b7488390dedefbaf9badeda0e0ea042d_M
Di catur wulan pertama 2013 ini musik rock/metal sudah sedemikian menariknya. Saya menemukan beberapa rilisan anyar menarik dari kancah musik cadas dunia. Mulai dari para legenda metal yang kembali merebut tahtanya seperti Darkthrone dan Suffocation, partai hiburan dari Anthrax dan Skid Row, hingga bakat-bakat muda yang meluap dari Kvelertak, Ghost serta Pissed Jeans.

Sebentar, tidak semua rilisan yang saya ulas singkat di sini istimewa. Ada juga yang gagal dan biasa-biasa saja. Sayang, ada beberapa rilisan yang luput dari radar. Seperti misalnya album Species At War milik Rotten Sound yang terlambat didengarkan, dan bikin saya agak menyesal kenapa tidak berangkat menonton aksi mereka di Jakarta dan Bali, baru-baru ini. Saya juga belum menemukan album baru Cult of Luna Vertikal, Portal Vexovoid, dan Intronaut Habitual Levitations yang masih bikin saya penasaran luar biasa.

Alhasil, sembilan album ini yang mengisi hari-hari saya selama hampir empat bulan terakhir. Sedikit banyak, rilisan-rilisan ini juga berhasil mengalihkan perhatian saya dari surat kabar dan televisi (kecuali tayangan sepakbola), semakin muak dengan suasana politik dalam negeri, tidak peduli dengan kasus Eyang Subur, dan akhirnya memutuskan untuk meng-unfollow akun @SBYudhoyono karena tidak ada kesamaan selera musik.


Darkthrone – The Underground Resistance

Darkthrone seperti kembali ke akarnya dengan memainkan komposisi black/death metal yang klasik di album anyarnya, The Underground Resistance. Begitu melimpah riff-riff gitar yang thrashing berpadu dengan drumming bertempo sedang yang seakan menggeser sound crust-punk yang sempat mereka mainkan pada beberapa album terakhir.

Enam track di album yang kelimabelas ini memaksa kita untuk menengok pada hikayat musik Hellhammer, Celtic Frost, Bathory, atau King Diamond. Jarang-jarang Darkthrone bisa menulis musik yang ‘nyaman’ di telinga dan epik macam “Dead Early”, misalnya. Itulah contoh formula classic metal dari era 80-an. “Come Warfare, The Entire Doom” menyitir solo gitar yang pekak di awal lagu, disambut mantra vokal yang serak mengganggu dengan durasi hampir sembilan menit.

Bahkan nomor paling panjang, “Leave No Cross Unturned” (13:49 menit) terdengar lembut dengan clean vocal, koor dan teriakan melengking yang khas. Ini seperti Darkthrone yang kembali menemukan tahta musikalnya, dan otomatis The Underground Resistance disebut-sebut sebagai album terbaik mereka sejak Sardonic Wrath (2004). Sekarang, Fenriz dan Nocturno Culto tak perlu berdebat kusir lagi mengenai identitas ‘metal’ mereka kepada fans dan media. Sebab Darkthrone sudah pulang.

Anthrax – Anthems

Sesungguhnya tidak ada yang istimewa dari Anthems, mini album yang dirilis Anthrax pada bulan April 2013 ini. Itu hanya perayaaan Scott Ian dkk atas kecintaannya pada musik rock lawas dan penghormatan bagi musisi idola mereka. Sudah seperti teori bahwa band yang sudah merilis banyak album dan mencapai kategori ‘kult’ sebaiknya segera merilis album tribut.

Jangan melupakan sejarah, don’t forget the roots, begitulah istilahnya. Hal itu yang kemudian dilakukan oleh Scott Ian begitu tahu album terakhir mereka, Worship Music (2011), ternyata tidak terlalu berhasil. Membuat album seperti Among The Living atau State of Euphoria mungkin sudah terlalu melelahkan bagi mereka. Toh, untungnya tidak ada sistem degradasi dalam komposisi The Big Four (bersama Metallica, Slayer, dan Megadeth).

