photo by norman hs [happipolla photoworks]
photo by norman hs [happipolla photoworks]
Kembali indie di album kedua dengan musik yang lebih ceria dan lirik galau khas anak muda.

“Karena itu adalah harapan kami selama ini. Jeda dari album pertama ke album kedua ini khan cukup lama, jadi pas album ini dirilis kami jadi lega. Akhirnya bisa keluar juga di luar,“ ujar gitaris/vokalis Unda-Undi, Helmi Mulawarman, menjelaskan alasan kenapa titel album kedua mereka dikasih judul “Keluar Diluar”.

Pemilihan kalimat “Keluar Diluar” sebagai judul album sekilas memang terkesan agak ‘nakal’ dan seenaknya. Namun titel itu ternyata mengandung makna yang cukup dalam bagi seluruh personil Unda-Undi. Menurut mereka, judul album tersebut menggambarkan momen klimaks Unda-Undi setelah sekian lama mereka memoles materi musik, bernegosiasi dengan label rekaman, hingga akhirnya memutuskan kembali bekerja secara mandiri melalui jalur independen.


“Album ini memang semuanya murni dari kami sendiri secara indie. Bisa dibilang no label. Jadi kami produksi sendiri, biaya-biaya sendiri,” tambah M. Harsya Mahendra, pemetik bass dan vokalis utama Unda-Undi. “Soalnya kalo nunggu Seven Music, album kami ini gak bakal keluar deh. Jadi kami coba ngobrol sama pihak label dan bilang kalau kami mau produksi album sendiri saja. Ternyata dari pihak Seven Music bisa menyetujui hal itu. Mereka malah janji untuk bantu distribusi dan promonya.“

Kembali Indie di Album Kedua
Pada tahun 2009, Unda-Undi sempat merilis debut album bertajuk “Semua Harus Baru” yang dirilis secara nasional melalui label rekaman Seven Music. Sebagai catatan, mereka termasuk satu dari sedikit musisi kota Malang yang sempat dikontrak major label dan mendapat ekspos secara nasional.

Album perdana itu sempat sukses melesatkan singel “Pulsa Abis” yang mendapatkan airplay tinggi di sejumlah radio swasta dan stasiun televisi swasta. Lewat album itu pula nama Unda-Undi mulai dikenal secara nasional dan banyak mendapat tawaran manggung ke berbagai daerah.

Band yang terbentuk di kota Malang, pada awal tahun 2005 ini sekarang memiliki formasi personil yang cukup solid yaitu M. Harsya Mahendra [bass/vokal], Helmi Mulawarman [gitar/vokal], Riezky Gama Rinadi [gitar/vokal], dan Wira Kusumanata [drum/vokal]. Di kala pentas, Unda-Undi juga selalu dibantu oleh dua biduanita muda yang cantik yaitu, Dimastika Willy Sembada dan Stefani Bareta.

Empat tahun setelah album perdana, Unda-Undi kembali merilis album “Keluar Diluar” pada tanggal 01 Maret 2013. Malam hari itu juga, mereka memperkenalkan album barunya ke hadapan publik dalam sebuah release party di Levels Brewhouse, Malang. Momen tersebut terasa lebih istimewa karena bertepatan dengan perayaan delapan tahun eksistensi Unda-Undi di blantika musik tanah air.

Menjadi Duta Kampanye Lingkungan
Tanggal 23 Maret 2013 lalu, seluruh dunia serempak merayakan Earth Hour, yaitu sebuah gerakan global yang dicetuskan oleh World Wide Fund for Nature [WWF] setiap hari Sabtu terakhir di bulan Maret. Gerakan ini berupa pemadaman lampu selama satu jam untuk meningkatkan kesadaran akan perlunya tindakan serius dalam menghadapi perubahan iklim.

Kampanye Earth Hour juga diadakan di kota-kota besar di Indonesia. Di kota Malang, momen perayaan Earth Hour 2013 itu dipusatkan di pelataran Mal Olympic Garden, Malang. Dalam acara puncaknya, Unda-Undi diperkenalkan sebagai Duta Earth Hour Malang. Mereka juga tampil spesial dalam set akustik yang hemat energi dan nyaris tanpa lampu penerangan di atas panggung.

