photo by lovelytoday.com

Very excited to bring The Smashing Pumpkins to Jakarta. It’s gonna be a great show. I sent my brother to Indonesia for his honeymoon!

 

Begitu yang terbaca dari akun Twitter milik Billy pada tanggal 04 Oktober 2010. Billy yang saya maksud di sini, tentu saja, adalah William Patrick Corgan Jr, sosok utama di balik semua karya The Smashing Pumpkins. Ya, lelaki botak itu pasti lebih dikenal dengan nama Billy Corgan.

Kata ‘excited’ rasanya bukan cuma milik Billy Corgan seorang saat itu. Karena hampir semua orang yang saya temui juga menyatakan ‘excited’ untuk menonton aksi band asal Chicago itu di Java Rockin’ Land [JRL], sebuah festival musik rock yang diklaim sebagai yang terbesar di Asia Tenggara. Apalagi ini adalah konser pertama The Smashing Pumpkins di Indonesia, setelah sering digosipkan akan datang sejak beberapa tahun lalu.

Saya? Sama juga! Begitu excited-nya sampai-sampai saya malas pulang kampung dan memilih tinggal sejenak di Jakarta sambil menunggu penampilan The Smashing Pumpkins. Sudah lebih dari dua minggu saya berada di ibukota, semenjak nonton konser Dying Fetus dan Exodus. Event JRL ini saya jadikan sebagai puncak dari liburan rock & roll saya di Jakarta.

Sehari sebelum pertunjukan, Billy kembali menulis di akun Twitter-nya, “Jakarta, I hope you are ready for the show tomorrow. We rehearsed today at a strange disco club to prepare for the concert. We ate at Oasis.”

Well, saya tidak terlalu peduli mereka mau latihan atau menyantap makanan di mana. Tapi kalau Billy berharap agar penggemarnya di Indonesia siap untuk konser esok malam, maka saya bisa jawab dengan tegas, “Yah, saya sudah sangat siap, Om Billy. Begitu juga dengan fans anda yang lain!”

 

Karnaval Labu di Pinggiran Ancol

 

Di hari yang agung itu, 08 Oktober 2010, saya berangkat ke venue JRL di kawasan Pantai Karnaval Ancol Jakarta bersama seorang kawan yang datang langsung dari Malang. Dia seorang maniak yang bangga menyandang marga ‘Corgan’ untuk nickname dan alamat emailnya. Dulu ia juga sempat main band dan mengkover lagu-lagu milik The Smashing Pumpkins. Dengan track-record seperti itu, sudah jelas saya tidak akan meragukan lagi fanatismenya terhadap Billy Corgan dkk.

Sampai di venue, langit sudah sore dan gelap mulai menggelantung. Mendung cukup pekat. Mengkhawatirkan. Saya nongkrong di depan pintu masuk sambil menunggu teman-teman saya yang lain. Penonton sudah mulai berdatangan dengan dandanan rock & roll yang beraneka ragam. Sekitar jam lima orang-orang mulai panik karena hujan turun dengan derasnya. Untung tidak terlalu lama, dan masih ada beberapa spot untuk berteduh di areal venue.

Iseng-iseng saya mengamati bermacam jenis kaos The Smashing Pumpkins yang berseliweran di venue. Cukup komplit, mulai dari desain lama sampai yang terbaru. Tapi seperti yang saya prediksi sebelumnya, kaos hitam bergambar bintang dengan tulisan zero tampak mendominasi. Ya, itu memang termasuk kaos klasik yang dulunya sering dipakai Billy Corgan saat manggung. Versi bajakannya yang murah juga banyak bertebaran di berbagai mall dan pusat keramaian ibukota.

