Ini sampelnya. Ini baru versi demo ya, materi aslinya sekarang lagi di-mixing di Bandung,” tutur Ebenz sambil menyerahkan sekeping CD kepada saya. Perbincangan itu terjadi ketika kami bertemu di sebuah apartemen di kawasan Seminyak, sehari setelah kami nonton bareng konser Iron Maiden di Bali, Februari 2011 lalu. Kami lalu banyak berbincang soal persiapan album baru Burgerkill di sela euforia konser Iron Maiden dan godaan obyek-obyek wisata di pulau Bali.

Sekeping cakram materi demo Burgerkill yang saya terima siang itu masih berisi tiga lagu, yaitu “Under The Scars”, “Through The Shine” dan “House of Greed”. Menurut pengakuan Ebenz, albumnya nanti bakal berisi sekitar 10 lagu dan akan dirilis dalam dua versi. Versi pertama adalah format CD tunggal biasa, dan versi kedua adalah format deluxe [double disc] yang berisi CD album “Venomous” plus sekeping DVD dokumenter perjalanan Burgerkill. “Pengennya sih mau kita rilis pas tanggal 20 April nanti, bertepatan dengan Hari Ganja Internasional. Doain ya!” ungkap Ebenz sambil tersenyum.

Ranah Metal Yang Dijanjikan

Sejak lima tahun yang lalu, “Venomous” sering disebut-sebut bakal jadi album yang benar-benar baru – dengan kekuatan personil anyar pasca meninggalnya sang vokalis kharismatik, Ivan Scumbag Firmansyah, yang ‘mewariskan’ album masterpiece berjudul “Beyond Coma and Despair” di tahun 2006. Mau tidak mau, perbandingan memang akan selalu ada dan masih terbilang wajar. Sejak lama juga banyak fans mereka yang penasaran dan bertanya-tanya bakal seperti apa konsep musik Burgerkill dibandingkan dengan apa yang ada di album terakhir.

Dalam wawancaranya dengan saya dua tahun yang lalu, Ebenz sempat bercerita mengenai bakal albumnya nanti, “Tidak terlalu berbeda sih dengan album sebelumnya. Hanya sekarang kita ngerasa jauh lebih ada progres hampir di semua lini. Banyak sekali pengaruh-pengaruh baru yang ikut memberi kontribusi dalam struktur materi baru Burgerkill. Band-band Eropa seperti Gojira, Hacride, Meshuggah atau Lyxanzia banyak memberi ide-ide baru dalam memainkan middle beat yang heavy. Sedangkan band-band US old-school seperti Megadeth, Slayer, Monstrosity, Canibal Corpse, Pantera, dan Anthrax juga tetap menjadi pondasi penting yang ikut memberi banyak inspirasi dalam penggarapan emosi lagu dan strukturnya.”

Sesi vokal kita banyak bereferensi pada Devin Townsend, Mark Hunter, Bjorn Speed, dll. Yang jelas dengan adanya Ramdan dan Vicki sebagai striker baru di tim kami sangat terasa kontribusinya. Ramdan datang dengan pengaruh Swedish-nya yang kental. Didukung oleh Vicki yang cukup kuat di sesi distorsi dan clean vocal-nya bisa jadi senjata baru buat kita bertempur di album berikutnya.” Ungkapnya panjang-lebar.

Pernyataan Ebenz tadi diungkapkan dengan rasa optimis dan penuh harapan. Referensi band dan musisi yang disebutkan pun bukanlah nama-nama yang sembarangan. Komposisi metal yang dijanjikan juga bukanlah hal sederhana yang main-main. Jika memang seperti itu janji Burgerkill, tampaknya memang album ini patut ditunggu serta diantisipasi.

Sekeping Demo dan Pelampiasan

Dua hingga tiga bulan kemudian, saya nanti-nanti namun tiada kabar juga soal album baru Burgerkill. Malah ada selentingan bahwa album Ebenz dkk terpaksa molor sekian lama. Saya kudu memaklumi, di tengah kondisi industri musik Indonesia yang agak ‘ajaib’ ini keterlambatan rilis adalah sesuatu hal yang biasa dan wajar. Sementara itu, saya tampaknya musti berpuas diri dulu dengan mendengarkan tiga lagu demo Burgerkill. Ketiganya sudah berputar berulang-ulang dan menjadi penghuni setia folder musik di laptop saya selama berminggu-minggu.

