something to believe in
something to believe in

Di malam natal tahun 1989, Bret Michels tiba-tiba mendapat telpon yang mengabarkan kalau sahabat baik sekaligus bodyguard-nya yang bernama James Kimo Maano ditemukan tewas di sebuah kamar hotel di Palm Springs, Amerika Serikat. Poison pun berduka, dan sang vokalis kemudian menulis sebait lirik yang didedikasikan untuk sahabatnya itu.

“My best friend died a lonely man, In some Palm Springs hotel room, I got the call last Christmas Eve, And they told me the news…”

Konon lagu tersebut bercerita soal kehilangan, keyakinan dan juga harapan. Idenya bersumber dari berbagai peristiwa yang pernah ditonton dan dirasakan Bret. Ada banyak potongan slide di bagian liriknya. Bret bahkan tanpa sungkan langsung menyerang pemuka agama yang korup di awal liriknya.

“Well I see him on the TV, Preachin’ ’bout the promised land, He tells me to believe in Jesus, And steals the money from my hand, Some say he was a good man, But Lord I think he sinned, yeah…”


Kemudian ia mengenang kerabatnya, seorang veteran perang Vietnam. Soal nasib serdadu malang yang dikirim untuk berperang – yang sepulang dari medan tempur tidak dipedulikan negara dan musti kehilangan segalanya.

“Twenty-two years of mental tears, Cries a suicidal Vietnam vet, Who fought a losing war on a foreign shore, To find his country didn’t want him back, Their bullets took his best friend in Saigon, Our lawyers took his wife and kids, no regrets…”

Bret juga menyaksikan potret rakyat miskin dan tunawisma yang terlantar.

“I drive by the homeless sleeping on, a cold dark street, Like bodies in an open grave, Underneath the broken old neon sign, That used to read, Jesus Saves.”

…yang membuatnya prihatin dan dia pun menghujat kaum borjuis yang begitu tamak mengeruk kekayaan.

“A mile away live the rich folks, And I see how they’re living it up, While the poor they eat from hand to mouth, The rich is drinkin’ from a golden cup, And it just makes me wonder, Why so many lose, so few win…”

Saya menemukan lagu “Something To Believe In” dari kaset album “Flesh & Blood” sekitar tahun 1991-1992. Saya yang saat itu masih duduk di bangku SMP musti menabung sekitar dua minggu untuk bisa membeli album ini di toko kaset terdekat. Pada tahun itu, harga kaset masih 7000 atau 8000, kalau tidak salah. Saya agak lupa apa motif utama saya membeli album itu. Sebab sebelumnya saya belum pernah mengenal atau mendengarkan Poison, satu lagu sekali pun!

Mmmhh, mungkin ini hanya gara-gara nama bandnya saja yang menarik dan mengandung ‘racun’. Atau buah rekomendasi dari seorang temen yang meyakinkan kalau Poison itu layak disimak bagi fans musik rock/metal yang masih pemula seperti saya. Yah, itu alasan yang cukup logis dan masuk akal. Di jaman pre-internet dan minim media musik, membeli album rekaman itu termasuk perjudian yang nekat – apalagi dalam kasus band yang tidak pernah kita kenal sebelumnya.

“Flesh & Blood” adalah perkenalan pertama saya dengan Poison. Semua lagunya juara di situ. Mulai dari “Unskinny Bop” hingga “Life Goes On”. Semuanya jadi favorit. Tapi terus terang “Something To Believe In” yang paling menarik perhatian dan selalu saya ulangi putar berkali-kali. Tidak pernah bosan. Sampai hari ini, setidaknya saya sudah tiga kali membeli Kaset “Flesh & Blood” – gara-gara hilang, rusak atau dipinjam tidak kembali.

Saya jadi ingat, ada fakta unik pernah diucapkan seorang kawan, “Sekarang ini album dan merchandise Poison itu banyak diburu. Karena lebih langka, collectible, dan tentu harganya jauh lebih mahal dibanding band-band lain di jamannya.”

Hari ini, mendapatkan kawan diskusi soal Poison tentu akan menyenangkan. Meski saya sadar jumlahnya mungkin tidak terlalu banyak. Karena kebanyakan pencinta heavy metal lebih ‘menggauli’ Motley Crue, Skid Row, Cinderella, atau Guns N’ Roses. Sedangkan Poison adalah opsi yang ke-sekian, setelah band-band yang disebutkan tadi. Bukan prioritas, tapi juga bukan ‘anak bawang’ kok.

Ini mungkin karena Poison dianggap terlalu ‘lembut dan sopan’ untuk ukuran band glam/hair metal yang kudunya seliar binatang. Musically, Poison pun terdengar lebih rock dan bluesy. Kesan ‘nakal’-nya memang kerap agak nanggung. Tapi yang tidak bisa dipungkiri, selalu ada nama Poison setidaknya di setiap daftar band, album atau lagu glam/hair metal terbaik sepanjang masa. Minimal masuk sepuluh besar lah…

Eh sebentar. Tahukah anda, bahkan seorang Slash pun tidak terpilih dalam audisi sebagai gitaris Poison!
Say hi to CC Deville!…

poison di era 'flesh & blood' [1990]
poison di era ‘flesh & blood’ [1990]
Pada dasarnya, “Something To Believe In” adalah tipikal lagu power-ballad yang klasik. Diawali dengan denting piano, kocokan gitar akustik, koor vokal, hingga solo gitar yang menggetarkan. Sempurna. Lagu ini juga yang bikin saya jatuh hati pada Poison, sebuah band glam/hair metal yang menurut saya paling serius dan elegan di jamannya.

Namun berbicara soal lagu balada rock, nasib baik sepertinya lebih berpihak pada “November Rain”-nya Guns N’ Roses, yang lebih populer dan diapresiasi lebih tinggi. Padahal, dua tahun sebelum ada “November Rain”, Poison sudah lebih dulu melahirkan lagu balada rock yang panjang dengan intro piano yang menyentuh dan sayatan gitar solo yang dahsyat berjudul “Something To Believe In”.

Bahkan dengan lirik yang lebih kuat, juga kritis dan tanpa harus merusak pesta pernikahan!

“You take the high road,
And I’ll take the low road…”

* Soal khazanah glam/hair metal, saya sarankan untuk berguru pada kawan saya, Nuran Wibisono. Ah saya jadi ingat dia juga pernah menulis soal lagu Poison berjudul “Life Goes On” di blog-nya.