Posisi mereka sudah aman, dan seperti bersekongkol dengan Dave Mustaine untuk merilis album yang biasa-biasa saja belakangan ini. Anthems juga tidak akan mencapai kapasitas seperti album tribut Garage Days-nya Metallica atau Undisputed Attitude-nya Slayer. Lagipula, siapa yang bisa terkejut jika Anthrax (hanya) mampu mengkover lagu-lagu milik Rush, AC/DC, Cheap Trick, atau Thin Lizzy. Positifnya, ada stok baru dalam setlist konser Anthrax berikutnya, kemungkinan besar di sesi encore.

Skid Row – United World Rebellion; Chapter One

16 April 2013, Skid Row resmi merilis EP yang sudah bisa saya temukan melalui bantuan situs mesin pencari. United World Rebellion; Chapter One dibuka dengan “Kings of Demolition” yang memiliki hook bernas ala “Slave To The Grind”. Pola serupa juga ada pada nomor “Let’s Go”. Tembang rock-ballad yang sendu dan akustikal diwakili oleh “This Is Killing Me”. Dua lagu sisanya, biasa-biasa saja. Semenjak Subhuman Race (1995), saya memang sudah jarang mendengarkan Skid Row.

Namun EP ini lumayan untuk mengobati luka. Saya harus melupakan kharisma Sebastian Bach, dan mulai memuji kerja keras Johnny Sollinger yang sudah melaksanakan tugasnya dengan baik. Lagipula masih ada Scotti Hill dan Dave ‘Snake’ Sabo yang bisa menjamin ada sound gitar yang gahar dan melodi yang mempesona. Judul album dan desain sampulnya memang cukup ‘revolusioner’. Liriknya pun sekarang lebih matang dan sudah bisa berbicara soal banyak hal. Karena, Ricky is not a young boy, anymore.

Voivod – Target Earth

Voivod agak susah dipahami pada Target Earth, album studio ketigabelas yang mereka rilis awal tahun ini. Sepeninggal Piggy (gitaris), datanglah seorang pria yang mengaku fans Voivod, Daniel Mongrain, yang pernah mengisi gitar di Martyr, Gorguts, Cryptopsy hingga Alcohollica. Guru gitar ini coba meminjam ‘arwah’ Piggy yang masih menempel di musik Voivod, lalu menekannya lebih jauh ke ranah prog-metal yang lebih futuristik. Dia bersama bassist Jean-Yves ‘Blacky’ Theriault menjadi penulis musik utama pada Target Earth.

Konon mereka juga mengutip King Crimson sebagai pengaruh besar untuk kord yang bertebaran pada sepuluh nomor yang tersedia. Pantas saja, durasi lagu cenderung lebih panjang daripada yang biasa direkam Voivod sebelumnya. Lebih kalem, presisi, dan tidak gegabah. Ada beberapa lagu yang beraroma space-rock dengan sentuhan jazzy seperti “Warchaic” atau “Kaleidos”. Sebuah album yang bisa jadi akan di-cap membingungkan oleh penggemar album Killing Technology (1987) atau Nothingface (1989). Tambahkan keyboard yang penuh, maka ini akan menjadi Nocturnus. Tambahkan sound gitar yang ambience, ini bakal seperti Cynic. Dan Devin Townsend masih bisa tersenyum sambil mengelus jenggot.

Suicidal Tendencies – 13

Berbeda dengan Voivod yang suka ragu-ragu, album 13 milik Suicidal Tendencies sudah berani menghentak sejak track pembuka ‘Shake It Out’ dan langsung memamerkan sesi air-guitar. Hampir setiap nomor dipenuhi dengan beat yang mengocok dan refrain yang anthemik. Ya, tetap ada air-guitar di sela-selanya. Pionir crossover thrash metal asal Los Angeles ini sangat paham bagaimana menyilangkan beragam genre musik, seperti sama mudahnya dengan mengikat bandana di kepala. “Make Your Stand” seperti rap-metal dengan vokal dan gitar yang terus meracau.

Sementara “Slam City” bisa bermutasi jadi hard-rock dengan koor vokal yang lantang. Angka “13” yang jadi titel ada memiliki banyak tafsir; album yang berisi 13 lagu, album studio yang ke-13, album penuh pertama dalam kurun waktu 13 tahun, dan tentunya karena dirilis pada tahun 2013. “13” itu sarat akan riff gitar yang gahar dan parade headbanging tanpa henti. Jika sudah begitu, maka kenikmatan apalagi yang hendak kau dustakan?!