Dalam materi demo mereka, terdapat lagu “Under The Scars” sudah sering saya dengar di beberapa show terakhir Burgerkill, dua tahun belakangan ini. Sepertinya ini lagu pertama mereka bersama vokalis Vicky, dan seolah sebuah transisi pada konsep musikal Burgerkill pasca sepeninggal Ivan Scumbag. Secara garis besar, nuansa musikalnya memang masih seperti di album “Beyond Coma and Despair”. Hanya saja, temanya ibarat statemen bahwa Burgerkill memang sempat terluka, namun mereka baik-baik saja. Mencoba terus melawan, bahkan menjadi lebih kuat dari sebelumnya.

You offer, to protect,

See my scars, see my scars,

You pretend, to protect,

See this fucking scars, this fucking scars!

I’m coming, We’re never alone, we are never forget!”

Track berikutnya, “Through The Shine” juga masih menyimpan irama yang khas ala “Under The Scars”. Cukup tipikal. Tampaknya masih ditulis dalam emosi dan perasaan yang sama. Berbeda dengan lagu selanjutnya, “House of Greed”, yang justru mengalun dalam tempo sedang dan cenderung progresif. Tembang berdurasi hampir tujuh menit itu memiliki atmosfir mengawang yang luar biasa.

Saat mendengarkan “House of Greed”, saya jadi ingat ungkapan Yayat Achdiyat [produser Burgerkill] beberapa tahun lalu ketika kami berbincang santai di sebuah penginapan, di kota Malang, “Saya dan anak-anak BK sekarang lagi suka dengerin Gojira.” Nah, lagu “House of Greed” ini mungkin salah satu buktinya. Terselip banyak nuansa teknikal dan progresif ala Gojira di lagu tersebut, yang dengan sedikit kadar kekaleman bahkan mungkin bisa mencapai level musik seperti Neurosis.

Bagi sebagian telinga, kualitas ketiga lagu di atas tadi sudah terlampau bagus untuk disebut sekadar demo. Jika band lain, mungkin sudah ada yang berani mengemas dan menjual lagu-lagu itu. Tapi saya langsung sadar, ini Burgerkill. Salah satu band metal yang saya tahu sangat cermat, ulet dan perfeksionis dalam segala hal – mulai soal show sampai rekaman. Saya jadi tak sabar ingin segera mendengar bagaimana hasil olahan si tangan midas, Yayat Achdiyat, ketika semua lagu sudah 100% beres.

Yayat itu sudah kami anggap personil ke-enam di Burgerkill. Mungkin dia satu-satunya produser yang paham betul dengan kondisi dan kebutuhan anak-anak semenjak album Dua Sisi sampai sekarang. Beliau salah satu orang yang sangat kami tua-kan dan selalu kami mintai pendapat apapun yang berhubungan dengan Burgerkill. Yayat itu sangat fleksibel dengan cara kerja anak-anak. Namun di kondisi tertentu dia juga sangat tegas dan perfeksionis di setiap pekerjaannya. Burgerkill dengan Yayat itu ibarat Slayer dengan Rick Rubin, atau ibarat biji dengan batangnya,” kata Ebenz tentang mantan gitaris Jasad yang sekarang fokus sebagai produser merangkap sound engineer Burgerkill itu.

Racun Itu Bernama Venomous

Seringkali, ketika mendapati lagu-lagu metal yang berdurasi lebih dari lima menit, otak kanan saya langsung memberontak dan serta-merta menuduh, “Ugh, ini pasti sesuatu yang tehnikal dan progresif!”. Sama halnya ketika saya mendapatkan materi “Venomous” yang dikirimkan oleh Burgerkill, pertengahan Juni lalu. Sekedar catatan, akhirnya album mereka itu dirilis resmi di tengah pertunjukan Bandung Berisik 5, 11 Juni 2011. Bisa dilihat, betapa cerdiknya mereka mengambil momen untuk promosi sekaligus jualan. Konon kabarnya bahkan sold-out ketika dirilis pertama di festival musik metal tersebut.

