Wah, senang sekali Roxx bisa tampil di sini lagi. Bulungan itu udah seperti rumah kedua bagi kami,” ungkap Trison malam itu di konser Metal Untuk Semua, 17 Oktober 2010. Kalimat itu meluncur dari mulut sang vokalis kala Roxx baru saja menyelesaikan tembang pembuka, “Price”, yang diambil dari debut album klasik yang membesarkan nama mereka.

Areal Ooutdoor Bulungan di kawasan Jakarta Selatan seharian itu memang tampak menghitam dan cukup bising. Tak kurang dari 3000 penonton membanjiri sebuah festival bertajuk “Metal Untuk Semua ; Konser Pro-Pluralisme dan Anti-Terorisme” yang digarap secara kolektif oleh Bandar Metal bekerjasama dengan 29 Production. Panggung kokoh dan sound system berkekuatan 35.000 watt menjadi ‘altar kebisingan’ bagi belasan band bergenre musik keras, sejak pukul 11 di siang hingga malam hari.

Wuih, penuh banget di dalem. Penontonnya dari mana-mana. Gak cuman Jakarta, tapi dari daerah-daerah juga. Bahkan ada yang dateng dari Cirebon dan Pekalongan!” kata seorang kawan ketika saya baru sampai ke venue. Bahkan kabarnya massa mulai berdatangan ke venue sejak pagi. Di tengah hari, meja loket makin sibuk melayani pembeli dan penonton sudah meluber sampai ke belakang areal FOH. Saya yakin, kuantitas penonton yang membludak tentunya akan berdampak manis juga pada ‘nasib’ lapak merchandise yang tersebar di venue.

KOLEKTIFITAS METALHEADS

Konser Metal Untuk Semua merupakan konser kolektif yang bertujuan mengkampanyekan perdamaian, menghargai perbedaan dan toleransi antar umat beragama yang belakangan ini mulai terganggu dengan aksi-aksi kekerasan dan teror yang berkedok agama,” begitu pernyataan dari pihak penyelenggara yang say abaca melalui sebuah situs jejaring sosial.

Konser yang dibangun dengan pendekatan ‘community-based’ ini digalang oleh komunitas Metal Untuk Semua, yaitu gerakan musik metal independen yang terbuka untuk semua golongan, suku, agama, ras, genre musik dan pilihan keyakinan pribadi masing-masing serta menolak segala bentuk kekerasan dan terorisme. Komunitas ini tumbuh dan eksis di Facebook Groups – di mana anggotanya saat ini telah mencapai lebih dari 3000 orang dan terus bertambah setiap harinya.

Konser Metal Untuk Semua ini kabarnya dipersiapkan secara sederhana dan dikerjakan dengan etos do-it-yourself dalam waktu yang singkat. Nyaris tanpa publikasi yang masif, dan lebih mengandalkan promosi melalui internet. Semua band juga rela tampil sukarela dan tidak dibayar sepeser pun. Rundown pun konon dirancang berdasarkan hasil undian atau dikocok mirip arisan. Yes, they did it in the old school ways, and it’s really like the old days!

Band cadas kugiran, Roxx, didapuk menjadi headliner dan mulai beraksi saat jarum jam berada di angka delapan malam. Sebelumnya sudah tampil Siksa Kubur, Dreamer, Oracle, Dead Squad, Seringai, Rajasinga, Noxa, Trauma, dan masih banyak lagi. Mereka semua tampil all-out sambil menyuarakan kampanye pluralisme, serta menolak segala bentuk terorisme.

HITS KLASIK DAN SEMANGAT OLD-SCHOOL

Sebagai lagu kedua, Trison dkk menyodorkan track lama berjudul “Gontai”. Ini juga sebuah hits klasik yang terinspirasi dari fenomena berandalan dan preman jalanan yang sempat merajai ibukota di awal era sembilan-puluhan.

