thoolik

Obrolan yang tidak terlalu sedikit bersama Astu Prasidya alias Thooliq tentang profesinya sebagai animator dan videografer. Arek Malang ini dengan lugas menceritakan soal serial animasi ayam yang suka bertingkah bak rockstar. hingga proses penggarapan dua klip Filastine yang penuh resiko. Kepala sekolah yang rela berbagi meski tanpa slip gaji ini juga mengungkap daftar lagu dan film favoritnya, serta kecintaannya sedari kecil kepada sosok Donal Bebek.  

Sejak kapan anda mengenal dunia animasi dan videografi?
Waktu masih kecil banget. Tapi mulai serius mempelajari animasi dan audio visual itu mulai kuliah.

Oya, animator itu biasanya doyan menggambar di masa kecilnya ya?
Aku suka menggambar sejak kecil, nggambar apa aja. Bahkan SD kelas 5 aku sudah bikin komik. Agak memalukan, dulu aku bikin komik detektif konyol yang agak semi porno. Semaunya aja. Hahahaha…

Dan konon anda dulunya berangkat dari animasi sebelum menyentuh dunia videografi?
Seingatku sih berbarengan. Aku mempelajarinya hampir bersamaan, dan makin sadar kalau animasi dan videografi itu adalah akumulasi dari seni-seni yang pernah aku pelajari.

Mana yang sebenarnya lebih suka anda garap; film animasi, dokumenter atau klip musik?
Semuanya suka. Sementara ini, pekerjaan utamaku adalah animasi. Di sela-selanya aku bikin video klip dan film pendek juga biar nggak bosen. Sebelumnya beberapa kali terlibat di dokumenter, tapi ngerasa kurang cocok. Sekarang cukup sebagai penggemar saja, bukan bikin. Banyak teman-teman yang aku kenal jauh lebih hebat dalam membuat film dokumenter, seperti Ucu Agustin, Darwin Nugraha, Aryo Danusiri, Lexy Lambadeta, Andi Bachtiar Yusuf, dan lain-lain. Mereka itu para filmmaker dan dokumenter yang luar biasa.

Menurut anda, seberapa perlu mengangkat karakter atau budaya lokal pada karya animasi Indonesia?
Tentu tetap perlu tapi tanpa harus mengangkat secara terang-terangan. Menurutku yang terpenting secara visual, konsep, dan cerita harus punya ciri yang sangat kuat dan unik. Tidak harus memaksa untuk “kelokal-lokalan”.

Menurut anda, apa yang paling diperlukan untuk menjadi seorang animator handal?
Tentu selain menguasai secara teknis animasi yang benar, harus konsisten dan punya visi, open minded, banyak melihat, mendengar, merasakan, dan pelajari apapun untuk memperkaya wawasan.

Apakah profesi sebagai animator di Indonesia itu sudah cukup menjanjikan menurut anda?
Di Indonesia?! Terus terang belum. Perlu energi yang luar biasa untuk memperjuangkan hal ini. Karena itu dengan teman-teman di studio Digital Global Maxinema [DGM] punya impian untuk membangun industri animasi di Indonesia.

Saya pernah baca kalau banyak animator Indonesia yang memilih cabut ke luar negeri karena di sana mereka dihargai lebih tinggi…
Tak bisa menyalahkan para animator, karena kenyataannya memang begitu. Belum ada bentuk industri kreatif terutama animasi di Indonesia yang sustainable. Tenaga profesional yang sedikit, institusi pendidikan yang gombal mukiyo, banyak sekali jurusan yang berhubungan tapi sangat rendah kualitas pengajar dan kurikulumnya. Pemerintah juga tak tahu-menahu soal bidang ini, stasiun TV hanya mau bayar murah tapi mereka beli semua hak IP (Intellectual Property). Banyak lagi, panjang kalau diceritakan semua, haha.

Pujian dan kritik seperti apa yang pernah anda dengar dari pelaku seni asing terhadap animator Indonesia?
“Are there any animation films from Indonesia? Oh, you have? What a big surprise!”  

Sekarang soal karya anda. Ceritakan sedikit tentang Kukurockyou…
Aku dan teman-teman di studio DGM bikin produk animasi sendiri yang nantinya dipasarkan secara worldwide. Dari Malang untuk Indonesia, dari Indonesia untuk Dunia. Nah, salah satunya adalah serial animasi 3D “Kukurockyou”. Tentang seekor ayam rocker bernama Jagur. Bersama teman-temannya, Jagur hidup di satu kompleks kandang ayam milik seorang peternak ayam di pinggiran kota. Ceritanya tentang kehidupan mereka sehari-hari. Saat ini juga masih berkutat pada produksi Kukurockyou, mengejar satu season selesai.

