“Do you remember lying in bed, with your covers pulled up over your head?Radio playin’ so no one can see. We need change, we need it fast. Before rock’s just part of the past. ‘Cause lately it all sounds the same to me…” [Do You Remember Rock N’ Roll Radio?, Ramones]

Jika kata-kata kuncinya adalah stasiun radio, musik rock, dan kota Malang, maka mau tidak mau saya musti merujuk pada satu nama; Radio Senaputra. Ya, radio yang berdiri pada tahun 1971 ini memang yang paling getol mendukung progres musik rock di kota Malang, mulai dulu sampai sekarang.

Stasiun radio yang berlokasi di areal Taman Wisata Senaputra ini sebenarnya bukan radio yang spesialis pada musik rock. Malah konon Senaputra resminya adalah sebuah radio pariwisata dengan porsi program yang [seharusnya] lebih banyak pada dunia seni, budaya, dan wisata. Namun memang radio ini punya beberapa program siaran yang khusus memutar jenis musik rock/metal pada waktu-waktu tertentu, dan hampir setiap hari.

ROCK ON AIR

Pada rentang tahun 1989-1992, banyak anak muda yang selalu berkunjung dan nongkrong di Senaputra pada jam-jam siaran yang bising. Kadang mereka datang sambil membawa kaset rekaman – ya, kaset! bukan CD apalagi MP3. Mereka lalu saling merekues lagu dan mengirimkan aneka ucapan ‘salam metal’ kepada sahabatnya. Biasanya rekues itu mereka tulis di atas secarik kertas kecil sebelum dibacakan oleh si penyiar saat on-air.

Yang paling menarik, anak-anak muda saat itu banyak yang tiba-tiba memasang nama marga yang dianggap keren dan cadas di belakang namanya. Biasanya itu diambil dari nama musisi atau band idola. Alhasil, ‘nama-nama udara’ seperti Anto Schenker, Budi Sarzo, Kecenk Skyclad, Ivan Petrozza, Johan Cavalera, Andri Teaz, Ujik Obituary, Adin Murmur, Tepi Sepultura, atau Momon Ventor menjadi akrab di telinga pendengar setia Senaputra.

Datang pada sesi program musik keras di Senaputra saat itu seperti menghadiri sebuah konser rock. Puluhan anak muda berkostum hitam tampak bergerombol dan membaur jadi satu di ruang lobi. Mereka berbincang, berbagi informasi, juga serius menyimak satu-persatu lagu yang diputar dalam setlist airplay hari itu. Mereka cukup antusias ‘menonton’ performa band secara audio, tanpa visualisasi apapun.

Ada perasaan gembira jika Senaputra tiba-tiba memutarkan lagu baru dari musisi atau band yang masih asing di telinga pendengar. Biasanya sang penyiar langsung pamer kepada pendengar, lalu berdongeng tentang lagu atau musisi yang dimaksud. Suasana seperti itu yang bikin program rock di Senaputra menjadi sangat spesial, bahkan dianggap sakral dan tidak boleh dilewatkan.

Saya termasuk yang pernah mengalami momen-momen seperti itu. Meskipun hanya kadang-kadang saja ke Senaputra, tapi saya selalu stay tune mendengarkan siaran melalui tape compo butut ber-merk Polytron. Saya pertama kali mengenal Carcass, AMQA, Dark Angel, Nuclear Assault, DRI, Cromox, atau Rotor itu juga dari Senaputra. Memang semua jenis musik, seekstrim apapun, akan selalu dianggap ‘radio friendly’ menurut kamus Senaputra.

Saya juga kadang kagum terheran-heran, “Darimana ya radio ini dapet materi lagu itu semua?!” Well, rupanya radio selalu punya link dan koneksi untuk mendapatkan semua itu. Menurut sumber, konon salah satu ruangan di Senaputra itu dipenuhi beragam koleksi plat dan kaset. Sebagian kaset, terutama yang bergenre metal, adalah rilisan dari VSP [Malaysia]. Sebagian lagi malah kaset rekaman biasa atau demo yang merupakan sumbangan dari para pendengar atau fans-nya.

