang mengawang dalam durasi hampir 10 menit.

Pengaruh musik Barrett terhadap generasi musisi di era 60-an dan seterusnya bisa dikatakan cukup kental. Paul McCartney dan Pete Townsend termasuk dua orang fans-nya sejak awal – selain Jimmy Page, David Bowie, dan Brian Eno. Pete Townsend sendiri sangat mengagumi Barret dan menyebutnya seorang (gitaris) legendaris. Pentolan band The Who itu malah pernah meyakinkan Eric Clapton untuk menyimak aksi frontman band Pink Floyd tersebut.

XXXXX

Di saat popularitas Pink Floyd sedang menanjak, kondisi mental Barrett mulai terganggu akibat konsumsi drugs (acid) yang berlebihan. Efek dari pemakaian obat-obatan jenis psikotropika (LSD) itu bikin aksi Barrett di setiap pertunjukan Pink Floyd menjadi berantakan. Tingkahnya menjadi tidak terkontrol dan susah dikendalikan. Perilakunya mulai membuat cemas rekan-rekannya, serta mempengaruhi kelangsungan karir Pink Floyd.

Berbagai insiden terjadi selama tur pertama Pink Floyd di Amerika Serikat, pada akhir tahun 1967. Dalam sebuah show di The Fillmore West Philadelphia, Barrett secara tiba-tiba merubah setelan gitarnya saat memainkan lagu “Interstellar Overdrive”. Alhasil personil lainnya jadi kebingungan, sedangkan penonton malah tidak sadar dan manganggap itu bagian dari aksi uniknya. Pada beberapa show-nya yang lain, Barrett kadang terlihat cuma memainkan satu nada kord saja di sepanjang konser. Bahkan ia pernah hanya berdiri diam mematung sekian lama di panggung, tidak menyanyi dan tidak juga memainkan gitarnya.

Kegilaan Barrett terus berlangsung di berbagai momen. Suatu kali sebelum naik pentas, ia iseng mencampur sebotol tablet Mandrax dengan krim rambut Brylcreem dalam jumlah banyak, dan menumpahkan semua ke atas kepalanya sendiri. Saat tampil bermain di bawah sorotan lampu, campuran aneh itu meleleh dan melumuri hampir seluruh bagian wajahnya.

Kekacauan juga pernah terjadi dalam sesi latihan Pink Floyd di studio. Barrett pernah datang membawa karya lagunya yang berjudul “Have You Got It Yet”, dan mengajak rekan-rekannya untuk berlatih lagu itu. Namun setiap kali memainkan lagu tersebut, ia selalu saja merubah-rubah kord-nya hingga bikin frustasi personil yang lain.

Sebenarnya ada banyak spekulasi mengenai kondisi mental Barrett saat itu. Beberapa percaya bahwa Barrett mengidap gangguan semacam skizofrenia. Sebagian lagi mengatakan Barrett terkena Asperger’s Syndrome, sebuah penyakit yang erat kaitannya dengan autis. Namun pada dasarnya kebiasaan Barrett yang sejak awal ’60-an sudah mengkonsumsi drugs itulah yang diyakini sebagai sumber utama dari gangguan tersebut.

Dari pengalaman berbagai insiden tersebut, Waters dkk akhirnya berasumsi kalau Barrett tidak bisa diajak tampil lagi ke depan publik. Tingkahnya memalukan dan berpotensi merusak imej serta karir Pink Floyd. Waters lalu coba menyewa David Gilmour, bekas teman sekolah Barret untuk dijadikan gitaris kedua. Cara ini musti diambil untuk mem-back up permainan dan perilaku Barrett yang sering berantakan di atas panggung. Metode ini relatif berhasil, Gilmour mampu bermain gitar dan menyanyi dengan baik menutupi ‘kegilaan’ Barrett, yang sebenarnya cuma disuruh berpura-pura ikut tampil di atas panggung.

