Kisah epik tentang perburuan “Taring”, derasnya siraman musik rock oktan tinggi, selera humor yang ugal-ugalan, serta tajamnya lagu-lagu protes yang masih relevan untuk menggigit zaman. Meyakini kembali bahwa; Sebuah generasi yang tertindas, konon tidak akan pernah sendirian. May the force be with you!…

Episode I ; Perburuan Taring

Senja itu, 11 Juli 2012, saya sedang nongkrong pada sebuah kantin di sudut kampus Unibraw Malang bersama beberapa teman. Di sana saya memesan kopi dan berbincang dengan Agung Rahmadsyah, seorang sarjana komunikasi, bassist grupband Militant Express, serta jurnalis yang pernah menulis untuk Majalah Sintetik, Sound Up, dan Popular – selain aktif luar biasa di blog pribadinya.

Sebelumnya saya memang sudah janjian untuk ketemu Agung karena ingin pinjem DVD Iron Maiden “En Vivo!”. Di sela obrolan absurd tentang musik dan dunia mahasiswa, tiba-tiba kami teringat kabar hangat tentang album baru Seringai, yang kebetulan hari itu resmi dirilis ke pasaran!

Menurut kabar yang dilansir dari Facebook Seringai, album “Taring” dirilis dalam dua versi; format regular version [kemasan jewel case] yang beredar luas di beberapa spot distro dan toko musik di seluruh Indonesia, serta format deluxe edition yang hanya berjumlah 999 kopi serta cuma dijual di dua tempat; Lawless [Jakarta] dan Omunium [Bandung].

Agung tampak sedikit agak ‘panik’ dengan berita rilisnya album “Taring”. Saya duga dia pasti berharap sedang berada di Jakarta dan membayangkan ikut mengantri di Lawless. Maklum, setahu saya dia memang seorang fans berat Seringai. Agung memang suka dan paham banget dengan [musik] band itu. Bahkan tema skripsi yang dia garap selama berbulan-bulan dan mengantarkannya menjadi sarjana itu pun membahas tentang Seringai. Naskah akademiknya itu punya judul yang menarik ; “Lagu Seringai Sebagai Salah Satu Bentuk Media Alternatif Terhadap Kondisi Musik Indonesia”.

Lalu entah gimana ceritanya, tiba-tiba kami berdua sepakat untuk memburu album “Taring”, kudu dapet malam itu juga! Yah, dapat versi CD reguler pun tak masalah – sambil berharap suatu saat nanti kami beruntung bisa menemukan versi deluxe edition-nya di lapak-lapak bekas atau nekat ‘merampok’ koleksi kawan yang sudah bosan, haha.

Gelas minuman kami mulai kosong, dan perburuan pun segera dimulai. Agung nekat menelpon dua cabang toko musik yang ada di kota Malang, sebut saja Disc Tarra [nama sebenarnya!], untuk menanyakan keberadaan stok “Taring”. Disc Tarra cabang MX/Matos sedikit kebingungan mendengar nama ‘Seringai’ dan ‘Taring’. Mereka menjawab tidak ada. Sementara Disc Tarra cabang Gramedia [alun-alun kota] mengkonfirmasi keberadaan “Taring”, setelah meminta waktu sebentar untuk mencari-cari dalam catatan stoknya [?!]. Huffft, kami tidak terlalu yakin juga sebenarnya…

Oke, satu-satunya cara untuk memastikan memang kudu didatangi langsung. Saya dan Agung, bersama Rama Rembo yang datang belakangan, langsung menuju Disc Tarra cabang Gramedia. Saya dibonceng Agung naik motor, Rama tetap setia pada vespanya, kami ngebut menembus malam menuju toko musik itu.

Sampai di sana, hasilnya seperti apa yang saya khawatirkan sebelumnya. Yah, tidak ada satu keping pun CD Seringai di sana. Ah damn you, Disc Tarra!…

Sejujurnya, saya sendiri masih tidak yakin kalau “Taring” sudah masuk di Malang pada hari perilisannya. Maklum ini cuma kota ‘kecil’ di daerah. Toko musiknya pun cuma sedikit, kecil dan tidak terlalu komplit atau up-to-date. Sebuah album baru biasanya akan butuh waktu untuk bisa sampai di Malang, apalagi jika album tersebut dirilis dari pusat industri musik nasional seperti Jakarta atau Bandung. Saya sudah sering sebal dengan fenomena tidak meratanya distribusi album musik seperti ini.