Dengan koleksi seperti itu, otomatis Senaputra menjadi ‘kawan terbaik’ bagi penggemar musik rock kota Malang. Bisa dibilang, Senaputra berhasil menginspirasi selera musik anak-anak muda pada saat itu. Bahkan kasarnya, kadar rock & roll arek Malang dianggap sah dan diakui eksistensinya jika mereka giat menonton konser di GOR Pulosari serta menjadi pendengar setia radio Senaputra. Sadis!…

 

SANG PROPAGANDIS

 

Jika BBC pernah punya [alm] John Peel, maka Senaputra cukup berbangga memiliki Ovan Tobing. Yah, memang membicarakan kiprah Senaputra tak akan lengkap tanpa menengok peran penting Ovan Tobing di radio tersebut. Dia adalah penyiar gaek yang bertanggungjawab atas hampir semua program musik rock di stasiun yang ber-tagline ‘Radio’ne Arek Malang’ tersebut.

Di radio, kalau istilah di militer aku ini sudah ‘jenderal bintang lima’. Karena saya di radio ini mulai dari jaman radio amatir. Yang memakai antena bambu, pada tahun 1974. Jadi saya sudah mengalami dari era amatir, kemudian masuk ke radio yang ditertibkan oleh pemerintah. Era itu adalah era piringan hitam, masuk kepada era tape/kaset, dan sampai sekarang era digital. Orang seangkatan saya, rata-rata sudah mendapatkan impian mereka. Yaitu, kalo tidak sebagai manajer dari radionya, malah ada yang jadi owner atau pemilik radio. Kalo saya masih menikmati menjadi penyiar radio. Kalo ditanya mengapa sebagai penyiar? Ya, karena saya melihatnya di radio ini saya mendapat kepuasan, saya bisa menyenangkan banyak orang,” ujar Ovan Tobing ketika diwawancarai oleh Common Ground, sebuah fanzine lokal asal Malang, pada edisi Desember 2008.

Di balik meja siaran, dia bak seorang orator ulung. Meledak-ledak. Penuh semangat. Dan tentunya sangat berwibawa. Semua kalimat yang meluncur dari mulutnya adalah propaganda positif. Ajakan untuk bagaimana membangun scene musik yang kondusif, menjadi figur musisi yang baik, fans yang loyal, atau penonton konser yang apresiatif. Semua kata-katanya cukup edukatif, membius, sekaligus membakar secara bersamaan.

Itu memang yang saya kerjakan di radio Senaputra. Karena Malang dulu penonton musiknya dikenal rusuh. Malang itu ‘kota batu`, begitu kata kalangan entertain. Hal itu membuat saya berpikir, ‘kenapa sih kok mereka tidak bisa ngikutin musik?Dengan memakai sarana radio Senaputra ini saya mencoba memberikan pelajaran kepada [calon] penonton. Jadi ada kaitannya antara media dengan orang-orang saat on-stage atau orang-orang entertain. Sejak kembali ke radio ini, saya ingin tularkan lagi dan mungkin hasilnya sudah sedikit kelihatan. Kecelakaan [dalam konser] saat ini adalah karena sebagian besar penonton kan gak ngerti lagunya. Kerusuhan-kerusuhan itu banyak terjadi karena orang tidak ngerti lagunya. Jadinya mereka pikir kok lagunya gak dikenal? itu yang sering terjadi di konser musik sekarang. Makanya kalo gak suka dan gak punya acara, ya jangan nonton konser!” jelas pria yang sempat vakum siaran saat ditunjuk menjadi manajer klub sepakbola Arema Malang ini.

Pria yang akrab dipanggil Bang Ovan atau OT ini juga spesialis host atau MC untuk sejumlah konser penting, khususnya yang digelar di Malang atau Jawa Timur. Mulai dari pertunjukan musik di era 80-an, sampai pada jaman keemasan serial Festival Rock garapan Log Zhelebour. Beliau pernah memandu hampir semua konser band domestik, sampai berdiri membakar crowd dari atas panggung Sepultura, Helloween, Walls of Jericho, hingga Caliban.