Anda juga sempat bikin dua klip untuk Filastine yang sarat dengan nuansa sosial. Itu konsepnya datang dari mana?  
Secara dasar pemikiran kita mempunyai frekuensi yang sama. Grey Filastine dibantu Nova mempunyai ide secara global untuk dua klip itu. Aku lalu berusaha menerjemahkan ide-ide itu secara detail dan lebih fokus.

Ada hal menarik di balik proses pembuatan video Filastine itu?
Secara proses semuanya menarik, baik “Colony Collapse” maupun “Gendjer2”. Banyak pengalaman baru yang kita dapatkan. Di “Colony Collapse”, aku merekam video dengan setting-setting yang lumayan riskan. Hampir semuanya menuntut spontanitas dan improvisasi yang tinggi karena kita tak mempunyai ijin resmi di hampir semua lokasi. Misalnya di Lapindo, kita berpura-pura sedang foto pre-wedding. Kebalikan dari shooting “Colony Collapse” yang berdurasi panjang dengan banyak lokasi outdoor, “Gendjer2” dikerjakan hanya dalam satu hari dengan satu lokasi indoor. Siang hari untuk persiapan dan malam untuk shooting-nya. Lagi-lagi harus berimprovisasi karena waktu yang sangat pendek dan peralatan yang minim. Tapi justru proses-proses tak biasa itulah yang jadi sangat menyenangkan.

Anda juga aktif di Akademi Berbagi Malang, bahkan menjabat sebagai Kepala Sekolah. Bisa ceritakan apa itu sebenarnya Akademi Berbagi?   
Akademi Berbagi adalah satu social movement di bidang pendidikan, founder-nya adalah Mbak Ainun Chomsun. Ini semacam gerakan melawan sistem pendidikan kita yang ruwet. Belajar tanpa embel-embel uang, tanpa harus ini-itu. Banyak pengajar adalah praktisi yang sangat ahli di bidangnya. Banyak ilmu yang tak didapat ketika kita di sekolah atau di universitas, tapi justru di sini kita bisa mendapatkannya. Pemateri dan relawan penyelenggara tak dibayar, peserta tak membayar, tempatnya pun pinjam gratisan. Gerakan ini sudah tersebar di seluruh Indonesia, kebetulan sudah hampir 1,5 tahun aku jadi Kepala Sekolah untuk Akber di Malang. Tapi jabatan ini harus terus bergulir, dalam jangka pendek ini harus ada yang menggantikan.

Baru-baru ini anda juga terlibat di pementasan seni Kongkalikong. Saya gak sempet nonton, tapi baca review-nya di beberapa blog. Apa sih peran anda di situ?  
Kongkalikong itu sebuah pertunjukan musikal-monoplay kolaborasi antara aku dan Agnes Christina. Aku di situ sebagai Art & Music Director, juga merangkap Co-Producer. Sementara Agnes adalah Producer, Writer & Monoplay Director.

Tapi, kenapa kok cuma di Malang dan Singapore aja pementasannya?
Sebenarnya hanya karena ada aku dan tim musik dari Malang, lalu Agnes dan Suhaili Safari (aktor Kongkalikong) berasal dari Singapore, lalu pemain violin Kim Eun Hyung dari Korea tapi juga kuliah di Singapore. Selain itu, karena berhubungan dengan funding yang kebanyakan dari Singapore.

Seperti apa pementasannya di Singapore kemarin? Bakal ada rencana show selanjutnya?  
Sangat memuaskan. Pertunjukan terbaik dari dua show sebelumnya di Malang. Semuanya berjalan sangat baik dan lancar, penonton sangat senang dan apresiatif. Bahkan pada waktu diskusi tak ada satu pun yang pulang duluan. Untuk selanjutnya, katanya Esplanade pingin Kongkalikong show lagi di sana dengan skala yang lebih besar, tapi masih tunggu kabar lagi. Rencana selanjutnya ke Kuala Lumpur, Melbourne, Edinburgh (Scotland), lalu beberapa kota di Indonesia kalau ada pendana yang masuk. Mboh sido opo gak, namanya juga rencana dan kepingin, hehe.

Oya, gimana kabarnya proyek musikal yang bernama Ajer itu?
Anu… Sabar masih proses rekaman. Haha…

Berarti akan ada karya rekaman atau album Ajer dalam waktu dekat ini?
Doakan saja tahun ini sudah jadi album beneran.