Di akun twitter Seringai sempat disebutkan juga kalau spot distribusi “Taring” adalah Inspired Store. Oke, yang ini perlu dicoba. Saya coba kirim pesan singkat pada kenalan saya yang bekerja di distro tersebut. Tidak ada jawaban. Saya lalu sms Bongki Cadas, aktivis skena dan kloting lokal yang biasanya tahu segala hal yang lagi happening di kota Malang.

Ada om. Ini saya juga mau ke sana kok!”, balas Bongki di inbox saya.

Titik cerah. Segera saya memberitahu Agung kalau kemungkinan ada “Taring” di Inspired. Dia sumringah dan langsung mengajak menuju ke sana. Saya lalu sms Bongki lagi, “Oke, tolong booking-in dua keping ya Bonx. Bentar lagi aku ke sana!”

Kami bertiga segera meluncur ke Inspired. Jarum jam menunjukkan hampir pukul delapan malam. Kudu cepet dan lebih ngebut lewat jalan pintas, sebelum kehabisan stok “Taring” atau distro itu yang keburu tutup.

Udah tuh, ada di kasir!” kata Bongki yang sedang berdiri di depan Inspired Store saat kami baru memasuki pelataran parkir. Sekilas saya lihat Bongki juga sudah memegang sekeping “Taring” di tangannya. Saya langsung masuk toko, lihat-lihat etalase musik sebentar, lalu bertanya pada kasir, “Ngngng, anu mas, CD Seringai?!…”

Oh udah habis mas. Baru aja…”, jawab pemuda di meja kasir.

Loh, tadi udah pesen lewat Bongki kok…” jawab saya sedikit panik.

Oooh, yang dua biji itu ya? Oke, ini mas. Untung tadi udah pesen. Ini stok terakhir. Sekarang udah habis. Emang kita cuma dikirimin dikit sih mas…”

Wohoo, ternyata hari itu kami mendapatkan dua keping terakhir “Taring” yang ada di Malang. Ini menarik. Rasanya seperti mencetak gol di masa injury time. Last minutes. Agung pun tampak bahagia. Dia iseng memotret diri bersama CD “Taring” serta mengunggahnya via twitter. Pamer sih niatnya, sekaligus sebagai tanda kemenangan ‘serigala’ malam itu.

Apalagi setelah keberhasilan ini, kami banyak mendapati muda-mudi yang datang ke Inspired dengan niat untuk membeli “Taring”, namun mereka terpaksa kudu pulang lagi karena kehabisan stok. Sebagian teman juga mengeluh lewat jejaring sosial karena gak kebagian “Taring” di hari pertamanya. Kami hanya bisa menyeringai, tersenyum puas, dan jahat!

Setelah nongkrong sejenak di Inspired, kami lalu pulang ke rumah masing-masing. Untuk memutar “Taring’, tentunya. Album ini langsung menjadi heavy rotation dan topik perbincangan selama beberapa hari. Agung bahkan segera menulis ulasan “Taring” di blog-nya ; http://luapkanlupa.wordpress.com/2012/07/14/tentang-kepekaan-kejelian-sikap-dan-cara-bersenang-senang-4-pria-brengsek/

Sejak malam itu, hingga beberapa hari setelahnya, kami berlagak seperti lucky bastards dengan senyum puas yang menyeringai. Yeaaah, kami punya “Taring”, kalian TIDAK!…

Well, tulisan ini kudunya berakhir di sini…

Kalau saja beberapa pekan lalu Hilmi dari Majalah Sintetik tidak meminjamkan CD “Taring” versi deluxe edition-nya sambil mengajukan sebuah rekues yang ‘mematikan’, “Ini bawa aja dulu, Mas. Trus di-review ya buat Sintetik…”

Saya cuma mengangguk. Speechless.

Episode II ; Peluru Yang Memburu

Saya berdiri di sisi stage ketika Seringai sedang bersiap-siap untuk tampil pada panggung utama Kickfest di Lapangan Rampal Malang, 02 Juni 2012 silam. Sebuah instrumentalia yang bercorak akustik mengalun pelan dari speaker mengiringi langkah Arian dkk berjalan menuju posisinya masing-masing. Petikan gitar, melodi dan ritme balada yang lumayan gagah. Intro itu belakangan saya ketahui sebagai “Canis Dirus”, track pembuka yang ada di album “Taring”.

