the stage - pic by @dogolkill
the stage – pic by @dogolkill

Singkat kata, Kamis sore [25/04], saya menumpang kereta api bersama beberapa kawan dari Malang menuju Jakarta untuk menonton festival musik metal Hammersonic yang digelar di Ecopark Ancol, 27-28 April 2013. Apakah itu Hammersonic?! Nah, sebaiknya anda cek di sini saja. Selama dua hari pertunjukan musik yang cadas tersebut, ada 13 catatan penting yang masih saya ingat sampai tulisan ini saya posting di blog…


01. “Venue-nya enak yah? Nyaman sekali!” sapa seorang rock-journalist di sebuah majalah musik terbitan ibukota, begitu saya memasuki areal Ecopark Ancol di hari pertama. Memang iya sih. Dibandingkan dengan perhelatan Hammersonic 2012 di Senayan, venue yang sekarang ini lebih apik, tertata dan menyenangkan. Mungkin karena lokasinya yang berada di kawasan wisata dan dekat pantai, jadi nuansa ‘piknik’-nya cukup terasa, selain juga banyak pepohonan dan hembusan angin yang sejuk. Kelemahan venue ini mungkin cuma lokasinya agak jauh dari pusat kota, akses transportasi yang terbatas, dan kudu bayar lagi tiket masuk Ancol. Namun, after all, saya juga jatuh hati sama venue Ecopark ini.
02. Nah, soal soundsystem. Entah kenapa kok kayaknya lebih bagus pas Hammersonic 2012 deh. Mungkin ini akibat angin kencang di sekitar venue yang berpantai?! Atau daya power-nya yang kurang besar?! Alhasil, perlu kemampuan khusus untuk memilih spot yang ideal untuk mendapatkan sound-out yang prima dari atas panggung. Saya akhirnya menemukan titik ideal itu tepat di sisi kiri FOH Hammer Stage dan sedikit di depan FOH Sonic Stage. But hell, saya tidak mau terkungkung di sana. Pas Obituary dan Destruction saya nekat maju ke moshpit untuk mendapatkan atmosfir konser metal yang lebih menyenangkan!
03. “Tapi sebenernya, kalo pengen tau seberapa besar scene metal Indonesia itu bukan di Hammersonic, tapi kudu dateng ke Bandung Berisik. Karena line up-nya band lokal semua. Penontonnya bahkan puluhan ribu. Trus venue dan stage-nya itu dua kali lebih besar daripada di sini,” kata sobat lama saya dari Bandung ketika kami berjumpa dan nonton bareng penampilan Epica dari kejauhan.  Dalam beberapa hal, ada benarnya opini kawan saya itu.
04. Terus terang saya tidak ada keluhan atau komplain soal line up di Hammersonic. Meski sebenarnya alasan utama saya datang itu [hanya] demi Obituary. Tapi, jangan manja! Ini line up-nya sudah cukup cadas!
05. Eh, hanya saja ada beberapa band asing yang rasanya tidak bagus-bagus amat, seperti misalnya Voyager atau Dyscarnate. Bahkan banyak band-band lokal masih jauh lebih keren daripada bule-bule itu. IMHO, yang model-model medioker gitu kayaknya gak perlu diundang lagi di Hammersonic berikutnya.
06. Well, saya [dan kebanyakan kawan saya yang segenerasi] mungkin sudah menanti Obituary lebih dari 20 tahun – tepatnya sejak pertama kali memegang kaset “Cause of Death”. Ya, saya sangat mengidolakan mereka. Menatap aksi Obituary dari jarak dekat dengan latar belakang logo band mereka yang klasik itu sempat bikin saya mematung, merinding, terharu. Slowly we roooot!

obituary - pic by @dogolkill
obituary – pic by @dogolkill

07. Momen yang paling berkeringat di festival ini adalah ketika saya merangsek masuk ke moshpit, ikutan pogo berlarian di putaran circle-pit saat penampilan Obituary. Sungguh itu salah satu circle-pit yang luas, liar dan fun. Salah satu favorit saya setelah pengalaman moshpit di konser Napalm Death, Kreator, Exodus dan Iron Maiden, beberapa tahun silam.
08. Ada satu momen yang cukup menyentuh, yaitu ketika kawan saya dari Malang, Dio, mengaku sempat terharu dan meneteskan airmata ketika nonton Obituary. Sejak berangkat bareng di kereta, dia memang sudah menyiapkan gairah dan emosi untuk band pujaannya itu. Malam itu, mimpinya sudah jadi kenyataan. Sah! Mabrur!
[Damn, bahkan Dio sempat menyelinap ke hotel untuk foto bersama personil Obituary dan ngasih CD Nadi ke John Tardy cs!]  

dio and the tardy's
dio and the tardy’s

09. Momen paling ‘memusingkan’ ; Saya hanya melongo nonton George ‘Corpsegrinder’ Fisher [vokalis Cannibal Corpse] yang berleher baja. Dia berkali-kali melakukan windmill atau headbanging sambil memutar kepalanya bak kincir angin. Sinting!
10. Momen paling ‘menyebalkan’ ; Mendapati penonton yang pake kaos keren Pestilence ‘Testimony of The Ancients’ warna item dan Obituary berdesain ‘Budweiser’ warna putih. Ok, you’re such an asshole! :))
11. Momen paling ‘nasionalis’ ; Kumandang lagu “Padamu Negeri” jelang penampilan headliner penutup acara di hari kedua, Cradle Of Filth. Agak absurd, tapi cukup patriotik.
12. Dari semua bands yang manggung, favorit saya adalah ; Obituary, Destruction, Gorod, Dying Fetus, dan Cannibal Corpse.
[Terus terang saya gak kenal Epica, gak begitu mengikuti Lock Up, dan sudah kehilangan rasa dengan Cradle of Filth]
13. Last but not the least, Hammersonic Fest is still about loyalty and brotherhood. Yeah, we are family in these small metal world!

with @KokoGiman - pic by @dogolkill
with @KokoGiman – pic by @dogolkill

*Saya sampaikan juga empati untuk Koko Giman yang mendadak harus pulang ke Malang dan melepas tontonan Hammersonic di hari kedua karena tiba-tiba ada kabar duka dari rumahnya. May your dad rest in peace. We will together again on the next metal trips. Juga trims berat untuk Dogolkill dan Gita Wardani atas hospitality-nya selama saya & Giman di Jakarta.