Terus terang, saya tidak perlu mengantri di kedai ayam goreng cepat saji untuk bisa mendapatkan album Noah yang bertajuk “Seperti Seharusnya”. Cukup meminta petunjuk dari mesin pencari di internet, dan dalam waktu tiga detik sudah muncul banyak tautan bebas-bea tepat di hari perilisan album tersebut. Ajaib!

Saya juga tidak butuh waktu lama untuk ‘memergoki’ bahwa intro megah di lagu pembuka “Raja Negeriku” itu adalah signature khas The Edge dan U2 [coba putar lagu “Where The Street Have No Name”]. Belakangan, hook gitar model seperti itu juga kerap dimainkan oleh Coldplay dan The Killers di beberapa lagunya. Ajaib?

Saya menulis list ini di sela berita kemenangan Jokowi – Ahok dalam putaran kedua Pilgub DKI Jakarta, Kamis [20/09] kemarin. Hasil Quick Count mengabarkan bahwa pasangan yang berkemeja kotak-kotak itu unggul lebih dari 50% dibanding rivalnya. Sontak, hari itu semua pemberitaan di stasiun televisi, media massa, dan sosial media langsung dipenuhi dengan kabar kemenangan Jokowi – Ahok.

Oke, lupakan kehebohan Noah dan silahkan kasih selamat pada Jokowi. Kali ini saya akan berbagi beberapa lagu favorit yang paling sering diputar dalam rotasi tinggi belakangan ini. Semua lagu di list ini dipilih secara acak, tanpa tema khusus. Hampir semuanya bergenre musik rock/metal. Soal selera kuping saja sebetulnya.

Lagipula, masa pemilihan gubernur DKI sekarang khan sudah berakhir. Jadi, inilah saat yang tepat untuk mengembalikan simbol salam metal tiga jari ke komunitas asalnya. Metal up your ass!…

Pestilence – The Predication

Alasan utama untuk memasukkan “The Predication” di urutan pertama hanyalah gara-gara track ini cocok dijadikan intro. Durasinya pun tidak terlalu panjang, cuma dua menit. Secara tehnis, Ini memang bukan lagu biasa. Cuma rapalan doa dan speech yang ditimpa dengan layer sound atmosferik yang tipis. Sepertinya memang dihadirkan untuk mempertegas titel album mereka, “Doctrine”. Alasan kedua, ini sebuah penghormatan atas comeback-nya Pestilence setelah vakum sekian lama. Sejak album “Consuming Impulse” [1989], saya memang tidak pernah meragukan karya mereka. Selalu berusaha memburu semua albumnya. Musically, Pestilence selalu saya anggap berbeda dari band thrash/death kebanyakan. Mereka agak lebih tight, teknikal, visioner, namun tetap punya aura old-school yang kuat dan brutal. Hal itu juga yang bikin mereka selalu disegani. Posisinya hampir selalu berada di lapisan kedua barisan band thrash/death dunia. Underated. Kvlt. That’s why Pestilence rules!

Testament – Rise Up

Lagu ini langsung menyalak garang dari repertoar album terbaru Testament, “Dark Roots of Earth”. Sejak detik pertama, “Rise Up” sudah membangkitkan adrenalin, memaksa headbang, dan sanggup menyeret kaki untuk segera berlari ke arah moshpit. Seperti inilah musik thrash metal itu kudunya dimainkan; keras, cepat, bombastis, dan anthemik. Sedari awal, musik yang dimainkan Testament selalu terkesan serius, meledak, dan bukan guyonan konyol. Hampir setiap komposisi dikawal dengan riff yang padat, melodi gitar yang meraung, dan produksi sound yang cemerlang. “Rise Up” adalah representasi terbaik dari album terakhir mereka. Permisi, mungkin ini terlalu dini, tapi saya sudah terlanjur menyiapkan slot bagi “Dark Roots of Earth” sebagai salah satu album metal terbaik tahun ini. Maaf, rasanya sulit untuk digeser.

Akphaezya – Harsch Verdict

Saya dikenalkan dengan band ini oleh editor Primitif Zine, Manan. “Keren. Avantgarde. Seperti Mr.Bungle dalam versi yang feminim,” sumbarnya waktu itu. Oke, saya tidak pernah meragukan selera kuping music-snob asal Cirebon itu. Seketika itu saya memohon petunjuk dari sang Google yang maha tahu dan berhasil mengunduh dua album Akphaezya dalam waktu semalam. “Harsch Verdict” adalah salah satu track dari album terakhir mereka, “Anthology IV; The Tragedy of Nerak” [2012]. Benar kata Manan, Akphaezya memang keren. Mereka mengaduk-aduk secara kasar elemen thrash, metal, goth, hingga jazz bahkan swing. Ya, avantgarde. Rumit?! Ah, itu hanya soal persepsi dan momentum saja. Mr.Bungle yang feminim?! Mmhh, saya lebih suka menyebut Akphaezya itu kumpulan anak haram hasil hubungan gelap Mike Patton dan Carla Bruni.

Blut Aus Nord – Epitome XVII

Sebentar, Perancis adalah negeri yang romantis?! Anggapan itu hanya muncul jika kita belum pernah mendapati musik black metal dan okultisme yang akut macam Blut Aus Nord. Tembang “Epitome XVii” diambil dari album “777; Cosmosophy”, yang merupakan bagian dari proyek album trilogi ambisius garapan multi-instrumentalist bernama Vindsval. Lagu ini masih cukup nyaman di telinga. Diawali dengan alunan instrumen yang cukup manis, Vindsval lalu memainkan irama post-rock yang panjang dan mengawang. Sebelum akhirnya di menit kelima, dia memasukkan layer-layer yang menggelapkan suasana. Mulai agak sunyi. Kelam. Kemudian muncul distorsi gitar yang pekat, dan ditimpali petikan senar yang konstan. Pada akhirnya, kegelapan itu pun terdengar sangat megah dan indah di tangan Vindsval.

