Record Collectors Are Pretentious Assholes” adalah titel EP milik band punk/hardcore klasik, Poison Idea, yang dirilis pada tahun 1984 silam. Kalimat pada judul itu sungguh masuk akal, menurut saya. Hari ini, kolektor musik itu hampir bisa dipastikan adalah seorang fetish dan kadang narsistik. Memang tidak ada yang lebih ‘bajingan’ daripada kolektor musik yang seringkali bikin kita tiba-tiba migren dan sakit perut, lalu geram dan serta-merta mengumpat, hingga akhirnya muncul niat jahat untuk merampok seluruh koleksinya!

Rusli Hatta adalah pria dengan koleksi rekaman yang memenuhi kamar dan selera musik yang cukup menakjubkan. Saat bertatap muka, dia bisa menjadi seorang kawan diskusi yang menyenangkan jika musti berbicara soal musik. Sejak pertama kali kenal beberapa tahun silam, saya sudah takjub dengan selera musiknya yang ajaib. Akan panjang biasanya jika kami berbincang soal Mike Patton, Melvins, John Zorn, Sonic Youth, Billy Corgan, dan hingar-bingar scene musik rock era 90-an.

Ketika berkunjung ke rumahnya, saya makin takjub dengan segala koleksi musiknya. Dia benar-benar seorang ‘bajingan’ untuk hobinya yang satu itu. Koleksi kaset, CD, DVD, hingga boxset tampak memenuhi rak di setiap sudut kamarnya. Terlalu banyak untuk disebutkan satu-persatu. Sebaiknya cek saja di album foto yang ini dan juga ini. Jika menilik aktifitasnya di darat maupun online, Rusli Hatta memang layak disebut pemburu rekaman yang gigih dan ulet.

Seorang kawan saya pernah bilang, “Benteng terakhir yang bisa menyelamatkan industri musik, khususnya penjualan rekaman fisik, adalah para kolektor musik.” Memang kadangkala, sekedar memiliki lima keping CD itu masih jauh lebih baik dan menyenangkan daripada menyimpan lima gigabytes mp3 di dalam harddisk. Apalagi jika itu dimiliki oleh seseorang yang benar-benar mencintai musik dan rela bekerja keras untuk membeli rilisan-rilisan fisik dari band/musisi kegemarannya!

Anda adalah salah satu kolektor musik yang cukup berbahaya di kota Malang. Koleksi musik anda cukup banyak dan beragam jenis. Perbulan, rata-rata berapa dana yang anda keluarkan untuk hunting dan belanja rekaman-rekaman itu?

Tidak mesti. Tergantung kondisi keuangan, lancar enggaknya usaha, dan banyak enggaknya rilisan yang diincar. Tapi kalo rata-rata sekitar 500 ribu sampai 2,5 juta lah.

Biasanya anda suka hunting dan belanja rekaman di mana?

Favorit saya adalah lapak-lapak kaset second hand di stadion Gajayana, Malang. Selain bisa refreshing, istilah saya selain berburu, saya juga bisa ngobrol-ngobrol sama penjualnya dan sesama pengemar rilisan fisik yang kebetulan bertemu di situ.

Di mana saja music store dan lapak rekaman favorit anda?

Dulu masih ada Aquarius di Surabaya, tapi tiga tahun lalu udah tutup. Di Malang saya malah lebih suka ke lapak kaset second hand daripada ke record store-nya. Maklum record store di kota Malang sudah bisa dihitung pake jari, dan lebih dagang film daripada rilisan musik. Saya juga lebih suka ‘berkunjung’ ke rumah para kolektor musik, sambil silahturahmi, sambil tukar ilmu dan diskusi. Biasanya mereka tiba-tiba merelakan sebagian koleksinya untuk saya beli, barter atau bahkan hibah.

Sering hunting rekaman sampai ke luar Malang juga?

Kalo di luar kota saya sering ke Jogjakarta dan Bali, sekalian perjalanan bisnis.

Selama ini, kalau hunting rekaman paling jauh ke mana?

Paling jauh ke Bandung dan Bali. Saya paling suka mengunjungi music store yang lagi sekarat, hehe. Di Bali favorit saya adalah di daerah Denpasar dan Ubud, yang sekarang sudah tewas. Di Denpasar saya pernah ke toko kaset yang nyaris bangkrut. Di daerah Jalan Tengku Umar. Tokonya gede, kasetnya diobral 5000-an bahkan ada yang dibandrol 5000 dapat 3 biji. Di sana saya pernah dapat kaset The Smiths, Tad, Hater, Thurston Moore, dan lain-lain. Kalo di Ubud malah ada dua toko kaset gede yang lagi sekarat, semoga saat ini belum mati.