Saya perhatikan, ada juga beberapa sosok ‘Billy Corgan wanna-be’ yang datang di hari itu. Lengkap dengan dandanan khas yang elegan, serta kepala plontos. Di dalam venue, ada booth khusus bergambar Billy Corgan ukuran normal yang disiapkan untuk sesi foto. Booth ini tampak ramai dikunjungi oleh para fansnya. Mereka rela antri dan bergantian foto bareng bersama [gambar] sang idola sebagai kenang-kenangan.

Memang antusiasme penonton terhadap headliner pada hari itu sangatlah besar. Ada satu nama band yang paling sering diobrolkan malam itu. Berkali-kali saya menguping pembicaraan di antara mereka, ”Smashing maennya jam berapa sih? Di panggung mana? Yuk curi start di sana?!”

 

Pentas Penuh Aksi dan Tanpa Permisi

 

“Indonesiaaaa… tanah airkuuu… tanah tumpah darahkuuuu…

Di sanalah… aku berdiri… jadi pandu ibukuuuu…”

 

Mendekati jam sebelas malam, lagu Indonesia Raya berkumandang di areal panggung utama, di mana Andy /Rif, Ipank Plastik dan David Naif berdiri memimpin koor masal bagi ribuan penonton yang sudah memadati arena. Menurut informasi, lagu kebangsaan itu memang ‘diwajibkan’ oleh penyelenggara untuk selalu dinyanyikan bersama menjelang detik-detik penampilan headiner di setiap harinya. Untuk menumbuhkan rasa patriotik dan nasionalisme?! Untuk menyambut musisi-musisi asing?! Entahlah.

Setelah itu, lampu panggung langsung padam. Gelap dan sunyi selama beberapa menit. Hanya penonton yang tampak tidak sabar terus-menerus berteriak, “Billy! Billy! Billy!…”

“Today is the greatest day I’ve ever known,

Can’t live for tomorrow, tomorrow’s much too long,

I’ll burn my eyes out. Before I get out…”

 

The Smashing Pumpkins langsung membuka pertunjukan dengan hits terbesarnya, “Today”, yang otomatis disambut nyanyian masal dari ribuan mulut penonton. Billy Corgan memang sering memperlakukan lagu ini secara istimewa, entah sebagai opening atau penutup konser. “Today” juga merupakan lagu ‘suci’ yang, dengan berat hati namun tanpa menyesal, pernah dia jual untuk iklan Visa.

Dilanjutkan kemudian dengan “Astral Planes”. Nah, kali ini penonton memang menikmati, tapi agak diam. Mungkin mereka belum familiar dengan lagu yang baru dirilis sebagai bagian dari proyek album ambisius bertajuk Teargarden by Kaleidyscope. Seperti banyak diberitakan media, Billy Corgan memang memutuskan bahwa format album tradisional sudah punah, jadi bandnya akan melepas koleksi raksasa sebanyak 44 lagu, dirilis satu-persatu secara gratis melalui Internet.

Setelah penonton berdansa hampir tanpa suara, koor masal kembali tercipta saat “Ava Adore” diluncurkan dengan sodokan refrain yang bikin merinding, “We must never be apart, we must never be apart…”

“Lagu nomer tiga! Lagu nomer tiga!” seru teman saya girang merujuk pada lagu “Ava Adore”. Judul lagu itu memang dia jadikan nama untuk putrinya. Oke, untung dia hadir malam itu. Kalau tidak, sudah pasti saya suruh dia untuk segera mengganti nama anaknya itu.

The Smashing Pumpkins malam itu adalah Billy Corgan [gitar, vokal], Mike Byrne [drum], Nicole Fiorentino [bass], dan Jeff Schroeder [gitar]. Menurut majalah Rolling Stone Amerika, sejak hengkangnya drummer Jimmy Chamberlin pada Maret tahun lalu, The Smashing Pumpkins menjadi lebih seperti sebuah konsep ketimbang band, sehingga Billy Corgan bebas bermain dengan siapa saja.

