dok.malangsubpop
dok.malangsubpop

Di kota Malang hari ini, ada dua institusi yang doyan dan rajin bikin gigs, pertunjukan seni, atau sekedar perayaan bersenang-senang bersama musik dan seni. Dua komplotan itu adalah Koalisi Nada dan Malang Sub Pop. Mereka kadang bekerja atas nama lembaga masing-masing, namun seringkali malah barengan. Agak kesulitan untuk memilahnya, karena orang-orangnya nyaris tetap dan sama saja, haha. Belakangan ini, hampir selalu ada saja hajatan mereka. Saya sampai kewalahan memenuhi undangannya. Terpaksa sejumlah gigs musti saya lewatkan, dan hanya mencontreng beberapa pentas yang saya anggap penting untuk didatangi. Seperti misalnya tiga momen kebisingan berikut ini…   

Chapter I ; Merayakan Kebisingan

Pada 28 Desember 2012 lalu, saya datang untuk ikut merayakan kebisingan di Malang Sub Noise, sebuah gigs sederhana yang diadakan di lantai dasar Houtenhand. Sebentar, ini agak mengagetkan, sebab biasanya acara musik di Houtenhand itu selalu mengambil spot di lantai dua. “Khusus yang ini emang sengaja digelar di bawah biar intim, lebih santai, dan langsung bisa menyapa pengunjung. Lagian kan gak butuh space besar, sebab semua yang tampil ini gak ada yang pake drumset kok,” jelas Eko Marjani, salah satu penggagas acara malam itu.

Dalam rilisan pers yang saya terima, dijelaskan bahwa proyek Malang Sub Noise merupakan sebuah gerakan anti-art yang berangkat dari kebosanan terhadap musik yang selalu diproduksi oleh alat dan cara bermain yang konvensional serta membosankan. Ini menarik. Rasanya bisa jadi alternatif dan wacana baru bagi scene musik di kota Malang, bahwa genre noise/elektronik pun ada. Tanpa harus terkesan serius, berat atau intelek.

Malam itu dimulai oleh Berisik Malam-Malam, alter-ego dari Dansa dan Koka Kola [Akhmad Alfan Rahadi] plus guest musician Angga [Get Panic] yang memainkan musik noise yang cukup berisik dan mengganggu. Dilanjutkan dengan Saturday Nite, unit DJ yang mengusung nada-nada electrogaze rock dan sedikit asupan post-rock. Musically, ini lebih mengawang dan ada beberapa sesi trance di setiap lagunya.

Titik Koma memberi klaim “ruwet, gak jelas, tetapi kita masih ingin untuk terus” pada komposisi musiknya. Sesi ini cuma imajinasi liar dari seorang gitaris tunggal yang kadang diam, lalu tiba-tiba berbuat onar dan penuh hingar bingar. Ratapan Anjing Liar menciptakan bebunyian berisik yang kerap menyalak. Sedangkan Sarajevo mengambil tema ‘penyiksaan’ dalam komposisinya malam itu. Mereka mengutuk perang dengan kacamata sebagai korban.

dok.malangsubpop
dok.malangsubpop

Cak Bagus Eksperamenthil adalah Wakidjo, Dicky dan satria dalam komposisi “Danger of Dengar #3” yang mengolah tata bebunyian dari suara-suara di sekitar. Mereka bahkan menghentikan gerobak nasi goreng keliling tepat di depan venue, dan menyajikan suara latar dari proses penggorengan. Ditambah dengan bunyi kompor yang menyala, air mendidih dan semerbak bau bumbu masakan.

dok.malangsubpop
dok.malangsubpop

Seni memang terkadang begitu pekak, bising dan mengganggu. Pesan mereka sebenarnya cukup jelas dan sederhana; Jangan meremehkan suara dan bunyi di sekitar. Kegaduhan selalu terjadi dalam keseharian. Hanya penyikapan [yang positif] dari pendengar yang bisa membuatnya indah!…

Pas dengan apa yang dicanangkan panitia dalam hajatan ini, “There’s a beauty in chaos!”