Ghost – Infestissumam

Korelasi antara musik heavy metal dan reliji seperti tidak pernah habis untuk dibicarakan. Ghost baru saja melepas Infestissumam awal bulan ini. Belakangan ini, mereka lebih suka memakai nama Ghost B.C – mungkin untuk menegaskan tema dua album terakhir mereka yang konon berbicara soal tuhan, iblis, nasrani, dan bahkan anti-kristus.

Ghost memainkan musik yang dipengaruhi Black Sabbath, Blue Oyster Cult, dan King Diamond, dengan syair-syair kuno ala Messiah dan Gregorian, serta penampilan sensasional layaknya Kiss dan Marilyn Manson. Infestissumam memang terdengar lebih megah dan kolosal dibanding Epos Eponymous (2010) yang menurut saya biasa saja, bahkan buruk. Mulai dari “Per Aspera Ad Inferi” yang anthemik, “Year Zero” yang penuh mantra, atau “Body and Blood” yang melodius dan agak mengingatkan pada HIM. Memang dandanan kostum dan panggung teatrikal bisa berakhir sebatas sensasi serta lelucon belaka jika tidak diiringi dengan musik yang berkualitas.

Lalu, apakah Ghost Ini termasuk band yang serius, sekedar hiburan, atau bahkan lelucon?! Terlalu dini untuk menilai. Biarkan saja itu menjadi misteri. Bukankah misteri itu adalah salah satu hal yang bikin heavy metal itu jadi lebih menarik?! Namun, satu hal yang saya tahu pasti, Ghost masih jauh lebih keren setelah kita tahu kalau Kiss hanya pintar berdandan dan merias wajah, Marilyn Manson cuma mencari sensasi dan uang dengan merobek injil, dan Lady Gaga itu musisi paling blasfemik menurut versi FPI.

Kvelertak – Meir

Paska kesuksesan debutnya, sindrom album kedua tampaknya tidak pernah terjadi pada Kvelertak. Buktinya mereka makin mantap saja selepas merilis Meir, sebulan yang lalu. Anak-anak muda Norwegia ini mempertahankan resep dan formula yang sudah bikin musik mereka berhasil sejak awal; stoner-metal yang lugas dan refrain punk/HC yang menghantam. Saya suka sound gitarnya yang sangat liar dan apokaliptik di sejumlah nomor. Itu bisa terdengar di “Apenbaring” atau “Manelyst”.

Sedangkan “Trepan” terkesan purba dan raw layaknya band black metal dari tanah air mereka. “Bruane Brenn” bahkan bisa unjuk solo gitar melengking ala melodi glam/hair-metal. Album yang diproduseri oleh Kurt Ballou (Converge) ini hanya sedikit menajamkan sound musik Kvelertak supaya lebih menampar tepat di wajah. Desain sampulnya masih jadi pekerjaan John ‘Dyer’ Baizley (Baroness) dan tetap istimewa. Hal yang baru di Meir hanyalah penggunaan gitar akustik yang lebih banyak, variasi tempo dan ada satu lagu pesta yang berjudul “Kvelertak”. Band metal yang menulis semua liriknya dalam bahasa Norwegia, bukankah itu sangat eksotik?!

Suffocation – Pinnacle of Bedlam

Sejak dulu, Suffocation memang sudah ditakdirkan menjadi death metal’s darling. Sebagai salah satu unit yang paling penting dan konsisten, mereka terus dicintai serta dihormati oleh semua fans death metal di planet ini. Album Pinnacle of Bedlam menyajikan intensitas tinggi dan makin meneguhkan kapasitas para New Yorkers ini sebagai master di bidang penulisan komposisi musik brutal death metal. Sudah tidak terhitung lagi berapa band yang ingin meniru musik Suffoccation, dan semuanya tidak ada yang berhasil.

“Cycles of Suffering” langsung ngebut sejak detik pertama, dan tidak pernah memperlambat tempo. Nomor yang paling ‘komersil’, “As Grace Descends” dijadikan single atas pilihan kompromi antara para personil dan label rekaman. Pilihan yang tepat, video klipnya pun menarik. Lagu-lagu lainnya juga sulit dibantah keperkasaaannya. Growling dan guttural vocal Frank Mullen tetap  maksimal di usianya 43 tahun, dan masih bisa terdengar jelas intonasinya. Duet gitar Terrance Hobbs dan Guy Marchais mampu membagi riff, shredding dan solo guitar hingga terdengar penuh di segala sisi. Dave Cullross (Malevolent Creation, Incantation, Gorgasm) datang menggantikan kursi panas Mike Smith dan berhasil menambah daya serang, kecepatan serta suara-suara bising dari balik set drumnya.