Malam itu, tampaknya Billy Corgan dkk juga bebas untuk memainkan apa saja. Lagu “A Song For A Son” merupakan tipikal lagu rock 70-an yang megah, serta memiliki bagian melodi gitar yang rumit dan bersahutan layaknya duel antar virtuoso. Pasangan duet maut layak disematkan pada Billy Corgan dan Jeff Schroeder yang sukses ‘menyiksa’ gitarnya dengan manis di tembang ini.

Billy Corgan malam itu memakai kemeja hitam dan celana abu-abu. Wajahnya dihiasi bulu-bulu jenggot yang tipis, dan tentu saja masih setia dengan kepala plontosnya. Yah, struktur kepalanya memang khas dan populer. Dia pernah bercanda kepada media kalau dia telah hafal kata ‘botak’ dalam berbagai bahasa hanya dengan melihat kliping berita tentang dirinya. Haha, ada-ada saja.

Di atas panggung dihiasi oleh dua buah kincir angin raksasa yang bersinar cerah dan terus berputar di sepanjang penampilan The Smashing Pumpkins. Ada gambar kartun kuda terbang dengan warna mencolok di lingkaran bass drum. Nuansa warna-warni dan kekanakan ala dunia fantasi memang sudah menjadi ciri visual band ini – dalam paket artistik konser, klip video, maupun artwork.

Berikutnya, giliran “Eye” yang dimainkan tanpa keyboard dan synth sehingga menjadi lebih distortif daripada aslinya. Suara cempreng Billy Corgan yang khas mengurai bait demi bait lirik lagu ini. Di saat jeda, tiba-tiba Nicole Fiorentino memancing dengan sebaris intro bass dari lagu yang cukup kesohor. Cuma sebentar, lalu berhenti, dan penonton bersorak riuh minta dilanjutkan. Yah, itulah trik sederhana The Smashing Pumpkins untuk menggoda ribuan umatnya yang terus memuja di arena.

Well, you’re still alive…” kata Billy Corgan sambil tersenyum kepada penonton yang sudah tidak sabar menunggu lagu itu untuk segera dimainkan. Rasanya hampir semua penonton tahu lagu apa yang intro-nya sempat dicubit barusan. Beberapa detik kemudian, “Bullet With A Butterfly Wings” langsung dimainkan dengan bait pembuka yang mengerikan, “The world is a vampire…

 

Tingkah penonton

 

Ribuan crowd menyambut dengan sangat antusias. Aksi stagediving sempat terjadi beberapa kali di barisan depan. Gokilnya, ada sekumpulan geng cewek yang mengangkat selembar poster buatan tangan bertuliskan ‘Billy, I’m pregnant. Please marry me!’ Bahkan ada seorang perempuan yang nekat melepas kaosnya dan hanya memakai bra sambil berjoget dan berteriak-teriak memanggil nama Billy Corgan. Edan!…

Tapi ada juga yang agak mengganggu. Seperti seorang pemuda di belakang saya terus saja teriak-teriak di setiap jeda lagu, “D’arcy! D’arcy! D’arcy!…”. Kalimat itu dia tujukan kepada perempuan manis yang berbaju anggun dan ber-legging hitam yang tampak makin seksi saat memainkan bass di atas panggung sana. Tambah lama, teriakan pemuda itu semakin keras lagi, “D’arcy! D’arcy! D’arcy!…”

Wahai pemuda yang sangat sembilan-puluhan, oke anda memang old-school. Tapi maaf, perempuan itu bukan D’arcy. Dia adalah Nicole Fiorentino, eks bassist Varuca Salt yang sudah bergabung dengan The Smashing Pumpkins sejak tahun 2010 ini. Nama yang anda teriakkan mulai awal pertunjukan tadi sudah lama hengkang dari band favoritmu ini. Huh!

Well, Nicole Fiorentino memang cantik – malah bassist paling cantik yang pernah dimiliki The Smashing Pumpkins, kayaknya. Skill-nya juga tampak lumayan dan punya tehnik. Di atas panggung dia lebih kalem dan menghanyutkan. Sekilas tampak lebih ‘perempuan’ dibandingkan D’arcy Wretzky atau Melissa Auf der Maur, dua bassist The Smashing Pumpkins sebelumnya.

