b235a32a656a9036c174f3ea74b1068e_M

Tahun 2012 bisa dibilang merupakan tahun yang menarik bagi skena rock/metal tanah air, khususnya dalam hal produksi album rekaman. Parameter sederhananya adalah peningkatan yang signifikan dalam hal kuantitas maupun kualitas rekaman. Ya, ini patut untuk dirayakan!

Saya mengamati ada banyak album keren yang dirilis sepanjang tahun ini. Saya selalu sumringah jika mendengarkan album bergenre rock/metal yang tereksekusi dengan apik. Saya juga makin girang begitu mendapati ada sejumlah band lokal yang berani keluar dari zona mapan dan nekat memainkan irama-irama ganjil seperti stoner, sludge, doom, noise-rock, black metal, atau bahkan avantgarde.

Bagi sebagian orang, membuat list akhir tahun adalah sebuah ritual yang menyenangkan. Setidaknya itu juga berlaku bagi saya yang sudah rutin menjalani aktifitas ‘tutup buku’ ini di setiap hari-hari terakhir pergantian tahun. Ini rasanya seperti mengevaluasi isi rak koleksi dan folder musik yang telah saya kumpulkan selama setahun belakangan. Lalu mempertanyakan kembali apakah saya sudah menghabiskan uang, waktu, tenaga dan bandwidth untuk mendapatkan musik yang apik serta bermutu?!


Saya jadi dipaksa untuk memutar kembali beberapa materi musik yang kadang sudah hampir lupa seperti apa bunyinya, atau mencari informasi dan memburu keras rilisan lokal yang belum sempat dimiliki. Hasilnya lumayan, seminggu terakhir ini saya sukses menambah delapan album, dalam kemasan fisikal maupun non-fisikal. Not bad.

Namun yang agak memusingkan dan butuh waktu khusus adalah musti memilih serta memilah puluhan album yang kudu diperas menjadi sepuluh titel saja dan lalu mengulasnya dengan teliti. Biasanya sudah selesai sampai di situ, tapi kali ini tidak. Saya masih harus menyusunnya berdasarkan ranking atau peringkat. Ini pengalaman baru dan untuk pertama kalinya. Terus terang, itu tahapan yang paling sulit dan cukup menegangkan.

Kriterianya cukup simpel dan personal sebenarnya; Saya cuma mengurutkan mana album yang paling saya sukai berdasarkan selera pribadi, seberapa penting nilai dan makna album tersebut, sejauh mana musik dan liriknya bisa lekat di kepala, serta mengingat-ingat lagi seberapa sering album itu diputar dan mampu mengalihkan semua perhatian saya. Untuk semua itu, terima kasih kepada hashtag populer #nowlistening, #nowplaying, dan juga #heavyrotation.

Sejak dirilis, album-album yang terpilih dalam daftar ini sebenarnya sudah menjadi pemenang serta memiliki keistimewaannya masing-masing. Seperti “Jauh Dari Tuhan” yang bakal dekat di hati metalhead lawas, “Men666anas” yang menjaga spirit thrash metal dari pinggiran, “Prasasti” yang arif dan monumental, atau “Taring” yang tajam dan penuh dengan syair anthemik.

Akhirnya, sungguh menyenangkan bisa menuntaskan tahun 2012 ini bersama sepuluh album yang tidak hanya layak untuk dirilis, tetapi juga sangat layak untuk dimiliki, dinikmati dan diceritakan kembali dalam naskah spesial  akhir tahun kali ini.