Sekelompok pemuda berjalan dengan gontai,

Dalam keramaian malam di setiap sudut kota,

Wajahnya beringas dalam keremangan,

Masih adakah lagi masa depan mereka?!…”

Saya lalu melihat gegap gempita dan histeria penonton ketika Roxx mengusung “5 Cm”. Tembang berkomposisi thrashy ala Anthrax dan Nuclear Assault ini juga jadi best-cut bagi sebagian besar penggemar fanatik Roxx. Areal moshpit di bibir panggung sontak semakin rapat, panas dan liar. Aksi headbanging dan circle-pit tidak terelakkan di sepanjang lagu ini.

Roxx malam itu tampil berlima dalam formasi terakhirnya. Mereka masih berdiri dengan dandanan yang khas, layaknya duapuluh tahun yang lalu. Dominasi busana hitam dan rambut gondrong yang tetap menegaskan bahwa mereka memang cult di peta musik rock/metal negeri ini.

Roxx tampak rileks menikmati atmosfer konser malam itu. Trison dkk bermain santai dan lepas meski harus memilih setlist yang relatif paling keras dari semua koleksi lagu yang mereka punyai. Hits-hits klasik tentu saja masih menjadi prioritas – yang pasti segera di-amini oleh penggemar Roxx yang rata-rata golongan old-school dan sudah tidak berusia belasan tahun lagi. Dasar, bocah-bocah tua nakal…

METAL IS ABOUT FUN!

Sepintas gitaris Jaya memang menjadi sosok yang secara visual paling ‘sangar’ dengan rambut gondrong dan busana hitamnya. Dia tampak seperti pria yang dingin dan serius. Tapi faktanya, dia justru kerap melempar joke-joke segar dari atas panggung. Guyonannya kadang vulgar dan menyerempet pada topik sekitar kemaluan. Bikin risih dan mengganggu?! Tentu tidak. Itu malah cukup menghibur bagi kebanyakan penonton. Meski beberapa kali pula Trison usil mengingatkan kalau Jaya musti meredam kata-kata joroknya sebab dia membawa anaknya juga malam itu. Tapi bukannya melunak, Jaya malah tampak cuek, tertawa dan terus melanjutkan joke-joke nakalnya itu.

Dan jika berbicara soal jokes di sepanjang konser ini, saya tidak akan melupakan tingkah Soleh Solihun. “MC yang didatangkan langsung dari neraka jahanam!” tulis Wendi Putranto di Twitter-nya tentang jurnalis musik yang kian akrab dengan jaket kulitnya itu. Khusus di sesi malam, Soleh Solihun yang memandu konser ini dengan berbagai celoteh nakal dan sarkastik. Bagi penonton, keberadaan Soleh Solihun sebagai MC tampaknya cukup penting dan menghibur. Bahkan konon sangat ditunggu-tunggu oleh crowd. Kalau memang begitu, rasanya dia pantas disebut sebagai ‘headliner yang tidak bernyanyi’ malam itu.

Berbagai topik aktual kerap meluncur deras dari mulut Soleh Solihun – mulai dari mengomentari band-band yang tampil, kelompok fasisme sayap kanan, syariah dan ayat-ayat suci, hingga penampilan musisi di program musik televisi. Dia pun tampak sumringah saat meneriakkan, “Ini adalah konser Metal Untuk Semua, kalo metal yang di TV itu melayu total untuk alay-alay!”

Joke-joke segar di sepanjang konser itu juga mengingatkan saya pada statemen yang diungkapkan vokalis Funeral Inception, Doni Iblis, ketika mereka tampil beberapa jam sebelumnya, “Metal is about fun. Metal tidak ngajari kita ngebom, tidak anti dengan agama lain. It’s about fun!”

ROCK MASIH BERGEMA

Penonton tetap antusias ketika disodori “Dari Dulu”, lagu Roxx yang relatif sangat modern dan penuh liukan tribal-metal ala System Of A Down atau Soulfly. Singel jagoan dari album comeback-nya Roxx yang bertitel “Bergema Lagi” itu terbukti tetap diapresiasi dengan baik oleh crowd.

Temen gue ada yang mati gara-gara heroin. Ya, drummer gue yang lama. Dan lagu ini gue dedikasikan buat dia,” kata Jaya dengan ekspresi tenang sebelum menyuguhkan lagu berjudul “Heroin”. Tembang bercorak power ballad itu memang dibikin khusus untuk mengenang sang pendiri sekaligus drummer awal Roxx, Arry Yanuar, yang meninggal dunia sebelas tahun silam.

