Sekian lama ini yang ada di benak kita tentang kota Solo mungkin hanyalah tentang keraton, industri batik, Pasar Klewer, Pasoepati, serta nasi liwet dan timlo. Kota ini juga sering disebut-sebut sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa akibat kentalnya kultur dan kesenian tradisional di sana. Belakangan, kota ini juga makin banyak diulas oleh berbagai media nasional gara-gara sosok Joko Widodo sebagai walikota sekaligus pemimpin yang pintar nan cerdik dalam membangun kota Solo.

Bagi penggemar musik keras, kota Solo mulai mencuri perhatian melalui perhelatan akbar yang bertajuk Rock In Solo. Event ini sudah empat kali digelar, yaitu pada tahun 2004, 2007, 2009, dan 2010. Sejak itu Rock In Solo mulai ditasbihkan sebagai festival musik terbesar di Jawa Tengah, yang selalu sukses dihadiri oleh ribuan penggemar musik rock/metal dari seluruh penjuru nusantara.

Tahun ini, Rock In Solo akan kembali menggaung di Alun Alun Utara kota Solo pada tanggal 17 September 2011 mendatang. Tak kurang dari puluhan band nasional maupun mancanegara siap tampil di empat panggung yang tersedia dalam kekuatan sound system dan lighting yang megah.

Membayangkan akan ada empat panggung, belasan band yang cukup kesohor dari berbagai kota di Indonesia, plus enam band internasional yang diterbangkan secara eksklusif hanya untuk manggung di kota Solo adalah suatu hal yang luar biasa. Kalau berita ini datang dari Jakarta, Bandung, Surabaya atau Bali mungkin masih tegolong biasa. Namun jika kota kecil dengan scene musik yang notabene tidak terlalu besar mampu bikin festival musik se-akbar ini, jelas itu cukup mengejutkan dan menampar!…

Solo, Riwayatmu Dulu…

Solo, atau disebut juga Surakarta, adalah kota yang terletak di provinsi Jawa Tengah dengan luas 44 km2 serta memiliki jumlah penduduk sekitar 503.421 jiwa [Catatan Sensus Tahun 2010]. Sisi timur kota ini dilewati oleh sungai Bengawan Solo, yang namanya yang diabadikan dalam salah satu lagu keroncong klasik ciptaan [alm] Gesang.

Bersama dengan Yogyakarta, Solo merupakan pewaris Kerajaan Mataram yang dipecah pada tahun 1755. Konon nama Solo berasal dari nama desa Sala. Eksistensi kota ini dimulai ketika Kesultanan Mataram memindahkan kedudukan raja dari Kartasura ke Desa Sala, di tepi Bengawan Solo. Secara resmi, keraton mulai ditempati pada tanggal 17 Februari 1745. Lalu akibat perpecahan wilayah kerajaan, di Solo akhirnya berdiri dua keraton, yaitu Kasunanan Surakarta dan Praja Mangkunegaran.

Kekuasaan politik kedua kerajaan tersebut akhirnya memberikan status setingkat propinsi, yaitu Daerah Istimewa Surakarta [DIS]. Kemudian mulai berkembang gerakan antimonarki di Surakarta yang disertai dengan aksi kerusuhan, penculikan, dan pembunuhan pejabat-pejabat DIS. Pada tanggal 16 Juni 1945 pemerintah Republik Indonesia membubarkan DIS dan menghilangkan kekuasaan raja-raja Kasunanan dan Mangkunagaran. Status Susuhunan Surakarta dan Adipati Mangkunegara akhirnya kembali menjadi rakyat biasa, serta status keraton juga berubah menjadi pusat pengembangan seni dan budaya Jawa.

Solo juga dikenal sebagai salah satu inti kebudayaan Jawa karena secara tradisional merupakan salah satu pusat politik dan pengembangan tradisi Jawa. Sejak abad ke-19, di Solo sudah berkembang berbagai literatur berbahasa Jawa, tarian, seni boga, busana, arsitektur, dan bermacam-macam ekspresi budaya lainnya.

Dan sudah bukan rahasia jika muncul ‘persaingan’ kultural antara Surakarta dan Yogyakarta. Kondisi itu yang kemudian melahirkan apa yang dikenal sebagai ‘gaya Surakarta’ dan ‘gaya Yogyakarta’ di bidang busana, gerak tarian, seni tatah kulit [wayang], pengolahan batik, gamelan, dan sebagainya.