10. Roxx – Jauh Dari Tuhan [cRott Records / demajors]
Pertama, tips-nya adalah jangan pernah membandingkan album ini dengan “self-titled” yang klasik itu. Sebab itu sama halnya membandingkan “Master of Puppets” dengan “Death Magnetic”. Melelahkan dan tentunya sia-sia saja bukan?! Oke, mari kita move-on. Album ini menandai comeback-nya Roxx setelah sekian lama karyanya vakum dari rak toko musik. Dominasi musik heavy / speed metal masih mampu meraung keras dari tracklist mereka. Tidak sesakti album klasiknya memang, tapi masih ada kutipan-kutipan apik yang cukup relevan untuk mengajarkan generasi muda sekarang tentang cara memainkan musik cadas yang tepat. Sektor ini mungkin yang bisa menutup kedodoran mereka di sisi lirik – yang sepertinya terlalu memaksakan untuk terlihat segar dan jenaka. Kekurangan tersebut juga semakin termaafkan begitu mendengar kualitas produksi sound yang gagah dan garang di album ini. Riff-riff gitarnya melemparkan memori kita pada kedigdayaan musik metal pada era awal 90-an. Itu yang tersimak dari track macam “Ambil Nyawaku” atau “Toa Maut”. Kesimpulannya, “Jauh Dari Tuhan” adalah opsi untuk mendekatkan kuping-kuping generasi muda akan musik cadas yang lebih baik dan benar. Rilisan ini juga masih layak untuk dimiliki daripada anda mengantri membeli album so-called-rock di minimarket terdekat.

09. Siksa Kubur – St.Kristo [Podium Musik / Rottrevore]
Kabarnya titel album “St.Kristo” itu diambil dari nama almarhum Kristoforus Dwinanda Satrio, sobat karib mereka sekaligus pendiri label metal kenamaan, Rottrevore Records. Bahkan konon semua lirik di album ini juga bercerita tentang sosok mendiang Rio. Tak ayal, “St.Kristo” ditasbihkan sebagai tribut khusus bagi pria yang telah mendedikasikan hidupnya untuk scene musik metal di negeri ini. Album ini pun semakin penting karena berhasil menyuguhkan progres yang berarti dari musik Siksa Kubur itu sendiri. Komposisi death metal old-school ala Cannibal Corpse, Deicide, Cryptopsy dan Morbid Angel tidak pernah kehilangan taji di tangan Andre Tiranda dkk. “St.Kristo” menyajikan total tujuh lagu yang tereksekusi dengan baik dalam durasi sekitar 45 menit. Mulai dari petikan gitar dan sajak-sajak gelap pada “Burung Bangkai”, atmosfir stadion sepakbola di “Merah Hitam Hijau”, hingga aransemen ngebut yang melesatkan “Kelelawar Hijau” menuju kecepatan maksimum. “St.Kristo” adalah album yang sangat personal dan didedikasikan pada figur yang tepat. Rio pasti tersenyum di surga jika tahu Siksa Kubur dan fans-nya bisa melagukan ‘requiem’ yang syahdu dalam alunan genre musik favoritnya, death metal yang keras dan garang!

08. Bromocorah – Men666anas [Pacu Cepat / demajors]
Kabar baiknya, musik thrash metal masih bertahan hingga di penghujung tahun 2012. Di ranah lokal, Bromocorah adalah salah satu aktor pentingnya – di samping nama-nama seperti Gigantor, Oracle, Grave Dancer, atau Speedkill. Kuartet asal Bandung ini menyapu jalanan dengan raungan musik thrash/crossover yang cukup ngebut dan ugal-ugalan. Imej horor dan komikal juga terpancar kuat dari sisi artwork-nya. Memang yang paling menarik dari kebanyakan album thrash metal itu adalah kita bisa ‘judge by it’s cover’. Ya, sampul depan CD ini sudah bisa menggambarkan semuanya. Jalanan, deru motor RX King, celana jeans selutut dan molotov. Bromocorah mungkin adalah nama yang seram di telinga kalangan awam. Mereka pun sering mengklaim kalau lahir dan datang dari pinggiran. Tapi itu tidak serta-merta meminggirkan kualitas musik mereka. Track seperti “Aku Thrash”, “Perang Pejuang”, atau “Pedal Pelana” bisa menunjukkan kapasitas mereka dalam bermusik. Penyuka DRI, SOD, Anthrax atau Municipal Waste setidaknya perlu menoleh pada rilisan ini. Sebab “Men666anas” ikut menjaga kaidah thrash metal untuk selalu tampil muda, sedikit urakan dan tetap bersenang-senang. Yeah, it’s about having fun!

