Di akhir bulan September 2012 lalu, saya mendapati ada dua album Nine Inch Nails yang sedang merayakan ulang tahun. Pertama, mini album “Broken” EP yang berulang tahun ke-20. Satunya lagi, album “The Fragile” yang tepat berusia 13 tahun. Keduanya memang album favorit saya – eh sebentar, bukankah semua karya Nine Inch Nails itu pasti menjadi favorit saya?…

Oke, begini saja gampangnya. Kalau misalnya ada yang meminta saya untuk menyebutkan satu nama band/musisi yang paling bisa menggambarkan karakter diri saya serta selalu saya puja karya musik, lirik, pesan, imej dan visualnya, maka tanpa pikir panjang lagi akan saya jawab; Nine Inch Nails!

Dua karya album Nine Inch Nails baru saja berulang tahun di tanggal yang hampir bersamaan, hanya selisih satu hari. Saya kira ini bukan hal yang berlebihan, jika saya mau merayakannya secara pribadi, memutar kembali lagu-lagunya, sambil menuliskan testimoni atas jasa-jasa dua album tersebut.

So, Happy Belated Birthday to the dearest “Broken” EP and “The Fragile”. Thanks for all the featured works; musically, lyrically and visually. It’s really nice to grew up with you. I wish there was something real and wish there was something true for you, both!

Broken EP
Nothing/TVT/Interscope
Release Date ; Sept 22, 1992

“Ada suatu masa di mana saya pernah sangat tergila-gila dengan musik industrial. Semuanya berawal sejak saya membeli mini album “Broken”-nya Nine Inch Nails di sebuah lapak kaset bekas di kota Bandung, tahun 1994 silam. Dari sana saya mulai menelusuri jejak-jejak irama industrial milik Ministry, KMFDM, Godflesh, Pitchshifter, Skinny Puppy, dan masih banyak lagi. Saya pun langsung terpesona dengan beat-beat mekanis, riff gitar yang distortif, vokal berat yang penuh amarah, lirik provokatif dan nihilis, serta suara latar bebunyian logam yang selalu beradu.”

Saya menulis paragraf di atas itu dalam sebuah pengantar untuk proyek mixtape proyek Tempertantrum, sebuah eksebisi audio visual yang diselenggarakan oleh Bejana Kultur bekerja sama dengan Majalah Sintetik dalam rupa pameran mixtape dan artwork. Naskah lengkapnya bisa dicek di sini.

Gimana saya gak shock dan keder setelah mendengar semua komposisi musik di “Broken” EP. Dimulai dari intro singkat “Pinion”, lalu disambung dengan “Wish” yang rusuh. Pesona riff gitar catchy dari “Last”, lirik penuh amarah dari “Happiness In Slavery”, atau mencoba hidup realistis lewat “Gave Up”. Ditambah dua lagu kover “Physical” [Adam Ant] dan “Suck” [Pigface] yang  apik, bikin album mini ini jadi terasa maksimal.

Intinya, perkenalan pertama saya dengan Nine Inch Nails dan genre musik industrial-rock memang tidak bisa dipungkiri kalau bermula dari “Broken” EP. Kaset bekas itu masih tersimpan rapi di rak sampai sekarang. Berarti kaset itu sudah berumur 18 tahun ya?!…

“Broken” EP sedikit mematahkan loyalitas saya pada musik metal ekstrim saat itu. Saya mulai membaptiskan diri sebagai fans berat Nine Inch Nails dan nekat menggemari musik industrial-rock. Sekeping kaset sederhana dan delapan lagu di dalamnya benar-benar telah merubah hidup saya.


The Fragile
Nothing/Interscope
Release Date ; Sept 21, 1999

Sejak “The Fragile” dirilis ke pasaran, saya sudah berada di zona nyaman sebagai pemuja Nine Inch Nails dan segala karya Trent Reznor. Setelah kenal “Broken” EP, saya langsung mengkonsumsi album “Pretty Hate Machine” dan “The Downward Spiral” dalam dosis tinggi. Ini sudah sangat personal dan sangat subyektif sekali. Ya, saya akui memang tidak sehat.

Sekalipun “The Fragile” terdengar lebih lemah, lembek, atau rapuh secara musikal, tetapi saya mulai menemukan sisi humanis dan bijaksana dalam diri Trent Reznor. Double album ini terdengar lebih tenang dengan banyaknya soundscapes, sampling ambient dan beat-beat elektronik yang syahdu. Liriknya pun masih agak gelap, namun Trent Reznor terbaca sudah bisa me-manage kemarahannya.

Konon, Trent Reznor menggantung gitarnya untuk mengurangi distorsi, menyepi dalam kondisi berduka, dan menulis semua musik dasar di album ini dengan menggunakan sebuah piano tua. Nyaris tidak ada lagi riff yang garang, berganti dengan lagu-lagu berbasis piano yang didesain kemudian dengan berbagai elemen elektronik.

Track favorit saya di dalam dua keping cakram kiri-kanan album ini antara lain; “The Day The World Went Away”, “We’re In This Together”, “The Great Below”, “Into The Void”, dan “Starfuckers, Inc.”

“The Fragile” sukses ‘merapuhkan’ saya sekaligus membikin saya juga sedikit tenang. Karena ternyata industrial rock tidak hanya marah dan umpatan, tapi juga bisa tampak lebih elegan dan penuh dengan sesi perenungan. Musik Industrial rock tidak pernah sesepi ini. Rapuh. Jangan dibanting. Mudah pecah.

The Mixtape
Sm9k; BrKn20/ThFr9l13 [halo999]

1. Wish
2. Happiness In Slavery
3. The Day The World Went Away
4. We’re In This Together
5. Starfuckers, Inc.
6. The Great Below
download here soon

*Untuk informasi detil & deskriptif tentang Nine Inch Nails, Trent Reznor, Broken EP, maupun The Fragile silahkan klik pada tautan link yang tersedia atau tanyakan saja pada sang maha tahu Google.

*Draft artikel ini saya tulis akhir September 2012 lalu. Iseng saja. Cuma untuk selebrasi ulang tahun “Broken” EP dan “The Fragile” di blog pribadi, dan tidak punya niatan untuk mempublikasikannya di media massa. Sebab sejatinya saya sudah pernah berjanji pada diri sendiri untuk tidak akan menulis [review] tentang Nine Inch Nails, karena jatuhnya pasti akan sangat personal, egois dan subyektif sekali. Yah, seperti tulisan ini kan, see?!…