“Membekukan aksi, menjadi sebuah jawaban. Menyatukan persepsi, menyebar semangat.
Mewujudkan pameran imaji, tentang band lokal Malang saat menebar aksi di atas panggung.”

Kalimat di atas menjadi inspirasi bagi komunitas fotografi, Memorabilia, untuk menggelar Music Stage Photography Exhibition di Galeri Ken Arok Perpustakaan Kota Malang, 28 Juni – 01 Juli 2010. Momen ini merupakan ajang pesta dokumentasi visual tentang scene musik [independen] di ranah lokal kota Malang. Obyek utamanya adalah performa band atau aksi musisi lokal yang tampil di atas panggung pertunjukan musik. Kegiatan semacam ini jelas penting dalam proses untuk merekam jejak sejarah perkembangan musik, khususnya yang terjadi di kota Malang.

Apalagi jika menilik pada sejarah, kota Malang bisa dibilang sudah rock & roll sejak era 1970-an. Di masa itu beberapa musisi lokal sudah bermunculan dan mampu mendulang perhatian publik. Sebut saja nama-nama seperti Bentoel Band, Ogle Eyes, Ucok AKA, Abadi Soesman, Ian Antono, Elpamas, hingga Sylvia Saartje. Mereka bahkan besar di panggung-panggung musik, dibandingkan pada karya rekaman. GOR Polusari dan Tenun adalah nama-nama yang sering menjadi venue atau tempat pertunjukan bagi musisi-musisi handal di jaman itu. Sayangnya, saat itu tidak banyak dokumen visual atau foto-foto yang beredar di sekitar kita. Kalau pun ada pasti sulit untuk ditemukan dan hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu saja.

Salah satu media yang dulu banyak merekam aksi dan perkembangan musik nasional adalah majalah Aktuil. Musisi-musisi kota Malang sering menjadi obyek penting dalam setiap tulisan dan foto artikelnya. Konser-konser lokal bahkan tak jarang menjadi highlight nasional di jaman itu. Itu terbaca dari artikel dan kumpulan foto hitam-putih yang dimuat di majalah itu. Saking langkanya, foto-foto konser tempo doeloe tersebut menjadi benda yang sangat klasik, memorable dan collectible saat ini.

Memasuki era 1980-an juga tidak jauh berbeda. Setiap sesi pertunjukan musik [rock] masih dianggap sebagai momen yang sakral dan istimewa bagi penggemar musik di kota Malang. Sering dikatakan kalau Malang adalah kota yang ‘angker’ bagi setiap musisi di atas panggung. Sebuah kota di mana penontonnya sangat apresiatif, ikut bernyanyi, berwawasan tinggi, buas, dan tak jarang mengamuk jika ada band yang tampil buruk di atas panggung. Periode 80-an masih ditopang oleh konser-konser rock di GOR Pulosari, DKM, dan stadion Gajayana. Serial Festival Rock garapan Log Zhelebour adalah salah satu momen konser yang paling monumental di jaman itu.

Sejak era 1990-an, hasrat untuk mendokumentasikan momen-momen musikal mulai tumbuh subur di kalangan anak muda. Saat itu, sudah mulai banyak orang-orang yang datang ke konser musik dengan menenteng kamera analog, baik itu jenis otomatis [pocket] maupun SLR beramunisi gulungan film. Mereka mulai merekam berbagai jenis gigs atau konser musik yang diorganisir oleh komunitas musik setempat. Event-event di kampus dan sekolah juga makin marak. Ketika itu, scene underground mulai tumbuh subur seiring dengan dominasi industri musik yang kuat pula. Media-media alternatif produksi swadaya menjadi corong yang sangat kuat, di samping ekspos yang masif dari sejumlah majalah dan surat kabar.

Tahun 2000-an bisa dibilang sebagai periode awal bagi era digital. Masa-masa di mana tehnologi dan proses dokumentasi visual mulai melesat menggapai puncaknya. Hal ini tentu tidak lepas dari perkembangan tehnologi kamera digital, lensa, software, dan internet. Sarana perangkat fotografi semakin mudah dan murah untuk didapat. Komunitas penggiat fotografi juga bermunculan di sejumlah tempat dan institusi. Bahkan saat ini, hampir tidak ada sisi kehidupan yang tidak bisa terdokumentasikan. Salah satunya termasuk foto-foto panggung yang marak dan bertebaran di mana-mana. Saat ini publik bisa mengapresiasi eksistensi sederet band local seperti Extreme Decay, Begundal Lowokwaru, Screaming Factor, atau The Morning After melalui media foto yang ada.

