“Fase 10 hari pertama di bulan Ramadhan itu adalah fase rahmat [kasih sayang] Allah SWT terhadap seluruh hambanya yang berpuasa.” – kutipan.

Setiap bulan puasa, siklus kehidupan harian saya berubah drastis. Baru bisa tidur pagi saat matahari sudah naik menyapa langit, lalu bangun siang bahkan bisa nyaris hingga sore hari, trus buka puasa pas adzan maghrib, kemudian beraktifitas sampai tengah malam, dini hari, dan waktu sahur pun kunjung tiba. Nokturnal. Seperti kelelawar – namun bukan karena euforia film The Dark Knight Rides loh. Tapi yah, konon film itu apik juga, anyway.

Jadwal khusus untuk menikmati musik pun ikut berubah. Biasanya saya mulai santai dan intens memutar musik – kaset, cd, atau mp3 – itu sejak tengah malam hingga waktu sahur memanggil. Lebih enak dan nyaman. Tenang dan santai. Sambil ngopi, nyemil, dan merokok tentunya. Fffuuhh…

Nah, selama sepuluh hari pertama bulan puasa ini ada sepuluh album yang cukup intens saya putar mulai abis berbuka hingga jelang sahur. Album-album yang ‘menolak matahari’ itu adalah…

The Smashing Pumpkins – Oceania

Billy Corgan dkk tidak pernah sebagus ini semenjak ‘Adore’ [1998], bahkan ‘Mellon Collie’ [1995]. Sekejap saya sudah bisa melupakan nama James Iha, Jimmy Chamberlain dan D’arcy – serta tidak pernah menyesal hadir menyaksikan aksi Jeff Schroeder, Mike Byrne dan Nicole Fiorentino di festival musik JRL 2010 lalu.

if These Trees Could Talk – Red Forest

Jangan pernah bicara dengan pohon, mereka hanya akan membisu namun tetap bisa memberikan perasaan nyaman layaknya album spektakuler ini. Syahdu. Mengawang. Dan kadang masih ada distorsi.

Hellhound – Demo 2012

Sudah lama saya tidak dikejutkan oleh band-band baru. Kali ini Hellhound boleh jadi pengecualian. Band anyar asal Malang ini fasih memainkan musik death metal dengan presisi dan tehnik tinggi. Lagian, saya tidak akan pernah meragukan kualitas band yang mampu mengkover lagu ‘Nothing Else matters’ dan ‘For Whom The Bell Tolls’ secara medley dan bisa terdengar lebih beringas!

Baroness – Yellow & Green Album

Putih itu milik The Beatles. Hitam milik Metallica. Kuning dan hijau itu milik Baroness. Saya rela disebut hipster hanya gara-gara menyukai album ini. Errrg, hipster?! Ok, no problemo. But, hey wait… Fukk you!… It’s a metal things, you basterd!…

Seringai – Taring

Kalo ini jelas karena materinya masih baru dan saya cukup suka. Alasan lain, karena saya gemar Star Wars. Oke, selain itu karena ada ‘pesanan’ untuk mereview album ini buat Majalah Sintetik. Ntar cek aja penjelasan detilnya di situ.

Metallica – Ride The Lightning

Saya kerap mendengarkan album-album rock/metal klasik hanya dengan alasan nostalgia. Oke, ini sentimentil. Belakangan hari saya memang demen puter album ini, dan selalu ikut chanting sambil mengepalkan tangan di lagu ‘Creeping Death’. Die!… Die!… Die!…

Junius – Reports From The Threshold of Death

Saya baru dapet lagu ini dari Hilmi [Majalah Sintetik] dan langsung jatuh cinta. Apik. Post-rock yang teduh, tapi gak terdengar lembek. Komposisi musiknya? Mirip dengan namanya, jenius!…

Old Man Gloom – No

Ada orang-orang terbaik dari Isis, Converge, dan Cave In di kelompok ini. Lalu ada fakta bahwa Aaron Turner jarang melakukan kesalahan. Jadi tidak ada alasan bagi saya untuk tidak menyukai band dan album sludge/stoner/doom yang sangat berwajah Amerika ini.

Alcest – Les Voyages De L’Ame

Saya akan memutarkan album ini untuk Carla Bruni dalam sebuah sesi makan malam yang romantis sambil berbincang tentang revolusi Perancis, insiden tandukan Zidane di final World Cup 2006, serta di mana letak kedai anggur terenak di Bagnols-sur-Ceze.

Gojira – L’enfant sauvage

Di sela sesi makan malam di atas, tiba-tiba Carla Bruni ngotot mengajak saya untuk berdansa. Saya menolak dengan sopan. Sebagai gantinya, terpaksa saya putarkan album ini lalu mengajaknya headbanging bersama di depan perapian.