Iron Maiden, Pantai Karnaval Ancol Jakarta (17 Februari) dan GWK Bali (19 Februari)

Dalam liputannya untuk Jakartabeat, kontributor M. Abdul Manan Rasudi menulis bahwa Iron Maiden adalah sekumpulan lelaki paruh baya yang dandy dan perfeksionis. Saat pertunjukan di Jakarta, dari awal lagu “Satellite 15…The Final Frontier” digeber hingga encore terakhir “Running Free”, Bruce, Adrian, Janick, Dave, Steve, dan Nicko masih terlihat ugal-ugalan untuk sekumpulan lelaki yang sudah menginjak usia paruh baya.

Di Bali, dua hari setelahnya, Bruce malah memuji struktur venue yang menurutnya sangat indah dan cadas. Samping kanan-kiri venue merupakan jajaran tebing bebatuan cadas yang cukup tinggi. Ribuan penonton berada tepat berada di tengah-tengahnya. Jauh di belakang tampak bebukitan kecil dengan ornamen patung etnik yang cukup besar. Di angkasa, bulan bersinar cukup cerah mengarah tepat ke hadapan panggung. Sempurna.

Bahkan publisis resmi Iron Maiden, Todd, menuliskan dalam tour diary-nya, “The venue was mind blowing! It was like stepping into The Temple Of Doom! Garuda Wisnu Kencana [GWK] is a private cultural park at the southern end of the island of Bali in Indonesia. This was apparently the first metal concert held at this venue.”

Wajah puas dan bahagia terpancar jelas dari puluhan ribuan crowd yang hadir pada konser Iron Maiden, di Jakarta maupun di Bali. Kami yakin, pengalaman itu akan mereka bawa pulang dan bakal terus jadi kenangan. Seperti yang banyak diungkapkan oleh setiap fans Iron Maiden di luar venue, “Yeah, akhirnya penantian selama puluhan tahun terbayar tuntas pada malam ini!”

Iron Maiden memang meninggalkan jejak yang kentara bagi pencinta musik liar di nusantara. Jakartabeat bahkan sempat bikin serial tulisan panjang khusus untuk menyambut kedatangan Iron Maiden di Indonesia. Kini, setelah semua setlist beres dan Ed Force One entah parkir di bandara mana, Iron Maiden tak hanya meninggalkan guratan musik yang melodius di alam bawah sadar fans, band, dan skena metal lokal. Nyatanya, Iron Maiden juga meninggalkan cerita yang kelak cukup berharga untuk didongengkan.

Hingga berhari-hari setelah dua konser tersebut, kami mendapati banyak orang yang masih dilanda euforia post-maiden syndrome yang akut. Mereka terus saja bercerita tentang bagaimana serunya konser Iron Maiden. Dalam perjumpaan di darat maupun di dunia maya. Ibarat pulang dari menunaikan ‘ibadah suci’ heavy metal, mereka sering mendapat ucapan ‘mabrur’ dan dianggap layak menyandang gelar H.M [Haji Maiden?!]. Sebagian besar dari mereka bahkan mengaku, “Itu adalah salah satu konser terbaik yang pernah saya tonton, mungkin untuk sepanjang hidup saya.” (Samack)

Rock In Solo, 17 September 2011

“Rock In Solo ini bukan cuma acara untuk kota Solo, tapi juga untuk Indonesia!” seru vokalis Down For Life, Stephanus Adjie, kepada sekitar 8.000 kepala yang memadati pelataran Alun-Alun Lor Solo, pada 17 September 2011. Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan impian panitia penyelenggara bahwa mereka memang nekat ingin menciptakan Wacken Open Air versi Indonesia yang sempat diutarakan dalam jumpa pers Rock In Solo di hotel The Sunan, sehari sebelumnya.

photo by RSI

Ribuan penonton dari pagi sudah memadati kawasan di sekitar venue. Mereka tidak hanya datang dari Solo, Semarang, Jogja atau Jawa Tengah saja – melainkan banyak juga rombongan yang datang dari Jakarta, Bandung, Malang, Surabaya, Bali, bahkan Makasar. Ini tampak seperti halal-bihalal para metalheads pasca lebaran.

Sejak siang, festival musik tahunan ini sudah digeber kencang dan tidak berhenti. Stage D dihuni oleh band-band lokal hasil polling para fans danmetalheads. Sementara Stage B dan C menyalak dengan sejumlah line-up berbahaya dari berbagai daerah, seperti Crucial Conflict [Surabaya], Suri [jakarta], Extreme Decay [Malang], Rajasinga [Bandung], Something Wrong [Jogja], Turbidity [Bandung], Gigantor [Jakarta], plus band-band asing seperti Ishtar [Korea Selatan], Enforce [Australia], dan Deranged [Swedia]. Pada sesi malam, ribuan penonton mulai merapat dan bersatu di Stage A yang menjadi altar penampilan bagi para band headliner seperti Oathen [Korea Selatan], Down For Life [Solo], Burgerkill [Bandung], Kataklysm [Kanada], hingga Death Angel [USA].

Salah satu highlight perhelatan ini justru adalah hadirnya sosok Walikota Solo yang juga seorang metalhead, Joko Widodo, yang datang dengan memakai kaos Lamb of God. Beliau bahkan datang sendiri, tanpa kawalan atau pun protokoler seperti kebanyakan pejabat pada umumnya. Beliau terus berdiri menonton aksi band-band di Stage A hingga menjelang akhir pertunjukan. Sesekali pak walikota juga ikut mengacungkan simbol devil-horn sambil mengangguk-anggukan kepala mengikuti irama musik cadas yang ditampilkan dari atas panggung. “Sejak sekolah dulu saya memang sudah suka sama Led Zeppelin, Black Sabbath, Iron Maiden, Metallica, dan Van Halen,” ungkapnya santai. “Ini acara yang bagus. Perlu didukung. Kalau semua mau bekerja keras, saya pikir Metallica bisa kok tampil di Rock In Solo tahun depan!”

Terlepas dari beberapa gangguan tehnis pada sound system dan kurang maksimalnya fasilitas pendukung festival, Rock In Solo masih bisa menjadi landmark bagi konser cadas level nasional dengan pendekatan kultur independen serta muatan budaya lokal yang patut ditiru. (Samack)

Untuk list selengkapnya silahkan baca melalui situs Jakartabeat.