07. Suri – Mothology [30 Records / demajors]
Musiknya diklaim sebagai ‘heavy but not hard”. Konotasinya, berat tapi tak begitu keras. Oke, perumpamaan terbaik adalah seperti musik Black Sabbath, Earth, Kyuss, atau Electric Wizard. Get it?! “Mothology” menjustifikasi motif dan konsep bermusik mereka yang ingin tampil minimal namun tetap berdaya output maksimal. Hanya ada tiga personil yang bermain heavy dan bluesy dengan instrumennya masing-masing. Secara konstan, Suri telah menabrak kuping dengan musikalitas rock yang berat dan bertubi-tubi. Tanpa ampun, tiada kompromi. Ini juga akan terdengar seperti musik metal dalam versi slow motion. Dalam imej psikedelia yang berisik, mereka mengumbar topik-topik tentang hidup, amarah dan konflik sosial. Ini mungkin band lokal yang paling benar dalam memainkan dan menghayati inti musik stoner rock. “Mothology” seperti menawarkan kiamat kecil yang bersuara berat dan mengalun lambat dari tabung amplifier ber-merk Orange. And we’ve been stoned already.

06. Hands Upon Salvation – Entity [Hellavila Records]
Sejak booming musik metalcore di skena domestik, agak sulit menemukan band yang jitu dan berani tampil beda di genre tersebut. Semuanya tampak terjun bebas menjadi medioker dan terdengar seperti [meniru] Burgerkill. Terkesan dipaksakan. Alhasil jatuh dan membosankan. Untungnya itu tidak terjadi pada Hands Upon Salvation, sebuah unit lawas asal Jogja. Setelah berbagai proyek singel hingga kompilasi, Agus dkk kembali dengan album anyar bertajuk “Entity” di tahun 2012. Mereka merekam “Entity” di studio Padepokan Bagong Kussudiardjo, tempat para seniman besar seperti Djaduk Ferianto dan Butet Kertaradjasa mengasah ilmunya. Di situ Agus dkk menajamkan konsepsi musiknya sambil menjaga kesakralan metallic hardcore ala Eropa yang gelap dan suram. Hasilnya cukup emosional, tajam, juga penuh amarah. Komposisinya sebrutal apa yang pernah dimainkan oleh Congress, xLiarx, atau Regression. Album yang berisi 10 lagu ini juga punya tema dan lirik yang tergarap serius. Seperti “Envision The Forsaken” yang memimpikan kebebasan dan terinspirasi dari film Jerman karya Uli Edel berjudul gThe Baader Meinhoff Complexh. Takdir dan kematian pada lagu gAs Winter Callsh yang bersumber dari gOtoko-tachi No Yamatoh, film Jepang karya sutradara Junya Sato. gChapter #2; Greyh yang sentimentil diadaptasi dari novel klasik Haruki Murakami yang berjudul gNorwegian Woodh. Referensi yang cukup menarik. gEntityh membicarakan membicarakan analisis spiritual, nihilisme, fasisme, kebebasan dan amarah dengan cara-cara yang elegan, pintar, serta jauh dari kalimat klise. Musically, intense. Lyrically, psyched!

