photo by Alo Saurus

Sabtu siang, 11 Desember 2010, hujan sempat mengguyur daerah Kenjeran, Surabaya. Tapi hal itu tidak menyurutkan langkah muda-mudi kota pahlawan untuk datang berduyun-duyun ke acara festival musik bertajuk Coca-Cola Soundburst. Concert-goers yang fanatik juga datang dari kota Malang, Kediri, Jember, Madiun, Jogja, Bandung, dan Jakarta. Tiket murah untuk empat puluh band dan musisi nasional, plus headliner asing tentu menjadi daya tarik utama.

Memasuki areal venue rasanya seperti mau masuk ke stadion sepakbola, saking banyaknya suporter Persebaya [Bonek] yang datang dengan segala atribut dan benderanya. Pemandangan yang unik sekaligus aneh. Apakah ini dampak dari harga tiket yang terlalu murah?! Well, entahlah…

Hari itu, Soundburst menyuguhkan tiga panggung di areal venue. Stage A dan B cenderung menampilkan band dan musisi dari level mainstream, sedangkan Stage C diisi oleh band-band independen dengan jenis musik yang lebih keras dan cutting-edge. Panggung ukuran sedang yang hingar-bingar itu tentunya lebih menarik, setidaknya bagi saya dan kawan-kawan serombongan. Yah, Stage C ibarat desa Galia di tengah kepungan wilayah kerajaan Romawi.

Panggung Galia

Sejak sore, saya lebih banyak menonton band dari sisi kiri Stage C, tepatnya di sekitar jajaran booth games. Kenapa? Karena kawan-kawan saya betah di sana bermain games sambil menguras habis berbagai hadiah merchandise dari Coca-Cola. Hasilnya?! Kami mabuk Coca-Cola dan semua tas penuh dengan bermacam hadiah. Komplit mulai dari gantungan ponsel, notebook, mini fan, topi sampai kaos.

Di sela ‘kesibukan’ di booth games, saya menyempatkan untuk mengintip beberapa nama yang tampil di Stage C. Seperti Banery yang cukup menghibur atau Rocket Rockers yang gokil memainkan potongan lagu Justin Bieber. Juga Endank Soekamti yang semakin nakal, serta Souljah dan Shaggy Dog yang terus mengajak crowd untuk bergoyang.

Band-band tadi hanya saya tonton sepintas. Terus terang, musiknya bukan selera saya. Tampaknya sih baik-baik saja dan cukup mantap aksi mereka. Itu kalau saya lihat dari respon penonton yang masih antusias menyambut mereka. Sejujurnya, hanya ada beberapa band lokal yang paling saya tunggu penampilannya. Kepada mereka, saya berikan perhatian lebih banyak.

Paska intro, Seringai langsung menggeber dengan nomor pertama, “Citra Natural”. Singel yang catchy dan edgy, menurut mereka ketika saya wawancarai tahun lalu. Dilanjutkan kemudian dengan lagu baru “Program Party Seringai”, dan lagu klasik “Mengadili Persepsi [Bermain Tuhan]” yang mengundang koor masal dari crowd. Secara umum, Arian13 dkk masih handal di panggung. Tetap keras dan menghibur. Seringai memang tipikal ‘live band’, yang selalu berbobot di setiap pentasnya.

Ada yang mau gitar?!” tanya Otong sambil mengangkat gitar berwarna hitam yang baru dipakai di nomor pembuka, “Nyanyikan Lagu Perang”. Sang vokalis tampan itu tanpa basa-basi mengundang dua penonton berkaos Koil ke atas panggung. Salah satunya langsung diberi gitar gratis tanpa syarat apapun. Tanpa pertanyaan, kuis ataupun game yang tidak penting. Ya, alangkah beruntungnya pemuda berkaos Koil tadi.

Oke, selanjutnya lagu dari Kangen Band!” ujar Otong dengan gaya sarkastiknya. “Aku Lupa Aku Luka” menjadi suguhan berikutnya. Di ujung lagu ia [lagi-lagi] membanting gitarnya hingga patah. Band yang malam itu agak ‘boros gitar’ kembali meraup aplaus penonton. Di ujung set, Koil mengakhiri aksinya lewat lagu “Kenyataan Dalam Dunia Fantasi” dan “Suaramu Merdu”.

Ada yang aneh dan mengganggu ketika Burgerkill tampil di atas stage. Gitar Agung tampaknya bermasalah dan nyaris tidak berbunyi sama sekali. Alhasil, penampilan Burgerkill tidak maksimal sejak lagu pertama, “Atur Aku” hingga “Darah Hitam Kebencian” yang jadi pamungkas. Sangat disayangkan, malam itu adalah penampilan terburuk Burgerkill sepanjang yang pernah saya tonton sebanyak puluhan kali.

Lain halnya dengan kuartet rock asal Bandung, The S.I.G.I.T. Mereka tampil pol sekali malam itu. Sound-nya terdengar prima dan aksinya cukup memikat. Ekstase rock n’ roll terpancar kuat selama penampilan mereka. Apalagi saat lagu “Black Amplifier” yang banyak direkues penonton berkumandang. Tanpa ragu, saya tasbihkan The S.I.G.I.T sebagai band domestik yang tampil paling keren di sepanjang festival ini.

Sebagai penutup di Stage C, ada Dead Squad yang bertindak semacam headliner bagi masyarakat Galia malam itu. Mereka tampil lugas mengusung beberapa stok lagu dari album “Horror Vision”. Performa band death metal asal Jakarta itu makin sangar dengan dukungan visualisasi seram dari layar LCD di background panggung. Sekitar jam sepuluh malam, Daniel dkk menyudahi aksinya sekaligus menutup sesi musik keras di stage C.