Kota Yang Bikin Penasaran

Perkenalan pertama saya dengan kota solo terjadi beberapa tahun silam. Saat itu saya masih mahasiswa dan berkunjung singkat selama dua hari untuk urusan pekerjaan. Tidak banyak yang saya lakukan di Solo saat itu – hanya meeting, keliling di pusat kota, dan sempat mampir ke pasar Klewer. Selebihnya saya tidak tahu kudu ’dolan’ kemana jika harus mengunjungi kota Solo.

Padahal saya termasuk sering melintasi kota Solo dalam perjalanan dari Malang menuju Jogja, Bandung, atau Jakarta. Tapi hanya lewat saja, tanpa pernah berhenti. Sejujurnya, Solo belum pernah ada dalam list destinasi traveling saya, baik itu untuk wisata umum maupun wisata rock n’ roll.

Sebetulnya tahun lalu saya berencana untuk menonton Rock In Solo 2010, apalagi ada aksi band death metal kesohor asal Amerika Serikat, Dying Fetus, yang tampil sebagai headliner di sana. Tapi sayang momennya bertepatan dengan masa liburan saya di Jakarta. Saya pun akhirnya menonton konser Dying Fetus di Jakarta pula. Saya dengar, Rock In Solo 2010 waktu itu berjalan cukup sukses dan mampu menggaet puluhan ribu penonton yang datang dari hampir seluruh pelosok Jawa dan Bali.

Scene musik Solo? Well, terus terang agak sulit untuk diceritakan. Tidak banyak yang saya tahu tentang geliat skena musik independen di kota tersebut. Sejak dulu sampai sekarang yang paling saya tahu hanyalah Down For Life, band cadas yang paling populer dan masih merajai panggung musik di kotanya.

Beberapa kali saya menonton Down Life itu juga pas mereka kebetulan manggung di Malang, dan sekali waktu di Jakarta saat mereka membuka konser Exodus. Saya pun pernah mengulas album mereka dan sudah kenal lama dengan pertolan band ini, Stephanus Setiadji Anugrah atau yang diakrab dipanggil Adjie.

Ya, mungkin cuma Down For Life yang langsung ada di benak saya jika terlintas kata ’Solo’ dan ’Musik Cadas’. Oke, saya tahu juga sih kalau ada band lain yang bernama Makam, Bandoso, atau yang lain. Tapi hanya sebatas tahu namanya saja, tanpa pernah dengar musiknya, apalagi menonton live-nya. Belakangan saya juga tahu kalau di sana ada Belukar Rock Shop, sebuah music store dengan katalog yang cukup komplit dan sering jadi spot tongkrongan bagi metalhead setempat.

Sementara kalau di ranah industri rekaman, sebenarnya kota Solo memiliki sejarahnya sendiri yang sangat melegenda. Di sana pernah beroperasi Studio Lokananta yang memiliki koleksi ribuan piringan hitam klasik karya para musisi nasional sejak era 60-an. Kisah klasik tentang studio ini saya dapatkan dari penulis Jakartabeat, Taufiq Rahman, melalui catatannya di sini ; http://www.facebook.com/profile.php?id=857175555#!/note.php?note_id=10150180770423468

Indonesia tidak punya Rock and Roll Hall of Fame, jadi pecinta musik di negeri ini hanya punya sedikit pilihan untuk bisa melihat bukti otentik dari kejayaan industri musik di masa lalu – dan salah satunya adalah Studio Lokananta yang terkenal dengan ribuan koleksi piringan hitamnya itu,” tulis Taufiq Rahman ketika mengunjungi Studio Lokananta, tahun 2010 silam. ”Selain sebagai pabrik piringan hitam serta studio rekaman, Lokananta juga difungsikan sebagai tempat penyimpanan semua koleksi musik yang pernah diputar oleh semua studio Radio Republik Indonesia [RRI] di seluruh penjuru nusantara.”

Solo, Riwayatmu Kini…

Saat ini, di bawah kepemimpinan walikota Joko Widodo, kota Solo mengalami perubahan yang pesat. Walikota yang juga seorang pengusaha dan pencandu musik keras itu berhasil melakukan beberapa program yang pro-rakyat. Seperti misalnya proses relokasi pedagang yang berjalan mulus dan tanpa gejolak, regulasi izin usaha dan investasi yang kudu memikirkan kepentingan rakyat, komunikasi yang intens dan terbuka dengan masyarakat, pembukaan lahan hijau, serta masih banyak lagi. Berkat jasa dan sepak terjangnya tersebut, Joko Widodo terpilih menjadi salah satu dari “10 Tokoh 2008” oleh Majalah Tempo.