Kembali ke panggung, ada atmosfir yang ‘politis’ saat tembang United States akan dimainkan. Didahului dengan aksi solo Billy Corgan yang mengutip lagu kebangsaan Amerika Serikat, “The Star Spangled Banners”. Kemudian disambung lagu cadas berdurasi panjang yang diambil dari album Zeitgeist itu. Bising dan distortif. Bahkan semakin keras lagi saat refrain lantang itu diserukan, “Revolution! Revolution! Revolution!

Di tengah-tengah lagu ini, ada bagian di mana Billy Corgan dan Jeff Schroeder adu riff gitar serta bereksperimen dengan sound-nya masing-masing. Agak mengawang dan menyiksa. Ditimpali banyak feedback dan distorsi yang cukup tebal. Sedikit mengingatkan pada kebiasaan konser Pink Floyd, terutama di era Syd Barret.

Setelah itu, ketiga personil kembali ke backstage dan hanya menyisakan Mike Byrne seorang diri di balik perangkat drumnya. Ternyata ada sesi solo drum yang sederhana tapi mampu membuat penonton untuk mengangkat tangan dan kompak bertepuk di udara. Tidak terlalu istimewa, tapi saya jadi penasaran dengan sosok drummer muda yang baru berusia 20 tahun itu.

Konon Billy Corgan menemukan Mike Byrne melalui sebuah audisi resmi pada pertengahan tahun 2009 yang lalu. Saat itu Mike Byrne adalah seorang karyawan McDonalds yang masih kuliah di Berklee College of Music. Ketka audisi, dia berhasil menyisihkan ribuan pelamar dan akhirnya terpilih menjadi bagian dari The Smashing Pumpkins sampai sekarang.

Billy, Jeff dan Nicole kembali naik ke atas panggung menemani Mike. Ketiganya langsung meraih instrumennya masing-masing dan siap beraksi lagi. Gairah penonton meletup lagi saat tahu “Tonight, Tonight” yang menjadi sajian berikutnya. Lagu ini tereksekusi sangat baik dan direspon hangat oleh penonton yang terus bernyanyi sejak bait awal…

 

Time is never time at all,

you can never ever leave,

without leaving a pice of youth…

 

Disambung kemudian dengan “Stand Inside Your Love”, sebuah lagu yang ditulis oleh Billy Corgan mengenai mantan kekasihnya yang juga seorang fotografer, Yelena Yemchuk. Tensi konser menjadi naik dan kembali panas ketika The Smashing Pumpkins menyuguhkan “Tarantula”, sebuah singel yang cukup keras, menghentak dan bising.

Setelah itu, tanpa bicara sesuatu apapun, Billy Corgan dkk langsung mundur meninggalkan panggung. Saya dan ribuan penonton lainnya tentu yakin ini hanya trik belaka. Memang ini sudah waktunya untuk encore. Tanpa ada yang mengomando, penonton mulai berteriak, “We want more! We want more! We want more!

Lampu sudah dipadamkan dan panggung kembali gelap. Penonton masih setia menunggu dan terus berteriak memanggil-manggil nama Billy Corgan. Sejumlah kru naik membereskan peralatan dan kabel-kabel di atas panggung. Penonton juga masih setia menunggu dan terus minta tambahan lagu. Wah tidak baik, ini sudah terlalu lama untuk menunggu sesi encore, pikir saya. Beberapa penonton mulai resah. Mulai ada yang menyerah dan berjalan meninggalkan arena. Saya pun langsung lemas dan pasrah ketika melihat para kru mulai beralih membongkar drumset. Tidak ada harapan. Yah, konser The Smashing Pumpkins malam itu berakhir tanpa pamit, apalagi encore!…

 