Apa saja playlist anda dalam sepekan terakhir ini? Bisa album musik maupun film atau buku…
Kalau lagu, theme song-nya Kukurockyou, lagu-lagunya The Lumineers, The Black Keys, Tenacious D, Tame Impala, Of Monster and Men, lalu agak menyimpang, lagu-lagu tango-nya Astor Piazzolla. Kalau film dan buku minggu ini belum sempet, hehe.

Siapakah videografer atau sutradara favorit yang selalu anda kagumi karya-karyanya?  
Pertanyaan kayak gini yang bikin bingung, karena banyak dan aku pelupa, bahkan gak ingat satu-persatu. Tapi ini beberapa yang lagi lewat di otak; Peter Jackson, Tim Burton, Michel Gondry, Martin Scorsese, Akira Kurosawa, Walt Disney, Steven Spielberg, Coen Brothers, John Lasseter, Danny Boyle, Garin Nugroho, dan banyak lagi.

Apa pendapat anda tentang film-film berikut…
G30SPKI ; Untuk karya film, ini sangat keren dan fenomenal. Secara konten, busuk.
The Raid ; Belum sempet nonton.
The Act of Killing ; Belum sempet nonton juga. Pingin banget nonton, tapi mau nonton kok susah banget ya kesempatannya, di Malang juga gak jadi. Malah cuman sempet nonton dokumenter tentang film dokumenter TAOK itu di Al Jazeera.

Apa saja lima video musik favorit anda?
– Hampir Semua video klip Radiohead suka, terutama yang “Talk Show House”.
– Slipknot – Duality
– Beastie Boys – Sabotage
– Coldplay – Trouble
– Sigur Ros – Gobbledigook

Apa saja lima film animasi favorit anda?
– Up
– Mary and Max
– The Gruffalo
– Donald Duck series
– Adam and Dog

Apa film Indonesia terbaik menurut anda?
Garin Nugroho “Teak Leaves At The Temple”. Itu adalah film dokumenter tentang kolaborasi jazz. Mungkin karena suka musik dan film, jadinya ini favoritku.

Terakhir, siapa karakter yang paling mendekati atau bisa mewakili pribadi anda?  
Sepertinya nggak ada yang hampir sama. Tapi ada satu karakter klasik yang aku pribadi ngerasa paling dekat dan sayang sejak kecil; Paman Donal Bebek a.k.a Donald Duck. Dan yah, kadang aku juga merasa kayak dia…

-TheEnd-

*Thooliq tinggal di kota Malang dan bekerja di studio DGM. Selain biasa nongkrong di kedai kopi, pria ini juga bisa ditemui pada akun Facebook dan Twitter-nya. Baca juga artikel profil Thooliq di situs Tembi.

Thooliq’s Videography

2002  
Music Director and Editor for Short Film ; Segenggam Mimpi Buat Adik
Director for Edutainment Animation Movie and  Interactive Game ; CyberKidz Indonesia 1- 4

2004
Director for Video Art ; Jelek
Director for Music Video ; “Fool“ [Progress band]

2005
Director for Music Video ; “Kastol“ [Tani Maju]
Director for Music Video ; “Indahnya Cinta“ [Free-Ze]

2006
Director for Short Film ; Positive+
Director for Video Art ; Crowd in L.A

2007
Director for Documentary film ; Dullah
Director for Video installation ; I, Legal Alien

2008
Animator for bumper ; Bogakalakon Pictures
Director for 3D Animation TV series ; Catatan Si Dian
Editor for short film ; Sugiharti Halim
Producer for short film ; Harimau-Harimau
Tutor for Panasonic KWN ; Maaf Bapak Saya Tak Tahu
Visual artist & Animator for Ugo Untoro ; I Miss U
Visual FX Artist for music video ; “Terluka” [Padi]

2009 – 2013
Producer for documentary film ; Metalitia Rush
Editor for short documentary film ; Proses Hukum Munir
Producer and Director for Art Video ; Untitled
Animator and Visual Artist ; Xanana Gusmao Presentation
Director for Music Video ; “Colony Collapse” [Filastine]
Director for Music Video ; “Gendjer2” [Filastine]
Producer and Director for Animated Short ; Black Journey
Director, Production Designer & Character Design for new 3D animated series ; Kukurockyou
Director & Production Designer for new 3D animated series ; Songgo Rubuh
Director for first Indonesia’s 360 degree dome projection 3D animated film ; Hanoman The Protector
Art and Music Director for Musical Monolog Singapore-Malang Collaboration ; Kongkalikong Project
Director for animation series – Transparency International Indonesia ; Anti Korupsi
Director & Production Designer for new 3D animated series ; Petualangan si USO