Dengan slogan “Solo; The Spirit of Java”, kota ini berupaya mendapat citra sebagai kota pariwisata dan pusat kebudayaan Jawa. Julukan lain yang disandang Solo antara lain Kota Batik, Kota Budaya, dan Kota Liwet. Dalam pergaulan, penduduk Solo disebut sebagai Wong Solo, dan istilah Putri Solo juga banyak digunakan untuk menyebut wanita yang memiliki karakteristik khas Solo yang ayu, lembut dan gemulai bak penari Jawa.

Setelah menelusuri referensi budaya, wisata dan kuliner khas kota Solo ternyata makin menggerakkan hasrat saya untuk hadir pada perhelatan Rock In Solo nanti, sambil menikmati setiap sudut kotanya. Saya pun mulai membuat list tempat-tempat yang wajib dikunjungi selama berada di Solo. Bagaimana dengan anda?!…

Catatan Dari Skena Musik Lokal

Dibandingkan Jogja atau Semarang, scene musik kota Solo memang relatif jarang diulas di media nasional. Entah kenapa. Padahal konon kota ini juga punya root musik rock yang cukup kental dan sudah eksis sejak lama. Ini cukup jauh berbeda dengan media lokal seperti radio atau surat kabar setempat yang justru cukup sering mengulas kiprah band dan pergerakan scene musik di kotanya.

Salah satu sumber referensi yang sempat saya baca adalah ulasan pergerakan musik di kota Solo yang ditulis oleh Daniel a.k.a Conel untuk Ripple Magazine #41 ’Indonesian Independent Culture Issue’ – yang sampulnya bergambar seorang pria membanting gitar kecil dengan tagline ”Indo Calling” – jelas terinspirasi dari sampul album ”London Calling” milik The Clash.

Dalam artikel itu disebutkan bahwa scene underground di kota Solo sudah berjalan lebih dari sepuluh tahun, tepatnya sejak awal 90-an silam. Konser kecil dan gigs relatif sering diadakan di sana, meski kebanyakan hanya diisi oleh aksi band-band lokal. Down For Life, Nothing Special, Moment Of Pain, serta Take And Awake adalah nama-nama band yang ikut andil membesarkan scene musik di Solo, pada waktu itu.

Referensi paling baru saya dapatkan dari majalah Hai ”Metal Issue” edisi Juli 2011 yang banyak mengulas pergerakan scene metal di Indonesia. Dalam artikel tentang komunitas metal kota Solo yang ditulis oleh Firman Prasetyo pada edisi itu ulasannya lebih panjang dan cukup komprehensif. Tulisan tersebut cukup membantu rasa penasaran saya akan kecadasan kota Solo.

Sebagai kota kecil di Jawa Tengah yang jarang tercantum di peta musik cadas tanah air, Solo menyimpan beberapa band yang reputasinya tercium cukup harum,” demikian kalimat yang tertulis dalam artikel tersebut. Selanjutnya sang penulis mengingatkan kembali kiprah band-band klasik Solo seperti Trenchem pimpinan Setiawan Djody yang termasuk salah satu pionir musik rock di negeri ini, hingga Kaisar yang besar lewat sebuah kompetisi band di era Log Zhelebour dan sempat melambungkan hit singel ”Kerangka Langit”. Dua nama band itu memang cukup kult dan melegenda di ranah musik rock nasional.

Dan hari ini adalah era-nya anak-anak muda Solo untuk berkiprah lebih jauh dalam scene musik cadas. Down For Life masih eksis dan makin berkembang dengan basis fans yang selalu membludak di setiap panggungnya. Konon setiap kali Adjie dkk manggung, ribuan fans mereka yang dijuluki ’Pasukan Babi Neraka’ itu bisa datang berduyun-duyun dari segala pelosok kota Solo dan Jawa Tengah.

Bukan hanya fans, tapi juga keluarga besar Down For Life. Semua pihak yang berhubungan dengan Down For Life, baik langsung maupun nggak, adalah Pasukan Babi Neraka juga,” jelas Adjie kepada majalah Hai. ”Skena metal di kota ini juga memiliki kelebihan dalam sikapnya yang loyal dan militan,” imbuhnya kemudian.

Harus diakui, Down For Life terbilang cukup sukses untuk merangkul fans-nya yang datang dari berbagai daerah dan strata. Fenomena seperti itu layak diapresiasi sebab jarang sekali ada band daerah yang sukses mengelola fanbase dan mampu menghadirkan ribuan penonton, meskipun itu hanya di kota mereka sendiri.

