tiket metallica @ jkt 1993 [koleksi pribadi]
tiket metallica @ jkt 1993 [koleksi pribadi]
Masih diawali intro “Ecstasy of Gold”, inilah penggalan cerita ringan dari saya tentang Metallica. Eh sebentar, rasanya saya sudah seringkali cerita soal band itu. Jadi apa lagi yang kudu saya ceritakan soal Metallica?!…

Semuanya berawal gara-gara saya menyukai Metallica dan memiliki semacam ‘love and hate relationship’ dengan James Hetfield dkk, sebagaimana yang pernah saya ceritakan di situs Apokalip dulu.

Juga gairah yang terlalu berlebihan akan lagu-lagu Metallica seperti keisengan saya di Facebook, yang lalu saya arsipkan di blog ini.

Dalam hati saya bersyukur telah lahir dan tumbuh di jaman yang tepat, pada era kejayaan musik Metallica yang masih keren dan garang. Puncaknya, saya nekat berangkat menonton show Metallica di Stadion Lebak Bulus Jakarta, 1993.

And life still goes on, with or without Metallica…

Singkat kata, saya kembali mengimani Metallica saat mereka merilis “Death Magnetic”, namun seketika shock dan kecewa saat James Hetfield dkk merilis “Lulu” – album kolaborasi Metallica dan Lou Reed yang sangat buruk itu.

Tiba-tiba, tidak ada angin maupun ombak, ada kabar Metallica akan manggung kembali di Jakarta, setelah 20 tahun.

metallica @ jkt 2013
metallica @ jkt 2013

Yah, saya shock. terkejut sekaligus terharu. Tentu saya kudu berangkat lagi menonton mereka. Di hari kedua pembukaan tiket online saya langsung memesan selembar tiket Festival B.

Oke, Tiket aman! Berarti saya tinggal menyiapkan biaya perjalanan dan akomodasi selama Malang – Jakarta PP. Mmmhh, butuh biaya yang tidak sedikit. Rasanya saya kudu bekerja lebih keras, cerdik dan berhemat – juga merayakan lebaran yang sederhana dan tidak perlu berlebihan.

Jagat metal Indonesia jelas ikut heboh. Fenomena yang cukup seru dan menyenangkan terjadi di jaringan sosial media lewat akun @DemiMetallica.

Saya berniat jualan barang juga melalui #DemiMetallica. Saya dan @iPhoel_S bahkan ‘kulakan’ beberapa boxset dengan harga miring untuk dijual kembali. Pengen investasi, maksudnya.

Eh, tapi kami cenderung gagal berbisnis via #DemiMetallica. Saya malah lebih banyak berbelanja, daripada menjual sesuatu di sana. Sialan!

Entah apa yang ada di benak redaksi Kanalltigapuluh.info ketika mereka menjadikan saya sebagai salah satu narasumber untuk editorial khusus yang berjudul “Apa Saja #DemiMetallica ; Fenomena Komunal Ketika Musik Menggerakkan Massa”.

Berikut skrip asli wawancara saya dengan Gisela Swaragita [Kanaltigapuluh] yang terkirim via email…

Untuk kamu sendiri, Metallica itu apa dan siapa? Seberapa “dewa”nya mereka untuk kamu? Sejauh apa band ini mempengaruhi hidupmu?

Sejak pertama kali kenal musik keras, Metallica itu mungkin band yang paling berpengaruh bagi aku. Entah ya, tapi jujur saja hingga sekarang, belum ada band yang bisa menimbulkan ‘chemistry’ layaknya Metallica bagiku. Begini, aku dulu koleksi semua rilisan kasetnya, yang resmi maupun bootleg. Hapal semua liriknya. James Hetfield sudah seperti bapak yang akan saya yakini semua kalimatnya. Di kamarku dulu cuma tertempel poster Metallica saja. Puncaknya, aku datang dan terharu menonton mereka di Lebak Bulus ’93. Tapi anehnya, hubunganku sama Metallica itu cukup unik dan emosional juga. Aku pernah sangat menyukai mereka, sekaligus sering membencinya. Aku benci mereka ketika memecat Jason Newsted dan menarik Rob Trujillo. Aku kecewa pas Lars Ulrich memprotes Napster. Aku benci semua rilisan pasca “Black Album”. Oke, “And Justice For All” itu memang album paling keren, tapi “St.Anger” itu jelas-jelas sampah. Aku baru mau denger Metallica lagi pas mereka rilis “Death Magnetic”. Nah baru saja jatuh cinta lagi sama Metallica, eh mereka sudah bikin gara-gara dengan merilis album kolaborasi bersama Lou Reed, “Lulu”, yang sangat buruk itu. Well, ini sudah seperti ‘love and hate relationship’ yah?! Entah apa ini namanya.

Menurut kalian, Metallica bagi para metalheads Indonesia itu se-“dewa” apa?

Rasanya tidak ada fans musik cadas yang tidak kenal atau tidak suka Metallica. Aku pikir itu sudah cukup menjelaskan seberapa dewa-nya James Hetfield dkk. Sangat sulit membayangkan bagaimana musik metal itu berjalan kalau tidak ada Metallica – baik itu di Trenggalek, di Indonesia, maupun di dunia.

Intensi apa yang membuat kamu ikut berpartisipasi dalam #DemiMetallica?