Kayaknya anda juga suka belanja via internet. Apa situs online store favorit anda?

Kalau yang lokal palingan di Kaskus, Dinomarket, dan Toko Bagus. Tapi biasanya penjual online orangnya itu-itu aja. Dia gelar dagangannya di situs-situs online lokal, disebar gitu. Kalo yang internasional, saya sering belanja di e-bay.

Istri dan keluarga sering mengeluh karena kebiasaaan belanja anda ini?

Istri dan keluarga sudah tahu dari dulu kalo saya hobinya kayak gini, tidak pernah mengeluh hehe. Mereka bilang gak apa-apa asal duitnya halal dan tidak ngutang-ngutang.

Apakah hobi itu berpengaruh juga terhadap jatah duit belanja di rumah gak?

Puji Tuhan, tidak! Sikap saya untuk hobi ini adalah sebagai bahan bakar dan penyemangat dalam bekerja, selain yang utama untuk kebutuhan keluarga tentunya.

Kebanyakan, genre apa yang mendominasi di rak koleksi musik anda?

Saya penyuka hampir semua genre musik. Alternatif, punk, metal, prog-rock, classic rock, indie rock, dsb. Tapi karena masa remaja saya ada pada dekade 90-an, maka koleksi saya paling banyak ada pada genre alternatif 90-an dan Seattle Sound.

Oya, gimana ceritanya anda bisa dapat koleksi CD Melvins yang segabrek itu?

Beli dari e-bay, seller-nya orang Amerika, penggemar berat Melvins juga. Hampir semua CD-nya ada tanda tangan personel Melvins, dan dia sering nonton konser Melvins juga. Awalnya dia cuma jual dua album saja, lalu saya rayu supaya dia jual semua koleksi Melvins-nya (total ada 17 CD). Perlu proses dua minggu buat ngerayu dia supaya mau jual semua. Untung seller-nya koperatif, maklum sesama fans Melvins jadi dia juga paham, hehe.

Mana yang lebih suka untuk dikoleksi; cd, kaset, vinyl, dvd, boxset, kaos, merch, atau apa?

Setiap rilisan fisik punya plus-minusnya sediri. Kalau CD itu kovernya lebih lengkap, packaging keren-keren (digipack, digibox, dll), tapi susah di perawatan dan harganya relatif mahal. Kaset yang paling fleksibel dan memorable buat dikoleksi. Menurut saya kaset itu paling ekonomis buat dikoleksi, sebab murah dan tidak makan tempat banyak untuk raknya. Vinyl harganya sekarang gila-gilaan tapi artwork kover-nya lega banget, gede. Boxset lebih komplit untuk informasi tentang band tersebut. Umumnya berisi lebih dari satu CD, packaging-nya keren, ada bukunya [booklet] tapi harganya relatif mahal dan edisinya terbatas. Kalo kaos?!?! No comment lah, hehe. Sekarang tren banget pake kaos band mahal-mahal. Menurut saya mending beli kaset/CD-nya dulu baru beli kaos band-nya. Paling nggak biar ngerti dan bertanggung jawab akan kaos yang dipake, tidak cuma beli karena gambarnya bagus atau biar macho, haha. Favorit saya saat ini adalah boxset dan kaset.

Anda masih koleksi kaset? Masih rutin membelinya?

Masih. Biasanya beli di lapak second hand atau beli melalu media sosial. Kalo kaset harganya tidak terlalu mahal. Sekarang saya lagi menikmati kaset import.

Anda mulai mengkoleksi plat atau vinyl juga?

Vinyl itu ibaratnya seperti ‘bangkit dari kubur’, hehe. Dulu orang tidak mengenal istilah vinyl, tahunya piringan hitam saja. Saya hanya membeli vinyl untuk album-album favorit saya saja, album yang memiliki kover depan yang keren dan ikonik, atau ketika menemukannya di pasar loak dengan harga murah. Maklum harga vinyl barunya masih mahal, sekarang malah harganya sudah tidak masuk akal karena trend. Koleksi vinyl saya ada sebagian album Pearl Jam, Mudhoney, Faith No More, The Beatles, Astrud Gilberto, Genesis, dan Jimi Hendrix. Tidak sampai 25 keping lah.