Dalam pertunjukan itu, Arian dkk juga memainkan “Dilarang Di Bandung”. Penonton sudah cukup kenal dengan tembang ini. Maklum sudah sering dimainkan di berbagai panggung Seringai, dua-tiga tahun terakhir ini.

Dari judulnya, sudah jelas topik apa yang sedang dibicarakan oleh Arian dalam liriknya. Yah, semua itu berawal dari sebuah tragedi konser metal yang menewaskan sebelas jiwa di gedung AACC Bandung, beberapa tahun silam. Imbasnya, aparat langsung mencari kambing hitam dan memberangus kehidupan seni musik [cadas] di kota itu. “It’s us versus them. It’s always was, is, and always will be,” tulis Ricky Siahaan dalam eksplanasinya. Provokatif!

Amarahku menderu, bagaikan guntur,

akulah sang sangkur,

akulah peluru, yang akan memburu.”

Itu adalah petikan lirik lagu “Taring”. Gagah. Penuh semangat. Menggigit. Musically, mengingatkan saya pada Motorhead dalam tempo yang paling ‘nanggung’. Mungkin agak terlalu ‘pelan’, untuk ukuran musik cadas. Lagu ini kayaknya memang digeber dengan santai, namun didesain memiliki koor anthemik yang cukup menggugah pada baris refrain. Sepertinya saya kudu berdiri di moshpit menunggu lagu ini dimainkan secara live. Penasaran.

Sayangnya, “Taring” yang lain kurang menggigit. “Taring” yang saya maksud di sini bukanlah album atau lagu, melainkan sebuah cerita pendek yang berjudul sama dan hanya terdapat pada CD edisi deluxe version.

Cerpen “Taring” ditulis oleh Soleh Solihun, jurnalis musik legendaris yang saat ini lebih dikenal sebagai komedian berdiri, penyiar, dan mc/host di beberapa acara. Dia menuturkan fiksi tentang Jakarta di tahun 2150. dengan bahasa yang agak sarkastik. Sedikit absurd. Apokaliptikal. Saya tidak paham sastra, tapi terus terang dari segi penceritaan kayaknya masih kurang kuat. Minim greget.

Namun sebagai bonus atau hiburan, tidak apa-apalah. Soleh pasti sudah berusaha cukup keras untuk menulis cerita seserius ini di sela kegiatan rutinnya membuat skrip-skrip humor dan memandu program hiburan. Iseng, saya bayangkan Soleh tampil dalam sesi story-telling membacakan cerita “Taring”-nya ke hadapan penonton. Ini mungkin ide yang seru juga.

Begitu membaca judul lagu “Fett, Sang Pemburu”, saya langsung tersenyum. Gembira. Saya tahu lagu ini tentang apa, dan saya tahu siapa personil yang paling bertanggungjawab akan pemilihan topik ini. Saya jadi ingat dulu pernah mewawancarai Arian untuk sebuah artikel di Apokalip webzine, beberapa tahun lalu. Dalam satu barisnya saya sempat bertanya;

Siapa karakter Star Wars yang paling mendekati imej anda?

Arian ; Gue pengen bilang Boba Fett, tapi kayaknya yang lebih mendekati adalah C-3PO. Karena cerewet dan sering nyusahin.

Saya pun sangat menggemari film Star Wars. Bahkan sebelum saya putar, saya tahu kalau “Fett, Sang Pemburu” bakal jadi lagu favorit saya di album ini. Tak peduli jika saya harus dipenggal Jedi.

Slave One!

Episode III ; Azab, Logika, Humaniora

Pada akhir April 2012, Seringai sempat melempar single “Tragedi” secara gratis melalui situs resmi mereka. Terakhir saya cek di Seringai.com, singel itu sudah hampir meraup angka 250 ribu kali download. Fantastis. Bahkan konon pada dua jam di hari pertamanya saja, tak kurang ada 20 ribu pengunduh yang mengakses singel itu. Akibatnya, server mereka sempat crash dan banyak orang yang kesulitan untuk mengunduh “Tragedi”. Dalam kondisi seperti itu, para kaum ‘Fakir Bandwidth’ sudah selayaknya protes dan mengutuk pemerintah c/o Tiffatul.

