Beberapa pekan setelah saya menanyai Ristri Putri [Knee And Toes] untuk rubrik Q & A di blog ini, tiba-tiba dia ‘balas dendam’ balik bertanya ini-itu ke saya. Akh, apa pula ini?! Agak aneh dan risih sebenarnya, karena selama ini saya justru sering berada di posisi pewawancara dan jadi pihak yang lebih aktif bertanya daripada menjawab berbaris-baris pertanyaan. But okey, ini mungkin karma dan siapa tahu obrolan ini juga ada manfaatnya.

By the way, kebanyakan topik yang ditanyakan Ristri Putri ini termasuk poin-poin yang juga sering ditanyakan oleh kawan-kawan saya di kala nongkrong bareng dan ngobrol santai. Alhasil, draft tanya-jawab ini bisa dianggap seperti kolom FAQ [Frequently Asked Questions]. Semoga ini bisa sekaligus menjawab pertanyaan-pertanyaan serupa yah.

Oya, sebenarnya naskah ini sudah kelar sejak berminggu-minggu lalu dan betah tersimpan dalam hard disk. Akhirnya, atas pesanan dan desakan Ristri Putri, saya unggah saja di blog ini. Thanks for asking, and happy reading…


@ristriputri ; Dini hari sekitar pukul satu sebelum tidur, tidak sengaja saya membaca tweet @samacksamakk. Lalu terlintas pernyataan dalam hati, orang ini benar-benar sangat suka menulis ya. Digoda oleh rasa ingin tahu yang besar dan sekaligus karena terinspirasi oleh mas @samacksamakk sendiri, saya memberanikan diri bertanya apakah ia bersedia untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saya? Well, semacam balas dendam karena sudah ditanya-tanya di salah satu tulisannya juga, hahaha. Selain itu juga, saya memang terinspirasi berat oleh kegemarannya di bidang jurnalistik (plus musik). Ketika mas @samacksamakk membalas, “monggo, silahkan,” saya langsung rela tidak tidur untuk menyiapkan beberapa pertanyaan yang mungkin terdengar konyol. Berikut pertanyaan saya yang semoga tidak terlalu berat…

Masih ingat dulu waktu kecil mas @samacksamakk pernah bercita-cita jadi apa?
Pas SD kalau ditanya soal cita-cita saya selalu jawab ingin jadi astronot atau jadi pemadam kebakaran. Itu jawaban spontan, gak tau alasannya apa. Yah maklum namanya juga anak kecil. Kebanyakan nonton film kartun juga kali ya. Soalnya jadi astronot atau pemadam kebakaran itu kayaknya kok keren. Temen-temen saya yang lain jawabnya pasti ingin jadi dokter, guru, polisi, tentara atau presiden. Kami sama sekali tidak tahu apa yang kami bicarakan di umur-umur segitu. Pas SMP, cita-cita saya sudah agak serius. Saya bertekad ingin jadi pemain sepakbola. Saat itu saya sangat gemar maen bola, sempat ikut sekolah sepakbola di Malang, dan jadi pemain inti yang bertanding ke mana-mana. Trus semenjak masuk SMA, bubar semua cita-cita saya itu. Saya tidak punya keinginan khusus lagi ingin jadi apa. Semuanya mengalir saja. Sampai sekarang.

Sudah lumayan banyak tulisan mas @samacksamakk yang berserak di dunia maya. Masih ingat tulisan pertama mas @samacksamakk tentang apa?
Agak lupa sih tepatnya yang mana. Tapi yang pasti tulisan pertama saya itu ada di Mindblast edisi #1. Itu fanzine metal yang saya bikin bareng temen-temen dulu, tahun 1996. Kalau saya lihat arsipnya lagi sih saya menulis artikel tentang No Man’s Land, Rotten Corpse, liputan gigs dan profil band-band lokal Malang di edisi tersebut. Itu mungkin karya tulisan awal saya di jaman pra-internet. Kalau tulisan pertama di dunia maya kayaknya profil band lokal juga untuk situs musik milik temen-temen waktu itu, sekitar awal tahun 2000-an.