“Sebelumnya kami sudah coba lihat beberapa band indie di Malang. Menyeleksi kira-kira siapa band yang berpotensi untuk jadi duta dan mengisi acara Earth Hour ini. Ternyata nama Unda-Undi yang ada di urutan pertama, dan mereka memang sesuai dengan kriteria kami. Mereka juga deket sama masyarakat dan bisa merangkul komunitas. Nah, akhirnya kami sepakat untuk memilih Unda-Undi,” ungkap Hendietta Khairina selaku koordinator acara Earth Hour di Malang.

Harsya ikut menambahkan ihwal partisipasi Unda-Undi di momen Earth Hour Malang, “Pertama itu Fian [vokalis Get Panic, band rock asal Malang] yang hubungi saya. Dia yang bilang kalau ada program Earth Hour di Malang. Trus nawarin Unda-Undi gimana kalau jadi duta di acara itu. Mereka mungkin liatnya karena saya dan Helmi kadang-kadang sepedaan, dan sering bawa botol tumbler sendiri. Akhirnya yah kenapa enggak, kita bersedia jadi duta demi kebaikan diri sendiri dan juga untuk gaya hidup yang lebih baik.”

Buah Dari Proses Yang Lama
Helmi dkk mengakui jika proses pengerjaan album “Keluar Diluar” memang memakan waktu yang cukup lama akibat menanti kepastian yang tak kunjung jelas dari label rekaman di Jakarta. Di sela kesibukan personil dan jadwal manggung yang tidak terlalu padat, Unda-Undi akhirnya mengisi waktu dengan merekam materi musik di sebuah studio di Malang.

“Materinya sih udah siap sejak beberapa tahun yang lalu. Trus karena molor, akhirnya kami aransemen lagi dan coba bikin lagu-lagu baru lagi. Dari stok lagu yang ada lalu kami pilih-pilih lagi sampai akhirnya jadi sebelas lagu baru, plus satu lagu kover milik Begundal Lowokwaru,” kata Helmi.

Komposisi musik yang terdapat pada album “Keluar Diluar” ini direkam di dua tempat. Awalnya, mereka merekam “Lalala” dan “Kanker” di studio Brotherline, Jakarta. Sedangkan sepuluh track sisanya mereka rekam secara marathon selama lima bulan di studio Monev Record, Malang.

“Di album ini kami juga menggandeng musisi-musisi lokal Malang untuk ikut berkolaborasi. Ada Fifan Christa [Atlesta], Bayu Priaganda, Zendy Ariesta, dan Nuri. Lalu kalau dua backing vocal kami dulu itu cuma ikut perform di panggung saja, sekarang mereka juga ikut bernyanyi dan rekaman untuk album kedua ini,” ungkap Helmi. “Dalam penggarapannya, kami juga dibantu oleh dua orang music director, yaitu Bayu Priaganda dan Wendy Arintyo. Trus kami juga pakai jasa vocal director selama proses rekaman kemarin.”

Sebelum album “Keluar Diluar” dirilis ke pasaran, sebenarnya Unda-Undi pernah melepas dua singel dari stok materi yang ada. Yang pertama adalah “La..la..la” yang dirilis sejak tahun 2011 untuk konsumsi radio. Video klipnya bahkan sudah ada dan sempat tayang di sejumlah stasiun televisi swasta. Singel kedua mereka kemudian adalah “Kanker” yang sudah menjadi airplay di radio sejak setahun belakangan. Saat ini, berbarengan dengan masa promosi album kedua, Unda-Undi memajang lagu “Maybe No Maybe Yes” sebagai singel ketiganya.

Sedangkan lagu kover “Lagu Cinta Kelas Pekerja” itu awalnya pernah mereka mainkan pada acara konser Tribute To Begundal Lowokwaru yang diadakan oleh Distortion Store di Malang, akhir tahun lalu. Lagu tersebut sebenarnya pilihan dari panitia yang dianggap cocok bagi style musik Unda-Undi. Ternyata benar, respon penonton pada saat pertunjukan terbukti cukup hangat dan positif. Akhirnya Unda-Undi berinisiatif merekam ulang lagu tersebut atas seijin para personil Begundal Lowokwaru.

Secara musikal, Unda-Undi masih memainkan irama rock n’ roll bergaya retro 60-an yang riang dengan balutan lirik ringan yang humoris. Temanya seputar kehidupan anak muda, asmara dan juga pertemanan. Dalam istilah Unda-Undi, mereka menyebut genre musiknya itu adalah Pop Optimist Rock n’ Roll.