Saya pun mengalami hal buruk yang sama pada hari itu. Beberapa kali mencoba men-download “Tragedi” namun hasilnya selalu gagal. Tentang “Tragedi” dan server yang down pun sempat heboh serta menjadi perbincangan yang hangat pada timeline Twitter. Akh, ini benar-benar tragedi kalau saya sampai tidak mendapatkan “Tragedi” di hari itu juga.

Ketika sedang menggerutu di jejaring sosial, tiba-tiba saya dapat tawaran ‘hibah’ singel “Tragedi” dari beberapa kawan yang sudah berhasil mengunduh lagu tersebut. Mereka sudi mengirimkan singel itu ke email saya. Tentu saja saya mengiyakan tawaran mereka. Beberapa saat kemudian saya cek di kotak surat, total ada enam email yang berisi singel “Tragedi”. Banyak kawan, banyak rejeki. Malam itu juga saya twit singkat, “#nowplaying @Seringai’s Tragedi. #TARING”.

Saat membaca lirik “Tragedi”, saya terlempar kembali pada sebuah artikel “Seringai; Tragedi, Logical Fallacy, Anti Theodise” yang ditulis Adi Renaldi di situs Jakartabeat.net. Sebuah tulisan apik yang cukup serius, penuh wacana dan diskursus. Terlalu panjang dan komprehensif untuk saya kutip sebagian, jadi sebaiknya baca langsung saja versi komplitnya di sini ; http://www.jakartabeat.net/musik/kanal-musik/album/item/1451-seringai-tragedi-logical-fallacy-anti-theodise.html#.UB2caeL7t_c

Di luar dugaan, eksplanasi yang ditulis Arian13 ternyata lebih personal dari sekedar konflik bencana alam, akhlak manusia, dan azab dari yang kuasa. Dia membeberkan “Tragedi” dari sudut pengalaman pribadi dan kisah keluarganya. Khusus untuk eksplanasi lirik ini, dia bahkan menulis lebih panjang dari biasanya. Ini cukup mengagetkan, kalau tidak bisa disebut mengharukan.

…Ya, manusia kadang menjadi bebal karena pemikirannya tentang dogma malah menjadikan mereka tidak peka terhadap perasaan orang lain.” Itu mungkin salah satu kalimat sindiran paling ‘halus’ dan humanis yang pernah saya baca dari sang penulis lirik Seringai selama ini.

Episode IV ; Lagu Pesta Di Ujung Gang

Siang hari di pertengahan bulan Maret 2012, saya sempat bertemu dengan para personil Seringai di De Nins Steak & Resto, Malang. Mereka memang dijadwalkan hadir dalam acara press conference sekaligus meet & greet – sebelum tampil pada event God Save The Scene yang digelar oleh Common Ground magazine.

Malamnya, Seringai tampil apik di lapangan Politeknik Negeri Malang. Penuh enerji dan mampu membakar crowd. Mereka mengusung belasan nomor ke hadapan lebih dari 600 penonton yang hadir di venue. Kelar pertunjukan, saya berbincang santai dengan Arian13 dan Ricky Siahaan di penginapan mereka. Saat itu ada juga Antok Celeng [CG Zine] dan Chipenk [Begundal Lowokwaru]. Kami ngobrol, cerita, minum bir, dan begadang hingga subuh.

Ketika membicarakan bakal album Seringai, Arian tiba-tiba memamerkan satu lagu baru mereka melalui ponselnya. Sebuah lagu tradisional Batak, katanya. Bercorak balada dan dilagukan secara masal. Hanya ada gitar bolong, tamborin, dan koor keroyokan yang sepertinya memang cocok keluar dari mulut yang berbau aroma tuak. “Ini memang lagu untuk pesta dan minum-minum kalau di sana,” kata Arian.

Arian lalu bersemangat menceritakan segala detil penggarapan lagu ini, termasuk siapa saja orang-orang yang spontan diajak ikut take vocal ketika mampir di studio. Dini hari itu di teras kamar Hotel Pajajaran, kami sudah berkenalan dengan satu lagu baru yang berjudul “Lissoi”, sekitar tiga bulan sebelum akhirnya resmi dirilis ke publik.

Episode V ; Ragam Tema Oktan Tinggi

Yah, generasi muda mana yang tidak bosan terus-menerus dituduh binal serta bermoral rendah oleh pejabat negara dan para tokoh agama. Faktanya, mereka ternyata lebih bebal daripada yang kita bayangkan. Sumpah, ini negeri yang lucu.