Di Antara Misteri dan Kontroversi

 

“Edan, Billy Corgan bahkan merasa tak perlu berkata ‘Selamat Datang’ ataupun ‘Terima Kasih’ kepada penonton. Yah, lagian buat apa?!” ungkap seorang teman dengan kaos basah dan tubuh penuh keringat sambil geleng-geleng kepala. Entah heran, shock atau kagum. Memang seingat saya, Billy Corgan cuma sekali mengucapkan ‘Thank You’ di jeda antar lagu selama pertunjukan. Itu pun juga pelan dan nyaris tak terdengar di telinga semua penonton.

Saya juga tidak habis pikir. Ini konser yang aneh. Tanpa basa-basi, nir-komunikasi, bahkan tak ada encore. Ini jelas tidak biasa. Sebagian orang malah mengatakan ini konser yang anti klimaks!…

Tapi, bukankah setiap konser The Smashing Pumpkins seringkali berakhir aneh dan ganjil? Sepertinya ada kondisi ‘love and hate relationship’ di antara Corgan dan penonton konsernya. Contohnya seperti yang pernah saya baca dalam sebuah artikel di majalah Rolling Stone, “…Penggemar mulai menanyakan hal yang sama saat Chamberlin dan Corgan melakukan tur ulang tahun ke-20 di akhir 2008. Dengan memakai jubah panjang dan mengkilat, di tiap konser Corgan dan kawan-kawan bermain selama hampir empat jam, dan membawakan “Set the Controls for the Heart of the Sun”-nya Pink Floyd yang diperpanjang menjadi 25 menit, lengkap dengan suara burung elektronik. Penonton meninggalkan ruangan sementara Corgan memaki mereka dari panggung. “Itu seperti memutuskan hubungan, dan saya sangat pandai dalam memutuskan hubungan,” kata Corgan sambil tersenyum. “Itu gila – saya sudah lama tidak melihat kekerasan seperti itu. Dialog dengan penggemar menjadi genting.”

Tampil dingin, nyaris tanpa komunikasi dan tidak ada encore sontak membuat sebagian fans The Smashing Pumpkins di negeri ini kecewa, bahkan murka. Itu terlihat jelas dari rentetan komentar mereka pada situs jejaring sosial. Ada yang menggerutu tak karuan, ada yang menyumpah-serapahi Billy Corgan, bahkan sampai ada yang nekat mau membakar semua koleksi rekaman The Smashing Pumpkins-nya.

Apalagi ketika mereka tahu kalau dalam setlist The Smashing Pumpkins sebenarnya sudah disiapkan dua lagu lagi, “Cherub Rock” dan “Zero”. Dua hits lawas itu sudah tentu ditunggu-tunggu fans-nya, terutama oleh mereka yang rela berjamaah memakai kaos hitam berlogo bintang.

Kalau bagi saya, setlist yang dimainkan malam itu masih cukup adil kok. Itu sudah merangkum beberapa hits dari album-album lawas sampai yang terbaru – meski tidak semua bisa dimainkan karena dibatasi durasi konser. Wajar, sebab konser dua jam pun belum tentu cukup untuk memuat semua hits The Smashing Pumpkins yang penonton inginkan.

Sebelumnya saya justru khawatir jika Billy Corgan dkk nekat memainkan lagu-lagu asing mereka yang tidak populer dan non-hits. Dalam beberapa setlist konsernya yang terakhir, mereka kerap melakukan hal seperti itu. Tapi nyatanya tidak, mereka masih memanjakan penonton dengan sejumlah hits dalam konser pertamanya di Indonesia.

