malang records day
malang records day

Salah satu hajatan lokal yang paling berkesan bagi saya di sepanjang tahun 2013 ini, so far, adalah Malang Records Day [MRD] di Legipait, 30 Mei lalu. Ini layaknya momen Records Store Day yang terlambat dan dirayakan secara locally. Kami merayakan momen berkumpulnya para pencinta rekaman fisik se-Malang Raya – mulai dari pedagang dan penggiat lapak rekaman, perintis label rekaman dan jasa distribusi, kritikus dan music snobs setempat, musisi lokal serta para kolektor musik yang pretensius. Komplit!

Sore itu langit cukup mendung begitu saya sampai di pelataran Legipait. Sejumlah lapak berjajar rapi dengan mejanya masing-masing yang menjajakan sederet format rekaman mulai dari kaset, CD, hingga piringan hitam. Suasana cukup ramai, lalu-lalang pengunjung nyaris tidak pernah berhenti, pelataran yang sempit itu terasa makin sesak. Menarik memperhatikan transaksi yang terjadi di setiap lapak. Diimbuhi dialog dan perbincangan seru tentang musik antara pembeli dan pedagang. Menambah teman dengan selera musik yang sama dan memperluas wawasan musik, tentunya. Merayakan kecintaan pada musik!

Tak terasa saya lebih dari enam jam ada di sana, hingga bubarnya semua lapak di kisaran jam sebelas malam. Yah, terus terang saya sangat betah sekali. Acara seperti ini kudunya rutin, kalau perlu setiap bulan sekali pun saya tidak keberatan. Di sela-sela memandu diskusi hangat tentang fenomena rilisan fisik di Malang, saya sudah berkeliling ke semua lapak, berbincang dan menemukan pencerahan, serta membawa pulang beberapa barang layaknya itu adalah sekantung harta karun.

Malam itu, saya dan mereka memang sedang men-tuhan-kan sekumpulan kaset, CD dan piringan hitam. Ugh!

hasil perburuan di MRD
hasil perburuan di MRD

Malang In Your Face ; Vol. 1 & 2 [Comp.CD]
Begitu saya memasuki teras Legipait, saya langsung dicegat oleh Indra Zulkarnaen yang menyodorkan dua edisi CD kompilasi “Malang In Your Face”. Proyek kompilasi ini memang digagas olehnya, atas nama situs ensiklopedia band lokal, Malang In Your Face. Ini semacam sampler atau media promo bagi band-band Malang. Setiap CD berisi 15 – 20 band yang masing-masing menyajikan satu lagu andalannya. Track favorit saya adalah di volume pertama adalah singel Neurosesick, Thrashkid, Downtown Torpedoes, dan Fallen To Pieces. Kalau di volume dua, saya suka Cabrones dan Young Savages. Yah, kompilasi ini cukup menghangatkan. Merangsang band untuk giat berkarya dan membuka jalan terjal menuju ke level yang berikutnya. This is Malang, in your fukken face!…

Warpath of Unity [Comp.CD]
CD ini juga dikasih Indra di lapaknya, Ecocide. “Warpath of Unity” adalah 6way-split CD yang berisi lagu-lagu terbaik dari J’et Adore, Shadowfax, Nothing To Say, Fallen To Pieces, Monstruel, dan We Stand United. Masing-masing band di rekaman ini menyuguhkan dua track andalan. Keras!

Ulver “Blood Inside” [CD]
Ini adalah hasil transaksi pertama saya di malam itu. Saya menemukan CD Ulver dalam kondisi baik dan dibandrol dengan harga 80 ribu [belum diskon!] di lapaknya Rusli Hatta. Entah apa yang ada di pikiran Rusli hingga dia menaruh CD ini di rak dagangannya – yang kebanyakan didominasi oleh CD indie/alt-rock dan noise-rock. Tanpa basa-basi langsung saya ambil album “Blood Inside” edisi merah ini. Saya yakin dia khilaf karena menjual CD ini. Saya hampir tidak percaya kenapa dia nekat menjual album ini. Ketika saya tanya, dia hanya tersenyum dan mengaku puas kalau akhirnya CD itu telah ‘menemukan’ pemiliknya yang baru dan tepat. Ha!

