Wukir Suryadi [left] & Makoto Nomura [right]
Wukir Suryadi [left] & Makoto Nomura [right]
Di sudut sebuah kedai kopi, dua orang musisi kontemporer yang berbeda kebangsaan memainkan instrumennya masing-masing. Mereka melantunkan sebuah komposisi musik pertama yang berjudul Dialog Antara Mesin dan Ikan Lele. Maka terjadilah dialog musikal di antara dua dunia.

Seorang pria berkulit kuning sedikit pucat memainkan pianika dengan tingkah bak orang kesurupan. Kadang ia memencet tuts secara serampangan, seperti ngawur dan tidak beraturan sehingga banyak mengeluarkan nada-nada minor. Bagi telinga normal, suara-suara itu terdengar cukup ganjil dan tidak biasa. Pianika berubah menjadi instrumen musik yang sama sekali tidak meriangkan, alih-alih merdu. Belum lagi tingkah sang pianis yang tidak bisa diam. Pria ini cuma duduk tenang sebentar, lalu tiba-tiba berdiri dan naik ke atas kursi. Terkadang dia juga melompat, berjalan, atau bahkan mengayunkan pianikanya ke sana ke mari.

Pria yang satu lagi, berkulit sawo matang, diam di sudut yang lain sambil memainkan instrumen musik buatannya sendiri –yang tentu saja alat itu hanya bisa dimainkan olehnya. Bentuk instrumennya itu cukup unik, seperti rebana yang dimodifikasi dengan alat petik dan agak sedikit menyerupai kecapi. Bunyinya agak sulit untuk dijelaskan– aneh, ringkih dan agak menyihir. Sesekali pria itu juga mengisi sampling musik melalui nada-nada elektronik yang cukup ritmik.

Dua orang seniman musik yang menggetarkan teras komunitas Rompok Bolong di Jazz Corner Malang pada hari Rabu malam, 15 Mei lalu, itu adalah Makoto Nomura asal Jepang dan Wukir Suryadi dari Indonesia. Mereka berdua melahirkan bebunyian tradisonal dan modern berbaur jadi satu, saling menyahut bahkan kerap bertabrakan. Di tangan kedua pria ini, musik seperti mampu berdialog dan berbicara lebih banyak melalui medium yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Uneasy listening.


***

Siang harinya, saya datang menghadiri undangan diskusi yang menghadirkan Makoto Nomura dan Wukir Suryadi di teras Museum Musik Indonesia, Malang. Topik diskusi hari itu adalah “Dampak Nuklir Pada Bunyi”. Sebuah tema yang cukup aneh dan juga eksplosif, pikir saya. Itu membuat saya makin tergelitik untuk datang dan mulai mencari tahu profil orang-orang yang nekat menghubung-hubungkan tema nuklir dengan musik.

Makoto Nomura adalah seorang komposer musik kelahiran Nagoya, tahun 1968. Sejak usia lima tahun dia mulai belajar piano klasik, dan tiga tahun kemudian sudah mampu menulis komposisi lagu. Halaman diskografinya sudah cukup menjelaskan betapa banyak karya dan proyek musik yang telah ia hasilkan selama ini. Setelah bermusik ke berbagai negara di dunia, lulusan studi musik di York University (UK) ini belakangan makin sering ke Indonesia untuk belajar musik tradisional, terutama menekuni instrumen gamelan Jawa.

Sedangkan Wukir Suryadi sudah saya kenal sebagai musisi dan seniman eksperimental, pencipta alat musik Bambu Wukir, serta separuh nafas dari unit musik Senyawa (bersama Rully Sabhara dari Zoo) yang karyanya pernah dirilis oleh netlabel Yes No Wave Music. Pemuda asli Malang ini juga telah keliling Eropa dan Australia dalam berbagai misi seni dan kebudayaan. Kedatangannya kali ini ibarat pulang kampung dan menyapa kembali kawan-kawan lamanya.

“Orang-orang di Jepang sekarang sudah capek dan bingung,” keluh Makoto dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata. Dalam diskusi siang itu, ia menceritakan kegelisahannya sebagai warga Jepang pasca bencana gempa yang bikin rusak PLTN Fukushima pada tahun 2011 lalu. Dia bilang, radiasi dari reaktor nuklir yang bocor itu sudah mengancam penduduk di sekitar Fukushima. “Kita mau beli makanan saja sudah kuatir. Takut kalau nanti terjadi apa-apa. Dampak dari radiasi nuklir itu sungguh serius dan menakutkan.”