05. Disinfected / Motordeath – Split CD [Karnivora Prod / ESP]
Jika disuruh memilih album death metal paling keren tahun ini, pilihan saya akan jatuh pada proyek split yang digagas oleh oldschool demonic-duo, Disinfected dan Motordeath. Dua nama itu dikenal sebagai pelopor genre musik ekstrim di skena underground-metal kota Bandung sejak era 90-an. Split album ini adalah karya terbaru dari kedua band setelah vakum lebih dari enam tahun sejak terakhir kali mereka merilis album maupun singel. Disinfected bermain efektif dengan riff-riff gitar yang groovy dan drumming atraktif. Lagu seperti “Urban Zombie” dan “Anjing-Anjing Nusantara” adalah bukti sahih kapasitas mereka dalam meracik musik. Sementara Motordeath tampil efisien menonjolkan blastbeat yang intens dan penuh presisi. Itu bisa disimak dari track seperti “Manfestation of Desire” atau “Hiperbola Langkah”. Delapan lagu yang ada di split-album ini mengumbar lirik-lirik sarkasme dan satir tentang fenomena sosial yang terjadi di Indonesia. Tema Itu juga terpancar kuat dari artwork garapan Gustav Insuffer, salah satu ilustrator terbaik di ranah cadas Indonesia. Sampulnya menggambarkan kerusakan sistem dan tatanan nilai oleh sekelompok orang yang disimbolkan sebagai anjing dan babi. Ikon-ikon budaya khas Majapahit pun tampil sebagai sisa-sisa kemegahan dan kejayaan nusantara. Rilisan ini membuktikan kalau musik ekstrim itu selain destruktif dan menyeramkan, juga bisa memotret kondisi sosial dengan cara-cara yang aktual, kritis dan eksotik.

04. Zoo – Prasasti [Yes No Wave Music]
Memasukkan album kemasan batu granit seberat 1,7 kilogram ke dalam list ini sesungguhnya bukan sebuah keputusan yang berat. Menyimaknya dengan sungguh-sungguh lalu mengulasnya ke dalam bentuk tulisan itu yang jelas jauh lebih berat dan menantang. Mengernyitkan dahi pada bebunyian hibrida antara eksperimental, noise-rock, math, dan free-jazz adalah tindakan yang logis serta rasional. Apalagi jika di tengah lalu lintas musik yang sibuk itu ada elemen etnik yang sejujurnya kurang pantas jika disebut eksotik. Alhasil, semua komposisi musik yang ada di “Prasasti” ini cukup sulit ditebak dan penuh kejutan. Kontemporer, begitu biasanya tuding para budayawan. Total ada 11 lagu berkomposisi dan 11 lagu improvisasi yang konsepnya terdengar jauh lebih matang dibanding album sebelumnya, “Trilogi Peradaban”. Tema peradaban manusia sepertinya tetap diangkat sebagai konsep utama album ini. Zoo menampilkan tekstur rock yang eksperimental dengan paduan musik tribal yang bersahaja.Di sini mereka berupaya menguliti kekayaan seni dan budaya hingga ke sudut-sudut pedalaman nusantara.  Rully Shabara dkk bahkan menulis lirik-liriknya dalam berbagai bahasa daerah mulai dari Aceh, Bugis, Palembang, Dayak, Lombok, Kawi, Sulawesi Tengah, Banjar, hingga Minang. Sejak awal, “Prasasti” memang sudah bikin geger. Orang-orang memerlukan martil dan tang untuk membuka kiriman paket “Prasasti” yang di-packing kayu. Konon di kantor salah seorang founder Jakartabeat sempat geger karena isinya dikira batu nisan. Di kantor saya, kawan-kawan sempat menyangka itu adalah paket berisi iPhone 5 atau GPS. “Prasasti” memang memiliki segalanya untuk unjuk gigi di list ini; musik berbobot, syair kedaerahan, kearifan lokal, kemasan sensasional, limited dan hand-numbered, serta aksara ciptaan sendiri yang dikasih nama Zugrafi. Menurut saya, ini kemasan [boxset] paling keren dan spektakuler yang pernah diproduksi oleh praktisi musik tanah air. Saya hanya bisa berdoa, semoga “Prasasti” tidak jatuh menimpa kepala kita…