Serenada Membekukan Api” kudunya bisa menampar bapak menteri yang ber-nickname Tiffie itu. Lagu ini tentang sensor internet dan pentingnya edukasi seks bagi masyarakat. Menurut Agung, Arian lagi-lagi telah menunjukkan sikap skeptisnya yang konsisten lewat eksplanasi lagu ini; “Atau, jangan-jangan lewat isu pornografi ini adalah isu menjual sebagai garda depan usaha status quo untuk meredam kemerdekaan berbicara via konten internet? Hmm”

Kalau ada yang lebih lucu lagi, dalam konotasi yang positif, itu pasti “Discotheque”, sebuah tembang lawas milik Duo Kribo yang sukses digubah oleh Seringai. Silahkan dengar lagu aslinya, lalu bandingkan dengan versi Seringai, niscaya anda akan mengangguk pelan dan tersenyum membayangkan betapa bahayanya musik rock Indonesia di era 70-an.

Saya suka bagian pembuka dari “Program Party Seringai”. Yah, suara host perempuan yang berkoar mengenalkan grupband Seringai itu. Gokil. Sesuai dengan judulnya, ini jelas proyek narsis dan tipikal lagu pesta. Sebuah komposisi yang memang dibuat khusus untuk bersenang-senang. Mengundang koor masal dan moshpit yang rusuh. Anthemik. Thrashing gila-gilaan layaknya Anthrax, DRI, atau Municipal Waste. Just for having fun. Why so serious?!…

Pada saat penyusunan album ini, kami sempat berdiskusi tentang topik yang akan diangkat. Seperti apa fenomena sosial yang muncul dalam lima tahun ke belakang. Ternyata, topik-topik ini sudah kami bahas di album sebelumnya! Lima tahun berlalu, masalahnya masih juga sama. Intoleransi beragama, kekerasan aparat, korupsi, dan lainnya. Ternyata kita stagnan. Rasanya seperti menyanyikan lagu lama yang masih kontekstual hingga saat ini.”

Kalimat di atas tadi diungkapkan Edy Khemod saat menjelaskan tentang “Lagu Lama”. Bangsa ini memang seperti gemar mempertahankan kondisi buruk yang sama, berlarut-larut, bahkan mengulanginya lagi apabila mungkin. Tak ayal, semua lagu protes yang dibikin dalam kurun waktu lima bahkan sepuluh tahun terakhir ini rasanya masih relevan untuk menjelaskan kondisi Indonesia saat ini. Ada penguasa yang lamban, kelompok yang bebal, dan rakyat yang semakin geram. Melelahkan.

Musically, Seringai bermain cepat di “Lagu Lama”. Kawan saya, seorang bassist Extreme Decay, mengaku sangat menyukai tembang ini. Alasannya jelas; karena lagu ini menggerinda, singkat, dan to-the-point. Selamat datang Napalm Death, Siege dan Extreme Noise Terror dalam barisan root yang ikut membentuk corak musik Seringai.

Infiltrasi” merupakan sebuah ode bagi mereka yang bekerja dengan passion tinggi serta memberikan dedikasinya bagi perkembangan skena musik independen. “…Kawan-kawan yang punya determinasi untuk menghadirkan kemajuan dan perubahan bagi tempat mereka berasal, kami angkat gelas untuk kalian,” tulis Ricky pada eksplanasinya.

Gaza” yang ditaruh di akhir set “Taring” adalah track panjang berdurasi lebih dari enam menit. Ada apa Seringai dengan lagu panjang?! Setelah eksperimentasi mereka dalam “Marijuanaut” yang doomy nan sludgy, kali ini Arian dkk ‘bermain-main’ dengan komposisi progresif. “Gaza” sepertinya jadi nomor instrumentalia yang sarat percobaan, mulai dari pemakaian gitar akustik, moog, synth, terompet, hingga trombon.

Tembang yang seksi, artsy, dan out-of-the-box, menurut saya. Komposisi ini juga seperti memamerkan kecintaan para personil band ini akan Genesis, Neurosis, Mastodon, Kylesa, atau Baroness. Kalau pun suatu saat di masa depan Seringai nanti akan membuat lagu-lagu semacam ini, saya tentu tidak keberatan. “Gaza” mungkin bisa menekan [musik] Seringai ke level berikutnya. Oke, kita lihat saja. Semoga tidak harus menunggu lagi hingga lima tahun ke depan.