Makoto juga menjelaskan kalau masih ada kontroversi di antara pihak warga, industri besar pengguna jasa PLTN, dan pemerintah setempat mengenai dampak dari radiasi nuklir tersebut. Hal itulah yang bikin Makoto memutuskan untuk mengangkat isu anti nuklir melalui misi kebudayaan. Salah satunya melalui program kolaborasi musik dengan berbagai seniman lokal. Harapannya, supaya masyarakat juga sadar bahwa tehnologi nuklir itu memang tidak baik dampaknya bagi kehidupan manusia jangka panjang.

Makoto yang datang ke Indonesia lewat program Asian Public Intellectuals (API) Fellowship dari The Nippon Foundation itu kemudian menggandeng Wukir Suryadi, seorang seniman musik yang ia anggap memiliki kapasitas musikal yang menarik dan gagasan yang humanis. Dia mengaku kagum pada Wukir yang sangat kreatif dalam berkarya dan berani membuat instrumen musik sendiri.

“Saya hanya mau berkolaborasi dengan orang yang saya kenal (secara personal), tahu karyanya dan memang bagus. Seperti sekarang ini, saya sudah lama kenal Wukir dan tahu karya-karyanya. Musik dia itu bagus, jadi saya mau berkolaborasi sama dia,” jelas Makoto ketika ditanya tentang kolaborasinya dengan musisi lokal dan kenapa enggan bekerja sama dengan musisi mainstream yang notabene lebih populer.

Wukir Suryadi sendiri sudah terlibat dalam berbagai proyek musikal sejak usia 12 tahun, terutama pada pementasan teater serta komunitas musik tradisional dan kontemporer. Pria yang sempat berguru pada mendiang Fitra Pradana, WS Rendra, dan I Wayan Sadra ini juga rajin berkeliling pada berbagai pentas teater dan musik kontemporer di Surabaya, Malang, Bali, Bandung, Yogyakarta, Solo hingga Jakarta. Sampai hari ini, petualangan seni internasionalnya pun sudah mencapai Asia, Eropa dan Australia.

Belakangan, Wukir berkolaborasi dengan Rully Shabara (Zoo) dalam sebuah unit musik yang bernama Senyawa. Kelompok ini telah merilis beberapa karya rekaman dan sempat manggung bareng musisi eksperimental kelas dunia, seperti Tony Conrad, Joel Stern, Faust, Charlemagne Palestine, dan Tatsuya Yoshida. Mereka bahkan diundang secara pribadi oleh Brian Ritchie (The Violent Femmes) untuk tampil dalam Mona Foma Festival di Tasmania (Aus) bersama Ryoji Ikeda, PJ Harvey, The Dresden Dolls, dan musisi kelas dunia lainnya. Senyawa juga hadir dalam perhelatan Adelaide Festival yang dimeriahkan oleh Ennio Morricone, Miles Davis, Jane Birkin dan Genesis P-Orridge & Psychic TV.

Dalam diskusi siang itu, Wukir menceritakan beberapa pengalamannya manggung ke berbagai negara. “Ini lucu. Kalo Noah maen di Aussie yang nonton itu orang Indonesia semua. Saya pas maen sama Senyawa di sana yang nonton malah orang bule semua,” katanya seraya tertawa. ”Trus pas di Norwegia, saya baru menemukan komunitas punk yang keren. Mereka mampu mengelola sebuah gedung besar, yang lalu dijadikan venue pertunjukan dan tempat mereka untuk beraktifitas secara mandiri. Kita juga sempat tampil di sana.”

Wukir Suryadi juga dikenal memiliki hubungan yang unik dengan material instrumen musiknya. Konon ketika bikin instrumen Bambu Wukir yang berbahan dasar bambu wulung itulah ia jadi tahu kalau ada beberapa jenis bambu yang semakin sulit ditemui dan sudah terancam punah. Dari kejadian itu, Wukir dan kawan-kawannya lalu bikin sebuah konservasi hutan bambu di daerah Batu, Malang.

“Wukir itu memang seperti panda. Dia tidak bisa melihat bambu menganggur,” bisik seorang lelaki muda yang juga kawan lama Wukir Suryadi, dalam sesi diskusi siang itu. Kami pun tertawa mendengar anekdot tersebut.

“Alat ini namanya Rod. Diambil dari nama kawan saya, Rodney Cooper, seorang seniman asal Australia. Dia itu dijuluki The King of Spring. Instrumen ini memang saya bikin bareng Rodney. Pas udah jadi, dia bingung alat ini mau dinamain apa ya? Trus saya bilang, ya udah dinamakan Rod aja kayak namamu…” ungkap Wukir tertawa sambil memamerkan alat musik tersebut.

***

Dari berbagai sumber, akhirnya saya tahu kalau sebelumnya Makoto Nomura sudah pernah datang ke Indonesia. Tepatnya pada tahun 1996 ketika ia terlibat program tur konser grup Gamelan ‘Dharma Budaya’ dari Osaka. Saat itu, karya Makoto yang berjudul Jogetlah Beethoven dipentaskan bersama kelompok Dharma Budaya di Jakarta, Bandung, Jogja, hingga Solo.