Namun sejak konsernya di Southampton University pada bulan Januari 1968, Pink Floyd mulai meng-istirahatkan Barrett untuk sementara waktu. Rencana awalnya, Barrett sebagai penulis lagu utama akan tetap meneruskan tugasnya di Pink Floyd meski hanya pada proses pembuatan lagu dan sesi rekaman studio saja. Vonis ini sama seperti yang dialami leader grup band The Beach Boys, Brian Wilson, yang tidak pernah disertakan dalam konser, namun tetap aktif sebagai penulis lagu di band tersebut.

Barrett sebenarnya sudah merasa kalau ia mulai ‘diusir’ secara halus oleh teman-temannya. Ironisnya, Ia malah kerap datang ke sesi latihan Pink Floyd, dan selalu berharap diundang masuk. Bahkan ia pernah beberapa kali menonton langsung konser Pink Floyd tanpa keberadaan dirinya, sambil tertegun menyaksikan Gilmour yang tampil menggantikan posisinya.

Di tahun yang sama, Pink Floyd kembali ke studio untuk menyiapkan album keduanya. Sayang, kondisi kejiwaan Barrett yang labil justru makin menurunkan daya kreatifitasnya. Ia tercatat hanya menulis sedikit materi musik saat itu. Hanya satu lagu, “Jugband Blues”, yang masuk dalam materi album kedua “A Saucerful of Secrets” (1968). Sedangkan karyanya yang lain, “Apples and Oranges” hanya dijadikan singel, dan dua lagu lainnya, “Vegetable Man” serta “Scream Thy Last Scream” justru tidak ikut dirilis.

Kondisinya yang labil dan kontra-produktif itu akhirnya tidak bisa didiamkan oleh teman-temannya di band. Melihat tidak ada perkembangan yang kondusif dalam diri Barrett, akhirnya pada bulan Maret 1968 Waters dkk dengan sangat terpaksa menghentikan segala perannya, baik untuk sesi studio maupun konser. Itu sekaligus menjadi sebuah statemen resmi mengenai akhir karir Syd Barrett bersama Pink Floyd.

XXXXX

Semenjak diberhentikan dari Pink Floyd, Barrett mulai agak menjauhi publik. Nasibnya tidak kunjung membaik, dan masih sering tenggelam dalam buaian obat-obatan. Beruntung masih ada peluang dari pihak label EMI dan Harvest Records yang menawarinya untuk bersolo karir. Sebagai langkah awal, Barrett sempat merekam dua karya singel, “Octopus” dan “Golden Hair”, pada tahun 1969.

Karir solo Barrett mulai menampakkan hasil. Pada tahun 1970, ia akhirnya berhasil merilis dua buah rekaman solo, “The Madcap Laughs” dan “Barrett”. Kebanyakan materi musik di dua album tersebut berasal dari masa-masa produktifnya ketika masih bersama Pink Floyd di periode 1966 – 1967. Bahkan personil Pink Floyd pun masih ikut terlibat membantu proses album solo Syd Barrett tersebut.

Album pertamanya, “The Madcaps Laughs”, direkam dalam dua sesi yang berbeda di studio Abbey Road. Sesi pertama (Mei – Juni 1968) diproduseri oleh Petter Jenner dan Malcolm Jones, sedangkan sesi kedua (April – Juli 1969) diproduseri oleh David Gilmour dan Roger Waters. Beberapa track di album tersebut juga dibantu oleh personil band Soft Machine.

“The Madcaps Laughs” dianggap sangat menggambarkan kerapuhan pribadi Barrett. Album ini berisi formula musik yang sensitif, sangat beresiko dan banyak mengeksploitasi instabilitas Barrett di setiap nada dan liriknya. Sebagian kritikus berpendapat “The Madcaps Laughs” adalah album yang paling gila dan terbaik yang pernah direkam oleh Barret. Salah satu singel-nya yang paling terkenal dari album ini adalah lagu “Dark Globe”.

Album keduanya, “Barrett”, dikerjakan secara sporadis sejak bulan Februari sampai dengan Juli 1970. Rilisan yang diproduseri David Gilmour ini relatif lebih aman dan cenderung rapi secara musikal. Struktur lagunya lebih tertata serta memiliki pola musik rock progresif yang standar. Di album ini, Barrett kembali mengajak musisi yang tidak terlalu asing baginya; David Gilmour (bass), Richard Wright (keyboard), serta drummer Jerry Shirley dari grup band Humble Pie.