Meski agak berbeda opini dengan kawan saya, seorang metalhead militan dan katanya penggemar Burzum, yang hingga akhir acara tak henti-hentinya mengeluh, “Saya dijebak ke acara ini!”. Sementara kawan saya satunya, sedikit terhibur oleh gerobak nasi goreng dan aroma bumbu dapur dari dalam venue. Maklum, dia doyan makan…

Simak dokumentasi acara Malang Sub Noise ; album foto | video highlight

Chapter II ; Kegaduhan Itu Abadi

Beberapa pekan kemudian, saya kembali ke Houtenhand. Kali ini untuk menonton aksi Zoo dalam serial Prasasti Tour-nya. Jarum jam sudah menunjuk di angka delapan malam ketika saya memarkir motor. Dari lantai dua Houtenhand sudah terdengar keriuhan band pembuka. “Baru band pertama, Young Savages,” ucap salah seorang panitia yang sedang jaga lapak merchandise di depan pintu masuk.

dok.hendisgorge
dok.hendisgorge

Saya memilih untuk tidak menonton Young Savages terlebih dahulu, hanya mendengarkan musiknya sayup-sayup dari lantai bawah. Sekilas memang lumayan. Band yang masih tergolong baru ini memainkan musik indie-rock yang pekat dan sedikit raw.

Baru di jeda menuju band kedua saya mulai naik ke atas. Giliran Take This Life, dan band ini memang kudu ditonton. Malam itu, Julius dkk memainkan beberapa repertoir anyar dan lawas. Penyuka Converge atau TDEP pasti langsung doyan sama band ini. Ya, math-metal yang penuh presisi dan cukup akurat. Konon materi albumnya sudah dalam proses akhir dan bakal dirilis tahun ini juga.

Setelahnya, ada Crimson Diary yang seperti hadir untuk menurunkan tensi musik yang ada. Bill dkk menggeber indie-pop dan alt-rock yang meruang. Banyak referensi irama rock 90-an pada sela-sela musik mereka. Karya lagu-lagu mereka sudah mulai akrab di telinga penonton. Band ini kudu segera rekaman dan rilis album juga, sepertinya.

Tibalah saatnya Zoo mengirimkan bebunyian dan pesan-pesan gaduh kepada semesta. Ini musik seberat granit dan eksperimentasi nada yang tidak sederhana. Tentang album “Prasasti” sudah pernah saya ulas pada tulisan terdahulu. Itu album yang penting. Menonton show-nya mungkin akan melengkapi ekspektasi para fans. Meski tidak begitu banyak penonton yang hadir, namun semuanya tampak puas bisa menikmati Zoo yang malam itu tampil begitu gaduh, purba, arif dan sinting.

dok.hendisgorge
dok.hendisgorge

“Agak beda ya ama di Malang. Kalau di Jakarta gak tau kenapa selalu menjadi wilayahnya Zoo. Selalu ramai pas kita maen di sana. Yang nonton juga kebanyakan usia tiga puluhan, dan masih memakai kemeja kantor pas dateng ke venue,” jelas Rully Sabhara kepada saya setelah pementasan. Selanjutnya kami banyak ngobrol soal proses penggarapan album “Prasasti”, termasuk di mana mereka memesan kemasan batu granit untuk packaging album tersebut.

Sepulang dari venue, kepala saya agak berat. Entah karena musik Zoo, terbayang batu granit, atau kebanyakan beer…

“Ah, aku dijebak lagi…” ujar kawan saya yang sepantasnya tidak perlu mengeluh lagi karena dia tampak menikmati suasana bertemu teman-teman lama dan selalu menerima tawaran beer dari sana-sini. Kawan saya yang satunya, agak sumringah sambil menimang-nimang boxset CD kemasan granit seberat 1,7 kg yang baru dia beli dari lapak merchandise.