Yah, scene fotografi [panggung] musik hari ini menjadi suatu fenomena yang menarik. Hampir semua orang bisa datang ke venue konser sambil menenteng kamera dan memotret apa saja yang ada di hadapan mereka. Performa band atau aksi musisi di atas stage tentu menjadi obyek utama yang paling sering dibidik. Dan beberapa menit setelah konser usai, kita sudah bisa melihat hasilnya menyebar luas melalui berbagai situs internet, blog dan jejaring sosial. Luar biasa bukan?!…

Kembali ke ajang pameran, Music Stage Photography Exhibition kali ini mengambil tema Spirit To Support Local, yang boleh diartikan bahwa fotografi merupakan salah satu langkah untuk mengapresiasi eksistensi komunitas musik lokal. Hasrat untuk membidik momen dan merekam gerak menjadi sebuah imej foto bisa menjadi proses dokumentasi sejarah yang penting dan keren jika dilakukan secara tepat.

Panggung musik adalah salah satu setting yang penting dalam visualisasi foto musik. Karena di ‘petak’ itu ada beragam adegan yang sarat dengan ekspresi, emosi, apresiasi, serta momen-momen yang istimewa. Di dalamnya juga terdapat proses interaksi, komunikasi dan penyampaian pesan-pesan yang menggugah. Segala pose dan adegan dalam foto panggung itu tentunya alami. Tidak dibuat-buat, orisinil, asli tanpa rekayasa. Di sinilah insting seorang fotografer panggung itu diuji. Seberapa cepat dia bisa menangkap momen. Juga menyiasati kondisi panggung atau venue dengan segala keterbatasan yang ada. Yah, bayangkan mereka seperti fotografer perang saja…

Pada dasarnya, proses kurasi untuk pameran ini dilakukan berdasarkan kriteria umum yang berbasis pada estetika, yaitu kualitas imej, tingkat keunikan, dan kekuatan komunikasi dari foto-foto yang dikirimkan kepada panitia. Di sini kurator juga coba mencermati hal-hal seperti teknik [kreatif] pemotretan, ekspresi musisi, atmosfir penonton, ketepatan dalam menangkap momen-momen istimewa, serta pesan visual yang terekam pada karya-karya foto peserta pameran.

Profil para fotografer peserta pameran ini juga beragam. Ada yang mahasiswa, sarjana, pengajar, pekerja, pengangguran, bahkan musisi amatir dari sebuah band lokal. Hampir semuanya adalah penggiat hobi fotografi yang selalu berkeliaran di setiap momen-momen pertunjukan musik dengan segala perangkat tempurnya. Mereka termasuk anak-anak muda kreatif yang punya andil, ikut berbagi, dan penuh gairah untuk mendokumentasikan passion dalam diri komunitasnya.

Oke, mungkin mereka memang masih amatir dan sekedar hobi belaka. Tetapi pilihan untuk lebih serius menggeluti dunia fotografi musik hingga menjadi sebuah profesi rasanya juga masih masuk akal. Dengan dibekali kreatifitas, wawasan, skill dan jam terbang yang lebih tinggi rasanya tak berlebihan kita menunggu lahirnya the next Anton Corbijn atau the next Annie Leibovitz dari kota Malang. Yah, semoga saja…

Well, akhirnya selamat datang di Music Stage Photography Exhibition. Beri aplaus panjang buat tim Memorabilia beserta para fotografer muda yang terus berkarya dan berbagi. Selamat membidik dan merekam sejarah. Selamat mengapresiasi rekaman imaji yang tak akan pernah mati!…

– Malang, 28 Juni 2010 –

 

*Naskah ini saya tulis sebagai pengantar untuk Music Stage Photography Exhibition di Galeri Ken Arok Perpustakaan Kota Malang, 28 Juni – 01 Juli 2010, yang diadakan oleh komunitas fotografi, Memorabilia.