Pada tahun 1974, kedua album solonya itu sempat dirilis ulang dalam sebuah paket boxset yang dikasih titel “Syd Barrett”. Lewat karya-karyanya yang berformat akustik, Barrett sempat disebut sebagai musisi psikedelik folk yang pertama.

Meski sudah merilis dua album yang lumayan bagus, tercatat hanya sedikit sekali aktifitas Barrett di luar studio selama kurun waktu 1968 – 1972. Pada tanggal 24 Februari 1970, ia sempat tampil dalam program Top Gear di radio BBC yang diasuh oleh (almarhum) John Peel. Pada acara itu Barrett memainkan lima karya lagu dengan dibantu oleh David Gilmour dan Jerry Shirley sebagai musisi tambahan.

Lalu pada tanggal 6 Juni 1970, Barrett diundang tampil dalam event Music and Fashion Festival di Olympia Exhibition Hall, London. Dua sobatnya, Gilmour dan Shirley, juga ikut tampil dalam satu-satunya konser Barret di sepanjang karir solonya itu. Di sana mereka hanya bermain kurang dari 30 menit dalam kualitas sound yang buruk. Ketika sampai di lagu ke-empat, Barrett mulai kesal hingga tanpa diduga ia langsung menaruh gitarnya begitu saja dan segera angkat kaki meninggalkan panggung.

Pada bulan Januari 1971, Barrett kembali diundang oleh stasiun radio BBC. Ia sempat merekam tiga lagu dan itu menjadi penampilan terakhirnya bagi publik. Sejak itu, Barrett tampaknya sudah kehilangan gairah dalam bermusik, baik dalam berkarya di studio maupun tampil di atas panggung.

Pada tahun 1974, Peter Jenner sempat membujuk Barrett untuk kembali ke studio dan menyiapkan rilisannya. Namun sesi rekaman di studio Abbey Road itu hanya bertahan tiga hari saja, dan cuma menghasilkan satu karya lagu berjudul “If You Go, Don’t Be Slow” yang berkualitas buruk. Ketika itu Barret masih larut dalam lingkaran obat-obatan yang makin berdampak serius pada stabilitas emosinya. Puncaknya, Barrett menyerang salah seorang staf studio rekaman di sana. Akibatnya, para musisi player merasa terancam dan tidak nyaman bekerja. Mereka akhirnya menolak untuk terlibat dalam proses rekaman tersebut. Otomatis materi album ketiga Barrett tidak kunjung selesai. Merasa gagal menemukan kembali gairah bermusiknya, akhirnya Barret menyerah dan bertekad benar-benar pergi dari industri musik untuk selamanya.

XXXXX

Barrett lalu memilih untuk mengasingkan dirinya. Ia tidak pernah muncul atau berbicara di depan publik. Sementara karir rekan-rekannya di Pink Floyd justru makin menanjak buah sukses dari album fenomenal “The Dark Side of The Moon” (1973). Dalam biografinya yang ditulis oleh Tim Willis di buku berjudul “Madcap ; The Half-life of Syd Barrett, Pink Floyd’s Lost Genius” (Short Books, 2002), Barrett mengaku kembali menggunakan nama aslinya, Roger dan tinggal di basement rumah ibunya di Cambridge.

Aktifitas utamanya saat itu adalah melukis sambil sesekali mendengarkan musik favorit dari The Rolling Stones, Booker T & The MG’s dan sejumlah komposer klasik kesukaannya. Ia pun makin tertutup dan misterius. Satu-satunya yang menghubungkan Barrett dengan dunia luar adalah Rosemary, saudara perempuannya yang kebetulan tinggal berdekatan.

Menurut sumber yang pernah diberitakan. “Syd tidak mau berhubungan dengan siapapun, dan apapun juga. Hampir tidak mungkin untuk bisa bertatap muka atau berbicara dengannya Ia betah di dalam kamar bersama koleksi lukisan dan puluhan gitarnya. Duduk menonton televisi seharian, dan menjadi gemuk.”