Hingga hari ini, Ovan Tobing masih tetap setia siaran di Radio Senaputra, khususnya untuk program-program classic rock dan kerap ‘berdongeng’ tentang sejarah musisi rock jaman lawas. Bakatnya sebagai penyiar juga mulai ditularkan kepada putrinya, Rena Tobing, yang sudah memandu berbagai program musik cadas dan indie di Senaputra, beberapa tahun belakangan ini.

 

FREKUENSI BISING

Pamor Senaputra sebagai radio yang peduli pada musik rock memang sudah cukup melegenda. Mungkin sama halnya dengan reputasi radio Mustang [Jakarta] atau GMR [Bandung] di jaman jayanya dulu. Sejumlah musisi mulai dari Godbless, Elpamas, Power Metal, Nicky Astria, Mel Shandy hingga Rotor dan Tengkorak pun menyempatkan berkunjung ke Senaputra dalam rangka promo maupun wawancara on-air. Belakangan, nama-nama seperti Burgerkill, Seringai, Walls of Jericho, Heavy Monster, atau Gugun & The Bluesbug juga pernah diundang talkshow di radio ini.

Wah, ini pertama kalinya kita diwawancarai ama radio berfrekuensi AM. Ternyata masih ada juga ya, salut!” komentar Ebenz [gitaris Burgerkill] heran bercampur bangga ketika diundang talkshow di Senaputra, Juli 2006 lalu. “Malah radio ini yang pertama kali dapet dan muterin materi lengkap album Beyond Coma and Despair yang justru belum kami rilis!” Sadisnya, Senaputra juga jadi stasiun radio terakhir yang sempat mewawancarai mendiang vokalis Burgerkill, Ivan Scumbag, tiga pekan sebelum dia meninggal dunia. Ugh!…

Di luar program siaran, Senaputra juga dikenal dekat dengan komunitas musik cadas di Malang. Radio ini selalu membuka peluang kerjasama untuk promo band, atau menjadi partner publikasi maupun spot tiketbox setiap pertunjukan musik keras di kota Malang.

Setelah 36 tahun bertahan di frekuensi AM, akhirnya pada tahun 2007 Senaputra berpindah gelombang ke frekuensi FM. Itu menjadi semacam era baru bagi kiprah Senaputra selanjutnya. Apalagi gaung kecadasan radio ini sudah mulai meluas ke mana-mana. Bahkan Senaputra diangkat sebagai salah satu spot penting dalam liputan khusus Malang Rock Trip oleh majalah Rolling Stone, di edisi Februari 2009 lalu. Kebetulan saya yang mengantarkan jurnalis Rolling Stone, Soleh Solihun, untuk berkunjung ke Senaputra serta mewawancarai Ovan Tobing di sana.

 

ROCK DAN SEPAKBOLA

Kalau diperhatikan, selama ini ada dua topik besar yang selalu menjadi prioritas dalam aktifitas dan program radio Senaputra. Kedua hal itu adalah musik rock dan sepakbola. Seperti yang kita tahu, dua dunia itu selalu memiliki penggemar yang fanatik dan kult, apalagi di kota Malang.

Selain melayani antusiasme crowd musik rock, Senaputra juga dikenal sebagai corong utama untuk setiap informasi sepakbola, terutama yang berkaitan dengan klub Arema Malang. Terlebih Ovan Tobing selalu menjadi MC di setiap laga kandang Arema. Bahkan dia sukses menyabet penghargaan sebagai MC Terbaik selama gelaran Indonesian Super League [ISL] musim 2009-2010 lalu.

Musik rock dan sepakbola seakan sudah menjadi ‘jiwa’ dari perjalanan karir radio Senaputra. Alhasil, Senaputra selalu diapresiasi positif oleh dua kalangan besar yang menjadi segmen pendengar utama radio ini, yaitu para rockmania dan aremania.