Setelah diawali dengan intro berdurasi 75 detik, “Into The Tunnel”, kuping saya langsung dihantam oleh “Age of Versus”. Menurut indera pendengaran saya, ini adalah sebuah tembang yang mutlak berirama death metal. Tanpa tawar-menawar. Lagu ini dibalut sound khas bernuansa oldschool, yang bahkan cukup mendekati karakter sound tipikal band-band Florida [USA] yang notabene jadi salah satu ‘kiblat’ bagi scene death metal di era 90-an. Dugaan saya ini agak menemui kebenaran saat saya tiba-tiba menemukan part-part gitar yang mengingatkan pada Monstrosity.

Sedangkan mendengarkan “This Coldest Heart” di album ini rasanya sama seperti menemukan “To Live Is To Die” di album “And Justice For All”-nya Metallica. Maksud saya adalah satu track yang paling dingin, jika tak mau dikatakan lembut. Sebuah instrumentalia yang syahdu dengan petikan akustik dan atmosfir musik yang mampu mengarahkan telinga ke sisi post-metal. Tembang nirkata ini menyajikan sebuah narasi yang berisi empati mereka bagi korban perang dan bencana alam.

Any debris that littered, leve the story for those who survived…

A for of empathy, for victims of wars and disasters around the world.”

Sayangnya, “For Victory” terdengar agak tanggung, meski penuh presisi jika menyimak betapa rumitnya duel gitar Agung dan Ebenz yang sungguh seru itu. Tehnikal dalam level tinggi dengan sabetan riff gitar ala Meshuggah, Atheist atau Cynic. Lirik lagu ini menyulut semangat untuk terus berjuang dan melakukan perlawanan. Klimaks-nya terjadi pada koor yang cukup anthemik di akhir lagu. Part seperti ini mungkin bisa bergemuruh di atas panggung.

We conquer as one,

We are built to blast! Take control and exterminate,

We are here to blast! Face to face, no turning back,

We are built to blast! Through the best or worst,

Together, forever, and ever. Explode!”

Habis Gelap Terbitlah Terang

Dari awal kita sama sekali tidak terpikir untuk mencari karakter suara yang sama dengan almarhum. Kita semua sadar betul bahwa setiap orang punya karakter suara yang berbeda. Mungkin untuk wilayah Bandung sendiri Vicki sudah bukan wajah baru, karena sebelumnya dia sempat bergabung dengan Balcony, Savor of Filth dan terakhir di Heaven Fall,” begitu jawab Ebenz ketika saya tanya bagaimana proses adaptasi vokalis baru mereka, sesaat setelah Burgerkill menggamit Vicky sebagai vokalis dari hasil audisi terbuka.

Nyatanya mereka memang tidak menoleh ke belakang, dan tetap menatap lurus ke depan. Di sejumlah media, Ebenz bahkan berani sesumbar bahwa Burgerkill hari ini bisa dibilang ibarat band yang benar-benar baru terlahir kembali. Lima tahun belakangan paska album “Beyond Coma and Despair”, Burgerkill konon mulai menjalani pendekatan yang sama sekali berbeda dalam berkarya – mulai dari proses penulisan musik, aransemen, hingga sesi rekaman. Semuanya dilakukan dengan cara-cara baru, berkah dari sebuah proses adaptasi serta pelajaran dari pengalaman mereka.

Selain bergantinya vokalis dan metode baru dalam berkarya, apalagi yang berbeda dengan Burgerkill dibanding sebelumnya?! Well, yang paling terlihat jelas adalah bergesernya topik dan tema lirik-lirik mereka. Dahulu, bersama Ivan Scumbag, lirik lagu Burgerkill selalu berkisar pada tema-tema yang galau, depresif, sakit, atau mengutuki diri sendiri. Bahkan semua lirik yang dibuat oleh Ivan Scumbag di album “Beyond Coma and Despair” hampir semuanya beraura gelap.