Episode VI ; Opini, Harapan dan Peluang

Terus terang, saya tidak ada komplain soal sisi produksi album ini. Ricky Siahaan selaku produser rekaman, saya rasa telah menjalankan tugasnya dengan baik. Posisinya sebagai gitaris rupanya turut mengasah gendang telinganya akan tipikal sound dan layer musik yang tepat bagi “Taring”.

Seorang jurnalis The Jakarta Post, Felix Dass, menuliskan dalam resensinya, “Taring sudah mengalami perjalanan panjang untuk sampai mampu menyimak dan menyibak indahnya kehidupan manusia. Ia punya segala macam standar produksi tinggi yang diset oleh masing-masing personil Seringai; artwork kelas dunia milik Arian13, suara riff gitar yang begitu khas ala Ricky Siahaan, celotehan realistis Edy Khemod di sleeve notes dan versi cerdas lainnya milik Sammy Bramantyo.”

Menurutnya, ada banyak eksplorasi musikal yang telah dilakukan oleh keempat personil Seringai. Kendati demikian, masih ada pattern yang sama dengan album “Serigala Militia” dalam penyusunan urutan lagu-lagunya.

Sektor lirik pun digarap cukup serius dan selalu menjadi peluru yang ampuh. Saya kudu sepakat dengan apa yang pernah dibilang oleh Rio Tantomo, drummer Aksi Teror dan jurnalis Trax Magz, “Celakanya Arian itu tipe orang yang cerdas untuk memotret suatu peristiwa dan dipindahkan dalam kata-kata yang elegan tapi gak rumit.”

Isu maupun pesan-pesan yang diangkat oleh band/musisi melalui liriknya memang seringkali tampak biasa dan klise di jazirah musik rock. Sejak dahulu kala, musik rock memang dilahirkan untuk mengungkapkan kritik dan protes. Mengancam dan melawan. Itu naluri, dan sudah fitrahnya demikian. Sebagaimana kalimat yang pernah saya baca di sebuah artikel asing, “Rock never settles for the status quo, teaching generations that questioning authority is a cornerstone of democracy.”

Sementara istimewanya Arian dkk adalah mereka kerap mengangkat isu yang cukup aktual dan relevan bagi generasinya. Sumbernya pun berasal dari potret peristiwa sosial-politik yang terjadi di sekitar kita, di negeri yang konon gemah ripah loh jinawi ini. Metode seperti itu yang bikin pesan-pesan dari Seringai itu menjadi cukup efektif untuk mewakili serta menyuarakan opini anak zaman tertentu.

Sampai di sini saya jadi teringat pada salah satu poin kesimpulan dari skripsi yang digarap Agung Rahmadysah, “Lagu merupakan salah satu bentuk media alternatif yang paling efektif dibandingkan varian media alternatif lainnya. Karena salah satu sifat lagu atau musik adalah hiburan, dan musik memiliki struktur melodi yang memudahkan seseorang untuk mengingat dan mencerna. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh band-band indie, dalam hal ini Seringai, untuk menyampaikan pesan-pesan yang diangkatnya.”

Jika saya gambarkan, “Taring” telah melakoni komposisi musik yang antagonis [baca; keras atau ekstrim] dengan penulisan lirik lugas yang protagonis [alias berbobot] untuk generasinya. Satu paket yang lengkap bersama dengan kualitas produksi, kemasan, imej, serta artwork keren yang bertebaran di kemasan album ini.

Suka atau tidak suka, Seringai sudah menancapkan “Taring”-nya. Mereka menyampaikan opini, menyerukan protes, memberi harapan, serta merangsang kaumnya untuk bertindak. Saya percaya, pesan-pesan seperti itu masih bisa menginspirasi para penikmatnya. Apalagi setahu saya, setiap fans Seringai yang serius selalu punya sisi-sisi ‘perlawanan’ di dalam diri mereka.

Mungkin akan terkesan berlebihan jika kita berharap “Taring” bisa merubah kondisi yang sudah bobrok di negeri ini. Namun setidaknya, karya itu bisa mendorong anak muda untuk bersikap tegas dan lebih berani menjalani hidup. Pesan mereka jelas, bahwa kita tidak sendirian dan belum waktunya untuk menyerah. Persis seperti yang ditulis Sammy dalam penjelasan lagu “Taring”, “Tetaplah muda dan berbahaya. Percayalah kita kan menang.”

[samack]

*Artikel ini sebelumnya dimuat pada situs Majalah Sintetik.