Homicide “Illsurrekshun” [CD]
Bergeser ke sebelah lapak Rusli, ada meja yang penuh dengan CD-CD yang didominasi desain sampul berwarna hitam-putih. Oke, sebut saja rak yang dipenuhi oleh CD beraliran grind/thrash/hardcore-punk dengan nuansa etika DIY yang kental. Sempat kenalan dengan pemiliknya, ternyata dia dari Jakarta dan mengelola label distribusi dari sana. Koleksinya di meja itu cukup banyak, ratusan keping. Nama-nama band-nya pun banyak yang asing dan misterius. Saya hanya mengenal Agathocles, Tersanjung13, Proletar, dan beberapa nama sejenis lainnya. Sampai di rak terakhir, tangan saya memegang CD Homicide “Illsurrekshun” dalam kondisi bekas dan baik. Ugh, saya belum punya CD ini dan kayaknya sudah tidak pernah lihat lagi di pasaran. Saya pegang terus CD ini selama beberapa menit, menghilangkan perasaan panik, lalu menatap syahdu ke mata sang empunya lapak sambil bertanya sopan, “Ini berapa mas?”
“Tujuhpuluhlima ribu aja…” jawab si penjual dengan logat Jakarta yang kental.
Saya timang-timang dan bolak-balik lagi CD ini. Liat-liat sampul dan bukletnya yang provokatif, sambil [pura-pura] berpikir keras.
“Itu udah jarang, mas. Di Ebay udah ada yang jual 250rb!” tambah si penjual coba meyakinkan.
“Oh ya?” sahut saya pelan sambil memegang CD itu lebih erat dan tersenyum menang dalam hati.
Beberapa detik kemudian, CD “Illsurrekshun” sudah resmi jadi hak milik saya, dan bikin cemburu beberapa teman yang telat menyadari betapa pentingnya album ini.

Metallic Ass “Thrash Metal 1983” [CD]
Di lapak lainnya, saya menemukan CD ini. Sebelumnya saya sudah baca ulasan tentang Metallic Ass di situs Jakartabeat. Saya juga sempat nonton konser mereka di Malang dan lumayan suka live-nya yang urakan. Seperti titelnya, album ini mengembalikan hikayat musik thrash metal ke tahun ’83 di mana Metallica, Megadeth, Slayer, dan Anthrax sedang bandel-bandelnya. “Sayang, ilustrasi gambar-gambar di sampulnya masih kurang bagus,” kata kawan saya sambil memegang kover “Thrash Metal 1983”, beberapa hari lalu. Oke biarlah, tapi toh musiknya masih cukup menendang pantat kok. Lagipula, tidak ada rilisan thrash lokal yang boleh absen dari rak saya.

perusuh di lapak maximum vinylty!
perusuh di lapak maximum vinylty!

Slayer “Divine Intervention” [CD]
Autopsy “Macabre Eternal” [CD]
Lapak favorit saya malam itu adalah Maximum Vinylty milik Iwan, kawan akrab saya sejak awal 90-an yang pernah punya band bernama Ingus dan Stolen Vision itu. Di mejanya lapaknya, ada banyak CD dan vinyl keren dengan harga yang sudah dibanting hebat, spesial hanya di momen Malang Records Day. Lapak ini juga menjual collectible items seperti dvd eksklusif, boxset cd, bahkan album komplit Lamb of God dalam format flashdisk. Di sini saya menguatkan iman dan hanya mengambil “Divine Intervention” untuk melengkapi stok Slayer di kamar, serta Autopsy “Macabre Eternal” edisi deluxe digipack untuk menambah koleksi kengerian. Yah, mumpung lagi murah dan bersahabat. Bayangkan CD import dalam kondisi baru dan sealed hanya seharga 50-65 ribu saja. Ini pasti surga!

((( Extra Stuffs )))

and justice for all!
and justice for all!

Metallica “…And Justice For All” [12″ LP]
Malam itu saya juga menengok lapaknya Teddy yang telat, baru buka jam sembilan malam. Dia memang khusus jual vinyl mulai genre rock, punk, hardcore, sampai metal. Harganya pun sangat murah dan mengejutkan. Ada koleksi plat Sigur Ros yang menggiurkan, Megadeth yang klasik, sampai Anthrax “Among The Living” yang akhirnya dibeli kawan saya, Giman. Saya melihat satu-persatu koleksinya lalu bertanya, “Mana lagi nih stok metalnya?”
“Tidak aku bawa semua, Mas. Di rumah masih banyak,” jawab Teddy.
“Oh ya? Ada Metallica?” tanya saya iseng.
“Masih ada, sisa yang ‘And Justice For All’ sama ‘Garage Days’ aja,”
“Nah, yang ‘And Justice’ aku ambil deh,”
“Oke mas, besok janjian ketemu lagi aku bawain ya,”
Kami pun bertukar nomor hape, dan beberapa hari kemudian piringan hitam “And Justice For All” sudah berada di tangan saya. Fukk yeah, berarti saya sudah punya versi kaset, CD dan plat dari album tersebut. Entah kenapa saya memang sangat terobsesi dengan album “And Justice For All”. Oke, kapan-kapan akan saya ceritakan sejarahnya. Pertanyaannya sekarang, kudu saya setel di mana piringan hitam ini?!…

para pendukung MRD [dok.koalisi-nada]
MRD troops!

*Ini sesi pertama dari tulisan tentang acara Malang Records Day, yang masih berkutat di urusan jual-beli rilisan fisik, jajan rock, dan meng-amin-i frase “records collector is a pretentius asshole”. Sesi kedua nanti akan saya ceritakan soal diskusi / talkshow yang berlangsung panas di sela-sela acara MRD malam itu.

MRD flyers
MRD flyers