Uniknya, cukup banyak fans dan pers yang sengaja datang ke Cambridge untuk mencoba bertemu sekaligus mencari tahu kondisi terakhirnya. Kehidupan Barrett di masa pensiun masih menarik minat publik dan selalu menjadi santapan media. Selama kurun waktu tahun 80-an, berbagai berita dan foto-foto Barrett berhasil dimuat di sejumlah media. Hampir semua foto tersebut adalah hasil jepretan paparazi ketika Barrett sedang berjalan kaki atau bersepeda di luar rumah.

Barrett menyerahkan seluruh hak royalti albumnya kepada pihak label rekaman untuk mengurusnya. Hingga akhir hidupnya Barrett masih menerima pemasukan royalti dari sejumlah karyanya, termasuk album live dan kompilasi Pink Floyd yang menyertakan lagu-lagu ciptaannya. Barrett sendiri sebenarnya tidak terlalu senang untuk mengingat masa lalunya sebagai musisi, apalagi semenjak anggota Pink Floyd sudah tidak pernah lagi berkomunikasi secara langsung dengannya.

Dalam suatu kesempatan wawancara, Barrett menyatakan kalau ia tidak pernah lagi mendengarkan musik Pink Floyd selepas ia tidak di sana. Meski kemudian diberitakan bahwa Barrett masih antusias menonton dokumenter yang dibuat oleh stasiun BBC mengenai dirinya. Menurut saudara perempuannya, ia tampak sangat menikmati saat menyaksikan dirinya memainkan lagu “See Emily Play” di video dokumenter tersebut.

XXXXX

Memang ada fakta yang tidak dapat disembunyikan kalau sosok Barrett itu masih mengusik benak Waters dkk, serta memberi pengaruh yang kuat pada penciptaan karya Pink Floyd berikutnya. Bayangan jiwa Barrett beserta gangguan mentalnya diakui oleh para personil Pink Floyd jadi inspirasi pada materi tiga album tersukses mereka, “Dark Side of The Moon” (1973), “Wish You Were Here” (1975) dan “The Wall” (1979).

Waters mengambil sisi neurotik dan kondisi mental Barrett sebagai inspirasi utama ketika menggarap “Dark Side of The Moon”. Bahkan album “Wish You Were Here” memang dibuat khusus sebagai penghargaan dan rasa rindu mereka terhadap Barrett. Lagu “Shine On You Crazy Diamond” yang jadi track pembuka dan penutup di album itu merupakan syair yang mengingatkan Waters dkk kepada talenta mantan leader mereka. Begitu juga dalam video “The Wall” (1982), karakter utama Pink juga diakui Waters banyak diadaptasi dari perilaku dan kepribadian Barrett ketika masih bersama di Pink Floyd.

Barrett juga sempat menjadi subyek utama dalam karya lagu The Television Personalities yang berjudul “I Know Where Syd Barret Lives” di album “And Don’t The Kids Love It” (1978). Mereka sempat menjadi opening act dalam tur promo “About Face”-nya David Gilmour di awal 80-an. Dalam salah satu show-nya, vokalis band itu justru berbuat ulah dengan membacakan alamat rumah Barrett kepada ribuan penonton yang hadir saat itu. Aksi tersebut sempat menuai kontroversi hingga akhirnya Gilmour geram dan mencoretnya dari list band pembuka di show berikutnya.

Sebenarnya industri musik masih menaruh kepercayaan dan harapan terhadap karya-karya Barret. Pada tahun 1988 EMI Records merilis “Opel”, sebuah album yang berisi unreleased songs selama kurun waktu 1968 – 1970. Sebuah boxset berisi tiga album studio Barrett ditambah bonus track juga sempat dirilis dalam titel “Crazy Diamond” [1993]. Lalu pada tahun 2001, EMI Records merilis pula “The Best Of Syd Barrett ; Would You Miss Me?” yang untuk pertama kalinya memuat lagu “Bob Dylan Blues”, karya Barrett dari rekaman demo tape yang hampir 30 tahun disimpan oleh Gilmour.

