eternalize tour | by hendisgorge
eternalize tour | by hendisgorge

Artikel lawas tentang aksi shoegaze yang bahagia, indie-pop yang berkeringat, serta gejolak disko delapan-puluhan yang menyenangkan.

“Wah, persiapannya emang mepet banget ini,” kata Bongky Cadas, pria bongsor yang didaulat jadi ‘promotor’ lokal pertunjukan ini. “Kita promonya cuma lewat Twitter dan Facebook aja. Baru H-2 kita sebar poster. Itu pun cuma sedikit.”

Hasilnya lumayan, tiket presale konon sold-out dan ada lebih dari 200 kepala yang hadir memenuhi venue malam itu. “Untuk acara ini, kita juga sebar banyak invitation. Itu demi promo yang lebih luas,” ungkap Bongky mengenai trik bikin undangan ke beberapa pihak yang dianggap penting – mulai dari pihak media, sponsor, promotor, atau siapa pun yang berpotensi bisa kasih kontribusi atau peluang kerjasama di event berikutnya.

Hari Minggu, 20 Januari 2013, adalah rangkaian seri Eternalize Tour di Levels Brewhouse Malang bagi tiga band asal Bandung; Pure Saturday, The Milo, dan D’Ubz – plus dua unit musik lokal, Atlesta dan Crimson Diary, sebagai opening acts.


Sejujurnya, malam itu saya hadir hanya demi The Milo. Bukan apa-apa, sebab Pure Saturday rasanya masih belum terlalu lama manggung di kota ini. Terakhir mereka datang pas promo album “Grey” di Malang, 09 Juli 2012 lalu. Bahkan pada hari itu saya nonton dua sesi penampilan mereka sekaligus, di My Place dan Houtenhand. Jadi, saya pikir Pure Saturday bakal menyuguhkan sesuatu yang sama dan tidak terlalu beda dengan apa yang saya tonton enam bulan sebelumnya.

Sementara, saya sudah menunggu hampir sepuluh tahun hanya untuk bisa menonton The Milo secara live di kota Malang. Tepatnya setelah saya mendengarkan kaset album pertama mereka, “Let Me Begin” [2003]. Sembilan tahun kemudian, mereka baru merilis album kedua, “Photography”.

Sedangkan yang saya tahu tentang D’Ubz itu hampir nihil. Beberapa hari sebelum show saya hanya mendapati bahwa itu band proyek dari ‘bocah-bocah tua’ anggota Pure Saturday, The Milo, Burgerkill, Homogenic/Powerpunk dan Sonic Torment yang memainkan musik-musik era 80-an. Itu saja, tidak lebih.

“Tonton aja entar. Kejutan deh!” sumbar Ramdan [Gitaris D’ubz / Bassist Burgerkill] sambil tersenyum pas ketemu di sudut venue. Ya, saya jadi makin penasaran, meski belum juga berani memasang ekspektasi yang begitu tinggi pada band ini.

Di atas pentas, Atlesta sudah membuka acara lewat sejumlah tembang dari debut “Secret Talking”. “Ah, sayang gak ada sexy dancer-nya,” keluh kawan di sebelah saya dengan wajah mesum dan senyum nakal. Sambil menonton aksi Fifan Christa dkk, saya iseng berdebat dengan seorang kawan tentang musikalitas dan lagu-lagu dari band ini. Seru, dan sengit. Tanpa penyelesaian. Tidak ada win-win solution. Kami mungkin hanya beda selera saja. Ya, pertikaian ini bakal abadi.

atlesta | by hendisgorge
atlesta | by hendisgorge

Lalu ada Crimson Diary yang tampil cukup apik dengan karya lagu-lagunya. Sepintas, performa band ini saya lihat makin matang saja. Maklum di sana ada wajah-wajah yang sarat pengalaman dan pesona setelah sekian lama bermusik di skena lokal. Banyak yang bilang, mereka kudunya sudah rilis album. Ya, saya sepakat. Sebelum terlambat…

crimson diary | by hendisgorge
crimson diary | by hendisgorge

The Milo mengawali set-nya lewat sebuah instrumentalia panjang yang disambung dengan “Don’t Worry For Being Alone”. Sejak awal, atmosfir show mendadak dingin. Petikan senar gitar yang mengawang seperti menjaga tone vokal Ajie Gergaji yang terdengar lirih mencekam.

