foto dari wihdanbae.wordpress.com
foto dari wihdanbae.wordpress.com

Gerakan sederhana untuk menyampuli piringan hitam koleksi Lokananta yang telanjang.

“Saat ini ada lebih dari 50.000 keping piringan hitam yang menjadi koleksi di Lokananta, dan hampir 20.000 keping di antaranya tergeletak tanpa sampul alias telanjang. Kondisi itu yang bikin kami tergerak untuk membuat gerakan yang kami namakan G-2000 ini,” terang Hengki Herwanto selaku pimpinan Galeri Malang Bernyanyi [GMB] dalam sesi jumpa pers di Museum Musik Indonesia, Malang, Selasa [02/07] yang lalu.

Mantan jurnalis majalah Aktuil itu kemudian menerangkan bahwa puluhan ribu piringan hitam tanpa sampul tersebut tersimpan dalam kondisi yang cukup mengenaskan. Kotor dan berdebu. Sebagian besar masih tersimpan di dalam kardus secara acak dan tergeletak begitu saja di sudut-sudut ruangan atau gudang studio Lokananta, Solo. Ditambah dengan sirkulasi suhu yang kurang ideal, tentunya akan memperparah kondisi piringan hitam yang ada di sana.


Seperti yang diketahui, Lokananta adalah perusahaan rekaman pertama di Indonesia yang berdiri pada tahun 1956 di kota Solo, Jawa Tengah. Kemudian sejak tahun 2004, Lokananta bergabung dengan Perum Percetakan Negara Republik Indonesia [PNRI] Cabang Surakarta. Sebagai label rekaman yang tertua, Lokananta telah memproduksi dan menyimpan ribuan karya seniman besar Indonesia seperti Ki Nartosabdho, Gesang, Waldjinah, Bing Slamet, Bubi Chen, Titiek Puspa, bahkan rekaman pidato kenegaraan presiden Soekarno.

Belakangan, nama Lokananta makin beken dan mencuat semenjak munculnya wacana #SaveLokananta yang marak di berbagai jaringan sosial media. Banyak pihak yang mulai sadar, melirik dan peduli pada situs penting warisan budaya musik nasional tersebut. Bahkan akhir-akhir ini, sejumlah musisi juga ‘berziarah’ merekam karya musiknya di studio Lokananta yang legendaris – seperti Glenn Fredly, Pandai Besi a.k.a Efek Rumah Kaca, dan White Shoes and The Couple Company.

G-2000 merupakan gerakan donasi atau pengumpulan dana secara sukarela sebesar Rp.2000,- yang digagas oleh Museum Musik Indonesia [MMI]. “Nominal sebesar dua ribu rupiah itu adalah biaya yang sudah kami hitung untuk bisa mencetak satu lembar sampul album ukuran piringan hitam. Tentunya kami tidak menolak jika ada donatur yang mau menyumbang lebih dari dua ribu rupiah,” ujar Hengki Herwanto sambil tersenyum. Seluruh hasil donasi nantinya akan digunakan untuk membiayai pembuatan sampul piringan hitam yang diperlukan oleh Lokananta.

Konon, gagasan G-2000 ini muncul di benak Hengki Herwanto dan pengurus MMI sepulang dari kunjungan mereka ke Lokananta, pada akhir bulan April 2013 yang lalu. Di sana mereka prihatin melihat tumpukan piringan hitam yang telanjang tanpa sampul dan tidak terawat dengan baik. Mereka juga menyadari jika operasional studio Lokananta itu cukup tinggi, dan bahkan sudah hampir kesulitan untuk membiayai pegawainya sendiri.

Biaya perawatan memang selalu menjadi problem utama yang dihadapi oleh Lokananta. Sementara dukungan dari pemerintah belum optimal, bahkan nyaris tidak ada. Kunjungan pejabat-pejabat negara ke Lokananta sudah seringkali dilakukan, namun hasilnya masih sebatas wacana – kalau tidak bisa dikatakan nihil.

“Dan hal yang penting lagi, keberadaan sampul atau cover piringan hitam ini juga akan bermanfaat untuk mengetahui informasi yang terkait dengan rekaman album tersebut,” tambah Hengki Herwanto sambil menunjukkan rancangan desain sampul piringan hitam versi G-2000 yang memuat berbagai keterangan mengenai catatan produksi – mulai dari nama musisi, judul album dan lagu, tahun rilisan, label rekaman, dan lain sebagainya.