Satu nama yang pantas dapat kredit juga adalah produser Chris ‘Zeuss’ Harris (Hatebreed, Arsis, Suicide Silence) yang memberi sentuhan sound modern bagi musik Suffocation. Menyimak album ini akan membawa kita kepada kejayaan Pierced From Within (1995) – dan juga mini album Despise The Sun (1998). Pinnacle of Bedlam sudah melesat seperti roket dan tidak dapat ditangkis lagi daya ledaknya.

Tomahawk – Oddfellows

Mike Patton memanggil sobatnya, Trevor Dunn, untuk ikut merekam materi baru Tomahawk semenjak Anonymous, tujuh tahun silam. Hasilnya adalah tigabelas track di album Oddfellows yang dirilis melalui label milik Patton sendiri, Ipepac Recordings. Sebelumnya, Trevor Dunn adalah kompatriot Patton di kelompok Mr.Bungle dan Fantomas.

Dibanding rilisan sebelumnya, Oddfellows terdengar lebih simpel dan straight. Sederhana dalam kamus Mike Patton tentu saja berbeda dengan kaidah umum yang berlaku di benak musisi kebanyakan. Album ini lebih tenang, cenderung mengeksploitasi kemampuan vokal dan tata musik yang lebih baru. Ibarat meminimkan sesi jamming dan eksperimental, serta merevisi struktur musiknya supaya terdengar lebih beradab. Ada banyak unsur jazzy tunes di beberapa lagu, seperti “Rise Up Dirty Waters” atau “I Can Almost See Them”. Ini agak kontras dengan komposisi yang berlagak gila di “The Quiet Few” dan “Choke Neck”.

Ketika Patton merapal lirik-lirik penenang, Dunn membetot bass, lalu gitar Duane Denison mengalun dan John Stanier mengetuk gendang, saat itulah dasar-dasar musik rock seperti kedatangan alien yang entah dari planet mana. Mungkin dalam dunia kreatif Patton, perlu disadarkan kalau ia punya terlalu banyak proyek musik dan terlalu sedikit waktu yang ia miliki. Dalam benak kecil saya cuma berharap Patton tidak terlalu capek dan fokus saja pada reuni Faith No More tahun ini. Tetapi, apakah itu mungkin?!

Pissed Jeans – Honeys

Ada dua unit punk/hardcore mutakhir yang selalu saya dengarkan beberapa tahun belakangan. Yang pertama adalah Fucked Up, dan yang kedua adalah Pissed Jeans, kuartet asal Pennsylvania yang berada di bawah asuhan label Sub Pop. Honeys adalah album keempat mereka yang dirilis awal tahun ini. Matt Korvette dkk tetap agresif dan penuh amarah yang meluap di sini. Mereka bisa bermain oldshool punk/HC di “Bathroom Laughter” dan Romanticize Me”, yang sama baiknya ketika menggeber noise-rock di “Cafetaria Food” atau “Male Gaze”. Ini seperti memberikan kursi bagi fans Black Flag, Minor Threat, Bauhaus, dan Jesus Lizard untuk duduk di meja kafe yang sama sambil mendiskusikan betapa cantiknya sekretaris mereka yang baru, atau berapa jumlah kondom yang pernah ditemukan di laci bos mereka.

Pissed Jeans memang cukup cerdas mengambil topik-topik ringan dan menyebalkan seputar krisis paruh baya dalam kehidupan urban. Mereka memotret brengseknya dunia lewat kacamata vokalis Matt Korvette, yang sehari-hari berprofesi sebagai pegawai asuransi. Sungguh perspektif yang tepat, bukan?! Cukup jelas kalau Honeys adalah opsi yang tidak terlalu manis untuk dinikmati sepulang dari rutinitas kantor yang membosankan. FTW!

*Artikel ini sebelumnya dimuat pada situs Jakartabeat.net