Saatnya Rock Mengambil Alih..

Festival musik ”Rock In Solo ; Heritage Metal Fest 2011” sebagai sekuel dari ritual tahunan rock di kota Solo kali ini dijanjikan akan dikemas lebih inovatif dan berkembang dari segi format acara maupun kualitas penggarapannya. Dalam press release yang dikirimkan kepada Jakartabeat tertulis, ”Tidak hanya sekedar hingar bingar musik rock, tapi juga melingkupi gaya hidup dan budaya anak muda yang sedang berkembang. Karena sekarang saatnya rock mengambil alih!”

Rock In Solo sendiri digarap oleh the ThiNK, sebuah kelompok kerja kolektif yang intens dalam helatan subkultur di kota Solo dan telah berhasil memboyong nama-nama besar seperti Caliban [2008], Psycroptic [2009] dan Dying Fetus [2010]. Untuk kali kelima, mereka masih menggandeng Tecma Advertising untuk bekerjasama mengorganisir festival ini.

Tahun ini, anak-anak muda Solo itu mendatangkan sejumlah band internasional secara spesial untuk tampil eksklusif di kota Solo. Nama-nama seperti Death Angel[Amerika Serikat], Kataklysm [Kanada], dan Deranged [Swedia] tentu sudah tidak asing lagi di telinga para metalhead. Selain itu masih ada Enforce [Australia], Oathen [Korea Selatan], serta Isthar [Korea Selatan].

Untuk daftar band domestiknya, bakal ada Burgerkill [Bandung], Gigantor [Jakarta], Down For Life[Solo], Extreme Decay [Malang], Crucial Conflict [Surabaya], Rajasinga [Bandung], Something Wrong [Jogja], Bandoso, Spirit of Life, Grindbuto, dan masih banyak lagi.

Menurut penyelenggara, Rock In Solo sebagai suatu peristiwa penting akan memiliki makna budaya besar dan daya tarik tersendiri. Untuk itu, “Rock in Solo ; Heritage Metal Fest 2011” sendiri akan terdiri dari tiga rangkaian acara, yaitu ;

[1]. Rockfest

Event utama ini akan digelar di Alun-alun UtaraKeraton Surakarta. Sesuai dengan namanya, alun-alun ini terletak di sisi utara Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, persisnya di depan Pagelaran Keraton. Kalau di masa lalu, Alun-Alun Utara berfungsi sebagai tempat membariskan prajurit yang akan berangkat perang, lokasi rakyat berkumpul untuk mendengar pengumuman penting, dan tempat menggelar upacara tradisi, maka pada 17 September 2011 nanti Alun-Alun Utara akan menjadi tempat bersejarah membariskan prajurit metal dalam gelaran “Rock In Solo ; Heritage Metal Fest 2011”.Festival ini akan berlangsung pukul 09.00 – 23.00 WIB dengan empat panggung musik, plus tata suara dan lighting yang megah. Diselingi aksi VJ Hellucination sebagai media pendukung yang multi dimensi, serta akan dipandu oleh MC kondang kota Solo seperti Anas, Adia dan Aria. Di sekitar venue juga bakal ada semacam expo dari berbagai rockshop, distro dan clothing line dari berbagai kota, serta merchandise booth dan food court.

[2]. Rockducation

Pre-event ini rencananya akan dibuat di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Malang dan Solo dengan menggunakan public venue seperti mall dan cafe. Ini semacam gathering atau seminar santai yang akan membahas musik rock/metal sebagai industri dengan pembicara yang kompeten dari pelaku industri ini yaitu musisi, editor majalah musik nasional, perwakilan record label dan panitia Rock In Solo.

[3]. Rocklight

Event ini akan diadakan di kota Solo pada tanggal 10 September 2011. Menggunakan venue Pasar Gede Hardjonagoro sebagai tempat publik yang menjadi ikon kota Solo dan akan difungsikan sebagai media visual. Beberapa VJ dari Solo dan Yogyakarta yaitu Hellucination, Bejou Nayaka dan Venza dari House Of Natural Fiber akan berkolaborasi membuat video mapping yang untuk pertama kalinya diadakan di kota Solo sebagai promosi menarik bagi rangkaian event ini.