Semua pasti tahu lagu ini. Ini adalah masterpiece dari semua ajang festival rock!” sumbar Trison dengan raut muka bangga kepada penonton. Yah, ini memang lagu yang banyak ditunggu-tunggu oleh fans mereka. Sebuah karya monumental sekaligus anthem klasik bagi generasi muda di era sembilan-puluhan, “Rock Bergema”.

Roxx membawakan tembang ini dalam versi yang lebih panjang dan penuh improvisasi. Di tengah-tengah lagu, Trison sempat mengajak penonton untuk beradu vokal. Hampir semua orang yang berdiri di baris depan ikut bernyanyi dan meluapkan kecintaannya pada lagu ini.

Rock and roll, bergema di kesunyian dunia,

Rock and roll, semua problema tak pernah ada,

Rock and roll, nyanyikan irama lagu gembira…

Rock and roll… yeahh, aaawww!”

ENCORE YANG TEPAT

Setelah “Rock Bergema”, Trison dkk pamit untuk kembali ke belakang panggung. Tapi rupanya penonton banyak yang tidak rela. “We want more! We want more!” teriak mereka. Yah, para penonton ngotot minta tambahan repertoir lagi dari Roxx. Mereka tidak mau beranjak pergi, mereka tetap menuntut encore!

Trison dkk akhirnya kembali sambil geleng-geleng kepala dan tersenyum. Roxx memutuskan menambah satu lagu lagi sebagai pamungkas di konser mereka malam itu. Tanpa banyak bicara, sebuah intro dan riff langsung menyalak dari duet gitaris Roxx. Bagian awal lagu itu terdengar sangat familiar di telinga para metalheads, dan mereka semua mulai ikut bernyanyi…

We are scanning the scene, in the city tonight,

We’re looking for you, to start up a fight,

There’s an evil feeling in our brains,

But it’s nothing new, you know it drives us insane!”

Ya, seperti yang banyak penonton duga, pasti ada lagu Metallica di hampir setiap penampilan Roxx. Itu nyaris menjadi kewajiban dan tidak boleh dilewatkan. “Seek and Destroy” adalah pilihan yang tepat dari Trison dkk untuk mengantarkan crowd mencapai klimaks-nya di akhir pertunjukan. Rasanya itu memang sebuah encore yang pas untuk menutup konser Metal Untuk Semua!…

XXXXX

Pada akhirnya konser ini berjalan tertib, tepat waktu, meriah, dan seru. Juga mampu memberikan edukasi, pengalaman serta kesan yang positif bagi penonton. Sebab jarang sekali ada konser lokal yang masih hangat untuk diperbincangkan selama berhari-hari kemudian, baik melalui obrolan di darat maupun di dunia maya. Saya pikir, itulah ukuran sukses atau tidaknya sebuah pertunjukan musik – dan konser Metal Untuk Semua telah mendapatkan reputasi terbaiknya pada hari itu.

Sepanjang pertunjukan, memang ada beberapa highlights yang penting untuk dicatat, seperti misalnya ; Funeral Inception yang mengkover lagu “Kafir!” milik Nile, Trauma yang kembali membawakan hits klasiknya bertitel “Human Suffering”, Seringai yang tetap tampil intens di tengah rintik hujan, atau Dreamer yang mengundang Arul Efansyah [Power Metal] untuk menyanyikan “Angkara” dan “Timur Tragedi” sambil menegakkan salam tiga jarinya.

Konser Metal Untuk Semua mungkin tidak akan berhenti sampai di sini. Banyak yang berharap agar konser ini – dengan segala misi dan muatan propagandanya – segera dibuatkan sekuel keduanya, dibikin tour-nya ke luar Jakarta, atau bahkan bisa digelar serentak di beberapa kota layaknya konser LiveAid. Semoga…

*Artikel ini dimuat di situs Jakartabeat.net ; http://www.jakartabeat.net/musik/kanal-musik/konser/item/418-roxx-masih-bergema-di-konser-metal-untuk-semua.html