Apa rekaman musik paling mahal yang pernah anda beli?

Boxset Radiohead (discography putih), harganya 675.000-an lah. Maklum beli baru di toko.

Dengan kegemaran anda akan rilisan fisik, apakah anda masih suka dan menyempatkan diri untuk mengunduh musik atau mp3 via internet?

Masih. Biasanya saya cari dan unduh band-band yang tidak terlalu saya tahu atau gemari. Cuma buat obat penasaran aja musiknya kayak apa. Tapi kalo band-band favorit, saya malah tidak pernah unduh. Misalnya album baru Smashing Pumpkins “Oceania” itu saya menahan diri untuk tidak mengunduh dan tidak menerima colokan flashdisc dari teman yang sudah punya. Saya tunggu sampai dapat CD-nya biar dapat momen surprise-nya, hehe. Menurut saya momen penting mendengarkan album/musik band yang kita sukai pertama kali itu adalah ketika membuka segelnya, melihat artwork, menyimak liriknya, membaca kredit rekamannya.

Apakah era digital [mp3] itu kemudian berpengaruh pada minat dan daya beli anda terhadap rilisan fisik?

Tidak! Mendengarkan musik melalui mp3 itu tidaklah utuh. Oke lah untuk teman kerja atau ngerjain tugas. Tapi untuk menikmati rilisan musik secara penuh mending beli fisiknya aja.

Apa lagi kelebihan memiliki koleksi rekaman fisik bagi anda?

Ada nilai lebih menurut saya. Pertama jelas kualitas audio-nya, lalu ada artwork, informatif, dan bisa dibuat investasi juga. Maksudnya suatu saat koleksi fisik itu masih bisa dijual. Kembali lagi ini semua menyangkut kesenangan atau hobi.

Coba sebutkan lima barang koleksi favorit anda?!

Favorit saya banyak juga sebenarnya, tapi ini yang pertama terlintas di kepala;

1. Tool “10.000 Days” [CD]; packaging-nya keren, ada kacamata 3D segala buat baca gambar dan liriknya.

2. Naked City [boxset]; katanya rare banget, gambar-gambar artwork-nya keren dan kejam banget.

3. Faith No More “A Small Victory’ [picture disc]; gambar angsa “Angel Dust” mewakili ikon Faith No More, band kesukaan saya.

4. The Velvet Underground “Peel Slowly and See” [boxset]; musiknya bagus, influential. Kaya informasi pada booklet-nya.

5. Radiohead “Discography” [boxset]; hadiah ultah dari istri, hehe.

Apa saja lima barang yang terakhir anda beli baru-baru ini?!

1. CD Bjork “Biophopilia”

2. Boxset Oasis “Time Flies” [1994-2009]

3. CD The Smashing Pumpkins “Oceania”

4. CD Stone Temple Pilots “Purple”

5. Boxset 20 Years of Dischord

Apa rekaman yang terakhir anda beli dan menyesalinya?

Boxset The Smashing Pumpkins “Aeroplane Flies High”, sekitar 1,5 tahun lalu. Sebab di dalam boxset-nya ternyata tidak ada booklet-nya, harusnya kan ada. Seller-nya tidak memberi tahu kalo itu tidak ada booklet, dia hanya memberi tahu kalau kondisi box kurang mulus dan harganya murah. Ketika saya konfirmasi [komplain] ke seller-nya, dia malah kabur. It’s okey, itulah romantisme hobi koleksi rilisan fisik.

Terakhir, tolong berikan saran dan tips bagi anak-anak muda yang akan memulai hobi mengkoleksi rekaman fisik?

Mulailah dari band/album yang ada sukai dulu. Jangan terlalu menuruti nafsu belanja saja, belilah album favorit anda terlebih dahulu. Dahulukan juga kebutuhan yang lebih utama seperti makan, bayar kuliah dan lain-lain. Sumber dana juga harus ada. Mulailah bekerja sejak awal kuliah atau wiraswasta, jadi bisa beli rilisan fisik tidak perlu pakai uang ortu, haha. Berpikirlah koleksi rilisan ini bisa sebagai investasi, yang jika dijual lagi nilainya mungkin bisa lebih mahal.

*Rusli Hatta bisa ditemui di akun Facebook-nya. Dia cukup sering belanja berbagai rilisan musik lewat situ dan dikenal sebagai pelanggan setia di berbagai lapak musik online.