poster 'minimus to maksimus'
poster ‘minimus to maksimus’

Semalam saya menghadiri pembukaan pameran tunggal fotografi musik karya Hendisgorge yang bertitel “Minimus To Maksimus” di Houtenhand Beerhouse, Malang. Saya datang agak telat, tapi masih kebagian suasana yang hangat berkumpul dengan kawan-kawan di sana. Menerima sodoran bir dingin dan juga kopi hitam. Dihibur oleh aksi akustik Atlesta, Begundal Lowokwaru dan jamming dadakan dari musisi lokal. Ditambah bonus diskusi dan debat tiada akhir tentang scene musik lokal dengan beberapa kawan, haha. Fun!

“Ada sekitar 110 foto berbagai ukuran, mulai A1 sampai A4. Ditambah 550 foto ukuran postcard,” terang Hendisgorge ketika kami berbincang di sela-sela pameran.”Itu semuanya aku pilih sendiri dari sekitar 55 ribu arsip fotoku.”

Malam itu nyaris semua dinding yang ada di Houtenhand sudah dipenuhi oleh ratusan karya fotonya. Bahkan di dinding toilet pun sudah tertempel beberapa foto panggung band black metal yang bisa bikin orang bergidik ngeri. Sadis!

Berikut ini esai testimonial yang saya tulis sekitar sebulan lalu untuk Hendy, dan juga dimuat dalam katalog pameran yang dibagikan kepada pengunjung “Minimus To Maksimus”.

katalog pameran 'minimus to maksimus'
katalog pameran ‘minimus to maksimus’

Hendy ; He Knew What The “All-Access” Means!

Hendy Junindar Prasetyo yang saya kenal itu salah satu redaksi Common Ground zine dan seorang fotografer musik yang aktif. Jika menilik pada nickname-nya, Hendisgorge, maka saya bertaruh dia adalah penyuka musik metal yang ekstrim. A dangerous combination. Sudah cukup lama saya dibuai oleh karya-karya fotonya. Sejak saya memegang terbitan awal Common Ground kayaknya. A long time ago…

Kesan pertama yang saya tangkap saat itu cuma satu; indah. Layaknya stage photograper lainnya, karya foto-foto pertamanya itu selalu indah. Bahkan terlalu indah. Vokalis atau gitaris yang merapat ke bibir panggung disiram lighting warna-warni selalu jadi target favorit setiap fotografer [panggung] musik. kalau gak, biasanya foto panorama panggung raksasa yang megah mengkilap dipotret dari kejauhan. Padahal itu bukan standar atau esensi dari fotografi [panggung] musik, menurut saya pribadi. Bahkan jauh dari filosofi photo journalism yang kudunya lebih bisa bercerita.

Untungnya Hendi ini tetap rajin memotret, mau belajar dan bisa mengembangkan kemampuannya. Dia mulai menemukan obyek-obyek unik dan angle-angle magis. Dia sekarang sudah tidak fokus pada artis penampil yang ada di panggung saja. Dia yang bertubuh mungil ini mulai berani merangsek lebih dalam memotret detil instrumen, ekspresi, dan statemen apapun yang bertebaran di atas panggung. Dia juga makin suka blusukan memotret suasana backstage, atau mendekati moshpit untuk merekam antuasiame penonton. Akhir-akhir ini dia juga suka dipanggil untuk menjepret sesi foto band. Setidaknya itu kemajuan Hendi yang saya amati selama dua tahun terakhir ini. Yes, a photo can tell 666 words!

Satu hal lagi yang saya suka dari Hendi, dia rajin mengarsipkan karyanya dengan detil dan rapi. Ingat, tidak semua fotografer mau melakukan hal serupa. Apalagi bagi fotografer yang cuma berangkat ke gigs, motret sana-sini, pamer satu-dua biji foto ke sosmed, trus selesai! Sedangkan Hendi tahu pekerjaan fotografi itu tidak berhenti sepulang konser. Masih banyak proses paska-produksi yang musti dilakukan di rumah. Itu juga yang bikin saya sering meminjam karya foto Hendi untuk dimuat bersama tulisan saya di berbagai media, mulai dari Jakartabeat, Rolling Stone, Trax magazine, hingga di blog pribadi saya.

Jika hari ini dia menggelar pameran tunggal, saya tidak kaget. Karena memang sudah waktunya. Sudah terlalu banyak pertunjukan yang dia potret, dan band mana lagi yang belum pernah jadi korban bidikan lensanya?! Tibalah saatnya bagi dia untuk berbagi. Tapi ini tentu saja bukan akhir. Saya yakin dia masih mau belajar lebih banyak dan karyanya akan berkembang lagi. Selamat berpameran, semoga menginspirasi. Sampai jumpa di dalam barikade panggung, di ring satu pertunjukan musik selanjutnya!…

all access!
-samack-

*Temui Hendisgorge beserta karya jepretannya di Twitter, Facebook, dan Flickr.