“Untuk inspirasi musik sih patokan kami masih tetap mengacu pada The Beatles, Koes Plus, Benyamin dan band-band yang ada di eranya itu. Kalau liriknya kami ambil dari kehidupan sehari-hari. Kebanyakan pengalaman pribadi kami aja,” kata Helmi sambil tersenyum.

Topik Asmara dan Galau Tingkat Dewa
“Album pertama dan kedua ini agak berbeda. Kalau di album pertama, lirik kami mungkin masih polos dan waktu pengerjaannya pun mepet. Sedangkan di album kedua ini, persiapannya jauh lebih matang, trus liriknya simpel dan lebih dewasa. Galau dibikin ceria lah…” terang Harsya ketika ditanya soal perbedaan yang konseptual antara kedua album Unda-Undi.

“Semua materi di album ini sebenarnya lagu-lagu sedih. Liriknya sungguh sedih. Tapi gimana caranya kita bikin supaya se-Unda-Undi mungkin. Maksudnya biar terdengar lebih ceria dan rancak. Trus supaya suasananya terlalu tidak sepi meskipun liriknya sedih,” tambah Harsya dengan raut wajah serius.

Memang di setiap kali pementasannya, Harsya dkk selalu komunikatif dalam menyampaikan topik-topik lagu mereka. Tak jarang mereka sendiri justru saling bercanda, melempar joke atau mengolok-olok satu sama lain. Bahan joke utamanya adalah membongkar rahasia akan kisah-kisah kegagalan asmara mereka sendiri. Entah apakah itu nyata atau fiksi belaka, tapi yang pasti gaya humor seperti itu cukup unik, absurd, dan terbukti sangat menghibur bagi fans Unda-Undi.

Konon hampir semua lirik lagu di album “Keluar Diluar” ini memang merupakan presentasi dari kisah asmara para personil Unda-Undi. Dengan kata lain, semua kata-kata yang telah dirangkai dalam lirik lagu tersebut adalah curahan hati terdalam mereka. Asumsi ini sepertinya menarik jika ditanyakan langsung kepada Harsya yang ikut bertanggungjawab atas penulisan tema dan lirik Unda-Undi.

“Haha, iya sedikit banyak memang seperti itu,” jawab Harsya sambil menahan tawa. Raut wajahnya tampak sedikit memerah.

Jadi memang benar, itu semua adalah ungkapan yang jujur?
“Hehe, iya mencoba jujur,” kata Harsya pelan dan kali ini terdengar lebih serius.

Mengundi Nasib Unda-Undi Berikutnya
Sebenarnya ada ekspektasi yang cukup tinggi terkait dengan album “Keluar Diluar”. Rilisan ini diharapkan bisa membawa Unda-Undi kembali sibuk manggung dan bisa mencapai level kesuksesan yang berikutnya. Di samping itu juga ada pengalaman dan pelajaran berharga sejak dari proses produksi, rilis, promosi hingga distribusi yang hampir semuanya mereka tangani sendiri tanpa bantuan label atau manajemen yang mapan.

“Harapan kami setelah ini tentu agar bisa dikenal oleh lebih banyak orang lagi. Kalau sebelumnya Unda-Undi cuma dikenal oleh lima ribu orang, semoga dengan album kedua ini bertambah jadi sepuluh ribu atau bahkan duapuluh ribu orang,” ungkap Helmi dengan penuh semangat.

Harsya lalu menambahkan, “Dulu kita cuma beranggapan musik itu adalah sekedar hobi, lalu berkembang jadi mata pencaharian atau profesi. Kini sejalan demi waktu, kami hanya memikirkan bahwa ini adalah musik kami. Inilah band kami. Gak tahu lagi kami nanti akan eksis sampai berapa album, tapi selama kami masih bisa menulis lagu, Unda-Undi akan terus berkarya…”

*Artikel ini sempat dimuat di situs musik Gigsplay. Trims untuk Harsya dan Helmi, juga Hendietta atas obrolannya di sesi wawancara malam itu.

**Album Unda-Undi yang bertajuk “Keluar Diluar” bisa didapatkan melalui akun twitter mereka.