 

DI RADIO, HARI INI

Saat ini, program musik rock di Senaputra masih terus berlanjut. Gaya siaran yang unik berkarakter old-school plus bahasa gaul Arek Malang juga masih dipertahankan sebagai ciri khas dan gaya siaran di radio ini.

Ruang lobi radio Senaputra tampaknya tidak banyak berubah sejak pertama kali saya ke sana. Masih tampak sederhana, jauh dari kesan mewah layaknya radio swasta lain yang tampak begitu metropolis. Dindingnya juga tetap ditempeli poster, foto atau plat lengkap dengan tanda tangan musisi yang bersangkutan.

Ruang studio siarannya juga nyaris tetap. Kecuali tambahan seperangkat komputer – karena saat ini penyiar sudah tentu memutar lagu-lagu dalam format digital. Di luar bangunan, saya lihat antena pemancarnya juga diganti dengan yang baru demi jangkauan siaran yang lebih luas lagi.

Tapi entah, apakah anak muda jaman sekarang masih suka mendengarkan radio – ketika Mp3, iPod, RBT, atau internet sudah sedemikian marak merebut hampir semua waktu mereka?! Kalau pun masih, apakah mereka akan stay tune di Senaputra dibanding radio-radio lain yang lebih populer, gaul dan metropolis?!…

Sebab, sebagian berpendapat kalau format program di radio Senaputra saat ini dirasa kurang kreatif. Kesannya terlalu old-school, serta kurang cocok untuk gaya pergaulan anak muda jaman sekarang. Di samping itu, sekarang porsi rock-nya juga tampak berkurang – baik secara kualitas maupun kuantitas. Jika ini benar, maka Senaputra bisa agak sulit untuk mendapatkan pendengar yang kult seperti dulu lagi.

Well, saya sendiri sudah bukan seorang pendengar radio yang aktif. Terkadang memang masih mendengarkan Senaputra hanya ketika nongkrong bersama kawan-kawan. Yah, hanya untuk nostalgia saja. Sesekali kami juga ikut mengomentari program atau playlist yang sedang diputar. Senang rasanya kalau lagu-lagu di jaman kami dulu masih diputar di sana.

Tapi menarik mencermati apa yang pernah dikatakan oleh seorang kawan saya, “Senaputra kalo dulu sih emang sangat menginspirasi anak muda kota Malang di era ’80-an hingga 90-an. Tapi gak tau kalo sekarang. Jaman sudah berubah. Internet dan media online merajalela. Kompetisi antar radio juga sangat ketat. Semua mulai kompromi. Mungkin ini sudah jadi problema bagi setiap radio mana saja…”

Memang sebagian besar radio komersil akan selalu mengikuti trend dan pasar musik. Hampir semua [program] radio sekarang tampak seragam dan berlomba-lomba mencapai hype-nya. Salah satu kawan saya yang sadar akan hal itu hanya memberikan kutipan lirik lagu “New Noise” dari Refused, “How can we expect anyone to listen if we are sing the same old voice? We need the new noise, new art for real people. We dance to all wrong songs, we enjoy all the wrong moves. We need the new beat, new noise!…”

Well, Senaputra sudah pernah menempatkan dirinya sebagai inspirator bagi mereka yang menggemari musik rock. Mengisi dahaga anak-anak muda kota Malang akan musik rock yang apresiatif dan penuh semangat. Sejak lagu pertama diputar hingga kalimat terakhir yang dulu selalu diucapkan oleh penyiar Senaputra untuk menutup programnya, “Jaga diri kalian baik-baik. Jaga musik rock itu baik-baik…”

 

*Artikel ini dimuat di situs Jakartabeat.net sebagai bagian dari serial tulisan memperingati Hari Radio Nasional ; http://www.jakartabeat.net/musik/kanal-musik/ulasan/item/386-radio-senaputra-kumandang-rock-di-udara-kota-malang.html

Related Links

Situs Radio Senaputra: http://senaputra.net76.net/

Arsip Wawancara Ovan Tobing: http://apokalipwebzine.wordpress.com/2010/09/15/129/