Sihir Dari Denmark

Hingar-bingar di Stage C sudah berakhir, crowd mulai bergeser ke arah Stage A dan B. Di sana masih ada Pas Band, The Changcuter, dan Nidji yang tampil bergantian di dua panggung itu. Tapi yang paling ditunggu malam itu tentunya adalah headliner asal Denmark, MEW.

Sekitar jam sebelas malam, trio Jonas Bjerre [vocal/gitar], Bo Madsen [drum], dan Silas Jorgensen [drum] mulai naik panggung. Personil inti MEW memang hanya tiga orang itu, dan setiap show selalu membawa additional musicians untuk posisi bass dan keyboard.

MEW membuka konser dengan tembang “The Special”. Dilanjutkan berturut-turut dengan “The Zookeeper’s Boy”, “Hawaii”, “Beach”, “Her Voice Is Beyond Her Years”, hingga “Sometime’s Life Isn’t Easy”. Sejak lagu awal, MEW sudah memikat penonton. Crowd lebih banyak diam, termangu dan tertegun. Sebagian kecil mencoba ikut bernyanyi atau sekedar bergumam menirukan lirik yang keluar dari mulut Jonas Bjerre.

Saya tidak sanggup menawan senyum saat melihat gerombolan penonton ‘berbendera’ hanya kuat bertahan pada lagu pertama MEW, dan akhirnya memilih keluar dari barisan depan. Padahal sebelumnya, tipe penonton ini selalu mendominasi barisan depan panggung, lengkap dengan segala atribut dan bendera lokalnya. Mungkin mereka kebingungan mendengar musik MEW. Tidak bisa ikut bernyanyi, tidak tahu musti berbuat apa, dan memilih untuk pulang saja. Ya, saya rasa itu pilihan yang bijak bagi mereka, dan bagi fans MEW juga tentunya.

Malam itu, penampilan MEW memang sangat prima seperti yang pernah saya tonton pada Java Rockin’ Land [JRL], tahun 2009 silam. Mulai dari musik, sound sampai aksi panggungnya nyaris sempurna dan keren. Bedanya, kalau di JRL 2009 ukuran layar visualnya lebih besar. Penontonnya juga relatif lebih ramai dan heboh.

Setlist MEW selanjutnya adalah “Snow Brigade”, “Eight Flew Over, One Was Destroyed”, “Circuitry of The Wolf”, “Chinaberry Tree”, “Do You Love It?”, dan “She Spider”. Band yang terbentuk 1994 ini bermain cukup santai dan dingin. Di sela-sela lagu, Jonas Bjerre kadang masih bisa berbasa-basi mengucapkan kalimat standar dalam bahasa Indonesia, seperti “Terima kasih” atau “Apa kabar?” dengan logat skandinavia yang khas.

Keistimewaan konser MEW adalah paket suguhan video art selama pertunjukan mereka. Hampir semuanya tematik dan disesuaikan dengan konsep lagu mereka. Ini menarik, sebab tidak banyak musisi yang sungguh-sungguh melakukan hal semacam itu. Mungkin hanya Pink Floyd atau Tool yang intens dan serius melakukan hal serupa pada setiap konser mereka. Band Indonesia?! Well, they can start now.

Visualisasi yang diusung MEW didominasi oleh gambar-gambar fantasi, kartun, anak-anak, atau binatang yang absurd. Yah, mungkin se-absurd lagu-lagu MEW pada umumnya. Visualisasi itu bikin konser MEW tidak terlalu dingin atau hambar. Apalagi Jonas Bjerre dkk termasuk minim bicara. Paket visual Itu mungkin salah satu cara mereka untuk berkomunikasi atau menyampaikan pesan kepada penonton. And it’s really works.

Bagi sebagian fans, highlight penampilan MEW malam itu adalah saat mereka membawakan hits yang paling syahdu, “Comforting Sounds”. Sejak awal saya juga menunggu lagu pelan berdurasi panjang itu dimainkan. Hampir semua penonton tampak terbius dengan lagu tersebut. Mereka yang hapal liriknya cukup bergumam pelan. Momen yang paling ajaib adalah saat mendengarkan bagian outro-nya yang panjang. Saya yakin, pengusung shoegaze sekaliber M83 atau Explosions In The Sky pun pasti iri luar biasa dengan outro lagu ini.

Setelah lagu itu, MEW tiba-tiba pamit ke belakang panggung. Trik yang sudah cukup umum namun belum juga basi di setiap pertunjukan. Penonton juga cukup paham jika mereka musti meriakkan kalimat, “We want more! We want more!” demi mendapatkan sesi encore untuk mencapai klimaks sebelum beranjak pulang.

Benar juga, tak lama Jonas Bjerre dkk kembali naik ke atas panggung. Sebagian fans tentu sudah bisa menebak lagu apa yang bakal dibawakan MEW di akhir set. Diawali dengan “Am I Wry?”, salah satu lagu wajib yang musti dimainkan MEW di setiap konsernya. Disambung kemudian dengan tembang berjudul “156” yang penuh dengan ritmik ganjil. Dua hits lawas dari album Frengers [2003] itu sekaligus menjadi penutup dari segala dongeng absurd dan musik latar yang menyihir dari negeri Denmark.

Bagi sebagian kalangan, konser MEW malam itu dianggap sebagai salah satu yang pertunjukan musik terbaik di tahun 2010. Tidak cuma itu, Soundburst juga berpotensi menjadi ajang festival musik yang menarik dengan pilihan band dan musisi yang lebih berbobot. Tanpa rintik hujan dan gerombolan penonton yang berbendera tentunya…

*Artikel ini dimuat di situs Jakartabeat.net