Saya pun jadi teringat penjelasan Ebenz soal tema lagu dalam sebuah kesempatan wawancara yang terdahulu. Dia pernah bilang, “Untuk temanya sekarang kita coba lebih bijaksana dalam pemilihan topik dan bahasa yang digunakan. Namun kita tetap akan mengangkat hal-hal sekitar interaksi personal dengan lingkungannya dalam sudut pandang yang lebih luas. Jujur aja aku dan anak-anak punya sedikit trauma dengan lirik-lirik tentang keputus-asaan dan kematian. Mengingat apa yang terjadi pada almarhum Ivan dengan lirik-lirik yang dia buat ternyata banyak sekali yang mengindikasikan kisah akhir dari hidupnya. Semenjak kejadian itu kita percaya bahwa sebuah ucapan atau lirik itu adalah sebuah doa yang lambat laun akan ada pembuktiannya, apapun itu bentuknya…”

Yah, fase tema-tema gelap bagi Burgerkill sepertinya sudah usai. Kini mulai berganti dengan topik seputar amarah, bangkit dan melawan. Kalimat demi kalimat yang tertuang dalam setiap lirik di album “Venomous” terbaca cukup mencerahkan dan penuh rasa optimis. Ini memperkuat statemen bahwa Burgerkill hari ini tidak melemah, justru semakin kuat daripada sebelumnya. Apalagi saat mengetahui bahwa semua lirik sekarang kebanyakan ditulis oleh Ebenz, frontman Burgerkill yang menurut saya memang adalah sosok yang selalu optimis dan tak mudah menyerah.

Di samping itu, Ebenz juga mulai mencoba menulis lirik-lirik bertema sosial, seperti misalnya tentang perang, bencana, atau konflik kekerasan di tengah masyarakat. Sedikit banyak, ini bukti bahwa Burgerkill sudah bijak dan kritis dalam memandang permasalahan hidup di sekitarnya. Jika ini sebuah kebangkitan, maka adalah hal yang cukup masuk akal bagi mereka untuk ikut ‘membakar’ pendengarnya lewat pesan-pesan yang lebih universal.

Eksplorasi Cadas yang Progresif nan Eksplosif

Kembali ke materi musik, rasanya “My Worst Enemy” adalah salah satu track yang paling kuat di album “Venomous”. Diawali dengan part yang menantang layaknya salah satu hits lama mereka, “Shadow of Sorrow”. Saya duga, “My Worst Enemy” akan jadi jagoan baru di atas panggung Burgerkill. Musiknya memang cukup powerfull dan mampu menantang moshpit untuk terus bergerak.

Uniknya, saat online tengah malam saya kebetulan menemukan beberapa fakta tentang lagu “My Worst Enemy” melalui Timeline Twitter milik Burgerkill. Pertama, lagu ini lahir setelah drummer Andris sembuh dari musibah patah tulang lengannya. Kedua, secara musikal lagu ini terinspirasi oleh Megadeth, Van Halen, Porcupine Tree hingga The Cure. Ketiga, ide lirik lagu ini muncul setelah melihat banyaknya kasus kekerasan di antara umat beragama, yang jadi pernyataan sikap mereka dalam menentang premanisme. Keempat dan yang agak menggelikan, sebelum liriknya dibuat, “Cucuk Lancah” adalah judul awal dari lagu “My Worst Enemy”. Nah, beberapa hari lalu saya sempat menanyakan arti kata “Cucuk Lancah” kepada bassist Ramdan melalui twitter-nya [@ProphetiaAeon], dia jawab itu bahasa Sunda yang artinya “Duri Laba-Laba”. Akh, rasa penasaran saya terjawab sudah!…

Jelang akhir lagu “My Worst Enemy”, temponya yang keras tiba-tiba langsung menurun drastis. Bagi sebagian orang, ini mungkin semacam anti-klimaks. Tapi kalau saya cukup terhibur dengan bagian solo gitar yang panjang dan manis ala Joe Satriani. Ini pasti ulah Agung, gitaris mereka yang memang dikenal memiliki skill gitar yang cukup mumpuni. Terus terang, saya suka bagian ‘dewa gitar’ tersebut.

Ibarat medley yang halus dan rapih, “Only the strong” seakan menyambung tempo pelan yang ditinggalkan oleh track sebelumnya, “My Worst Enemy”. Lagu ini menaikkan beat dan otomatis jadi lebih keras. Saya awalnya sempat tidak sadar kalau ternyata sudah berganti lagu. Nyatanya sudah ada “Only The Strong”, sebuah selebrasi keagungan musik metal yang mengajak para pendengarnya untuk segera membentuk shaf headbanging secara berjamaah. Ada beberapa part improvisasi yang cukup jazzy di sektor gitar dan drum. Cantik.