Ceritakan pada saya dong, apa yang membuat mas @samacksamakk termotivasi untuk menulis?
Awalnya sih karena iseng dan terpaksa. Ketika kawan-kawan saya yang lain bisa maen instrumen musik dan bikin band, saya gak punya kegiatan. Sampai kemudian ‘ditugasi’ bikin media berupa fanzine dan newsletter untuk menulis aktifitas bermusik mereka waktu itu. Kecelakaan juga sih sebenarnya yah. Dulu ada fanzine metal dari Bandung, namanya Revograms. Saya dan temen-temen jadi terinspirasi untuk bikin media serupa di Malang. Setelah banyak baca buku, majalah, dan bermacam artikel yang apik saya jadi makin tergerak untuk nulis terus. Semakin sering saya membaca, semakin banyak juga saya menemukan tulisan-tulisan yang apik dan bermutu. Baik itu karya para penulis fiksi maupun jurnalis musik. Itu yang memotivasi saya dan jadi inspirasi dalam menulis. Kebetulan saat ini saya sudah menemukan passion pada proses menulis, tentang musik khususnya. Ternyata banyak peristiwa penting dan menarik yang terjadi di sekitar saya, dan itu layak untuk diberitakan pada khalayak. Karena saya mungkin gak pandai bicara, maka menulis yang jadi jalan keluarnya.

Musik dan menulis tampaknya nggak pernah lepas ya untuk mas @samacksamakk. Apa saja musik yang sering jadi mood buster mas @samacksamakk untuk menulis?
Sebenarnya musik saat menulis bukan jadi mood buster atau penyemangat sih buat saya, mungkin lebih kepada substansi penting yang ikut membantu proses menulis kayaknya ya. Semacam pengendali pikiran gitu. Wah kok jadi agak-agak psikedelik dan spiritual gini ya?! Begini, saya percaya musik yang saya putar itu bisa mengarahkan [pikiran] saya dalam menulis, dan bikin saya lebih fokus pada tema. Misalkan saya sedang menulis tentang Metallica yah saya pasti setel lagu-lagu Metallica juga. Biar klop dan akan lebih terinspirasi biasanya. Tapi kalau udah masuk tahap editing dan finishing, atau menulis topik non-musik, biasanya saya cenderung muter lagu-lagu yang instrumental dan yang minim vokalnya. Seperti genre post-metal, post-rock, doom/drone, ambient atau industrial. Biar fokus juga sih, soalnya kuatir ikut nyanyi atau sing-along kalau ada liriknya. Sebab lagu yang terlalu enak itu bisa menghentikan jari-jari saya untuk mengetik, dan pasti bikin buyar konsentrasi. Ini beneran. Saya sering gagal nulis hanya gara-gara salah pasang lagu. Jadi dalam kasus ini, saya sengaja menghindari musik yang terlalu easy-listening dan cheesy. Bahkan seringkali cuma ada satu-dua lagu aja yang muter terus di playlist ketika saya menulis selama berjam-jam. Saya pernah direkomendasikan untuk muter Bon Iver atau Tame Impala sebagai teman saat menulis. Katanya itu playlist yang pas, tapi tenyata gak juga. Malah cenderung gagal, haha. Justru musik-musik seperti Neurosis, Godflesh atau Sunn O))) yang lebih sering berhasil menuntaskan tulisan saya.

Sejauh ini, artikel apa yang mas @samacksamakk tulis dan dianggap menjadi karya terbaik menurut mas @samacksamakk sendiri?
Wah, entah mana yang terbaik ya, kudunya orang lain saja yang menilai. Tapi kalau saya pribadi paling suka sama beberapa fitur panjang saya di Apokalip.com dulu, seperti artikel tentang Antiphaty, Rotten Corpse, Primitive Chimpanzee, Burgerkill, atau esai tentang histori scene rock Malang. Juga ada beberapa tulisan favorit yang dimuat Jakartabeat, kayak soal Seringai, The Smashing Pumpkins, Radio Senaputra, Iron Maiden, juga wawancara sama Wendi Putranto dan Nova Ruth. Begitu juga fitur Seringai di Majalah Sintetik baru-baru ini. Saya suka baca lagi karya fitur-fitur panjang atau naskah wawancara yang mendalam, karena biasanya itu yang saya kerjakan dengan keras, sepenuh hati, penuh riset, dan tentunya agak lama. Hasilnya jelas lebih memuaskan dibandingkan sekedar menulis artikel pendek atau review yang standar.

Ceritakan proses kreatif saat mas @samacksamakk menulis dong. Harus menunggu waktu dan kondisi tertentu?
Iya pasti, saya ini orangnya moody banget dalam menulis. Saya ini penulis yang lamban dan gak pernah taat deadline. Katanya sih sangat detil dan terlalu berhati-hati. Satu artikel kadang bisa lama banget jadinya. Kalau saya gak mood ya gak mau nulis, karena jatuhnya nanti pasti jelek kalau dipaksakan. Banyak tulisan saya yang berhenti di tengah jalan dan gak pernah kelar sampai sekarang. Saya akui ini memang kelemahan saya, dan masih belum nemu obatnya sampai sekarang. Saya selalu butuh momen yang tepat untuk menulis. Biasanya itu pas tengah malam, sendirian, dan sebaiknya di kamar saya sendiri. Ya, saya tidak bisa menulis di tengah keramaian atau di tempat umum. Selain itu, saya butuh musik yang tepat dan segelas kopi terbaik. Tanpa itu semua, kerangka tulisan saya masih melayang di angan-angan.