Sejak tanggal 4 juli 2011 yang lalu, official website Rock in Solo mulai diluncurkan. Website yang beralamat www.rockinsolo.com itu bisa menjadi sumber informasi yang sahih tentang profil acara dan band pengisi acara, mekanisme pembelian tiket, jadwal acara dan rundown, dokumentasi photo dan video, serta segala sesuatu yang berhubungan dengan “Rock in Solo ; Heritage Metal Fest 2011”. Sementara itu untuk info dan berita ringan juga bisa diakses lewat official twitter @RockInSolo2011.

Ok Solo, You Rock!

Sebagai festival musik yang lahir dari kolektifitas kaum akar rumput, boleh dibilang reputasi Rock In Solo mungkin sudah sekaliber Bandung Berisik. Dalam artian, penggagas dan pelaksananya adalah anak-anak muda penggiat scene musik lokal setempat. Lalu mereka tentu punya gaya yang khas dan penuh passion yang tinggi dalam mengelola event semacam ini. Budaya event so-called-underground dan etika Do It Yourself juga biasanya masih kuat teraplikasikan. Buktinya, penyelenggara Rock In Solo saat ini masih berkoneksi dengan kantong-kantong penggiat scene musik di berbagai kota – mulai dari urusan promosi, list bands, sampai pada spot ticket box. Meskipun dikerjakan dengan metode underground way, cara kerja mereka terkesan cukup rapi dan profesional.

Di sisi lain, saya selalu tertarik dengan konsep festival musik tahunan yang memakai nama daerah/kota sebagai titelnya. Sudah banyak kota atau daerah yang menjadi lebih terkenal dan berkembang sejak menjadi landscape pertunjukan musik. Sebut saja ada Woodstock, Rock In Rio, Glastonbury, Wacken Open Air, atau Reading Festival. Karena selain memiliki nuansa lokal dan budaya yang kuat, event semacam itu [mustinya] memiliki impact yang sangat besar bagi pelaku, penonton, maupun masyarakat sekitar – terutama di bidang ekonomi, sosial, budaya, pariwisata, atau bahkan politis.

Bayangkan saja, selama festival musik akbar itu digelar, ada berapa orang yang dipekerjakan dan mendapat penghasilan dari sana? Berapa pedagang yang dapat imbas dari kehadiran ribuan penonton yang lapar dan haus serta doyan belanja? Berapa pajak tiket yang masuk ke kantong pemerintah dan berapa personil aparat keamanan yang diturunkan? Berapa rata-rata biaya yang dikeluarkan penonton dari luar kota untuk menyaksikan festival musik tersebut? Berapa total perputaran uang yang sebenarnya terjadi berkenaan dengan festival musik ini?!

Karena toh dari sekian kali pengalaman saya terlibat dalam berbagai festival musik, hampir selalu terpancar wajah sumringah dari para calo tiket, pedagang makanan dan minuman, petugas Dinas Pendapatan Daerah dan aparat keamanan, serta yang tidak pernah ketinggalan, para pencopet. Semua pihak tampak lega ketika mendapatkan jatahnya masing-masing.

Mungkin momen Rock In Solo nanti juga begitu. Sebab perlu dipahami bahwa pertunjukan festival musik yang akbar seperti Rock In Solo itu tidak hanya melibatkan penyelenggara, penonton, dan artis atau musisi saja. Ada peran pemerintah, aparat keamanan, sponsor dan mitra kerja, serta masyarakat umum juga di sana. Bahkan kalau bisa, sang walikota Joko Widodo yang dikenal cukup openminded itu perlu memasukkan event festival musik ini ke dalam agenda resmi tahunan kota Solo.

Jika dari tekad, kerja keras, dan kolektifitas anak-anak muda di kota Solo itu bisa melahirkan event sebesar Rock In Solo, maka kota-kota lain di Indonesia juga sepatutnya iri, mau belajar dan mengakui keberhasilan mereka. Reputasi Rock In Solo bisa menjadi penting dan akan mencapai puncaknya seperti halnya Bandung Berisik, Bandung Underground, Kuta Karnival, atau event-event nasional sejenis. Sebab festival semacam ini sudah bukan sekedar pertunjukan musik belaka, melainkan suatu peristiwa budaya karya anak zaman…

*Tulisan ini sekedar preview scene musik Solo dan event Rock In Solo, yang juga merangkum press release yang telah dikirimkan oleh panitia penyelenggara. Jika ingin info lebih komplit silahkan buka situs www.rockinsolo.com, atau follow @RockInSolo2011 di Twitter. 

*Artikel ini dimuat di situs Jakartabeat.net ; http://www.jakartabeat.net/musik/kanal-musik/konser/item/653-menjelang-rock-in-solo-2011-destinasi-cadas-di-tengah-jawa.html