Sebuah koleksi rekaman bootleg yang langka juga muncul dalam titel “Have You Got It Yet”. Rekaman kompilasi tersebut berisi 19 keping cakram berformat audio dan visual yang menampilkan berbagai versi liveshow Barrett, baik ketika ia bersama Pink Floyd maupun di karir solonya. Materi rilisan tersebut kebanyakan diambil dari sesi rekaman di stasiun BBC dan sejumlah konser kecil lainnya. Di salah satu kepingnya juga terdapat materi album ketiga Barrett yang belum sempat dirilis.

Kisah hidup Barrett, pribadinya yang paradoksal, dan karya-karya artistiknya selalu saja menarik perhatian kalangan publik. Ada empat buku penting yang menceritakan kisah kehidupan dan karir Syd Barrett, yaitu Lost In The Woods ; Syd Barrett and The Pink Floyd karya Julian Palacios (Boxtree, 1997), Saucerful of Secrets ; The Pink Floyd’s Odissey karya Nicholas Schaffner (Delta, 1991), Crazy Diamond ; Syd Barrett and The Dawn of Pink Floyd karya Mike Watkinson dan Pete Anderson, serta Madcap ; The Half-life of Syd Barrett, Pink Floyd’s Lost Genius, karya Tim Willis (Short Books, 2002).

Pada bulan Oktober 2002, The Observer memuat biografi dan wawancara lengkap tentang kehidupan Barrett dalam artikel panjang yang berjudul “You Shone Like The Sun”. Tehnologi internet juga ikut mencatat berbagai kisah epik perjalanan Syd Barrett. Meskipun Barrett tidak memiliki official website, namun para penggemar fanatiknya telah membuat fansite yang lumayan komplit dan up-to-dated tentang segala kisah, berita dan detil karya-karyanya bagi semua fans Barrett di penjuru dunia.

XXXXX

Pada hari Jum’at, 7 Juli 2006, mendadak muncul kabar bahwa Syd Barrett meninggal dunia akibat komplikasi diabetes di usia 60 tahun. Hari itu menjadi akhir hidup dari seorang pria yang ikut melahirkan bahkan memberi nama Pink Floyd, salah satu grup band sekaligus brand hebat dalam sejarah musik rock dunia.

Jika kita mau menyadari, sebenarnya dunia sudah sekian lama kehilangan seorang Syd Barrett. Tepatnya sejak tahun 1973, ketika Barrett memilih untuk menjauh dari kehidupan bermusik, mengasingkan diri, serta tidak mau berbicara lagi kepada publik. Persis seperti yang terkabarkan dalam artikel kematian Barrett di internet ; “In truth, he was gone long ago. Still, Barrett’s death feels like another significant nail in the coffin of rock & roll’s free-spiritedness – a loss that transcends his actual recorded output.”

Setelah berita kematian Barrett, seorang penyiar BBC Radio 2, Bob Harris, berkomentar, “Saya selalu percaya semangat Syd akan selalu hidup dalam Pink Floyd, dan pada apapun yang dilakukan oleh personilnya sekarang.” Sedangkan Graham Coxon sempat menuliskan komentarnya untuk album kompilasi yang dirilis sebagai penghargaan bagi Barrett di tahun 2001, “Ada sebagian (sifat) dari Syd di dalam diri setiap orang…” Ujar gitaris Blur tersebut. “Yaitu perasan sensitif dan keterbukaannya…”

XXXXX

Tak bisa dipungkiri jika pesona dan karya Syd Barrett sudah terlanjur menginspirasi banyak musisi, mulai dari Paul McCartney, Pete Townsend, Jimmy Page, David Bowie hingga Brian Eno. Begitu juga warisannya kepada generasi rock selanjutnya macam R.E.M, Pearl Jam, The Flaming Lips, Primal Scream atau Tool yang juga mengaku sangat terinspirasi oleh karya-karya artistik yang pernah dihasilkan Barrett.

David Bowie yang mengkover lagu “See Emily Play” untuk albumnya, “Pin Ups” (1973), sempat mengatakan, “Saya tidak bisa melukiskan kesedihan yang saya rasakan saat ini. Syd adalah inspirasi utama saya. Saya pernah nonton penampilan panggungnya beberapa kali di tahun 60-an, dan itu selalu membekas di pikiran saya. Dia sangat kharismatik dan benar-benar seorang penulis lagu yang orisinil. Karya-karyanya ikut mempengaruhi kreatifitas saya. Penyesalan terbesar saya saat ini adalah belum sempat mengenalnya [secara lebih personal].”