Pemandangan yang menurut saya paling menarik di sepanjang set The Milo adalah mengamati mimik muka dan tingkah penonton di sekitar. Saya iseng melemparkan pandangan pada hampir setiap kepala yang hadir dan menemukan wajah-wajah yang mendadak terdiam. Bisu. Murung. Tercekat. Ada tipikal penonton yang hampir sepanjang lagu cuma menunduk diam sambil memejamkan mata, atau hanya menggangguk-anggukkan kepala pelan sambil menatap lantai. Ada juga sebagian yang ikut-ikutan bernyanyi lirih.

Saya tidak heran kalau misalnya ada penonton yang terpaksa harus mengeluarkan tisu, menitikkan air mata, dan menangis pelan malam itu. Gloomy.

Ah, itu hanya terjadi di barisan tengah ke belakang. Sementara satu-dua-tiga baris depan di sekitar so-called-moshpit atau bibir stage masih tampak wajah-wajah yang antusias memandangi Ajie dkk dari jarak dekat. Menggerakkan badan, mengangkat tangan, berteriak merekues lagu atau bahkan stagediving dengan entengnya. Pentas indie-pop dan shoegaze tetap bisa mengalami takdir yang ‘cadas’ di kota ini, Welcome to Malang Rock City.

crowd | by hendisgorge
crowd | by hendisgorge

Malam itu saya juga ingin membuktikan rumor yang bilang kalau performance The Milo tidaklah se-gloomy musiknya. Memang iya. Malah The Milo adalah band yang paling bahagia. Serius. Ajie Gergaji dkk masih kerap tersenyum, tertawa, atau bercanda. Vokalis Ajie justru tampak komunikatif dengan penonton. Suka bicara, dan kadang melemparkan joke ringan. Dia suka nyeletuk, mulai hal yang penting hingga yang sungguh tidak penting sama sekali. He’s a funny guy.

ajie the milo | by hendisgorge
ajie the milo | by hendisgorge

Ini hal yang menarik. Sebab konon biasanya band shoegaze adalah sekumpulan orang-orang yang suka bertampak murung, sedih dan juga pendiam. Kalau manggung, jangankan berbicara, untuk bergerak saja biasanya susah. Wajahnya lebih sering diarahkan untuk menatap sepatu, entah efek, atau entah apa saja yang ada di lantai stage.

Namun The Milo ini memang beda. Ajie Gergaji malah mungkin salah satu frontman band indie yang cukup komunikatif di negeri ini. Yah, mereka bisa jadi adalah band shoegaze yang paling bahagia. Mungkin kita saja yang agak berlebihan dan sedemikian ikhlas ‘dipermainkan’ oleh alunan nada-nada galau dan musik mengawang yang mereka mainkan.

setlist the milo | koleksi @nonaayeu
setlist the milo | koleksi @nonaayeu

Pure Saturday membuka dengan “Horsemen”. Mereka terlihat santai. Tampak begitu menikmati atmosfir pertunjukan dan crowd yang ada di sekeliling. Mungkin mereka sudah bisa membaca situasi, dan mulai familiar dengan hawa gigs di sini.

Menurut beberapa pengalaman dan pernyataan, hal itu memang kerap bisa terjadi pada band-band luar kota yang sudah berkali-kali manggung di Malang. Singkatnya, Pure Satuday terlihat sudah makin akrab dengan ‘hawa’ Malang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi…

Dan terbukti, malam itu Iyo dkk tampak bermain lebih lepas. Setelah show yang kikuk di My Place dan secret gigs yang ugal-ugalan di Houtenhand, Pure Saturday kembali dengan performa yang lebih hangat dan intim di Levels Brewhouse malam itu. Oke, mungkin itu bukan performance terbaik mereka, khususnya dari sisi sound system. Namun suasana yang cair tadi bisa jadi lebih penting dari segalanya.

Lagu demi lagu mengalun. Penonton pun ikut bernyanyi dan berdansa. Tentu, ada aksi moshing dan stagediving berkali-kali di bibir stage – yang mungkin jika dihitung bisa lebih banyak daripada beberapa gigs punk/hardcore lokal belakangan. Ah iya, bahkan Iyo pun sempat ‘terbang’ di atas tangan-tangan penggemarnya.

iyo ps | by hendisgorge
iyo ps | by hendisgorge

Sesekali, Iyo juga mempromosikan D’Ubz dan meminta penonton tetap berada di tempat untuk menanti band yang dia bilang suka memainkan musik-musik influence-nya Pure Saturday. Oke, makin penasaran…

“D’Ubz itu apa sih artinya?” tanya saya iseng pada Ramdan [gitar] dan Ayik [vokal] sebelum mereka naik ke atas panggung. Sambil tertawa, mereka jawab itu ‘pecun’. Sepertinya agak susah untuk dijelaskan. Sebaiknya anda cari saja artinya melalui mesin pencari.