Kalau ada sedikit kekecewaan penonton pada setlist juga bisa dimaklumi. Setelah konser, saya perhatikan orang-orang mulai menyebutkan judul-judul lagu favorit mereka yang tidak ada dalam setlist. Tidak ada ini, tidak ada itu. Yah, itu wajar. Siapa yang tidak ingin berdansa di sepanjang lagu “Perfect”, bernyanyi riang di 1979, mengingat masa kecil ketika “Disarm”, atau beraksi ugal-ugalan di “Zero dan “Cherub Rock”?!…

Soal konser tanpa encore? Well, rasanya kita juga musti terbiasa dengan itu. Mungkin Billy Corgan bukan termasuk orang yang suka berpura-pura, atau banyak berharap, atau suka dirayu untuk kembali ke atas panggung. Sosok frontman yang tidak komunikatif? Mungkin juga bukan tabiatnya untuk berdialog, atau membual di hadapan penonton. Bukankah memang dia termasuk musisi dan pribadi yang aneh?!

Saya tidak tahu ini ada hubungannya atau tidak, tapi rasanya menarik juga untuk dicermati setelah melihat sendiri lagak Billy Corgan dalam konsernya yang kontroversial malam itu. Dokter spesialis kesehatan jiwa, novelis dan anggota DPR-RI yang juga penggemar berat The Smashing Pumpkins, Nova Riyanti Yusuf, pernah menulis artikel tentang masalah mental Billy Corgan di situs Jakartabeat.net ini, “…Jika mengamati biografi singkat dan berita-berita tentang Corgan, tampaknya ia memang mempunyai ‘lokus minoris’ atau semacam kondisi yang mana jiwanya mudah terlemahkan jika menghadapi dilema.”

Hipotesa seperti itu juga mengingatkan saya pada artikel di majalah Rolling Stone Amerika yang menyebutkan bahwa Billy Corgan memang tidak bercanda saat menulis lirik ‘God is empty just like me.’

Padahal di luar pribadi Billy Corgan yang kadang labil itu, dia sudah mulai menyentuh sisi spiritualitas-nya yang baru dengan sebuah konsep yang mengintegrasikan tiga hal; mind, body, and soul. Malah dia ikut menggagas semacam situs kependetaan bernama Everything From Here To There – yang dianggap versi new age dari ajaran Kristen dan lebih bersifat pribadi.

Kembali ke konser, The Smashing Pumpkins malam itu pastinya sudah bermain sesuai dengan alokasi yang disediakan oleh penyelenggara. Saya dengar, hal ini juga sempat jadi alasan Nicole Fiorentino via Twitter soal kenapa mereka main tanpa encore, “We were allotted 1 hour for our set.”

Sejak awal pertunjukan, The Smashing Pumpkins telah tampil cukup intens, pol dan juga maksimal. Total hampir satu jam dan cukup efektif, tanpa membuang waktu percuma. Meski untuk itu mereka terkesan bermain dingin layaknya band post-metal – tanpa ucapan selamat datang, terima kasih, atau sekedar menanyakan lagu apa yang penonton inginkan. Misterius. So, that’s The Smashing Pumpkins, just take it or leave it!…

Jika belum puas, mari berharap semoga masih ada promotor konser yang berniat mendatangkan The Smashing Pumpkins kembali ke Indonesia untuk melunasi ‘hutang-hutang’ Billy Corgan kepada kita. Jika itu terjadi, saya dan orang-orang yang menggerutu malam itu dipastikan akan datang untuk melihat ada kejutan apa lagi di konser mereka yang kedua nanti. Namun jika itu tidak mungkin terjadi, rasanya kita perlu legawa menerima bahwa konser Billy Corgan dkk malam itu adalah yang terbaik, dan tetap menjadi hari besar yang paling agung bagi semua fans The Smashing Pumpkins di negeri ini…

 

Today is the greatest day I’ve ever known,

Can’t live for tomorrow, tomorrow’s much too long,

I’ll burn my eyes out. Before I get out…

 

*Artikel ini dimuat di situs Jakartabeat.net ; http://www.jakartabeat.net/musik/kanal-musik/ulasan/item/406-smashing-pumpkins-di-jrl-kontroversial-dan-bikin-penasaran.html