03. Seringai – Taring [High Octane Prod / demajors]
Saya pernah menulis kalau album ini berhasil melakoni komposisi musik yang antagonis [baca; keras bagi telinga awam] dengan penulisan lirik lugas yang protagonis [alias berbobot dan membakar]. Dan hal itu seperti sengaja didedikasikan bagi generasi di zamannya. “Taring” terbit dalam satu paket yang komplit bersama dengan kualitas produksi, kemasan, imej, serta artwork keren yang bertebaran di kemasan album ini. Kali ini, Seringai mungkin sudah menancapkan “Taring”-nya lebih dalam lagi. Album ini termasuk salah satu rilisan lokal yang paling laris di rak CD rock/metal tanah air. Fanbase-nya memang melimpah, mulai dari akar rumput hingga kaum urban elit kelas menengah. Mulai pelajar dan anak jalanan, hingga kaum hipster metropolis. Itu kudunya semakin memudahkan Arian dkk untuk menyampaikan opini, menyerukan protes, memberi harapan, serta merangsang orang-orang untuk mau bertindak lebih banyak. Harus diakui, semua lirik pada “Taring” adalah presentasi paling relevan dan aktual dalam memotret current events di tanah air. Sejak lima tahun lalu, dan mungkin untuk lima tahun berikutnya. Ya, memang seperti lagu lama. Saya masih percaya, pesan-pesan yang ditulis Seringai masih punya daya untuk menginspirasi para fans-nya. Atau setidaknya, “Taring” bisa mendorong anak muda untuk bersikap tegas dan lebih berani menjalani hidup. Kabar baiknya, dunia tidak jadi kiamat seperti yang telah diramalkan suku Maya. Itu mungkin pertanda bahwa memang belum waktunya untuk menyerah. Pesan “Taring” sudah cukup jelas, “Tetaplah muda dan berbahaya. Percayalah kita kan menang.”

02. Komunal – Gemuruh Musik Pertiwi [Progresiv Barbar Musik]
Dunia seakan berhenti berputar ketika baris lirik “Di sini uang dan politik tak ada artinya” berkumandang. Komunal tidak butuh kalimat panjang atau kata-kata sulit untuk mendapatkan refrain yang menampar pipi sekaligus menendang pantat. Lekat di telinga. Terngiang di kepala. Anthemik. “Gemuruh Musik Pertiwi” berisi sembilan lagu yang direkam secara live dan hanya butuh waktu satu hari penggarapan. Sinting. Carut-marutnya negara, euforia heavy metal, serta upaya bersenang-senang telah diulas lugas dalam setiap sisi “Gemuruh Musik Pertiwi”. Vokal berat dan suara gitar yang penuh distorsi adalah kemenangan mutlak Komunal. Mereka mengaku, album ini adalah sebuah dedikasi. Menyatakan pengabdian yang penuh pada heavy metal. Juga nekat memuja band rock terbesar di tanah air, Godbless – sambil terang-terangan mengaku telah berbuat curang dengan mencontek semangat dari album “Raksasa”. Sejak awal perilisannya, Doddy Hamson dkk memang sudah sesumbar kalau ini adalah album yang tidak perlu diragukan lagi kehebatannya. Sialan, susah untuk menangkis si mulut besar itu. Saya dan banyak fans mereka akhirnya takluk dengan sukarela. Terima kasih kepada Komunal, atas jasa mereka musik heavy metal tetap bisa berkibar. “Gemuruh Musik Pertiwi” adalah sumbangsih yang cukup berarti bagi blantika musik Indonesia. “Di sini uang dan politik tak ada artinya” adalah mantra suci heavy metal di tahun 2012. God bless you, Komunal!…