Kevin Ayers dari grup band Soft Machine menulis “Oh Wot A Dream” sebagai ucapan terima kasih setelah Barrett mau mengisi gitar pada lagu Ayers yang berjudul “Singing a Song In The Morning”. Robin Hitchcock juga membuat lagu “The Man Who Invented Himself” dan “(Feels Like) 1974” yang ditujukan khusus bagi Syd Barrett. Dalam karirnya, Hitchcock memang sering memainkan karya musik Barrett, baik secara live maupun di album-album rekamannya. Bahkan band punk rock, The Damned justru pernah menawari Barrett untuk menjadi produser bagi album kedua mereka.

Sudah cukup banyak musisi yang pernah mengkover karya lagu Barrett. Seperti lagu “Dark Globe” pernah dikover oleh R.E.M, Soundgarden, Lost and Profound, dan juga Placebo. Smashing Pumpkins sempat memainkan “Terrapin”. Gary Lucas dan Voivod mengusung nomor “Astronomy Domine” dalam versi mereka. “Scarecrow” juga pernah dibuat dalam versi lain oleh RX, kelompok industrial yang dimotori Kevin Ogilvie dan Martin Atkins. Pentolan grup band At The Drive In dan The Mars Volta sempat membawakan “Take Up Thy Stethoscope and Walk”. Slowdive kebagian jatah lagu “Golden Hairs”, sebuah versi dari puisi James Joyce yang mereka masukan dalam album “Holding Our Breath”. Phish seringkali mengusung beberapa karya Barrett di panggung, antara lain “Love You”, “Terrapin”, “Baby Lemonade”, “It’s No Good trying” dan “Bike”. Belum lagi musisi lain seperti Marc Bolan, The Jesus and Mary Chains, Robert Smith (The Cure), Johnny Marr (The Smiths), The Libertines, Mercury Rev, The Melvins, Dream Theatre, serta masih banyak lagi.

Bahkan aktor kawakan Johnny Depp memiliki obsesi yang ia sampaikan dalam sebuah wawancara di tahun 2005, “Ketika saya remaja, saya bermimpi ingin menjadi seorang gitaris rock n’ roll. Dan untuk saat ini, saya rasa sebuah film tentang kisah Syd Barrett akan menjadi ide yang baik!”

Waters dkk menyiapkan “Shine On You Crazy Diamond” dan “Wish You Were Here” untuk mengiringi kepergian sobatnya itu. Sebuah ‘epitaph’ juga seperti sudah disiapkan sendiri oleh Barrett sejak ia menulis lagu “Dark Globe (Wouldn’t You Miss Me?)”. Semua bisa mendengar suara vokal Syd Barrett yang rapuh dan emosional saat menyenandungkan bait-bait liriknya,

“My head kissed the ground, I was half the way down, Treading the sand, Please, please, please lift a hand, I’m only a person with Eskimo chain, I tattooed my brain all the way, Won’t you miss me?, Wouldn’t you miss me at all?…”

XXXXX

Semua orang mungkin tidak akan pernah melupakan satu-satunya konser reuni Pink Floyd di era milenium. Pada tanggal 2 Juli 2005, untuk pertama kalinya setelah 24 tahun, kubu Roger Waters dan kubu Pink Floyd [David Gilmour dkk] mau rujuk dan tampil bersama di Live 8 Concert, Hyde Parks London. Dalam konser bersejarah itu, sesaat sebelum menyanyikan lagu “Wish You Were Here”, Waters sempat bilang kepada ribuan penonton di sana, “Sangat emosional sekali bisa berdiri di lapangan ini bersama ketiga rekan saya setelah sekian lama. Anyway, kami melakukannya untuk orang-orang yang sedang tidak berada di tempat ini, dan tentunya…untuk Syd!”

 

*Ditulis oleh Samack, disadur dari berbagai sumber. Artikel ini sebelumnya dimuat pada Rock & Roll Magazine issue #1 dengan judul “Syd Barrett; Sang Berlian Sinting Yang Bertangan Midas”.