Giliran D’Ubz tampil, saya agak mundur ke belakang. Duduk di meja sambil menggenggam segelas beer. Oke, saya mau santai dan hanya ingin menonton penampilan band ini dengan tenang. Lalu… kemudian… mereka pun beraksi…

“Everybody wants you,
Everybody wants your love.
I’d just like to make you mine all mine.
Na, na, na, na, na, na, na, na, na, na.
Baby give it up.
Give it up, Baby give it up…”

D’Ubz langsung menciptakan gejolak disko lewat lagu “Give It Up” milik KC and The Sunshine. Sontak pecah. Beberapa orang tampak mendekat ke arah stage dan mulai turun ke lantai dansa. Ikut bernyanyi dan bergoyang mengikuti beat yang tercipta dari semua instrumen D’Ubz.

Kemudian berturut-turut saya mendengar ada lagu “Take On Me” [AHA), “La Isla Bonita” [Madonna], “Big In Japan” [Alphaville], hingga “Gold” [Spandau Ballet] yang mereka bawakan dengan cukup fasih.

ayik d'ubz | by hendisgorge
ayik d’ubz | by hendisgorge

Saya sendiri agak shock tatkala Ayik bisa bernyanyi dengan sangat baik, merdu dan juga skillful. Gitaris Sonic Torment yang bersenandung?! Sesekali saya juga melirik aksi drummer Gebeg yang memang selalu menghibur bagi mata dan telinga. Ketukannya soulful. Pas. Gestur tubuhnya unik, selalu bergerak dinamis mengikuti tempo. Bahasa tubuhnya itu sudah cukup menjelaskan kalau ia sangat menikmati musik yang dimainkan.

Meski hanya menyanyikan lagu-lagu kover, namun D’Ubz menggarapnya dengan cukup serius dan matang. Nyaris sempurna dan mungkin sudah mirip seperti aslinya. Saya pikir ini main-main, tapi ternyata D’Ubz adalah sebuah band yang serius. Bahkan, mungkin band pop/jazz yang biasa manggung reguler di kafe pun tidak pernah bermain sebaik mereka. Trust me, I am so serious.

Fun Fact; Ada penonton [baca; metalhead] yang usil merekues lagu “Golok Berbicara” [Sonic Torment] dan “Darah Hitam Kebencian” [Burgerkill]. Ayik dkk hanya tersenyum. Lalu kembali melanjutkan setlist-nya.

D’Ubz lalu mengkover hits klasik milik KLA Project, “Tentang Kita”. Kemudian mereka bernostalgia dengan tembang “Bizarre Love Triangle” [New Order], “Karma Chameleon” [Culture Club], hingga “New York, Rio, Tokyo” [Trio]. Saya masih sangat ingat dengan beberapa bagian nada dan lirik lagu-lagu tersebut. Untungnya saya tidak merasa terlalu tua untuk hal ini…

Sialan, band ini sungguh menghibur. Terutama bagi mereka yang pernah dihidupi oleh musik-musik disko atau new-wave di era 80-an. Sesungguhnya saya juga bukan penggemar berat musik-musik seperti itu. Hanya saja sejak dulu memang sudah sering mendengarnya dari tapedeck milik keluarga, program hits radio atau kadang nonton klip-nya yang terselip di MTV. Jadi yah sekedar cukup akrab saja di telinga.

Malam itu penonton sedikit lebih ‘berumur’ mungkin agak terhibur dan mulai bersyukur. Menyenangkan bisa mendengar kembali lagu-lagu bagus yang sudah agak susah ditemukan [atau diciptakan] di jaman sekarang. Tembang-tembang yang memang sepertinya ditakdirkan untuk selalu abadi. That’s why it’s called…Evergreen.

“Kami memang tidak akan pernah bikin lagu sendiri,” ujar Ramdan selepas manggung, seperti berjanji. Ayik pun ikut tersenyum dan mengangguk setuju. “Ini sekarang kita masih ngulik lagu Barcelona-nya Fariz RM. Belum jadi. Susah euy!”

Dan malam itu setelah pertunjukan, obrolan masih terus berlanjut. Masih ada sedikit beer yang tersisa untuk dinikmati bersama kawan-kawan. Dalam suasana yang hangat, intim, dan juga menyenangkan.

…dan malam itu, konser pop tidak sesederhana biasanya.

and the show was over!
and the show was over!

*Tulisan lawas ini adalah stok artikel untuk sebuah zine lokal, yang terlambat diarsipkan di blog ini. Versi pendeknya khusus tentang D’Ubz sudah pernah saya muat juga di sini.

**Cek juga foto-foto Eternalize Tour jepretan Hendisgorge di sini.