Selepas dari kota Jember, serial Outloud berlanjut ke kota sejuk, Malang. Event akbar dalam format festival musik dan aneka hiburan berbasis anak muda itu mengambil venue di Lapangan Rampal Malang, 19 Februari 2011 lalu. Malam itu langit cukup cerah dan cuaca sangat bersahabat, seakan memberi kesempatan bagi Arek-Arek Malang untuk berpesta serta bersenang-senang di akhir pekan.

Berbagai jajaran booth sudah menyambut sejak crowd memasuki gate raksasa yang berlogo Outloud. Setiap booth memajang beragam jenis produk milik sponsor dengan harga terjangkau plus sejumlah hadiah langsung atau merchandise. Deretan Sales Promotion Girl [SPG] cantik tampak senantiasa gigih ikut menawarkan produk mereka kepada penonton. Alhasil, itu cukup menarik minat penonton untuk membeli atau sekedar melihat-lihat produk yang ditawarkan.

Sementara di sudut barat venue, tampak antrian orang yang ingin berfoto bersama latar belakang desain Outloud pada Wall of Fame. Malam itu, penyelenggara juga memamerkan sebuah mobil berjenis offroad. Penonton juga tampak antri untuk sekedar bisa mendekat atau mejeng bersama kendaraan roda empat yang sporty dan macho itu.

Panggung musik mulai bergema sejak pukul 19.30 WIB lewat penampilan D’Kross. Kelompok ini merupakan band spesialis suporter klub sepakbola Arema Malang yang cukup kesohor serta sudah memiliki sejumlah rilisan di pasaran lokal. Lagu-lagunya selalu bertema tentang fanatisme kepada sepakbola, klub Arema FC, serta para suporter klub yang dijuluki Aremania. Malam itu, D’Kross melantunkan lima karya lagu berirama rock yang cukup anthemik serta sanggup memanaskan mood ribuan Arek-Arek Malang di awal pertunjukan.

Band berikutnya yang tampil adalah C4, salah satu musisi lokal yang juga tak asing di mata masyarakat kota Malang. Band ini sempat menjadi salah satu finalis kompetisi musik rock nasional, beberapa tahun silam. Mereka meramu irama rock, metal, funk, rap/hip-hop menjadi satu adonan musik yang cukup membius di telinga penonton. Setelah melagukan empat nomor, akhirnya C4 menutup aksinya lewat salah satu hits mereka yang bertitel “Revolusi”.

Semakin malam, pemandangan di setiap sudut venue tampak makin meriah. Tidak kurang dari 5000 penonton yang hadir menikmati event ini dengan tertib dan antusias. Mereka tidak hanya berasal dari kota Malang saja, namun juga banyak rombongan yang datang dari luar kota seperti Pasuruan, Jombang, Kediri, Blitar, dan sekitarnya. Semuanya melebur menjadi satu menikmati sajian musik dan hiburan di malam akhir pekan yang cukup cerah itu.

Di bagian utara venue, penonton tampak berkumpul menyaksikan sekumpulan anak muda yang sedang beraksi. Anak-anak muda itu adalah bagian dari komunitas penggiat sepeda BMX yang malam itu disiapkan areal khusus oleh penyelenggara, lengkap dengan lintasan sepeda serta dua buah papan ramp. Keberanian mereka dalam memamerkan aksi freestyle-nya cukup mengundang decak kagum dari penonton.

Kami sudah beraksi sejak sore tadi, sebelum acara dimulai. Kebetulan sambil latihan rutin juga sih. Anak-anak ini semua berasal dari Malang, dan memang sering tampil di berbagai acara musik maupun kompetisi BMX,” tutur Boni, salah satu atlet amatir BMX di kota Malang, malam itu.

Pihak penyelenggara sempat mengungkapkan, bahwa salah satu konsep event Outloud memang ingin memberikan ruang dan kesempatan kepada berbagai komunitas anak muda untuk menampilkan aksi dan kreatifitasnya ke hadapan publik. Di samping itu, Outloud juga ingin menampilkan hiburan musik berskala besar dengan sederet artis dan musisi berkualitas di beberapa daerah.

Festival ini pun menjadi lebih seru serta tidak membosankan. Seperti yang dikatakan oleh Dilla, salah seorang penonton yang hadir malam itu, “Saya datang rame-rame dengan temen sekampus. Pengen liat aksi Bondan & Fade 2 Black sih aslinya. Meriah juga acaranya ya. Penontonnya juga heboh banget!”

Suasana di atas panggung juga semakin seru dan meriah. Di setiap jeda pengisi acara, muncul duet MC kocak yang aktif menebar berbagai kuis dan permainankepada penonton. Sederet jokes dan games dilepas bersama puluhan paket goodie-bag gratis yang berisi bermacam produk sponsor.

Seperti di kota lainnya, panggung Outloud di kota Malang juga didesain secara unik dan khas. Setting panggung berukuran raksasa dengan tampilan video artistik khas Outloud yang muncul dari layar multimedia. Itu masih ditambah dengan dukungan seperangkat sound system dan lighting berkualitas apik, serta dua buah giant screen pada kedua sisi panggung.

Sekitar jam sembilan malam, giliran Snickers And The Chicken Fighter [SATCF] yang beraksi memanaskan suasana. Band asal kota Malang yang mengusung jenis musik punk rock ini tampil penuh semangat. Mereka membawakan sejumlah tembang karya sendiri yang kental dengan nuansa punk ala NOFX atau Rancid. Di penghujung aksinya, SATCF menutup dengan sebuah lagu berirama ska-punk yang mampu bikin sebagian besar penonton ikut berdansa.