Ketika sedang menulis, mas @samacksamakk paling sebal kalau………………. karena…………………..
Kehabisan kopi dan rokok, karena sudah pasti buntu dan gak bisa meneruskan tulisan lagi.  Itu kejadian yang paling sering sih. Sementara, dua substansi itu yang selalu membantu saya untuk fokus dalam proses menulis.

Pernah merasa capek atau jenuh menulis nggak? Kalau iya, apa yang perlu dilakukan agar bisa semangat menulis lagi?
Sering banget. Biasanya pas bad mood. Kalau udah capek, jenuh atau buntu dalam menulis, biasanya saya langsung tutup aja file tulisannya dan matikan notebook. Saya tidak pernah memaksakan tulisan saya untuk harus jadi saat itu juga, kecuali ada deadline khusus dari media pemesannya, hehe. Saya akui saya memang agak perfeksionis dan detil untuk urusan menulis ini. Kalau sudah macet itu tandanya saya butuh break sejenak. Biar semangat lagi ada beberapa cara yang biasa saya lakukan. Mulai dari bikin kopi lagi, ganti playlist musik, muter dvd, membaca, mandi, atau jalan-jalan keluar rumah sejenak biar fresh. Kadang sih diam aja satu-dua jam sambil melamun dan ‘menulis’ di awang-awang. Itu untuk bikin kerangka dalam pikiran dan membayangkan seperti apa kudunya tulisan itu kalau udah jadi.

Sejauh mana pengalaman membanggakan yang pernah dialami atau diraih karena tulisan mas @samacksamakk?
Ada beberapa momen yang penting. Pernah ada desas-desus yang bilang kalau tulisan saya menginspirasi beberapa orang untuk ikut coba-coba menulis dan terjun bikin media juga. Ada juga yang nekat dijadikan referensi tugas kuliah atau skripsi. Kalau kabar itu benar, tentu saja saya akan bangga. Momen-momen ketika tulisan saya dimuat di media seperti Jakartabeat atau Rolling Stone itu juga selalu bikin saya bangga dan tersenyum. Pas artikel saya soal film dokumenter Seringai masuk dalam buku kumpulan tulisan pilihan Jakartabeat itu juga membanggakan. Dipercaya untuk menulis press release atau liner notes pun cukup menyenangkan. Baru-baru ini blog yang berisi kumpulan tulisan saya [www.sesikopipait.wordpress.com] juga sempat jadi nominasi di ajang Axis Blog Awards 2012 untuk kategori Blog Musik Terfavorit. Gara-gara menulis saya jadi sering diundang dalam berbagai diskusi atau talkshow soal musik dan jurnalisme. It’s really fun. Gara-gara menulis juga saya akhirnya bisa jalan ke beberapa kota, nonton banyak pertunjukan musik, serta bertemu dengan orang-orang yang cerdas dan menarik. Saya mungkin tidak harus bangga, tapi semua itu tentu sangat menyenangkan.

Kira-kira apa yang akan mas @samacksamakk katakan buat teman-teman yang ingin menulis tapi masih malas-malasan?
Saya juga sering malas kok, tapi emang itu kudu disiasati. Apalagi sifat malas dan kemauan menulis itu juga sangat personal. Hanya mereka sendiri yang tahu apa tips dan trik yang paling jitu. Saya cuma bisa bilang menulis itu penting, menyenangkan, dan sungguh membebaskan. Menulis itu juga selalu tentang berbagi cerita dan pengalaman. Minimal untuk diri sendiri dan lingkungan terdekat. Tulislah apa yang anda suka dan apa yang paling anda kuasai biar prosesnya menjadi lebih mudah dan menyenangkan. Gak usah jauh-jauh, mulailah menulis tentang apa saja yang ada di sekitar anda. Misalnya mereview demo musik teman anda, membuat berita soal prestasi klub basket di kampus anda, atau mewawancarai para dosen soal musik favorit mereka. Ini pasti jauh lebih menyenangkan daripada menulis tugas kuliah kan?!…

*Fyi, saya akan mengisi talkshow “Saatnya Bicara Musik” pada hajatan DIANNS FEST di Kampus UB Malang, 10 Desember 2012. Cek saja info komplitnya di sini. Silahkan datang ke sana untuk nongkrong bareng dan berbincang santai soal Jurnalisme Musik dan segala tetek-bengeknya.