Sebagai informasi, Museum Musik Indonesia [MMI] adalah ruang rekam jejak musik Indonesia yang didirikan oleh komunitas Galeri Malang Bernyanyi [GMB], dan mulai dibuka untuk umum sejak tanggal 01 Januari 2013. Hingga saat ini, jumlah koleksi di MMI tercatat ada lebih dari 9300 item – mulai dari piringan hitam, kaset, CD, buku, majalah dan pustaka musik – yang akan terus bertambah seiring berjalannya waktu.

“Supaya gak bingung dan biar lebih jelas statusnya, bisa dikatakan bahwa MMI itu salah satu produk dari GMB,” terang Redy Eko Prastyo selaku divisi Humas MMI. “Sengaja kita memang ambil nama atau domain ‘Museum Musik Indonesia’ itu biar lebih luas gerak dan jangkauannya. Kami juga gak ingin museum ini hanya dianggap milik orang Malang saja.”

Malam itu juga setelah sesi jumpa pers, dilaksanakan penandatanganan nota kesepakatan kerjasama antara pihak MMI yang diwakili oleh Hengki Herwanto dengan pihak Lokananta yang diwakili oleh Pendi Hariyadi terkait dengan program G-2000 dan mitra distribusi untuk produk rekaman Lokananta.

MOU MMI vs Lokananta [Dok.GMB]
MOU MMI vs Lokananta [Dok.GMB]
Di sela acara penandatangan MOU tersebut, berlangsung pula pertemuan antara pihak Lokananta dengan Riyanto, pakar antropologi dari Universitas Brawijaya Malang. Mereka menjajaki kerjasama pembuatan CD lagu Indonesia Raya dan lagu-lagu nasional lainnya yang akan dipergunakan untuk kepentingan Universitas Brawijaya. Barangkali ini merupakan langkah konkrit yang sangat bermanfaat bagi kelangsungan usaha Lokananta.

Perlu dicatat, bukan sekali ini saja MMI ikut peduli dan bertindak nyata dalam membantu eksistensi Lokananta. Sebelumnya pada tahun 2010, Hengki Herwanto dkk juga pernah berinisiatif membantu proses pengadaan pendingin ruangan atau air conditioner [AC] untuk menjaga dan merawat koleksi rekaman di Lokananta.

Program G-2000 sendiri baru berjalan sekitar sebulan. Menurut catatan MMI, sejak hari pertama sudah terkumpul donasi sebesar Rp.182.000,- dan setiap hari terus bertambah. Rencananya, produksi cetak sampul piringan hitam dari program ini akan dilaksanakan secara bertahap, dan akan segera dimulai apabila hasil donasi sudah cukup untuk membiayai 1000 buah cover. Pada audit terakhir, kabarnya sumbangan sudah mencapai jumlah 2,4 juta rupiah. Itu artinya, sebentar lagi 1000 keping pertama piringan hitam di Lokananta tidak akan tampil telanjang lagi.

Sepemantauan penulis, program G-2000 ini sudah mendapat perhatian yang cukup hangat dari lingkungan musisi, fans, dan pencinta rilisan fisik di kota Malang. Antusiasme untuk menyumbang pun sudah merangkak naik, meski baru dimulai dari donasi rekan-rekan anggota GMB dan pengunjung MMI sendiri. Saat ini, metode pengumpulan dananya memang masih terkesan tradisional, hanya melalui ‘kotak amal’ yang tersedia bagi pengunjung di ruang lobi MMI.

MMI juga beberapa kali sempat menarik sumbangan langsung di setiap hajatan resmi GMB/MMI, seperti misalnya pada acara Festival Band Kajoetangan, minggu lalu. Bahkan ada pihak yang menyarankan mereka untuk membuka rekening resmi agar gerakan ini bisa merangkul kran donasi yang lebih luas, serta mampu menyediakan fasilitas audit secara terbuka dan transparan bagi publik.

Program G-2000 yang dikerjakan secara sukarela dan penuh passion ini mungkin menunjukkan [kembali] semangat gotong royong dan kepedulian melalui cara yang paling simpel dan khas Indonesia, yaitu urunan alias patungan. Namun menyampuli piringan hitam bersejarah yang sedang telanjang itu jelas bukan sebuah tindakan yang biasa.

“Gerakan ini baru dimulai pertengahan bulan Juni lalu, dan hanya melalui kotak sumbangan di MMI. Memang masih belum lama berjalan, tapi respon dan dukungan dari teman-teman cukup positif,” terang Hengki Herwanto bangga. “Kami berharap gerakan ini akan terus berkembang dan kita semua bisa ikut membantu Lokananta dalam bentuk yang lebih nyata dan bermakna. Meskipun ini cuma sebuah langkah sederhana…”

*Artikel ini sebelumnya dimuat pada situs Jakartabeat.
**Informasi mengenai Museum Musik Indonesia dan G-2000 bisa disimak melalui situs MMI.