John Zorn & Moonchild Trio – Evocation of Baphomet

Saya mengenal nama John Zorn dari grup band Naked City, sebagai pengisi album kompilasi klasik, “Thrash Generation”, di era awal 90-an silam. Sejak itu saya selalu menganggap John Zorn sebagai orang pertama yang layak dimintai pertangungjawaban atas segala fenomena perkawinan silang antara musik jazz dengan irama rock/metal. Basicly, pria ini memang terlahir sebagai musisi free-jazz, sebelum bertemu dengan Mick Harris [Napalm Death] dan diracuni musik keras. Ketik saja namanya di Google atau Wikipedia, dan telusuri apa saja proyek musikalnya. John Zorn & Moonchild Trio adalah proyek kolaborasinya yang sudah menelurkan album ke-enam “Templars; In Sacred Blood” [2012]. Moonchild Trio adalah sindikat unik yang berisi musisi-musisi multi-disiplin seperti Joey Baron [drummer jazz kesohor], Mike Patton [masih perlu dijelaskan?!], dan Trevor Dunn [Mr.Bungle/Fantomas/Melvins]. Lagu ini, “Evocation of Baphomet”, memamerkan komposisi free-jazz yang cukup santun dengan ocehan vokal yang menyeramkan. Menikmati lagu ini ibarat mendengarkan dongeng satanik di sudut bar bernuansa jazz di pinggiran kota New Orleans. Wahai promotor festival jazz; tolong lupakan Dave Grusin dan Lee Ritenour, John Zorn & Moonchild Trio is a real deal!

Gojira – Liquid Fire

Gojira memainkan musik metal dalam komposisi yang rapat, penuh presisi dan tehnik mumpuni. Ada balutan sound apokaliptik, post-metal dan elemen noise ala Neurosis di beberapa bagian. “Liquid Fire” adalah eksebisi seru dari album terakhir mereka, “L’Enfant Sauvage” [2012]. Corak musik cadas yang modern dan guitar-oriented, serta dipadu dengan clean vocal yang garang. Sesekali mengingatkan pada Fear factory, Cynic, Meshuggah, atau bahkan Burgerkill di album “Venomous”. Mungkin seperti inilah corak sound metal yang paling modern menjelang akhir zaman. Gagah, pintar dan bermartabat.

Nachtmystium – Borrowed Hope and Broken Dreams

Nachtmystium adalah salah satu nama yang ikut bertanggungjawab atas semaraknya black metal di kalangan para hipster belakangan ini. “Borrowed Hope and Broken Dreams” menyajikan sound black metal yang rusuh, elemen atmosferik, scream vocal yang depresif, serta petikan dan solo gitar yang meresahkan. Ada porsi psikedelik ala Pink Floyd pada musik karya Blake Judd dkk ini. Memang tidak terlalu nyaman, tapi tetap mampu memenuhi ruang hampa di tengah malam. Lagu ini, maupun sembilan nomor lainnya yang terangkum dalam album “Silencing Machine”, tidak hanya menemani perasaan galau, tetapi berpotensi menjerumuskan ke lubang yang lebih gelap lagi.

Vision of Disorder – Be Up On It

Vision of Disorder adalah salah satu pionir pengusung hibrida musik metal dan hardcore. Sebelum menyukai Lamb of God, Unearth atau Killswitch Engage, penyuka metalcore sebaiknya mengenal band ini terlebih dulu. Saya masih menyimpan dua kaset album lawasnya yang pernah beredar di Indonesia. “Be Up on It” adalah track paling menghentak dari album terbaru, “The Cursed Remain Cursed” [2012], yang sekaligus menandai comeback-nya mereka di jagat musik cadas hari ini. Enerjik. Bertenaga. Penuh dengan koor yang anthemik. Moshpit yang rusuh adalah garansi utama.

Earth – His Teeth Old Brightly Shine

Saya hampir rubuh mendengarkan lagu ini. Bayangkan, komposisi instrumental yang doomy, akustikal, plus teror petikan senar gitar usang yang molor nan fals. Musically, tembang ini terdengar sangat tua dan ndeso sekali. Melemparkan saya pada adegan senja di sebuah desa pinggiran di pelosok Amerika Serikat. Sesosok pria tua yang berwajah keriput, berjenggot tebal, dan berpakaian lusuh. Pria itu tampak lelah, murung dan duduk bersandar pada kursi kuno di teras rumah kayunya yang lapuk. Pria tua yang hanya diam memangku senapan laras panjang sambil menatap kosong pada lahan peternakannya yang tidak terurus. Sementara anjingnya tampak tiduran di atas lantai kayu sambil mengkedip-kedipkan mata dengan malas. Yah, lagu ini mulai terdengar sangat melelahkan…

Mono – A Quiet Place [Together We Go]

Tembang berdurasi sepanjang hampir sepuluh menit ini saya ambil dari stok album anyar mereka, “For My Parents” yang baru saja dirilis di pasaran. Mono tetap setia memainkan musik post-rock, plus pendekatan khas pada orkestra klasik yang kental aroma ketimuran. Hampir di sepanjang lagu ini penuh dengan petikan senar string yang syahdu dan bunyi-bunyian kalem yang cukup meditatif. “A Quiet Place [Together We Go]” juga bisa menggambarkan ruang kosong, panorama alam, dan tentunya, sebuah perpisahan.

*Tulisan di atas dimuat pada situs Jakartabeat.