Jogetlah Beethoven merupakan karya yang cukup menarik. Komposisi ini mengeksplorasi instrumen karawitan hingga terdengar lebih segar. Dalam komposisi ini, Makoto sengaja mengkolaborasikan bunyi gamelan dengan suara koor anak-anak, pianika, serta piano mainan.

Menurut situs budaya Tembi, perkenalan Makoto dengan gamelan itu terjadi pada tahun 1994 ketika ia memperoleh beasiswa dari British Council untuk belajar musik di York University, Inggris. Secara tidak sengaja ia menemukan buku A Guide to The Gamelan yang ditulis oleh komponis dan etnomusikolog kelahiran Inggris, Neil Sorrell, di toko buku setempat. Satu-satunya alasan Makoto membeli buku itu adalah karena harganya paling murah dan kebetulan lagi ada diskon besar di toko tersebut.

Ketika membaca A Guide to The Gamelan untuk pertama kalinya, Makoto sama sekali tidak mengerti tentang gamelan. Apalagi begitu ia sadar kalau perangkat musik itu menggunakan notasi angka kepatihan. Ia bahkan tidak tahu bagaimana cara melafalkan nama-nama setiap instrumen gamelan. Kegelisahan itu bikin Makoto makin penasaran, hingga akhirnya ia nekat mencari tahu lebih banyak tentang gamelan dan musik tradisional Jawa sampai ke tanah Indonesia.

Dalam sesi diskusi siang itu, Makoto tiba-tiba ditanya tentang apa yang paling dia cintai dari Indonesia. Ia tersenyum, lalu menjawab ada banyak hal yang menarik tentang negeri ini. Pertama, ia mengaku doyan makan pecel lele. Makoto juga menyukai orang-orang di Indonesia yang menurutnya cukup rukun dan mau bergaul satu sama lain. Ia heran melihat ada banyak suku bangsa di Indonesia tapi semuanya bisa hidup rukun berdampingan dalam satu wilayah. Sementara kalau ia contohkan di Jerman itu warga aslinya jarang ada yang mau tinggal bersama di wilayah imigran Turki, misalnya.

Ada satu fakta yang sulit dibantah kalau Makoto memang terbukti sangat menghormati budaya Indonesia; Di sepanjang hari itu, ia selalu berbicara menggunakan bahasa Indonesia –bukan bahasa Inggris atau bahasa Jepang! Itu dia lakukan meski dengan lafal yang terbata-bata, dan kerap berpikir keras mengingat-ingat kosakata Indonesia-nya yang memang cukup terbatas. Namun usaha dan apresiasinya dalam berbahasa itu patut diacungi jempol.

“Mas Makoto…” kata moderator diskusi siang itu.

***

“Eh, Makoto kenal Loudness gak ya?!” iseng saya bertanya pada kawan di sebelah. “Wah, Akira Takasaki!” seru kawan saya yang merupakan gitaris rock itu sambil tertawa. Sayang, pertanyaan itu tidak sempat kami tanyakan langsung kepada yang bersangkutan. Lagipula, tidak terlalu penting juga sih kayaknya.

Tapi memang jika mendengar kata ‘Musisi Jepang’ maka seketika yang ada di benak saya itu adalah nama-nama seperti Loudness, Masami Akita (Merzbow), Kitaro, Sadao Watanabe, Casiopea, bahkan Boris atau Mono. Jepang yang saya tahu itu memang penuh dengan musisi-musisi yang bertalenta, di segala jenis genre. Mulai dari pop/ rock yang standar, jazz yang skillful, hingga ekperimental yang paling rumit sekalipun. Ya, negeri sakura itu memang memiliki scene musik dengan kekuatan lintas-genre yang cukup paten.

Dan jika mendapati musisi Jepang yang kritis, seperti misalnya Makoto Nomura dengan isu anti nuklirnya ini, saya jadi bertanya-tanya; Apa benar scene atau industri musik di Jepang itu apolitis seperti yang pernah dikatakan dalam sebuah konten video dokumenter?! Well, kok saya jadi kurang yakin.

Pada akhir sesi diskusi, Makoto dan Wukir tampil memainkan komposisi musiknya –yang ternyata terdengar lebih ‘ringan’ daripada apa yang mereka mainkan kemudian pada malam harinya. Makoto tampak asyik ‘memperkosa’ pianikanya, sementara Wukir terlihat cukup serius ‘menggauli’ si Rod. Audiens hanya diam tertegun, serius menyimak aksi mereka.