01. Kekal – Autonomy [Whirlwind Records]
Menempatkan “Autonomy” di posisi ini adalah perjudian yang tidak akan pernah saya sesali. Kekal adalah salah satu band yang paling produktif meski jauh dari hingar bingar skena cadas tanah air. Band ini nyaris tidak pernah live kabarnya – atau kalau pun pernah mungkin sangat jarang sekali, dan itu pun tidak terjadi di negeri ini. Kekal digawangi oleh sang mastermind, Jeff Arwadi, yang tinggal di Kanada. Dalam beberapa karya terakhirnya, dia memang sempat menulis dan merekam musik Kekal dari sana. Album-albumnya pun banyak dirilis oleh label asing dan rutin mendapat ekspos dari berbagai media musik asing [sebentar, masih ada yang sesumbar sudah ‘go international’ di sini?!]. Perihal domisili dan pencapaian seperti itu tidak lalu merubah keyakinan saya kalau Kekal itu adalah band Indonesia. “Autonomy” adalah album ke-sembilan dan diklaim sudah tidak memiliki personil resmi lagi. Sejak rilisan ini, Kekal mulai membuka ruang kontribusi dan kolaborasi untuk produksi musiknya. “The music on “Autonomy” can be best described as emotionally adventurous and introspective in nature. As dark as it is illuminating, this album will definitely challenge listeners to free themselves from seeing music as a mere entertainment commodity,” tulis Kekal di situsnya. Tahun 2012 terbukti telah memberikan space yang begitu luas bagi bunyi-bunyian avant-garde dan eksperimental pada khazanah musik rock/metal di mana-mana. Ini tentu sebuah langkah yang berani dan mendobrak batas. Kekal semakin bebas menempatkan soundscapes yang indah di hampir semua lagunya. Kita masih bisa mendengar aksen-aksen prog-metal ala Cynic, Nocturnus atau The Devin Townsend Project di musik mereka. Ada unsur petualangan yang spacey, nuansa ambient dan sedikit psikedelik pada track seperti “Rare Earth Elements”, “Disposable Man”, hingga “Futuride”. Jangan khawatir, musik Kekal kudunya bisa disikapi dengan sederhana. Album ini memang tidak memberikan konklusi maupun jawaban yang pasti. Melainkan hanya mengajak berpikir dan membiarkan pendengarnya memiliki interpretasi masing-masing. Imajinatif. Simpel. Sesederhana kita yang rela untuk keluar rumah sejenak, menatap langit di malam hari, sambil menebak-nebak segala misterinya. Karena sebenarnya itu semua yang berhasil menerbangkan “Autonomy” melesat jauh ke atas, ke angkasa.

Honorable Mention
Selain sepuluh album di atas, ada sejumlah rilisan penting yang juga layak didengarkan dan diapresiasi, serta tentu dikoleksi jika memang tersedia format fisiknya. Bicara soal kemasan fisik, di list ini ada nama-nama band yang nekat merilis materinya dalam kemasan kaset dan piringan hitam. Ini sungguh langkah yang nekat dan progresif. A good thing. Sementara sisanya masih tetap dalam bentuk kepingan cakram padat [CD] dan juga versi digital. Well, berikut ini sederet album yang berhasil terpantau radar dan telah disusun urutannya berdasarkan alfabet ;

1. (((…))) / Harass – Split Tape [Stone Age Recs]
2. Apocalypse Grind – The Birth of Antichrist [EP]
3. Bvrtan – Savvah Penderitaan [Lvmbvng Angker Recs]
4. Godless Symptoms – Revolusi Demokrasi [Die Trying Recs]
5. Haul – Rima Penghitam Cakrawala [Utarat Recs / Quickening Recs]
6. Hellcrust – Dosa [Armstretch Recs]
7. Punkasila – Crash Nation [Yes No Wave Music]
8. Seek Six Sick – Live At LAF [Yes No Wave Music]
9. Suri / Sigmun / Jelaga – Three-Way Split 12” [Orange Cliff Recs]
10. Trauma – Perennial [Off The Records]

*Artikel ini sebelumnya dimuat di situs Jakartabeat dalam edisi spesial akhir tahun 2012.