photo by hendisgorge
photo by hendisgorge

Hari Minggu, 20 Januari 2013, adalah rangkaian seri Eternalize Tour di Levels Brewhouse Malang bagi tiga band asal Bandung; Pure Saturday, The Milo, dan D’Ubz – plus dua unit musik lokal, Atlesta dan Crimson Diary, sebagai opening acts. Skip dulu tentang band yang lain. Kali ini saya hanya mau Menyoal tentang D’Ubz dan sesi disko darurat yang mendadak melemparkan kita ke era delapan-puluhan…

Sejujurnya, yang saya tahu tentang D’Ubz itu hampir nihil. Beberapa hari sebelum show saya hanya mendapati bahwa itu band proyek dari ‘bocah-bocah tua’ anggota Pure Saturday, The Milo, Burgerkill, Homogenic/Powerpunk dan Sonic Torment yang memainkan musik-musik era 80-an. Itu saja, tidak lebih.

“Tonton aja entar. Kejutan deh!” sumbar Ramdan [gitaris D’ubz / bassist Burgerkill] sambil tersenyum pas ketemu di sudut venue. Ya, saya jadi makin penasaran, meski belum juga berani memasang ekspektasi yang begitu tinggi pada band ini.

“D’Ubz itu apa sih artinya?” tanya saya iseng pada Ramdan [gitar] dan Ayik [vokal] sebelum mereka naik ke atas panggung. Sambil tertawa, mereka jawab itu ‘pecun’. Sepertinya agak susah untuk dijelaskan. Sebaiknya anda cari saja artinya melalui mesin pencari.

Ketika D’Ubz tampil, saya agak mundur ke belakang. Duduk di meja sambil menggenggam segelas beer. Oke, saya mau santai dan hanya ingin menonton penampilan band ini dengan tenang. Lalu… kemudian… mereka pun beraksi…

“Everybody wants you,
Everybody wants your love.
I’d just like to make you mine all mine.
Na, na, na, na, na, na, na, na, na, na.
Baby give it up.
Give it up, Baby give it up…”

“Give It Up” [KC and The Sunshine]

Suasana sontak pecah. Beberapa orang tampak mendekat ke arah stage dan mulai turun ke lantai dansa. Ikut bernyanyi dan bergoyang mengikuti beat yang tercipta dari semua instrumen D’Ubz.

Kemudian berturut-turut saya menyaksikan mereka mengkover beberapa lagu berikut ini dengan fasih…

“Take On Me” [AHA]

“La Isla Bonita” [Madonna]

“Big In Japan” [Alphaville]

“Gold” [Spandau Ballet]

Saya sendiri agak shock tatkala Ayik bisa bernyanyi dengan sangat baik, merdu dan juga skillful. Gitaris Sonic Torment yang bersenandung?! Sesekali saya juga melirik aksi drummer Gebeg yang memang selalu menghibur bagi mata dan telinga. Ketukannya soulful. Pas. Gestur tubuhnya unik, selalu bergerak dinamis mengikuti tempo. Bahasa tubuhnya itu sudah cukup menjelaskan kalau ia sangat menikmati musik yang dimainkan.

Meski hanya menyanyikan lagu-lagu kover, namun D’Ubz menggarapnya dengan cukup serius dan matang. Nyaris sempurna dan mungkin sudah mirip seperti aslinya. Saya pikir ini main-main, tapi ternyata D’Ubz adalah sebuah band yang serius. Bahkan, mungkin band pop/jazz yang biasa manggung reguler di kafe pun tidak pernah bermain sebaik mereka. Trust me, I’m serious.

Fun Fact; Ada penonton [baca; metalhead] yang usil merekues lagu “Golok Berbicara” [Sonic Torment] dan “Darah Hitam Kebencian” [Burgerkill]. Ayik dkk hanya tersenyum. Lalu kembali melanjutkan setlist-nya dengan lagu kover berikut…

“Tentang Kita” [KLA Project]

“Bizarre Love Triangle” [New Order]

“Karma Chameleon” [Culture Club]

“New York, Rio, Tokyo” [Trio Rio]

Sialan, saya masih sangat ingat dengan beberapa bagian nada dan lirik lagu-lagu tersebut. Untungnya saya tidak merasa terlalu tua untuk hal ini…

Ah, band ini sungguh menghibur. Terutama bagi mereka yang pernah dihidupi oleh musik-musik disko atau new-wave di era 80-an. Sesungguhnya saya juga bukan penggemar berat musik-musik seperti itu. Hanya saja sejak dulu memang sudah sering mendengarnya dari tapedeck milik keluarga, program hits radio atau kadang nonton klip-nya yang terselip di MTV. Jadi yah sekedar cukup akrab saja di telinga.

Malam itu penonton sedikit lebih ‘berumur’ mungkin agak terhibur dan mulai bersyukur. Menyenangkan bisa mendengar kembali lagu-lagu bagus yang sudah agak susah ditemukan [atau diciptakan] di jaman sekarang. Tembang-tembang yang memang sepertinya ditakdirkan untuk selalu abadi. That’s why it’s called…Evergreen.

“Kami memang tidak akan pernah bikin lagu sendiri,” ujar Ramdan selepas manggung, seperti berjanji. Ayik pun ikut tersenyum dan mengangguk setuju. “Ini sekarang kita masih ngulik lagu Barcelona-nya Fariz RM. Belum jadi. Susah euy!”

Dan malam itu setelah pertunjukan, obrolan masih terus berlanjut. Masih ada sedikit beer yang tersisa untuk dinikmati bersama kawan-kawan. Dalam suasana yang hangat, intim, dan juga menyenangkan.

And I was died to the disco, those night…

* Artikel ‘iseng’ ini sebenarnya cuplikan dari ulasan lengkap tentang konser Eternalize Tour di Malang yang belum di-published.

* Cek foto-foto live D’Ubz oleh Hendisgorge di sini. Btw, follow juga akun twitter D’Ubz yah!…