Untuk mengisi jeda sambil menunggu penampilan sang headliner, panggung sempat dimeriahkan oleh aksi percussion set selama beberapa menit. Gebyar perkusi yang dimainkan secara kolaboatif oleh para drummer dan percussionist lokal itu lumayan mengundang perhatian serta menghibur penonton.

Jarum jam menunjukkan pukul setengah sepuluh malam saat mobil rombongan Bondan Prakoso dan Fade 2 Black datang dan berhenti tepat di belakang panggung. Dengan pengawalan ketat, mereka langsung naik ke atas stage dan menyiapkan diri untuk menghibur ribuan fans mereka yang sudah tidak sabar sedari tadi.

Selepas alunan sebuah intro singkat, Bondan Prakoso featuring Fade 2 Black langsung menggebrak lewat lagu pertama, “Feels Like Home”. Deru musik funk menyeruak dan bikin penonton makin bersemangat. Tanpa jeda, Bondan dkk langsung memainkan sejumlah nomor seperti “SOS”, “Xpresikan” dan “Bumi Ke Langit”.

Hey, Malaaaaang!” teriak Bondan Prakoso menyapa crowd sambil mengangkat kedua tangannya ke udara. “Yo, Malang Yo!… Mari kita panaskan hawa dingin malam ini!” sambung trio MC dari Fade 2 Black dengan gaya provokatif dari bibir panggung.

Sejak lagu pertama, penonton sudah menyambut dengan penuh semangat dan tensi tinggi. Di barisan depan terlihat begitu padat dan sesak, nyaris tidak ada sela atau ruang kosong. Petugas PMK tampak sibuk dan beberapa kali menyemprotkan air ke segala penjuru penonton. Para personil panitia dan sekuriti di area barikade depan juga cukup sigap menjaga situasi agar tetap kondusif.

Ribuan fans Bondan Prakoso yang berjuluk Rezpector hampir memenuhi setiap sudut venue. Dilihat dari tulisan atribut kaos dan benderanya, para Rezpector ini tidak hanya datang dari kota Malang saja, melainkan juga banyak yang datang dari Blitar, Tulung Agung, Jombang, Kediri dan sejumlah daerah di Jawa Timur. Mereka tampak antusias bernyanyi dan selalu menciptakan koor masal di sepanjang pertunjukan saking hapalnya.

Bondan Prakoso malam itu memakai kaos hitam bertuliskan namanya sendiri. Tubuhnya menyandang gitar bass yang menjadi instrumen saktinya selama ini. Sementara Fade 2 Black yang digawangi oleh Titz, Lezzano dan Santoz berdandan ala MC hiphop dengan balutan kostum american style. Trio ini seperti tak kenal lelah terus beraksi menyemangati penonton di setiap sudut panggung, sambil sesekali memainkan perangkat beatbox atau turntable-nya.

Aroma kental musik pop, rock, funk, dan hiphop yang tersaji dari panggung selalu direspon hangat oleh crowd. Apalagi jika muncul beat-beat yang enerjik dan groovy dari intrumen musik yang dimainkan sang bintang tamu. Penonton bahkan bisa terhipnotis menyaksikan liukan jari-jari Bondan yang menari lincah di atas fret gitar bass-nya. Itu memang salah satu kelebihan Bondan Prakoso, selain suara vokalnya yang empuk dan kepintarannya merangkai bait-bait lirik yang positif.

Sebelum memainkan hits “Kroncong Protol”, Bondan Prakoso sempat menyanyikan sebait lagu gending Jawa yang sangat populer, “Gambang Suling”. Komplit dengan gaya cabikan bass ala Primus atau Flea RHCP. Otomatis aksinya ini sukses mendapat aplaus hangat dari para penonton.

Eh, Malang kan kota bunga. Pasti orangnya wangi-wangi kan?!” pancing salah seorang personil Fade 2 Black sebelum mereka menampilkan salah satu hits bertitel “Bunga”. Setelah itu disambung dengan “Rezpector” yang sempat memancing koor masal dari hampir semua fans mereka.

Ingat, Rezpector tidak pernah bikin keributan di setiap konser musik. Kita selalu damai. Kita juga selalu berteman baik dengan komunitas-komunitas yang lain seperti Slanker, Outsiders, STSetia, dan semua fans musik di Indonesia!” pesan Bondan Prakoso menyampaikan amanat perdamaian sambil mengabsen atribut bendera fans yang bertebaran di areal venue.

Selepas lagu “Kita Selamanya”, Bondan Prakoso lalu mundur ke belakang untuk mengambil jeda sejenak dan memberi kesempatan kepada Fade 2 Black untuk memainkan sesi DJ set. Dari balik meja turntable, kelompok rap/hiphop asal Jakarta itu menyajikan beat-beat elektronik yang enerjik dan mengajak crowd untuk berteriak menyuarakan sebuah koor secara masal.

Sesaat kemudian, mantan penyanyi cilik yang pernah ngetop dengan hits “Si Lumba-lumba” itu kembali ke panggung dan langsung menggeber lagu “Tetap Semangat”. Setelah satu jam tampil, Bondan Prakoso dkk akhirnya menyudahi aksinya lewat singel yang paling ditunggu-tunggu oleh ribuan fansnya, “Yah Sudahlah”, disertai hujan kembang api yang jatuh dari atap panggung.

Aksi tersebut sekaligus menutup event Outloud yang terbilang sukses menghibur arek-arek Malang di malam akhir pekan yang cerah itu. Seperti di kota-kota sebelumnya, Outloud terbukti mampu menyuguhkan pertunjukan yang seru dan berkesan bagi publik, terutama para anak muda di berbagai daerah.

*Naskah ini adalah hasil reportase saya untuk rubrik advertorial di Majalah Rolling Stone Indonesia.