Beberapa hari lalu, saya sempat bertanya jawab dengan Yuda Wahyu aka Citul, seorang net freak yang juga menjaga ritme bass di grupband Extreme Decay. Hasil obrolan ringan itu bisa disimak di sini. Namun sebenarnya ada satu paket pertanyaan & jawaban saat itu yang tidak masuk dalam artikel Q & A tersebut. Sengaja tidak saya masukkan dan kudu dihadirkan sebagai fitur artikel tersendiri. Sebab, menurut saya ini penting. Apalagi jawaban Citul juga cukup panjang, detil, bandel dan kerap menampar. Bagi mereka yang kebetulan bermusik dan hobi berselancar di dunia maya, ini wajib dibaca. Bagi mereka yang sering bertanya-tanya bagaimana cara promosi band di era digital khususnya melalui media internet, opini-opini Citul patut direnungkan kembali. semua ini bermula saat iseng-iseng saya bertanya;  

Seperti apa band kudunya memperlakukan internet, situs resmi, dan akun jejaring sosialnya?

Biarkan situs band itu berdiri mandiri, kembali pada kodratnya seperti dulu. Dengan konten abadi seperti home, bio, disco, galeri (mp3 + photo + video + lirik + merch), links, buku tamu & kontak. Dan masih dengan fungsinya yang mutlak sebagai ruang pamer untuk mempresentasikan dirinya sedetil-detilnya. Menjadi rumah band di dunia maya, dan villa bagi para fans yang kudu diayomi itu. Saat ini sudah sangat banyak situs yang menyediakan servis gratis mulai dari yang umum sampai yang memang dari awal sengaja dirancang untuk keperluan band/artist dengan semua fitur-fitur pendukungnya. Dan parahnya semuanya impor. Kecuali Megavoid saya.

a) Myspace -> Reverbnation
Difungsikan sebagai galeri karya, membangun jaringan & audiens.

#fakta ;
– Dari pengalaman saya mendata band untuk Megavoid, band lokal yang lahir mulai tahun 2010 rata-rata enggan atau tidak sempat mengenal Myspace. Bahkan saya jadi ragu, apakah mereka mampu mengejanya dengan benar. Miris.
– Banyak band yang sekedar bikin akun di sana tanpa mengunggah karya. Jiwa saya terkoyak. Lalu buat apa mereka lari ke warnet & bikin akun? Sekedar identitas? Standar band era digital saat ini? Saya tebak saja mungkin hanya untuk kelengkapan stiker atau kartu nama, juga buat lampiran profil atau sesi wawancara.

b) Purevolume -> LastFM -> Youtube -> Bandcamp -> Soundcloud
Saya kira, di sini band akan sulit untuk salah kamar. Menunya agak saklek. Upload sampler, dan digalerikan. Komen optional. Mengingat sampler karya adalah dagangan band yang sesungguhnya, alangkah baiknya bila band selalu menggalerikan rapi karya-karya mereka di sini. Ini adalah ruang presentasi yang apik dari band untuk label sampai audiens awam yang hanya sekedar ingin mengenal musik band itu seperti apa, dari mana, dan sudah bikin apa.

c) Friendster -> Facebook -> Twitter -> Google+

[x] Friendster, Facebook, Google+
Fungsinya hampir semuanya sama. Berteman dan berbagi. Akan sangat nyaman bagi band di sini untuk memasang bio/discography, posting photo/videos, membangun dan menyapa fans mereka seintim-intimnya daripada di Twitter. Menyampaikan pesan rilisan dan agenda. Selain menjual official merch yang menyabet porsi lebih gede dari poin sebelumnya.

#fakta ;
Di beberapa sektor mengalami penyalahgunaan wewenang dan gagal fungsi.

[x] Friendster ;
– Dulu, dari cara berinteraksi dengan teman, akun band di sini mungkin masih terbawa kebiasaan lama mereka di myspace. Spreading wall to wall. Kreatif bikin desain dengan pesan informatif. Bersemangat dan lebih beretika.

[x] Facebook & Google+ ;
– 97% tidak ada yang sempat bikin album photo khusus buat cover / poster rilisan dan shows. Band lebih suka melapak merch & foto-foto manggung mereka yang ganteng-ganteng itu daripada mendokumentasikan karir mereka. Bukan dilarang, tapi ini jelas keblinger! Belum lagi fenomena mengirim pesan dinding ke band lain dengan pengantar “nitip band kecil kami” lengkap dengan link page merujuk ke Facebook mereka. Haha! Kurang paham kenapa mereka sampai semurahan dan tidak seberetika seperti itu. Ajaran mana yang tengah mereka anut? Mungkin akan sama halnya jika kita jajakan ayam goreng Wong Solo ke kedai-kedai McD. Bila ingin jemput bola, akan jauh lebih sopan dan efektif bila owner page menambah teman sebanyak-banyaknya dan mengundangnya personal untuk jadi fans di Facebook page yang mereka bikin itu.

[x] Twitter ;
– 90% untuk ajang salam-salaman dan curhat liar, timeline jadi mirip chat room yang bisa kebaca orang banyak. Atau secara personal sekedar numpang akun untuk nebeng tenar dengan hasil akhir melapak usaha sampingannya. Ini sangat vulgar dan menjurus spam. Selayaknya servis ini digunakan untuk membagi info dinamik mengenai band, seperti ; rilisan, agenda shows, official merch, dll. Seinformatif mungkin. Sapa fans boleh saja. Kalo setiap mention kudu dibales dari sabang sampe merauke, kasihan bandwidth followers-nya yang sudah subscribe. Gak kenal dan gak pengen tau. Jadi mending fans-nya diarahkan yang benar ke situs jejaring yang lebih memadai, interaktif, dan memenuhi fungsinya seperti Facebook atau yang lain.

d) Discogs -> Metal archives -> Metalstorm -> Megavoid
– Dokumentasi, submit! Situs-situs ini adalah cagar bagi rilisan\band. Di sini, band bisa mengirimkan data / info terkait rilisan termasuk tahun, label, tracklist, cover, dll untuk dicatat bersama band-band lainnya. Dari sini juga nantinya bisa diketahui aktivitas band tersebut dari tahun ke tahun. Jadi, meski band kelak telah dinyatakan wafat, namun karya-karya mereka akan tetap menjadi bagian dari sejarah.

*Yuda Wahyu Saputra biasa nongkrong dan mengoceh pake nama ‘Cecekpawon’ di Facebook dan Twitter. Selain Megavoid, proyek karyanya yang lain bisa disimak pada blog Krakenstein.