***

Menjelang petang pasca sesi diskusi, sejumlah orang mulai dari para staf Museum Musik Indonesia, musisi dan seniman lokal Malang masih tetap nongkrong sambil mengobrol santai bersama Makoto dan Wukir. Perbincangan mereka berlanjut pada wacana lintas budaya, scene musik lokal, era booming seni rupa, hingga ke isu orientalisme yang bikin orang-orang barat mulai menoleh ke timur.

“Musisi di luar negeri itu sudah sering maen di galeri seni rupa. Di sini masih belum biasa rupanya…” ungkap Wukir menceritakan atmosfir art scene yang sempat ia amati di Eropa. Menurutnya, hal itu harus mulai dibiasakan di Indonesia, supaya iklim seni dan budaya menjadi lebih kaya serta penuh dengan dialog. Cara-cara seperti itu juga diyakini bisa membuka kemungkinan kerjasama dan kolaborasi yang lebih lebar. Perbincangan seru seputar budaya musik sampai seni rupa itu tiba-tiba makin menghangat. “Wah, ini jadi obrolan lintas disiplin akhirnya…” kata Wukir sambil terbahak.

Di sudut meja lainnya, seorang musisi lokal menyapa Makoto dan seperti meminta kesempatan untuk bisa jamming atau kolaborasi bareng di salah satu karya musiknya.

“Oh oke, ada notasi lagunya?” tanya Makoto seketika.

Dheg!

Saya dan kawan saya langsung kaget. Kami saling berpandangan dan kemudian tertawa bersama. Kami seperti menyadari satu fakta menarik; Bahwa memainkan musik eksperimental yang kelihatannya ‘ngawur’ itu pun masih harus pakai notasi. Maklum, Makoto adalah komposer yang bisa dibilang sudah khatam belajar musik. Mungkin baginya, karya musik se-eksperimental apapun itu harus dimainkan dengan serius, termasuk memakai notasi lagu.

“Iya juga sih, orang seperti Makoto itu khan sudah paham bagaimana main musik yang bener. Lihat aja, dia itu basic-nya sekolah musik, trus ngajar sebagai profesor musik. Kalau dia bikin komposisi musik eksperimental, tentunya itu gak asal-asalan. Kalau di sini? Mungkin maen musik eksperimental itu jadi pelarian karena gak bisa maen musik yang bener yah?!” kata kawan saya yang juga seorang musisi itu sambil tersenyum sinis dan penuh kecurigaan. Aha!

***

Malam itu di Jazz Corner, pandangan saya masih menatap serius pada aksi Makoto dan Wukir ketika mereka memainkan komposisi musik kedua yang berjudul Angin. Nomor ini terdengar lebih sejuk, cukup melodius dan agak menenangkan. Dalam beberapa part mungkin bisa mengingatkan kita pada nada-nada klasik yang ‘memuja’ panorama alam seperti yang biasa dimainkan Kitaro atau bahkan Mono.

Komposisi ketiga, Ikan Pun Mempunyai Nuklir, justru mengembalikan irama musik yang eksplosif di telinga. Tembang terakhir ini berisi bebunyian yang pekak dan sulit diduga. Setiap bagiannya terdengar cukup berisik dan menegangkan. Klimaksnya terjadi pada bagian akhir lagu di mana Makoto tiba-tiba berdiri dan berteriak-teriak kesetanan sambil berulangkali menyerukan kalimat, “Arigato!… Arigato!… Arigato!…”

Aksi itu mungkin cerminan dari budaya santun khas Jepang, namun ucapan terima kasih tidak pernah sebising, setulus dan sesemangat ini.

“Matur Nuwun…” kata Makoto singkat ketika mengakhiri set pertunjukannya.

***

Sebagai bonus akhir pertunjukan malam itu, Makoto Nomura dan Wukir Suryadi mengajak beberapa musisi lokal untuk jamming bareng. Di sesi ini ada seniman etnik Redy Eko Prastyo (Etnicholic Project), gitaris Norman Duarte Tolle (CCCC/Boomerang), perkusionis Jemblunk (Jawaika), plus pemain saksofon, bass, perkusi, hingga seorang pelantun Beatbox. Mereka memainkan dua bagian komposisi musik yang cukup ritmis, dan secara bergantian unjuk gigi memamerkan keahliannya memainkan instrumen masing-masing.

Saya masih duduk menyeruput kopi sambil menonton parade musik eksperimental dan seni kontemporer dari para ahlinya. Bahkan sedari siang saya sudah menyaksikan momen dialog seni dan persilangan budaya yang cukup sinergis di hari itu. Saya juga jadi paham akan satu hal lagi; Bahwa topik anti nuklir itu ternyata tidak hanya komoditi band thrash metal saja.

* Artikel ini sebelumnya dimuat di situs Jakartabeat.