Simak dokumentasi foto Zoo Prasasti Tour jepretan Hendisgorge di sini.

Chapter III ; Pentas Moesik Zonder Tjinta

Saya harus tersesat terlebih dahulu dan terpaksa bertanya pada satpam kampus UNM [eks IKIP Malang] untuk menemukan letak venue konser Tribute To My Bloody Valentine, malam itu [14/02]. Tiga menit kemudian, saya sudah berjalan menuju pendopo UKM yang berada di tengah taman. Venue ini dihiasi sungai atau kolam kecil, dan dikelilingi beberapa pohon beringin besar. Cool. Mistikal. Agak spooky juga. Atmosfirnya sungguh tepat untuk aura musik shoegaze. Bilinda Butcher mungkin betah berada di venue sekeren ini.

“Iya, kita dapet venue di sini karena kerjasama dan dibantu ama anak-anak Opus, UKM Seni di kampus UNM,” jelas Eko Marjani yang malam itu setia menjaga lapak dagangannya di sebuah pendopo kecil. Tidak terlalu banyak audiens yang hadir malam itu. Entah karena efek dari hujan yang mengguyur kota Malang atau kebanyakan anak muda sedang [berpura-pura] merayakan hari kasih sayang bersama pasangannya masing-masing. Entahlah…

a tribute to mbv
a tribute to mbv

Saya datang agak malam karena menunggu hujan reda, dan terpaksa ketinggalan aksi Cak Bagus Eksperamenthil [masak apa mereka malam itu?] dan Laora [proyek musik potensial]. Namun beruntung saya masih kebagian aksi Intenna. Ini pertama kali saya menonton mereka secara live. Penasaran. Selanjutnya, ada You Know You’re Right, unit post-rock yang digadang-gadang cukup apik dan memainkan nada-nada yang agak repetitif ala Explosions In The Sky.

Crimson Diary seperti bermain di bawah form, jika harus dibandingkan dengan penampilan mereka sebelumnya. Sementara Guttersnipe memainkan musik grunge / noise-rock yang agak susah saya nikmati, meski ada beberapa part yang bisa mengingatkan pada Nirvana atau The Melvins.

Pada umumnya, malam itu banyak masalah pada sound system. Microphone yang mati. Speaker yang ngambek. Distorsi yang berlebihan. Feedback yang tidak disengaja – di luar ekspektasi performer yang sengaja bikin distorsi dan feedback demi kemaslahatan musik shoegaze yang kotor dan lo-fi.

Sayang, masalah tehnis seperti itu memang kerap mengganggu dan bikin musisi tertunduk lebih dalam menatap sepatu. Suasana pun jadi sering hang. Sigh.

Malam itu, saya gagal ‘menjebak’ kawan saya yang biasanya. Dia alasan sakit, #krukupan, dan gak mau keluar rumah. Sementara kawan yang satunya tetep nekat datang, tidak [pernah] merayakan valentine, dan mengaku kenal Kevin Shields

Well, selain artwork poster, kaos acara dan beberapa lagu kover yang gagal, terus terang saya belum melihat perayaan yang bisa mengingatkan audiens pada kehebatan My Bloody Valentine, atau minimal pada betapa pentingnya album “Loveless” bagi hidup mereka. Konser tribut seharusnya tidak sesederhana seperti gigs pada umumnya…

Malam itu, entah disengaja atau tidak, layer-layer distorsi, lo-fi dan wall of noise terdengar lebih banyak daripada apa yang pernah dimainkan oleh My Bloody Valentine…

*after all, thanks buat eko marjani, doni, aga, alo, topan, mamek, otong, alfan, deki bedebah, serta kawan-kawan di koalisi nada, malang sub pop, dan houtenhand. cheers juga untuk iphoel & gimanz. see you on the next gigs…