Saya berpesan, jangan matikan dulu player CD anda. Sebab masih ada “An Elegy”, sebuah sajian hidden track yang [kembali] menampilkan aksi Fadly, vokalis Padi yang sudah bersahabat baik sejak lama dengan Burgerkill. Jika kita ingat tembang “…” [baca; Tiga Titik Hitam], maka tak perlu pikir panjang lagi dengan “An Elegy”. Yah, nuansanya memang masih sama. Sebuah track yang galau dan mengawang dengan vokal khas Fadly yang serak-sengau. Plus balutan elemen piano dan strings yang menambah megah atmosfir lagu ini. Track yang didedikasi khusus untuk mendiang Ivan Scumbag Firmansyah dan Robin Hutagaol ini bisa jadi funeral-song yang indah, namun juga perih.

And I’m still here standing on this endless road,

Never had a chance to say thanks,

Never had a chance to say goodbye…”

Selamat Datang, Racun!

Camkan ini, jika ada yang menyebut musik Burgerkill masih berada di ranah genre metalcore ala Chimaira, Unearth atau Lamb of God, maka alangkah cerobohnya dia. Sebab menurut telinga saya dan kuping-kuping metal yang terpercaya, Ebenz dkk sudah mulai menyentuh ranah prog-metal dalam sabetan musik death metal yang eksplosif. Band lokal sebesar Burgerkill memang sudah selayaknya berani bereksperimen dalam komposisi musik, mengingat kemampuan mereka juga cukup mendukung untuk hal tersebut. Meski harus diakui, ini adalah keputusan yang sangat berani dan lumayan beresiko.

Mungkin sudah banyak kekaguman yang terlontar pada konsep musikal Burgerkill hari ini. Dari komentar-komentar di jejaring sosial saja, saya mendapati banyak sambutan hangat dari fans untuk album “Venomous”. Selain berhasil mendorong musik metal menjadi lebih tehnikal dan progresif, setiap lagu di album ini juga bakal terdengar makin rumit dan penuh variasi. Otomatis durasi lagu yang agak lama menjadi resikonya. Tapi setidaknya hingga hari ini, saya belum mendengar ada fans yang mengaku bosan berlama-lama dibuai oleh setiap jengkal irama di album “Venomous”. Ini pasti racun, bukan?!

Namun sayang, sejujurnya di album ini saya belum menemukan reff-reff yang berpotensi menjadi anthemik dan sing-alongable layaknya hits-hits klasik mereka, “Sakit Jiwa”, “Penjara Batin” atau “Darah Hitam Kebencian” yang selalu meraup koor masal. Nah, ini pekerjaan rumah yang besar bagi Burgerkill; bagaimana membikin penonton untuk bisa ikut bernyanyi di lagu-lagu anyar mereka?! Mungkin sang vokalis Vicky punya trik khusus, kita lihat saja nanti. Dia masih punya banyak kesempatan. Namun jika kita tidak sempat bernyanyi, masih ada pilihan lain ; mengibaskan kepala dalam gelombang headbang yang maksimal atau diam tertegun menyimak padatnya skill bermusik mereka.

Duh, tampaknya sia-sia saja usaha saya [atau anda] untuk terus ngotot membandingkan antara “Beyond Coma and Despair” dengan “Venomous”. Itu sama halnya seperti membandingkan “Master of Puppets” dengan “And Justice For All”. Yah jelas saja susah untuk ketemu, meski benang merahnya mungkin masih sama. Sebab keduanya memang pemenang, dengan pendekatan yang berbeda, di fasenya masing-masing.

Pada akhirnya, konsistensi dan kerja keras sudah membuktikan bahwa band tidak akan pernah gagal dalam berkarya. Seberat apapun tantangan dan cobaannya, Burgerkill sudah memilih untuk melangkah lebih maju dalam bereksplorasi. Mereka semakin optimis dan bersemangat dalam menapaki jalan barunya – yang tampaknya sedikit lebih cerah meski tetap memendam amarah. “Venomous” mungkin telah menciptakan kadar racun yang berbahaya, namun pada kecapan yang tepat itu bisa jadi lebih manis daripada jenis madu apapun yang pernah kita dengar dalam diskografi musik metal di Indonesia.

*Artikel ini dimuat di situs Jakartabeat.net ; http://www.jakartabeat.net/musik/kanal-musik/album/item/623-racun-progressi-dan-era-baru-burgerkill.html