Apa ya? Ikut meramaikan aja sih awalnya. Trus aku lihat ada gairah dan passion yang besar juga di dalamnya. Lagian aku juga ingin jualan karena butuh dana yang tidak sedikit untuk beli tiket dan akomodasi dari Malang ke Jakarta. Sayangnya aku gagal, karena lebih banyak belanja daripada jual sesuatu via #DemiMetallica. Sialan tuh yang bikin akun dan hestek DemiMetallica, haha. Salut untuk @kotakmakan, juga buat suporter setianya, @aparatmati dan @wenzrawk. Mereka sangat tahu kalo fans Metallica itu pasti banyak dan tidak semuanya mampu secara ekonomi. Tapi masalahnya, mereka semua ngotot dan memang wajib nonton konser Metallica! Kerennya, ada beberapa orang yang ternyata punya dana lebih dan mau membantu dengan cara membeli dagangan di situ. Well, fenomena seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya, hanya ada di konser Metallica. Bahkan pas konser Iron Maiden aja tidak sampai segila ini. Slayer pun, kalo mereka ke Indonesia, aku kira tidak akan sebesar ini juga fenomenanya. Ini bukan sekedar demi selembar tiket, ini soal passion!

Benda tergila apa yang pernah kamu retweet di #DemiMetallica?

Terlepas apakah itu serius atau guyonan, saya pernah lihat ada yang jual motor, tanah, televisi, asuransi, serta barang-barang absurd lainnya. Yah, tiba-tiba semua orang menjadi gila! Dan itu sangat menghibur juga.

Sejauh pengamatanmu, selain benda, hal-hal lain apa yang bisa dikorbankan oleh fans-fans berat Metallica?

Sepertinya banyak yang sudah mengorbankan jadwal kerja, liburan keluarga, perayaan mudik dan lebaran, bahkan sudah sampai pada tahap ‘menjual’ keyakinan dan harga diri. Baru kemarin ada satu temenku yang seumur-umur dia itu gak pernah mau difoto. Namun demi bisa nonton Metallica, dia rela ikut kuis online yang mengharuskan dia berfoto dengan produk sponsor. Akhirnya dia menang, dapet tiket gratis dan besok kami berangkat bareng ke Metallica. Saya tahu banget, itu pasti keputusan yang berat baginya untuk ikhlas difoto dan nampang seperti itu. Saya makin paham, demi menonton band idola, ada orang-orang yang rela berjuang, berkorban dan mau keluar dari zona nyamannya. Ini sudah cukup menyentuh, dan aku salut pada orang-orang seperti itu.

Menurut kamu apa yang paling membedakan antara konser Metallica di Indonesia tahun 1993 dengan 2013?

Kalau atmosfir semangat dan passion-nya mungkin masih sama. Cuma akan beda di hal-hal tehnis saja semacam venue, setlist lagu, set panggung, dan kali ini ada Rob Trujillo. Kata beberapa teman, konser Metallica akan selalu menjadi konser rock terbaik yang pernah anda tonton. Kapan pun dan di mana pun itu!

Menurutmu, apakah harga tiket Metallica cukup mahal sehingga bisa membuat fenomena ini? Atau ada faktor lain yang lebih kuat sehingga #DemiMetallica menjadi trend?

Harga tiket dan biaya ke Jakarta itu mungkin faktor yang paling dominan. Maksudnya begini, demografi fans Metallica itu pasti golongan menengah ke bawah, hingga paling dasar sekalipun. Itu dari Sabang sampai Merauke. Mereka semua sudah pasti ingin nonton band idolanya. Bagusnya, mereka sekarang sadar kudu beli tiket. Mereka bukan golongan yang nekat datang ke venue dan mau menjebol pintu stadion. Satu-satunya cara untuk itu ya musti bekerja lebih keras, menabung atau menjual sesuatu. Kebetulan hal itu bisa difasilitasi dengan baik oleh penggiat sosial media dan #DemiMetallica.

Menurutmu karakter orang-orang yang akan datang ke konser Metallica nanti seperti apa? Fans beneran? Orang-orang yang ingin terlibat dalam fenomena ini?

Bisa siapa saja kok. Fans, penonton musik biasa, atau bahkan orang awam. Mulai dari gubernur sampai tukang sampah akan ada di sana. Tidak masalah. Keren. Ini konser yang terbuka, dan semua berhak menonton Metallica. Bahkan seharusnya semua anak muda diwajibkan nonton saja. Sebab konon, yang tidak suka Metallica aja masih bisa menikmati show-nya kok. Kabarnya selalu keren dan spektakuler. Nonton konser Metallica itu pengalaman sekali seumur hidup, bung. Sebaiknya memang ditonton sekalipun anda diteriaki komunis atau terpaksa menjual sepatu milik ayah anda!

Menurutmu karakter gig-goer di Jakarta itu seperti apa?
Nyaris sama saja sih di semua kota. Penonton konser musik keras di mana-mana akan selalu seperti itu. Pakaian hitam, sangar dan kurang wangi. Apalagi besok itu lebaran-nya metalhead se-Indonesia. Venue GBK dan moshpit Metallica akan dipenuhi dengan beragam dialek bahasa dari berbagai daerah. Saya sendiri tidak sabar untuk ketemu penonton dari Ende di moshpit Metallica nanti.

Kemudian, tengah malam kemarin saya tiba-tiba ditelpon dan diwawancarai singkat oleh Ardyan M. Erlangga dari Merdeka.com sebagai salah satu narasumber juga untuk artikel khusus tentang skena metal Indonesia dan terkait konser Metallica juga sih. Obrolan yang singkat dan menyenangkan. Artikelnya bisa dibaca di sini.

Malam Jum’at, 22 Agustus 2013. Pas bulan [agak] purnama dan bersinar cantik, beberapa boxset saya laku di Toko Houtenhand. Lumayan, buat nambah uang saku ke #MetallicaJKT.

Well, itu saja dulu. Saya musti packing sekarang, karena nanti malam kudu berangkat ke Jakarta…. Demi Metallica!

Metal Up Your Ass,

-samack-